Tuesday, January 8, 2013

KESULTANAN BIMA (1640-KINI)

Bendera Kesultanan Bima
 
[Bima Bendera Kesultan]
Kronologi;

750M                       Kerajaan BIMA kuno di tubuhkan,sebuah kerajaan Hindu
 
1640                       Kesultanan BIMA ditubuhkan SETELAH memeluk Islam

26 May 1792                Dutch protectorate.



Sultan

1) 1 Jul 1695 - 23 Jan 1731  Hasanuddin Muhammad Ali         (b. 1689 - d1731)
 
2)23 Jan 1731 - 27 May 1748  Alauddin Muhammad               (b. 1706 - d. 1748)
 
3)27 May 1748 - 28 Jun 1751  Kamalat (f) -Sultana            (b. 1728 - d. 1753)
 
4)28 Jun 1751 - 31 Aug 1773  Abdul Karim Muhammad            (b. 1735 - d. 1773)
 
5)31 Aug 1773 - 14 Jul 1817  Syafiuddin Abdul Hamid Muhamm   (b. 1762 - d. 1817)
 
6)14 Jul 1817 - 29 May 1854  Ismail Muhammad                 (b. 1797 - d. 1854)
 
7)29 May 1854 - 10 Aug 1868  Abdullah Muhammad              (b. 1844 - d. 1868)
 
8)29 May 1854 - 10 Aug 1868  Muhammad Yakub -Regent

9)10 Aug 1868 - 30 Jun 1881  Abdul Aziz                       (d. 1881)
 
10)30 Jun 1881 -  6 Dec 1915  Ibrahim                        (b. 1866 - d. 1915)
 
11)16 Dec 1915 - 11 Jul 1951  Muhammad Salehuddin           (b. 1889 - d. 1951)
 
----------------11 Jul 1959 -  3 May 2001  Interregnum

12)17 jun 2001            Sultan ISKANDAR ZULKARNAIN SHAH    (B.1964)

 Sejarah Kesultanan Bima(1620-kini)


Istana Sultan Bima di tahun 1949
Sultan Muhammad Salahuddin (bertahta 1920-1943)
Sultan Muhammad Salahuddin bersama tamu tentara Belanda (tahun 1949)
 
Kesultanan Bima adalah kerajaan yang terletak di Bima.Nusa tenggara ,indonesia,adalah sebuah kesultanan yang berdaulat.serta teguh mengamal ajaran islam..kesultanan ini juga antara penyebar islam sejati
.Penduduk daerah ini dahulunya beragama Hindu/Syiva. Pada masa Pemerintahan Raja XXVII,yang bergelar “Ruma Ta Ma Bata Wadu”. Menurut BO (catatan lama Istana Bima), menikah dengan adik dari isteri Sultan Makassar Alauddin bernama Daeng Sikontu, puteri Karaeng Kassuarang. Ia menerima/memeluk agama Islam pada tahun 1050 H atau 1640 M, kemudian raja atau Sangaji Bima tersebut digelari dengan “Sultan” yaitu Sultan Bima I, beliau inilah dengan nama Islam-nya “Sultan Abdul Kahir”. Setelah Sultan Bima I mangkat dan digantikan oleh putranya yang bernama Sultan Abdul Khair Sirajuddin sebagai Sultan II, maka sistem pemerintahannya berubah dengan berdasarkan “adat dan Hukum Islam”. Hal ini berlaku sampai dengan masa pemerintahan Sultan Bima XIII (Sultan Ibrahim). Sultan Abdul Khair Sirajuddin adalah putera dari Sultan Abdul Kahir. Dilahirkan bulan + April 1627 (Ramadan 1038 H), bergelar Ruma Mantau Uma Jati. Ia juga bernama La Mbila, orang Makassar menyebut “I Ambela”. Wafat tanggal + 22 Julai 1682 (17 Rajab 1099 H), dimakamkan di Tolo Bali. Menikah dengan saudara Sultan Hasanuddin, bernama Karaeng Bonto Je’ne, pada tanggal 13 September 1646 (22 Rajab 1066 H), di Makassar. Abdul Khair Sirajuddin dinobatkan menjadi Sultan Bima II, pada tahun 1640 (1050 H).
Sultan Nuruddin Abubakar Ali Syah adalah putera dari Sultan Abdul Khair Sirajuddin. Dilahirkan pada tanggal 5 Desember 1651 (29 Zulhijah 1061 H). Orang Makassar diberi gelar “Mappara bung Nuruddin Daeng Matali Karaeng Panaragang”. Naik tahta pada tahun 1682 (Zulhijah 1093 H). Menikah dengan Daeng Tamemang, saudara Karaeng Langkese puteri Raja Tallo pada tanggal  7 Mei 1684 (22 Jumadilawal 1095 H). Setelah meninggal, diberi gelar “Ruma Ma Wa’a Paju”, karena yang mula-mula memakai Payung jabatan yang berwarna kuning yang terkenal dengan “Paju Monca”.
Sultan Muhammad Salahuddin adalah Putera dari Sultan Ibrahim, dilahirkan pada tahun 1888 (jam 12.00, 15 Zulhijah 1306 H). Dilantik menjadi Sultan Bima XIII pada tahun 1917. Meninggal di Jakarta pada hari Khamis 11 Jun 1951, jam 22.00 (7 Syawal 1370 H) dalam usia 64 tahun. Setelah wafat diberi gelar “Ma Kakidi Agama”, kerana menjunjung tinggi agama serta memiliki pengetahuan yang  luas dalam bidang agama. Sejak berumur 9 tahun, memperoleh pendidikan dan pelajaran agama dari ulama terkenal, diantaranya: H. Hasan Batawi dan Syeikh Abdul Wahab (Imam Masjidil Haram Mekkah). Ia memiliki koleksi buku-buku agama karya ulama-ulama terkenal dari Mesir, Mekkah, Medinah, dan Pakistan. Juga karya oleh Imam Syafi’i. Ia mendalami Ilmu Fiqih dan Qira’ah. Pada era pemerintahannya, tidak mengherankan apabila perkembangan agama mengalami kemajuan pesat terutama di bidang pendidikannya. Wazir Ruma Bicara yang dipegang oleh Abdul Hamid (menggantikan Muhammad Qurais) pada era itu juga mempunyai peran dan menaruh perhatian yang amat besar dalam bidang yang sama.

- Biografi Tokoh-

Sultan Muhammad Salahuddin

Sultan Muhammad Salahuddin (lahir di Bima, Nusa Tenggara Barat, 15 Julai 1889 – meninggal 11 Jun 1951 pada umur 61 tahun) adalah Sultan Bima yang bertahta tahun 1920-1943. Namanya kini diabadikan di Bandar Udara Muhammad Salahuddin, Bima.

KESULTANAN PAPEKAT(1660-1815)

Pemerintahan Kesultanan Papekat

 Kronologi;
1660                     Kesultanan Papekat di tubuhkan

10 Apr 1815              Letusan gunung berapi Tambora memusnahkan kerajaan.
 
Sultan

1794 - 10 Apr 1815         Abdul Muhammad                     (d. 1815)
  Sejarah Kerajaan Papekat (Pekat).

Dimasa pemerintahan kabupaten Dompu,nama Pekat saat ini merupakan nama sebuah desa yang terletak di wilayah kecamatan Pekat – Calabay Dompu (Nama Ibu Kota Kecamatan Pekat) Konon nama Pekat berasal dari kata “Pepekat”.
Kerajaan kecil ini tidak banyak meninggalkan atau menyimpan bukti-bukti untuk mendukung keberadaan kerajaan tersebut dari dulu bahkan hampir dikatakan tidak ada sama sekali,hanya nama Pekat kini merupakan nama sebuah desa di kawasan lereng gunung Tambora. Catatan sejarah menyebutkan,meskipun suatu kerajaan kecil tetapi Pekat saat itu terus berdiri  dengan izin oleh pemerintah penjanjah VOC terutama untuk membendung pengaruh dari Kerajaan Makassar  pada masa itu supaya dapat membentuk kekuatan di situ. Maka dengan Pekat pihak VOC mengikat terus persahabatan yang baik sekali, tetapi akibat gunung Tambora meletus,akhirnya penduduk di Kerajaan Pekat musnah seluruhnya kemudian bekas kerajaan Pekat digabung kan dengan wilayah kekuasaan Kerajaan dompu hingga sekarang ini.

Gunung Tambora Meletus pada tanggal 10 – 11 April 1815, dalam catatan sejarah Dompu letusan Tambora yang paling dahsyat yakni letusan pada tanggal 11 April 1815 yang mengakibatkan beberapa Kerajaan kecil yang terletak di sekitar Tambora menjadi sasaran empuk musibah tersebut sehingga 3 Kerajaan kecil tersebut musnah. Pralaya (Malapetaka) tersebut tampaknya di satu sisi berdampak positif bagi berkembangan Kerajaan Dompu, sebab setelah sekian tahun lamanya dalam perkembangan selanjutnya wilayah Kerajaan (Kesultanan) Dompu bertambah luas wilayahnya kerana bekas wilayah 3 Kerajaan kecil pernah musnah akibat letusan Tambora tersebut akhirnya masuk kedalam wilayah Kerajaan (Kesultanan) Dompu hingga sekarang ini. Dengan bertambahnya wilayah Kesultanan Dompu tersebut (Pekat,Tambora dan sebagian wilayah Kerajaan Sanggar) maka  merupakan suatu pertanda kelahiran baru bagi DOMPU BOU (Dompu Baru), yakni pergantian antara Dompu Lama dan Dompu Baru. Peristiwa tersebut menggambarkan kelahiran wilayah Dompu yang bertambah luas wilayahnya. 11 April 1815 Tambora meletus dengan dahsyatnya, akibat letusan Tambora wilayah Dompu dikemudian hari bertambah luasnya meliputi bekas Kerajaan Pekat, Kerajaan Tambora. DOMPU YANG BARU pun akhirnya lahir. Oleh ahli sejarah Prof.DR.Helyus Syamsuddin.PHd, peristiwa 11 April 1815 tersebut akhirnya dijadikan sebagai hari bermakna dan dasar yang kuat sehingga 11 April dijadikan sebagai hari lahir atau hari jadi DOMPU. Selanjutnya melalui Peraturan Daerah (Perda) No.18 tanggal 19 Bulan Jun 2004 ditetapkan bahawa tanggal 11 April 1815 sebagai hari lahir/hari jadi Dompu.

KERAJAAN SANGGAR(1700-1926)

Pemerintahan Kerajaan Sanggar

 -kronologi-

1700                  Kerajaan Sanggar DITUBUHKAN

1926                  DI satukan dalam Kesultanan Bima


                    

Raja

1)1700 - 1704              Kalongkong Hasanuddin

2)1704 - c.1764             
Daeng Pamalie

3)1765 - 17..                Muhammad Johan Syah


4)17.. - 1790                Adam Safiallah


5)1790 - 1805                Muhammad Sulaiman


6)1805 - 1815                Ismail Ali


7)1815 - 1836                La Lisa Daeng Jaie


8)1836 - 1845                Daeng Malabba


9)1845 - 1869                Manga Daeng Manasse 


10)1869 - 22 Dec 1900         La Kamea Daeng Nganjo Siamsuddin   (b. c.1820 - d. 1900)


22 Dec 1900 - 1901         Regency

 
11)1901 - 1926                Abdullah Siamsuddin Daeng Manggala (d. c.1928)



Sejarah

Sanggar pada masa lalu adalah sebuah kerajaan berdaulat. Menurut A. Razak Aziz dalam tulisannya “ Rangkaian Peristiwa di Kerajaan Sanggar 1667-1928” (1990:1) “ Kerajaan Sanggar telah berdiri sekitar abad 14 Masehi berpusat di Boro” Dalam perkembangan sejarah kerajaan-kerajaan di Pulau Sumbawa Kerajaan Sanggar tidak banyak dibicarakan. Keberadaanya seolah olah “tenggelam” di antara Kerajaan Bima dan Sumbawa. Padahal dari hasil-hasil penelitian kebelakangan ini, Sanggar sesungguhnya mempunyai peranan penting dalam pelayaran dan perdagangan di Indonesia Timur. Dalam Peta Indonesia yang dibuat oleh Theodore De Bryn dari “ Petits Voyages” tahun 1527-1598 Core ( baca: Kore-Sanggar) adalah salah satu dari tiga kerajaan yakni Sumbawa, Bima yang ada di Pulau Sumbawa yang merupakan jaringan perdagangan Internasional.

 Pusat Kerajaan

Pada awal berdirinya Kerajaan Sanggar berpusat di Boro. Ditinjau dari letak geografinya Kerajaan Sanggar merupakan kerajaan maritim yang letaknya berada di pesisir pantai (+ 500 m dari garis pantai). Dalam perkembangannya kemudian, pada abad 17 Kerajaan Sanggar berpusat di Kore sampai dengan terjadinya proses integrasi Sanggar ke dalam wilayah Kerajaan Bima 1928/1929 yang sampai saat ini masih menjadi bahan perdebatan. “Apakah proses itu atas kehendak rakyat Sanggar atau upaya pemaksaan Kerajaan Bima dalam memperluas wilayah kekuasaanya? atau bahkan kerana kebijakan politik Belanda?. Menurut Tawalidin Haris dkk (1997) “ Proses integrasi Kerajaan Sanggar ke dalam wilayah Kerajaan Bima tidak terlepas dari campur tangan Kolonial Belanda”.

  Hubungan Kerajaan Sanggar dengan kerajaan-kerajaan sekitarnya.

Dalam sumber sumber sastera Jawa Kuno (kitab Nagarakertagama yang ditulis oleh Empu Prapanca pada masa Kerajaan Majapahit abad 14 M), disebutkan bahwa Kore (baca: Kerajaan Sanggar) telah menjalin hubungan politik maupun budaya dengan kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa dan Bali. Disebutkan pula bahwa Kore (baca: Kerajaan Sanggar) dan Bima adalah merupakan pelabuhan penting yang berada di pantai utara. Dengan demikian keberadaan Kore (baca: Kerajaan Sanggar) dalam sejumlah karya sastera berbahasa Jawa Kuno membuktikan bahwa Kerajaan Sanggar telah dikenal oleh orang orang Jawa atau Bali baik melalui dominasi politik maupun  perdagangan.
Selain menjalin hubungan dengan kerajaan di Jawa, Kerajaan Sanggar juga menjalin hubungan perdagangan dengan kerajaan kerajaan di Sulawesi. Dalam kronik Gowa dan Tallo disebutkan enam buah kerajaan di Pulau Sumbawa yakni, Sanggar, Bima, Dompu, Sumbawa, Tambora dan Pekat. Kerajaan kerajaan ini ditaklukkan oleh ekspedisi Makassar (Gowa) dalam rangka menyebarkan agama Islam di Pulau Sumbawa pada awal abad 17. Sejak menjadi vassal Gowa ( Makassar) kerajaan Sanggar mengirimkan ufti berupa hasil bumi ke Kerajaan Gowa.
Secara politik hubungan Kerajaan Sanggar dengan Kerajaan Gowa berakhir setelah ditandatanganinya Perjanjian Bungaya tahun 1667, yang mengakhiri Perang Makassar, namun hubungan perdagangan dan budaya tetap berlangsung pada abad abad sesudahnya. Dari hasil penelusuran  tentang keturunan orang-orang Sanggar terutama yang menetap di boro dan Kore saat ini, ternyata tidak sedikit yang memiliki garis keturunan Makassar dan Bugis.

KESULTANAN TAMBORA(1675-1815)

Pemerintahan Kesultanan Tambora

- KRONOLOGI;

1675                       Kesultanan Tambora DI TUBUHKAN.
 
10 Apr 1815                Musnah keseluruhan kerajaan dan rakyatnya akibat letusan Gunung Tambora yang dahsyat
 
Sultans
 
1)1794 - 1800                Abdul Rasyid Tajul Arifin
 
2)1800 - 1801                Muhammad Tajul Masahur
 
3)1801 - 10 Apr 1815         Abdul Ghafur Daeng Mataram          (d. 1815)

* Sejarah realiti Asal Mulanya Meletus Gunung Tambora*

Ini adalah cerita tentang kerajaan Tambora yang dimurkai Allah SWT, maka binasalah kerajaan Tambora sekarang ini.
Ceritanya bermula dari seorang Syekh Said Idrus, yang berasal dari Bengkulu, beliau datang menumpang kapal orang Bugis, datang ke kerajaan Tambora untuk berdagang. Maka pada suatu  hari Syeikh Said Idrus pergi daratan, masuk ke kerajaan Tambora untuk berjalan-jalan sembari melihat keadaan negeri tersebut sampai tiba Lohor, maka ia masuk dalam mesjid untuk melakukan Sholat (sembahyang) Lohor, kemudian didalam Mesjid itu terdapat seekor Anjing, maka Syeikh Said Idrus menyuruh orang untuk mengusir Anjing tersebut dan memukulnya. Maka orang yang bertugas untuk menjaga Anjing tersebut marah, kemudian dia mengatakan, bahwa Anjing itu adalah kepunyaan sultan. Syeikh Said mengatakan, “siapapun Tuannya Anjing ini, kerana ini adalah Mesjid, Rumah Allah Subhanahu Wa Taala untuk beribadah yang harus tetap suci, maka siapapun yang memasukkan Anjing kedalam Mesjid maka dia adalah Kafir”. Kemudian orang yang bertugas menjaga Anjing tersebut pergi mengadu kepada sultan Tambora, dia melaporkan kepada Raja, mengatakan “ada seorang Syeikh Arab mengatakan kita ini orang Tambora dikatakan kafir, sebab dia melihat ada Anjing didalam Mesjid”.
Setelah sultan Tambora yang bernama Abdul Gafur mendengar pengaduan itu, maka sultan pun marah, maka sultan Tambora memerintahkan orang untuk menyembelih Anjing dan Kambing, kemudian menyuruh orang mengundang Syeikh Said Idrus itu. Maka Syekh Said Idruspun datang ke Istana Raja Tambora dengan segala didampingi oleh para Prajurit. Setelah memasuki Istana kemudian Syekh dipersilakan duduk. Kemudian makananpun di hidangkan di hadapan para tamu-tamu Raja, akan tetapi hanya satu hidangan yang berisi daging Anjing iaitu hidangan untuk syeikh Said Idrus, sedangkan daging Kambing di hidangkan untuk para Undangan lainnya dan sultan Tambora.
Maka hidanganan pun disantap. Setelah selesai menyantap makanan yang dihidangkan, sultan Tambora itu pun bertanya kepada Syeikh Said Idrus, kata sultan Tambora “hai orang Arab! Bagaimana menurut anda tentang haramnya Anjing?” maka Syeikh menjawab pertanyaan sultan, “memang Haram”. Maka sultan Tambora itu pun berkata, “ jika kau katakana Haram, mengapa engkau memakan daging Anjing tadi?”, kemudian Syeikh menjawab perkataan sultan, “bukan Anjing yang saya makan tadi, itukan daging kambing seperti  yang dibilang oleh pelayan”. Kemudian Syeikh dan sultan saling berbantahan satu sama lain, lalu sultan sangat marah kepada Syeikh Said, kemudian Raja memerintahkan pengawalnya membawa Syekh Said untuk dibunuh “bawa orang Arab ini, dan bunuh dia”, kemudian para pengawal membawa Syeikh Said ke atas gunung Tambora, sesampainya diatas gunung Tambora Syeikh Said di tikam dengan tombak akan tetapi tombak tersebut tidak mengenai Syeikh Said, kemudian para pengawal itu mengambil sebongkah batu dan kayu memukul kepala beserta badannya Syeikh Said hingga darahnya memercik dimana-mana hingga mati, kemudian para pengawal Raja membuang jasadnya Syeikh Said Idrus kedalam Gua, lalu para pengawal pulang untuk pergi melaporkan kepada sultan, ditengah jalan antara gunung dan kerajaan para pengawal melihat Api yang menyala ditempat terbunuhnya Syeikh Said Idrus, Api tersebut makin membesar dan membakar seluruh pohon dan mengarah ke kerajaan Tambora, maka para pengawal yang telah membunuh Syeikh, melarikan diri semua kedalam kerajaan Tambora, akan tetapi Api lebih cepat membakar kerajaan Tambora, kemudian seluruh Rakyat kerajaan Tambora panik kerana pada saat itu mereka sedang asik tidur dikala Subuh. Bunyi ledakan gunung menunjukkan kebesaran Allah SWT, orang-orang masing menyelamatkan diri dengan di tutupi oleh hujan abu, beberapa ribuan orang mati seketika, hingga kerajaan Tambora hilang  dibakar oleh api gunung Tambora.
Maka kerajaan Tamborapun terkena bala, kerajaan Sanggar dan Pekat (kala itu Raja Pekat di bawah sultan  Muhammad) juga tertelan oleh Ombak besar dan Lahar yang membakar menghanguskan Bumi, kerajaan Sumbawa, Dompu dan Bima, mengalami kelaparan hingga mati dan terkena tempiasnya, hingga ada yang menjual dirinya dan menukar dirinya dengan Padi hanya untuk bisa mendapatkan makanan.
Semua kerajaan di Pulau Sumbawa tenggelam oleh hujan abu segala macam binatang mati tertutup abu, Selama tiga tahun tidak dapat bercucuk tanam, sehingga banyak orang yang mati.
Dan sebahagian lagi di kerajaan Makasar dan kerajaan Bugis, pada saat gunung Tambora meledak dua kerajaan itu menjadi gelap gulita tertutup oleh hujan abu hitam seantero kerajaan Makasar dan Bugis sehingga tanah di dua kerajaan itu menjadi tebal oleh abu.
Selang beberapa hari setelah meletusnya gunung Tambora, dari arah Selatan datang tiga ombak besar dan menghanyutkan korban yang tersisa dan membawa kapal-kapal yang berlabuh naik ke hutan dan meluluh-lantahkan tujuh kerajaan kecil.
 
(di kuitip dari : Roorda Van Eysinga, 1841, II, hlm. 37-40, Bo` Sangaji Kai, hlm. Naskah 87; Chambert-Loir & Salahuddin 1999, 319).

KERAJAAN MELIAU(1700-1898)

Senarai Pemerintah Meliau

KRONOLOGI

1700                     Kerajaan Meliau di tubuhkan
 
1905                     Kerajaan Meliau dihapuskan dan diletskksn dlm kolonisl Belanda
 
pemerintah (gelaran  Pangeran)

1)1782 - 1800                Suria Adiningrat

2)1800 - 1823                Mangku

3)1823 - 1869                Ratu Mangku Negara

4)1869 - 1885                Ratu Anom Paku Negara

5)1885 - 1889                Ratu Muda Paku Negara Abdul Rauf

6)1889 - 1890                Paku Negara Suria Kusuma

--1890                      digabungkan dalam Kerajaan Tayan

Sejarah Kerajaan Meliau

Raja pertama kerajaan Meliau adalah Pangeran Mancar, putera ketiga Brawijaya dari kerajaan Majapahit. Bersama dengan saudara-saudaranya, Pangeran Mancar meninggalkan kerajaan Tanjungpura yang sering terlibat peperangan menuju daerah pedalaman Kalimantan.
Menurut Staatsblad van Nederlandisch Indië tahun 1849, wilayah ini termasuk dalam wester-afdeeling berdasarkan Bêsluit van den Minister van Staat, Gouverneur-Generaal van Nederlandsch-Indie, pada 27 Ogos 1849, No. 8[5]
Pada 1866, Pangeran Adipati Mangku Negara, panembahan kerajaan Meliau mengundurkan diri. Atas bantuan Belanda, putera mahkota yang pergi merantau tanpa diketahui ke mana hala tujunya, diketemukan di Minahasa, Sulawesi Utara. Ia telah memeluk agama Kristian dan menjadi pedagang. Atas pujukan Belanda, putera mahkota kembali ke Meliau pada 1869 dan dinobatkan sebagai raja dengan gelar Ratu Anum Paku Negara. Ratu Anum Paku Negara kemudian kembali ke agama Islam serta mendirikan keraton dan bangunan dari kayu dengan arkitektur yang indah di zamannya.
Ratu Anum Paku Negara wafat pada 1885. Putera tunggalnya, Abdul Salam pada waktu itu menjabat sebagai jaksa di Betawi. Abdul Salam kemudian diangkat menggantikan ayahnya dengan gelar Pangeran Ratu Muda Paku Negara. Pada 2 Ogos 1889, kerana kurang puas dengan pemerintahannya, Pangeran Ratu Muda Paku Negara meninggalkan tahta kerajaan dan kembali ke Betawi. Tahun 1897, ia wafat tanpa meninggalkan keturunan.
Dengan beslit nomor 23 tanggal 15 Januari 1890, Gusti Mohamad Ali dari kerajaan Tayan kemudian menggabungkan kerajaan Meliau ke kerajaannya yang berlaku efektif pada 26 Februari 1890. Pada masa pemerintahan panembahan kerajaan Tayan berikutnya, Panembahan Anum Paku Negara, kerajaan Meliau dijadikan Gouvernement Gebied di bawah kekuasaan pemerintahan Hindia Belanda.

Sunday, January 6, 2013

KESULTANAN DOMPO(1545-1958-KINI)

[Dompu]   
 BENDERA KESULTANAN DOMPO


KRONOLOGI;

1545                       KESULTANAN DOMPO DITUBUHKAN
 1 Jul 1942 - 1945         DILETAKKAN DI BAWAH PENGARUH KESULTANAN BIMA



Sultans
 
1686 - 1701                Abdul Rasul I Bumisorowo
1701 - 1702                Usman Sultan Manuru Goa
1702 - 1717                Ahmad Syah II
1717 - 1727                Abdul Kadir Daeng Manambung        (d. 1727)
1727 - 1737                Samsuddin Sultan Mawaa Sampela
                             Abdul Yusuf
1737                       Kamaluddin
1737 - 1746               
Abdul Kahar Daeng Mamu
1746 - 1748                Abdurrahman Manuru Kempo
1749 - 1793                Abdul Wahab                        (d. 1793)
1793 - 1798                Abdullah Mawaa Sainu
1798 - 1799               
Mpuri Jacob
1799 - 1801                Abdullah I Mawa
1801 - 1805                Muhammad Zainal Abidin             (d. 1805)
1805 - 25 Dec 1809         Muhammad Tajularifin
1809 - 1857                Daeng Hau Sultan Abdul Manuru      (b. 1787 - d. 1857)
                             Bata Rasul II        
1857 - 28 Aug 1870         Muhammad Sultan Salahuddin         (d. 1870)
1870 - 1882                Abdullah II
1882 - 1934                Muhammad Sirajuddin I              (d. 1939)
1934 - 1947                Interregnum
12 Sep 1947 - 1958         Muhammad Tajularifin
Sirajuddin II (b. 1916 - d. 1964)



 Ekspedisi Majapahit
 
Tapak bersejarah Warukali keadaannya mengejutkan penemuaan beberapa artifak kerana sejumlah bata yang terdapat di tapak ini juga banyak yang dimanfaatkan masyarakat untuk pembangunan rumah-rumah penduduk. Bahkan pernah terjadi penggalian haram di lokasi ini, kerana menurut masyarakat setempat kawasan tersebut dicurigai menyimpan harta karun. Akibat penggalian haram ini menyebabkan keousaknya sejumlah bata material bangunan kuno tersebut. penemuan bata berukuran besar ini tersebar dalam lingkungan kawasan lebih luas di wilayah ini di antaranya di Doro Empana, Doro Ngao dan bahkan di wilayah Sambitangga, penemuan bata ini digali habis untuk material pembangunan rumah.
Di lokasi ini juga ditemukan sejumlah seramik yang masih elok seperti piring dan mangkok Cina yang diperkirakan berasal dari Dinasti Yuan (abad 14 - 15 M). Sehingga secara jelasnya, hubungan antara kawasan sekitarnya ini merupakan kesatuan wilayah dan budaya pada masa lalu, dilihat dari penemuan sejumlah benda arkeologi seperti seramik. penemuan data ini juga didapat di tapak kawasan perkuburan bersebelahan tapak bersejarah Warukali. Menurut informasi masyarakat setempat, bata kuno tersebut ditemukan cukup banyak di kawasan perkuburan, sehingga pada waktu penggalian liang kubur, bata-bata ini diangkat dari dalam galian sedalam 1 m dari permukaan tanah. Nama Warukali yang dikenal sekarang pada mulanya merupakan gelaran penobatan seorang tokoh agama Islam -- gelaran tersebut mengandungi simbol lapan sifat kepemimpinan yang harus ditaati seorang tokoh atau pemimpin.
Adanya dugaan penobatan tokoh di wilayah ini kemungkinan kerana secara sejarahnya wilayah tersebut dipandang penting sejak zaman Hindu, sehingga dalam perkembangan pada masa masuknya pengaruh Islam kawasan ini juga diberikan kehormatan sebagai tempat penobatan tokoh penyebar agama Islam.
Nama Warukali secara sejarahnya tetap dikenail sampai sekarang. Berdasarkan bukti-bukti sejarah Walwaktikta, kebesaran Majapahit memang sampai menguasai wilayah ini. Seperti disebutkan dalam kitab Negara Kertagama, bahawa dalam masa pemerintahan Hayam Wuruk (1350 - 1389), seluruh negeri di Pulau Sumbawa yaitu pulau Taliwang, Dompu, Sapi, Sanghiang Api, Bima, Seran, dan Utan Kadali menjadi daerah Kerajaan Majapahit.
Dalam cerita mengenai kerajaan Dompu pada zaman pemerintahan Mawaa Taho, iaitu tahun 1357, ekspedisi Majapahit yang dipimpin oleh Laksamana Nala dan dibantu oleh askar dari Bali yang dipimpin oleh Pasung Gerigis berhasil menaklukan Dompu dan daerah sekitarnya. Sejak saat itulah Dompu bernaung di bawah kekuasaan Majapahit. Tercatatnya Kerajaan Dompu sebagai salah satu target penguasaan Majapahit kerana dipandang Kerajaan Dompu strategik pada saat itu. Kerajaan Dompu sudah dikenali Majapahit sejak pemerintahan Tribuwana (1328 - 1350).
Dalam sejarah Dompu disebutkan, kelahiran Dompu sebagai bakal kerajaan telah dimulai sejak abad ke-7 yaitu pada zaman Sriwijaya. Sebab, dalam cerita rakyat yang berkembang di Dompu disebut-sebut bahwa Sang Kula (cikal bakal Raja Dompu) yang juga dikenal dengan sebutan Ncuhi Patikula mempunyai seorang putri yang ia kawinkan dengan putra Raja dari Tulang Bawang dan atas kesepakatan para Ncuhi ia dinobatkan sebagai raja Dompu yang berkedudukan di Negeri Tonda -- sekitar 10 km arah selatan Dompu. Sampai kini, jejak budaya Majapahit masih tersebar di kawasan ini.
Bentuk Bangunan
Di tapak bersejarah Warukali dekat Doro Bata ditemukan sejumlah runtuhan dan susunan struktur yang tidak beraturan. Secara morfologi, bentuk bangunan diperkirakan berteraskan dengan konstruksi kayu pada bangunan atas. Pertimbangan ini didasari adanya perbezaan ketinggian temuan struktur atas dan bawah dengan selisih ketinggian 160 cm. Bangunan berteras semacam ini masih menjadi tradisi di Bali yang lebih dikenali dengan bangunan gunung rata.
Memperhatikan material yang dipergunakan iaitu bata pecah dan batu kali, sepertinya merupakan material sisa dari pembuatan bangunan suci. Ini merupakan indikasi, kemungkinan bangunan tersebut merupakan bangunan profan, yang menurut kepercayaan bahwa material bangunan profan tidak boleh sama atau lebih baik dari bangunan suci. Memperhatikan lokasinya yang memilih tempat yang tinggi terkait dengan fungsi bangunan itu, secara hirarki merupakan permukaan tokoh keagamaan atau bangsawan (Ncuhi) pada masa itu. Indikasi ini diperkuat pula dengan penemuan aktiviti seharian masyarakat yang membuat dari seramik yang mempunyai nilai tinggi pada masa itu.
Sedangkan bangunan suci keagamaannya berada di Doro Bata yang letaknya di pusat kawasan dari keempat wilayah Doro Empana, Doro Ngao, Sambitangga, dan Doro Swete. Kewujudan keempat wilayah tersebut mengitari Doro Bata, dari empat arah penjuru mata angin yang terminologinya di Bali dikenal dengan konsep "nyatur desa". Dugaan ini diperkuat oleh pendapat yang menyebutkan tapak sejarah berpenghuni pada umumnya berada tidak jauh dari kawasan bangunan suci.

Saturday, January 5, 2013

KERAJAAN ADONARA(1650-KINI)

  • Sejarah Tempatan di Adonara didokumentasikan dari abad 16, ketika pedagang Portugis dan misionaris mendirikan penempatan di pulau terdekat Solor. Pada saat itu Adonara dan pulau-pulau di sekitarnya ritual dibagi antara populasi penduduk pesisir dikenal sebagai Paji, dan berpenduduk terutama penyelesaian pedalaman pegunungan disebut Demon. Para Paji keseluruhannya menganut agama Islam, sementara demon  cenderung tunduk di bawah pengaruh Portugis. Daerah Paji di Adonara berisi tiga kerajaan, yaitu Adonara tepat (berpusat di pantai utara pulau), dan Terong dan Lamahala (di pantai selatan). Bersama dua kerajaan di Solor, Lohayong dan Lamakera, mereka merupakan lima kerajaan  yang disebut Watan Lema (“lima pantai”). Para Watan Lema bersekutu dengan Belanda East India Company (VOC). Kerajaan-kerajaan Adonara memiliki permusuhan sering dengan Portugis di Larantuka di Flores, dan tidak selalu taat kepada penguasa Belanda. Dalam perjalanan abad 19, penguasa Adonara (tepat) di utara memperkuat posisinya di kepulauan Solor. saat itu, ia juga raja dari bagian timur Flores dan Lembata. Daerah demon berdiri di bawah kekuasaan raja dari kerajaan Larantuka, yang pada gilirannya berada di bawah kekuasaan Portugis hingga 1859, ketika menyerahkan ke Belanda. Kerajaan-kerajaan dari Larantuka dan Adonara (tepat) dihapuskan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1962. Beberapa pasca kemerdekaan pejabat setempat melacak akar mereka kepada para penguasa masa lalu, yang disebut raja, dari Adonara (tepat). Ini termasuk Raja-Raja yang menguasai kerajaan adonara:
  •  Foramma, c. 1650
  •     Boli saya, c. 1671-1684
  •     Eke 1684-1688 (dibunuh oleh orang gunung)
  •     Gogok, c. 1702
  •     Wuring (saudara Eke), 1688-1719
  •     Boli II (anak dari Wuring), 1719-setelah 1756 diketahui penguasa
  •     Jou, c. 1815
  •     Lakabella Jou (anak dari Jou), c. 1832
  •     Begu, d. 28 Juli 1850 (dibunuh)
  •     Pela (ng) (anak Begu), 1850-1857
  •     Jou (saudara Pela), 1857-1868
  •     Kamba Begu (saudara Lakabella), 1868-1893
  •     Bapa Tuan (anak dari Kamba Begu), sementara Raja pada tahun 1893 selama 6 bulan
  •     Arkiang Kamba (Arakang; saudara Bapa Tuan, b 1866.), 1893 atau 1894 – melepasnya 18 Desember 1930
  •     Bapa Ana (anak dari saudara perempuan dari Kamba Begu), Bupati dengan gelar Kapitan 1930 – 1 Desember 1935, dijatuhi hukuman penjara seumur hidup tahun 1935 dan dikirim ke Kupang
  •     Bapa Nuhur, (anak Gela, putra Bapa Tuan, b. 1915), 1941-1947
  •     Bapa Kaya, (anak dari Bapa Ana, d. 1954/12/01), Bupati 1947-1951
  •     Mohamad Eke (cicit Raja Jo, 1929 -. C 1985), 1951-1962, pertama disebut Pemerintah Asst selama pemerintahan Bapa Kaya dan juga dari Kapitan Adonara

KERAJAAN TANAH BUMBU(1660-1780)

Raja Tanah Bumbu


Wilayah Kerajaan Tanah Bumbu
  • Pangeran Dipati Tuha (Raden Basus?) bin Sultan Saidullah (1660-1700). Ia diutus Sultan Banjar mengamankan wilayah tenggara Kalimantan dari para pendatang atas permintaan penduduk tempatan iaitu orang Dayak Samihim (golongan Dusun Maanyan) yang tinggal dahulu tinggal di kota Pamukan di sungai Cengal yang telah dihancurkan oleh para penyerang dari laut. Kemudian kedatangan rombongan Pangeran Dipati Tuha melalui jalan darat yang berasal dari Kelua (utara Kalsel) dan menetap di Sampanahan pada sebuah sungai kecil bernama sungai Bumbu sehingga wilayah ini kemudian dinamakan Kerajaan Tanah Bumbu berdasarkan nama sungai Bumbu tersebut dengan wilayah kekuasaan membentang dari Tanjung Aru hingga Tanjung Silat. Pangeran Dipati Tuha memiliki dua putera  Pangeran Mangu dan Pangeran Citra. Setelah berhasil mengamankan Tanah Bumbu dari pendatang, Pangeran Citra kembali ke tanah tumpah  milik ayahnya Pangeran Dipati Tuha yaitu negeri Kalua dan menjadi sultan negori Kloeak. Sedangkan Pangeran Mangu dipersiapkan sebagai Raja Tanah Bumbu berikutnya.[4]
  • Pangeran Mangu bin Pangeran Dipati Tuha (1700-1740); memiliki anak bernama Ratu Mas. Ratu Mas bersaudara dengan Ratu Sepuh.[4]
  • Ratu Mas binti Pangeran Mangu (1740-1780); Ratu Mas menikah dengan seorang pedagang dari Gowa bernama Daeng Malewa yang bergelar Pangeran Dipati; pasangan ini memperoleh anak bernama Ratu Intan I. Dari dua istri orang bawahan, Daeng Malewa memiliki putra  Pangeran Prabu dan Pangeran Layah. Ratu Intan I menikahi Aji Dipati yang bergelar Sultan Dipati Anom Alamsyah (Sultan Pasir III tahun 1768-1799). Pernikahan Ratu Intan I dengan Sultan Anom tidak memiliki keturunan, tetapi dari istri  Sultan Anom memiliki anak bernama: Pangeran Aji Muhammad, Andin Kedot, Andin Girok, dan Andin Proah. Pangeran Layah memiliki anak bernama: Gusti Cita (putri) dan Gusti Tahora (putra). Sepeninggal Ratu Mas, maka sejak 1780, kerajaan Tanah Bumbu dibagikan menjadi beberapa division (negeri). Ratu Intan I memperoleh negeri Cantung dan Batulicin.[4] Ratu Intan I masih dikenang dalam ingatan suku Dayak Meratus.[5] Pangeran Layah memperoleh negeri Buntar Laut. Sedangkan Pangeran Prabu bergelar Sultan Sepuh sebagai Raja Sampanahan, Bangkalaan, Manunggul dan Cengal.[4]

KESULTANAN KOTAWARINGIN(1637-1948-KINI)

 bendera Kota Waringin

[Kota Waringin State flag]
                        bendera negeri
[Kota Waringin Sultan's flag]
                    bendera sultan
KRONOLOGI

1637                       KESULTANAN Kota Waringin ditubuhkan.
Jul 2010                   dinamakan semula sebagai Kutaringin.

 
pemerintah (gelaran Pangeran)
1)1637 - 1650                Dipati Anta Kasuma bin Sultan
                             Mustambillah
2)1650 - 1700                Mas Adipati
 

pemerintah(gelaran Panembahan)

3)1700 - 1720                Kota Waringin
 
4)1720 - 1750                Derut

  pemerintah(gelaran Pangeran, dari 1785 Pangeran Ratu)

5)1750 - 1770                Adipati Muda

6)1770 - 1785                Panghulu 

 
7)1785 - 1792                Ratu Bagawan


8)1792 - 1817                Ratu Anom Kusuma Yuda

9)1817 - 1855                Ratu Anom Imamuddin

10)1855 - 1865                Ratu Anom Herman Syah

11)1865 - 1904                Ratu Anom Alam Syah I

12)1904 - 1913                Ratu Sikma Negara

13)1913 - 1939                
Ratu Sikma Alam Syah

14)1939 - 1948                
Ratu Kasuma Anom Alam Syah II           (d. 1975)

1948 - 2010
               Interregnum

Sultan

15)Jul 2010 -                 Ratu Alidin Sukuma
Alam Syah



Kesultanan Kotawaringin, satu-satunya kerajaan yang masih ada di Provisi Kaltimantan tengah, bahkan masih terpelihara dengan baik. Bahkan semasa penjajahan Belanda, daerah ini terlepas dari rencana pengkristianan Dayak Besar. Hingga kini kita dapat melihat dan menyaksikan tapak sejarah beserta benda-benda peninggalannya. 

Menyusuri Sungai Arut sepanjang ratusan kilometer yang membelah Kota Pangkalan Bun, sampailah kita di Kecamatan Kotawaringin Lama dengan Astana Al Noorsari-nya yang masih berdiri kokoh. Astana Al Noorsari adalah bekas keraton Kesultanan Kotawaringin sebelum pusat kekuasaannya pindah ke Pangkalan Bun tahun 1679 M/1171 H.

Di daerah ini, kita juga masih akan menemukan catatan sejarah lainnya. Terdapat makam Sultan-sultan Kotawaringin yang bertulisan huruf Arab Melayu, makam Kyai  Grede seorang tokoh penyebar agama Islam sekitar abad ke 16. Kita juga dapat menemukan bangunan Masjid Djami Kotawaringin yang masih terbilang kokoh, meski hampir seusia ketika Kyai Gede menyebarkan Islam di daerah ini.
Dan, satu-satunya kerajaan yang pernah ada di provinsi kalimantan tengah ini, memerlukan waktu cukup panjang, satu setengah jam dari Kota Pangkalan Bun dengan pengankutan speed boat. Tak cuma imembicarakan Kesultanan Kotawaringin yang masih memiliki benang merah dengan kerajaan Banjar, tidak boleh tidak harus merunut sejarah kerajaan Banjar hingga kekuasaan Belanda turut campur tangan di daerah ini.

Seperti dituturkan Gusti Djendro Suseno yang masih keturunan Raja ke VII Gusti Sultanul Baladuddin Gelar Pangeran Ratu Begawan, keturunan Raja Banjarlah yang mula pertama membangun Kesultanan Kotawaringin.
"Kesultanan Kotawaringin memiliki benang merah sejarah sangat kuat dengan Kerajaan Banjar, hal itu tak dapat dinafikan," ungkap Djendro Suseno yang juga anggota DPRD Tk II Kotawaringin Barat dari Fraksi Golkar. Namun dalam perjalanan selanjutnya, tak terelakkan terjadi asimilasi atau percampuran dengan masyarakat setempat yang adalah Suku Dayak.
Jadi menurutnya, tak dapat disangkal lagi, masyarakat yang kini bermukim memenuhi seantero Kab Kotawaringin Barat, sebagian besar adalah juga anak cucu keturunan Suku Dayak. "Untuk mempererat jalinan kerjasama dan memantapkan kekuasaan, kala itu anak-anak kepala suku atau demang diambil sebagai isteri mendampingi sang raja walau posisinya bukan sebagai isteri pertama," .
Pangeran Adipati Anta Kasuma

Adalah Sultan Musta'inubillah Raja Kerajaan Banjar yang berputera lima orang, diantaranya empat orang laki-laki ,Pangeran Adipati Tuha, Pangeran Adipati Anum, Pangeran Antasari (Pahlawan Nasional), Pangeran Adipati Anta Kasuma dan Puteri Ratu Aju. Karena masing-masing Putra Mahkota berminat menjadi Sultan sebagai pemegang tertinggi tampuk kerajaan, membuat sang ayah harus berfikir  dengan bijaksana.
Akhirnya, merasa bukan putra tertua, Pangeran Adipati Anta Kasuma yang memiliki keberanian dan semangat tinggi untuk menjadi seorang pemimpin, bertekat pergi mencari tempat dan mendirikan kerajaan baru. Dan memang, Pangeran Adipati Tuha lah sebagai putra tertua yang akhirnya memegang tampuk kekuasaan kerajaan Banjar.
Dengan restu kedua orang tua serta pejabat-pejabat Kerajaan Banjar, berangkatlah dia beserta pengawal dan beberapa perangkat peralatan kerajaan. Menggunakan perahu layar kerajaan, bertolaklah mereka menuju arah barat menyusuri pesisir pantai. Di sepanjang jalan yang mereka lalui, banyak tempat yang disinggahi antara lain Teluk Sebangau, Pagatan Mendawai, Sampit dan Kuala Pembuang.
Rombongan Pangeran Adipati meneruskan pelayaran ke arah barat, sampai akhirnya mendarat di sebuah daerah, dinamakan Kuala Pembuang. Daerah ini sudah ada penghuninya yang juga berkiblat di bawah kepemimpinan Kerajaan Banjar, sehingga kehadiran rombongan yang bermaksud mendirikan kerajaan baru ini ditolak oleh masyarakat setempat.

Panti Darah Janji Samaya

Tanpa mengenal putus asa, dengan semangat tinggi rombongan Pangeran Adipati kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini, perjalanan tidak lagi menyusuri pantai tapi menuju hulu sungai hingga akhirnya sampai ke sebuah desa yang dinamakan Desa Pandau. Walau Desa Pandau telah dihuni masyarakat Suku Dayak yang dikenal dengan Suku Gambu, Arut, Anom dan lainnya sebanyak sembilan macam suku, di bawah kepemimpinan Demang Petinggi di Umpang menerima kehadiran rombongan Pangeran Adipati.
Seperti juga tertulis dalam catatan sejarah "Sekilas mengenang lahirnya Kerajaan Kotawaringin dan Kabupaten Kotawaringin Barat" yang diterbitkan Humas dan Penerangan Setwilda Kobar 2001, Demang Petinggi sebagai kepala Suku Dayak menyerukan pada rakyatnya agar menerima rombongan Pangeran Adipati. Seruan Demang Petinggi ini didasarkan keinginan untuk mengangkat Pangeran sebagai raja tapi dengan syarat raja harus memperlakukan mereka bukan sebagai hamba, tetapi sebagai pembantu utama dan kawan terdekat atau sebagai saudara yang baik. Rakyat tidak akan menyembah sujud kehadapan Pangeran Adipati.
"Usulan ini ditimbang dan diterima baik oleh Pangeran dan seluruh rombongan," ujar Djendro diiyakan Gusti Rasyidin yang juga anak keturunan kesultanan ini. Selepas persetujuan itu, dari pihak Suku Dayak Arut mengusulkan agar perjanjian ini bukan sekedar di bibir saja, melainkan harus bermaterai darah manusia yang diambil dari seorang dari Suku Dayak Arut dan seorang dari rombongan Pangeran Adipati Anta Kasuma.
"Perjanjian itu dinamakan Panti Darah Janji Samaya yang bererti perjanjian yang dikukuhkan dengan titisan darah yang bercampur jadi satu," ungkap Gusti Rasyidin yang ketika wawancara berlangsung ditemani Nurhadi dan Ahmad Yusuf di Astana Al Noorsari Kotawaringin Lama.
Dengan tersendat-sendat, cuba dia paparkan bagaimana perjanjian bermaterai darah itu berlangsung. Menurutnya, memang agak sukar diterima oleh akal, hanya demi sebuah janji harus mengorbankan dua manusia. Namun demikianlah adat yang berlaku, maka masing-masing kedua belah pihak menarik salah seorang pengikutnya untuk dijadikan korban perjanjian.
Sebelum kedua calon korban berdiri siap untuk dikorbankan, mereka mengambil sebuah batu yang harus ditancapkan ke tanah. Batu ini sebagai bukti atau perlambang turun temurun saksi sepanjang masa telah terjadi ikatan persaudaraan antara Suku Dayak dengan rombongan Pangeran Adipati dari Kerajaan Banjar. Dengan melakukan upacara adat yang hikmat, kedua calon korban berdiri di samping batu saksi yang kini dikenal dengan "Batu Pertahanan". Calon korban dari Suku Dayak berdiri menghadap ke hulu asal datangnya dan calon korban dari rombongan Pangeran berdiri menghadap ke hilir menunjukkan asal kedatangannya.
Selesai upacara sumpah setia, Kepala Suku Dayak mencabut mandaunya dan ditusukkan menembus ke dada korbannya, darah pun memancur deras. Korban dari pihak Pangeran Adipati pun ditusuk sehingga kedua darah korban ini memancur bersilang dan menetes jatuh menjadi satu membasahi tanah.
"Percampuran darah yang disaksikan kedua pihak inilah yang dimaksudkan untuk mempersatukan segala rasa dan fikiran dalam mewujudkan rencana bersama, membangunkan kerajaan," kata Rasyidin.

Terbentuk Kerajaan

Meskipun telah disepakati perjanjian antara kedua belah pihak, namun Desa Pandau masih dianggap belum  sesuai untuk membangun  sebagai kerajaan baru. Kedua rombongan yang telah terpadu dalam "Panti Janji Darah Samaya" milir mengikuti aliran Sungai Arut, kemudian mudik Sungai Lamandau, mencari daerah paling  sesuai untuk membangunkan kerajaan. Akhirnya, sampailah mereka di daerah yang meyakinkan iaitu Tanjung Pangkalan Batu yang kemudian hari dikenal sebagai Kotawaringin Lama. Berhentilah rombongan dan untuk beristirahat mereka membuat rumah di atas air yang biasa disebut "lanting".
"Ketika Pangeran Adipati naik ke darat, bertemulah dia dengan Kyai Gede seorang ulama penyebar agama Islam yang sudah lebih dulu tinggal di daerah itu," papar Rasyidin. Dan menurutnya, atas usulan Kyai Gede jugalah masyarakat sekitar yang dipimpin kepala suku, tidak perlu lagi membayar ufti ke Kerajaan Banjar, tapi ke Pangeran Adipati Anta Kasuma yang memimpin langsung Kerajaan Kotawaringin sebagai raja pertamanya.
Kerajaan Kotawaringin yang berbasis Islam dengan didukung Kyai Gede sebagai Mangkubumi kerajaan, sebagaimana dipaparkan Gusti Djendro Suseno melakukan pencampuran dengan masyarakat suku asli yang masih menganut agama nenek moyang dan ini berlangsung hingga raja-raja berikutnya. Tercatat raja-raja yang berkuasa setelah kepemimpinan Pangeran Adipati Anta Kasuma. Pangeran Mas Adipati putra Pangeran Anta Kasuma yang menggantikan ayahndanya setelah mangkat, berkuasa dari 920-941 H. Kemudian Pangeran Panambahan Anum (942-975 H), Pangeran Prabu Anum (975-1005 H), Pangeran Adipati Anum (1005-1050 H), Pangeran Penghulu (1050-1069 H), Gusti Sultanul Baladuddin Gelar Pangeran Ratu Begawan (1069-1116 H), Gusti Musaddam Gelar Pangeran Ratu Anum Kusuma (1116-1171 H).
Namun dalam perjalanan selanjutnya, ketika ibukota kerajaan pindah ke Pangkalan Bun di bawah kepemimpinan Pangeran Ratu Imanuddin, yang menurut Djendro Suseno, pemerintahannya sangat pro pada pihak Belanda. Sehingga hubungannya dengan orang-orang Kotawaringin Lama menjadi tidak harmonis kereaa Kotawaringin lama sangat kontra dengan penjajah Belanda.
Setelah kepemimpinan Pangeran Ratu Muhammad Imanuddin, menyusul bertahta Pangeran Ratu Achmad Hermansyah (1265-1281 H), Gusti Muhammad Sanusi Gelar Pra kasuma Yudha (1265-1281 H), Pangeran Pakusukma Negara (1281-1325 H), Pangeran Samudra Gelar Pangeran Ratu Sukma Alamsyah (1325-1332 H) dan Pangeran Muhammad Gelar Pangeran Ratu Kasuma Anum Alamsyah (1332-1350 H).
"Pemindahan ibukota kerajaan ke Pangkalan Bun ini yang dijadikan sebagai titik tolak lahirnya Kabupaten Kotawaringin Barat, tahun 1679 M yang terbahagi atas Kec Arut Selatan, Delang, Lamandau, Kotawaringin Lama, Arut Utara, dan Balai Lama," 

Peranan Keturunan Sultan Kotawaringin Sebelum Tahun 1950

Peranan Di Bidang Pemerintahan
Kesultanan Kotawaringin berdiri lebih dari tiga abad dengan satu kali perpindahan ibu kota dari Kotawaringin Lama ke Sukabuni Indra Sakti yang kemudian dinamai Pangkalan Bu’un. Sultan pertama Kesultanan Kotawaringin adalah Pangeran Adipati Antakesuma bin Sultan Mustainubillah dengan gelar Ratu Bengawan Kotawaringin. Beliau memerintah dari tahun 1615-1630 M dengan dibantu Mangkubumi Kyai Gede.
Di masa pemerintahan sultan pertama ini disusun undang-undang Kesultanan Kotawaringin yakni Kitab Kanun Kuntala, selain itu di bangun Istana Luhur sebagai keratin Kesultanan Kotawaringin. Sultan juga membangun Perpatih (rumah patih) Gadong Bundar Nurhayati dan Perdipati (rumah panglima Perang) Gadong Asam, selain itu untuk keperluan perang dibangun Pa’agungan sebagai tempat menyimpan senjata dan beliau juga membangun surau serta paseban. (Bappeda : 2004 : 9-10)

Selain pembangunan fizik sultan juga menentukan batas-batas wilayah Kesultanan Kotawaringin yaitu :
1)      Sebelah utara berbatasan dengan Bukit Sarang Pruya (Kerajaan Sintang).
2)      Sebelah timur berbatasan dengan sengai Mendawai.
3)      Sebelah barat berbatasan dengan Tanjung Simbar (Kerajaan Matan).
4)      Sebelah selatan berbatasan dengan laut Jawa. (Bappeda : 2004 : 10)

Sultan kedua adalah Pangeran Mas Adipati yang memerintah dari tahun 1630-1655 M dengan Mangkubumi Kyai Gede yang kemudia digantikan oleh Dipati Gading. Setelah beliau wafat digantikan oleh Pangeran Panembahan Anum yang memerintah dari tahun 1655-1682 M dengan Mangkubumi Dipati Gading. Sultan Kotawaringin yang keempat adalah Pangeran Prabu yang memerintah dari tahun 1682-1699 M dengan Mangkubumi Pangeran Dira. Setelah beliau mangkat digantikan oleh Pangeran Dipati Tuha yang memerintah dari tahun 1699-1711 M dengan Mangkubumi Pangeran Cakra. Sultan Kotawaringin yang keenam adalah Pangeran Penghulu yang memerintah tahun 1711-1727 M. Keseluruhan sultan dari yang kedua hingga yang keenam dimakamkan di Kotawaringin, penulis sendiri tidak menemui penjelasan yang banyak tentang sultan kedua hingga yang keenam. Menurut Lontaan dan Sanusi pada masa-masa itu kesultanan berjalan lanc,ar aman dan tenteram tidak ada gangguan dari manapun.
Sultan Kotawaringin yang ketujuh adalah Pangeran Ratu Bengawan  yang memerintah dari tahun 1727-1761 M. Pada masa pemerintahan beliau Kesultanan Kotawaringin mengalami masa keemasan dengan melimpahruahnya hasil bumi dan lakunya hasil kerajinan dari Kotawaringin di pasar regional. Sistem pemerintahan telah menugaskan beberapa menteri yang mengepalai beberapa wilayah, seperti Menteri Kumai, Menteri Jelai dan lain sebagainya. (Bappeda : 2004 : 11) Namun pada masa pemerintahan belaiu inlah Kesultanan Kotawaringin diserahkan Kerajaan Banjar ke Hindia Belanda. Mulai saat itulah tanggungjawab pemerintahan harus dilakukan kepada Kawalan terus Hindia Belanda.

Pangeran Ratu Anum Kesumayuda Tuha menggantikan Pangeran Ratu Bengawan sebagai sultan kedelapan, beliau memerintah dari tahun1761-1805 M dengan Mangkubumi Pangeran Tapa Sana. Pada masa beliau di bangun pesantren di Danau Gatal Kanan dan Danau Gatal Kiri (desa Rungun sekarang) sebagai tempat mendidik putra-putri kesultanan.

Pada masa Sultan kesembilan Pangeran Ratu Imanudin ibu kota Kesultanan Kotawaringin dipindahkan ketepian sungai Arut yang diberi nama Sukabumi Indra Sakti yang kemudian dikenal sebagai Pangkalan Bu’un. (wawancara dengan Gusti Awwannur : selasa 20 November 2007) Beliau memerintah dari tahun 1805-1841 M dibantu oleh Mangkubumi Pangeran Adipati Mohamad Saleh. Pada masa pemerintahannya di bangun Benteng Batu Beturus di sungai Lamandau dan membangun pertahanan di teluk Kumai, serta parit pertahanan di Sukamara untuk mengatasi lanun laut. Beliau juga membangun Istana Kuning dan rumah Raden Ratna Wilis untuk permaisuri beliau.
Sultan Kotawaringin yang kesepuluh adalah Pangeran Ratu Ahmad Hermansyah dengan Mangkubumi Pangeran Paku Syukma Negara yang memerintah dari tahun 1847-1862 M. Setelah Sultan kesepuluh mangkat beliau digantikan dengan Pangeran Paku Syuma Negara dengan Mangkubumi Pangeran Prabunata yang memerintah dari tahun 1862-1867 M. Pangeran Ratu Anum Kesumayuda kemudian menggantikan kedudukan sultan kesepuluh menjadi sultan kesebelas dari tahun 1867-1904 M dengan dibantu Mangkubumi Pangeran Paku Sukma Negara yang kemudian digantikan oleh Pangeran Mangku Prabu Nata, pada masa beliau ini diselesaikan pembangunan masjid Jami dan di bangunkan Rumah Mangkubumi.
Setelah beliau mangkat terjadi perebutan tahta kerana beliau tidak memiliki anak laki-laki, akhirnya pihak Hindia Belanda melalui Kontrolir Van Duve mengambil keputusan yang berhak naik tahta adalah keturunan dari Pangeran Imanudin. Sehingga Pangeran Paku Sukma Negara naik tahta kembali yang memerintah dari tahun 1904-1913 M dengan dibantu Mangkubumi Adipati Mangku Negara. Pangeran Paku Sukma Negara kemudian mengangkat ketiga putranya Pangeran Bagawan menjadi Raja Muda, Pangeran Kelana Perabu Wijaya Menjadi Perpatih dan Perdipati Menteri Dalam serta Pangeran Mohamad Zen menjadi Penghulu.
Pangeran Ratu Sukma Alamsyah bin Pangeran Begawan diangkat menjadi sultan ketigabelas dengan Mangkubumi Pangeran Adipati Mangkunegara yang memerintah dari tahun 1913-1939 M. Pengganti beliau adalah Pangeran Ratu Sukma Alamsyah yang dibantu Mangkubumi Pangeran Adipati Mangku, beliau memerintah dari tahun 1939-1948. Pada masa pemerintahan beliau dilakukan perluasan wilayah kesultanan sebagai berikut :
a.       Di Kampung Mendawai, membuka lokasi baru untuk pemukiman penduduk Mendawai yang selama itu tinggal di sungai Karang Anyar, maka dikenallah tempat itu dengan sebutan Sungai Bulin.
b.      Di Kampung Raja, membuka lokasi baru untuk tempat pemukiman penduduk Kampung Raja yang banyak tinggal di pedukuhan / ladang-ladang, maka dikenallah tempat itu dengan kampung sungai Bu’un atau disebut juga Kampung Baru, sekarang menjadi Kelurahan  Baru.
c.       Di jalan Pangkalan Bun ke Kumai, di depan simpang Mendawai, dibuka pemukiman orang-orang yang berasal dari Jawa, sekarang menjadi kelurahan Sidorejo. (Bappeda : 2004 : 18 )
Peranan Keturunan Sultan Kotawaringin Di Bidang Kebudayaan
Di dalam bidang kebudayaan sejak Kesultanan Kotawaringin beribukota di Kotawaringin Lama hingga dipindahkan ke Pangkalan Bun para sultam-sultan yang memerintah membangunkan istana-istana dan bangunan yang indah seperti istana Alnursari, mesjid Jami Kotawaringin dan Istana Kuning atau Keraton Lawang Agung Bukit Indra Kencana yang bersifat terbuka yang mempunyai pengaruh luars eperti di Jawa yang memiliki arkitektur gabungan antara pengaruh jawa, banjar, melayu dan dayak.

Pada masa pemerintahan Pangeran Ratu Anum Kesumayuda terdapat hiburan seperti Kelompok Musik Raja dan Pernaman Abdul Mulik Sejenis Komedi Saudi Arabia. Dalam hasil wawancara penulis dengan Pangeran Muasdjidinsyah tanggal 1 Desember 2007 dapat diketahui bahwa sejak dahulu apabila ada peringatan hari-hari besar islam selalu diadakan pasar malam di Lapangan Tugu, pada saat pasar malam tersebutlah ditampilkan pertunjukan-pertunjukan kesenian khas daerah baik yang asli dari Kotawaringin maupun dari luar daerah seperti :Jepen, Tirik, Mamanda, Ludruk, Ketoprak, Ronggeng dan lain sebagainya. Mengenai orang-orang Tionghoa, pihak kesultanan sengaja mengelompokkan mereka menjadi sebuah  komuniti cina di seberang sungai Arut dan mereka tetap diberi kebebasan untuk mengembangkan budayanya sendiri.
Pada masa Pendudukan Jepun  kesenian daerah mulai di gali kembali. Untuk itu mereka mendirikan Keimin Bunka Syidosyo (Badan Pusat Kebudayaan) yang bertugas menggalakkan hidupnya kesenian rakyat. Hal ini didukung oleh pihak kesultanan dan para keturunan sultan sendiri sehingga menumbuhkan kelompok-kelompok kesenian yang baru. Misalnya saja, dalam waktu singkat bermunculan kelompok-kelompok sandiwara untuk mementaskan sandiwara di desa-desa sekelilingnya. Dari segi lain dapat diambil kesimpulan bahwa niat Pemerintah Pendudukan Jepun menumbuhkan kembali kesenian tradisional adalah untuk menghibur tentara Jepun agar dapat mengubati kerinduan kepada keluarga mereka di negaranya.
Peranan Keturunan Sultan Kotawaringin Di Bidang Ekonomi
Pada masa Pangeran Ratu Bengawan (1727-1761 M ) Kesultanan kotawaringin mengalami masa keemasan, pada masa ini hasil pertanian dan hasil bumi melimpah ruah dan di eksport keluar daerah. Perdagangan hasil bumi Kotawaringin menjadi terkenal dan sangat laku di pasaran antarabangsa. Kerana kemajuan ekonomi ini rupanya juga memacu perkawinan antara suku dan banyak pendatang baru yang menetap di Kotawaringin.
Kerajaan Kotawaringin yang di bangun di awal abad ke 17 telah memacu pertumbuhan permukiman di sepanjang sungai di daerah Kotawaringin Barat. Permukiman yang ada dipacu oleh domain ekonomi bukan oleh domain politik yang membentuk kota-kota agrasi seperti di Jawa. Permukiman ini menggunakan sungai sebagai alat transfortasi dan elemen primer kota sehingga Pangkalan Bun sebagai ibukota Kesultanan Kotawaringin berkembang menjadi kota perdagangan yang menggunakan sungai sebagai peranan utama.
Pada waktu sultan ke 13 bertahta sekitar tahun 1930-an, hubungan antar awilayah di muara sungai atau tepi pantai ke daerah pedalaman sudah dapat di tempuh dalam waktu lebih singkat. Ini kerana adanya kapal-kapal dagang orang-orang Tionghoa yang diperbolehkan oleh pihak kesultanan untuk mengangkut barang dagangan dan penumpang.
Pada masa Pendudukan Jepun di bina perusahaan yang melibatkan kerabat istana seperti : pembinaan kapal di Sukamara dan kailang pengolahan kulit bakau di Kumai. Pembangunan bangunan-bangunan untuk kepentingan Jepun juga dilakukan, serta pembukaan kembali Lapangan Terbang yang ditinggalkan oleh Hindia Belanda.
Peranan Keturunan Sultan Kotawaringin Di Bidang Pendidikan
Pada masa pemerintahan Pangeran Ratu Anum Kesumayuda Tuha (1767-1805 M), pihak kerajaan sudah memperhatikan pendidikan terutama untuk kerabat kesultanan. Wujud dari perhatian tersebut adalah dengan didirikannya pondok pesantren di Danau Gatal Kanan dan Danau Gatal Kiri ( desa Rungun sekarang).
Pada masa pemerintahan Pangeran Ratu Sukma Alamsyah Sultan ke 13, di kota Pangkalan Bun berdiri sebuah sekolah desa yang disebut Volkschool sampai kelas III, dan sebuah sekolah sambungan yang disebut Vorvolkschool kelas V. sedangkan di luar kota Pngkalan Bun yaitu Kumai, Sukamara, Kotawaringin, Nanga Bulik, Perambangan, Kudangan, Kinipan, Tapin Bini dan Bayat masing-masing didirikan Volkschool.
Menjelang kedatangan Jepang, sebagian besar sekolah-sekolah tersebut di bantu oleh badan swasta  yayasan Dayak Evangelis kerana sekolah-sekolah swasta tidak mendapat subsidi dari pemerintah Hindia Belanda, guru-guru sekolah sekolah-sekolah tersebut orang-orang pribumi. Juga kesempatan untuk memperoleh pendidikan pada masa Hindia Belanda adalah hanya mereka yang mampu membayar wnag sekolah saja.
Ketika Jepun masuk, mereka membina sekolah-sekolah swasta ini tetap berjalan dengan guru-gurunya yang digaji oleh penduduk kampung. Pemerintah pendudukan Jepun mengambil alih semua sekolah swasta ini dan semua gurunya digaji oleh pemerintah pendudukan Jepun. Pelajaran bahasa Jepun dengan intensif sekali diajarkan kepada anak-anak sekolah. Setiap pagi sebelum masuk kelas selalu diadakan upacara bendera mengibarkan bendera Jepang dan penghormatan ke arah matahari terbit. Setelah upacara selesai disambung dengan gerak badan yang disebut Taiso. (Bappeda : 2004 : 25). Selain itu siswa-siswa juga diajarkan pelajaran menyanyi oleh tentara Jepun yang setiap hari datang ke sekolah. Penyebaran kebudayaan Jepun juga semakin luas seperti tari-tarian ala Jepun dan sekolah-sekolah Rakyat juga diperintahkan untuk mengadakan latihan sandiwara untuk dipentaskan pada hari-hari besar bangsa Jepun (Bappeda : 2005 : 38).
Peranan Keturunan Sultan Kotawaringin Sesudah Tahun 1950-1960

 Keturunan Sultan Kotawaringin Di Bidang   Pemerintahan
Setelah daerah Swapraja Kotawaringin rasmi bergabung dengan negara Kesatuan Republik Indonesia tanggal 1 Mei 1950, daerah ini berada di bawah kabupaten Kotawaringin yang beribukota di Sampit yang dipimpin oleh seorang bupati bernama Cilik Riwut. Daerah Swapraja Kotawaringin sendiri dipimpin oleh seorang Wedana bernama Basri. Walaupun sebenarnya Swapraja Kotawaringin telah dimasukkan ke kabupaten Kotawaringin semenjak tanggal 27 Desember 1949 berdasarkan undang-undang No. 22 Tahun 1948.
Dengan berakhirnya kekuasan kesultanan, maka para bangsawan dan keturunan sultan tidak lagi memiliki jabatan-jabatan dalam pemerintahan. Hanya beberapa keturunan Sultan dan bangsawaan yang sebelumnya sudah bekerja sebagai pegawai pemerintahan, tetap bekerja sebagai pegawai seperti gusti Hamidan, Gusti Majdhan, Gusti M. Taib dan lain-lain. Para bangsawan lainnya seperti Pangeran Aria Ningrat yang dulunya bekerja sebagai ketua daerah kembali ke masyarakat. 
pada masa perubahan kekuasaan tersebut perekrutan pegawai negeri saat itu banyak yang diambil dari para bangsawan dan keturunan sultan. Contohnya adalah Pangeran Perdana yang merupakan anak sultan diangkat langsung menjadi pegawai negeri, dan ketika itu majoriti penduduk berdarah raja yang kebanyakan dari kaum bangsawan, dan keturunanya bekerja sebagai pegawai di pemerintahan.
Daerah Swapraja Kotawaringin sebagai bahagian dari kabupaten kotawaringin juga melakukan pemilihan wakil-wakil Rakyat yang akan duduk di DPRDS kabupaten Kotawaringin. Atas dasar ini maka pada waktu itu terpilih : M. Abdullah Mahmud dari partai Masyumi, Ahmad Said dari BPRI, Dahlan Abas dari partai Masyumi, M. Sahloel dari PNI, Gusti M. Sanusi dari PNI, Djainuri dari SKI, I. Ismail dari Parkindo. (Lontaan dan Sanusi: 1976 : 91) Dalam susunan wakil rakyat yang terpilih tersebut terlihat hanya Gusti M. Sanusi yang merupakan kerabat kesultanan yang terpilih dalam DPRDS.
Namun ketika Swapraja Kotawaringin menjadi Kabupaten sendiri yang disahkan dengan undang-undang No : 27 tahun 1959 tentang pembahagian daerah tingkat dua Kotawaringin Timur dapat terlihat banyak diantara kerabat sultan yang menduduki jabatan sebagai anggota DPRDGR, seperti : P. Arianingrat, Gst. Abdul Gani, Gst. Kiting, Gst. Hermansyah, Mas Karim DW, dan H. A. MAS Alipandi. Masuknya beberapa nama ini dalam DPRDGR menandakan mereka juga mulai  berkecimpung didalam bidang politik.

KERAJAAN PAGATAN(1761-1912)

SEJARAH KERAJAAN PAGATAN






Sejarah kerajaan

Pertengahan abad 18 Pagatan masih merupakan hutan belantara, setelah kedatangan orang-orang Bugis Wajo membuka pemukiman di kawasan hutan rotan belantara, kemudian menjadikan Pagatan sebagai sebuah kerajaan yang bakal lahir dan berkembangnnya peradaban bugis Pagatan di Banua orang Banjar. Dalam sejarah Pagatan tercatat sebagai salah satu kerajaan kecil yang berdaulat pada kerajaan Banjar dan sebagai pusat utama perjuangan mempertahankan Kemerdekaan RI.serta memiliki kedudukan yang strategik dalam jalur pelayaran. Jadi tidak menghairankan kalau kolonial Belanda dan pendudukan Jepun  ingin mengusai Pagatan dulu dikenali sebagai Ibukota Kalimantan Tenggara.

Orang Bugis Wajo yang telah berjasa membangunkan Pagatan, telah mengembangkan peradaban serta mengabdikan seluruh jiwa raganya membangunkan daerah ini sehingga dengan bangga mereka disebut sebagai orang Bugis Pagatan. Sebab sejak direstui penguasa Kerajaan Banjar untuk  membuka kampung dan bermukim, sejak itu pula Bugis Pagatan merasa sebagai sebagai orang Banua, sehingga peradaban yang telah dibangun dan dikembangkan oleh pemerintah Kalimantan Selatan ditetapkan sebagai salah satu sektor pelancongan budaya  didaerah ini dengan dijadikannya Pagatan sebagai kota pelanconagn budaya.

 BUGIS PAGATAN

Bugis Pagatan adalah salah satu suku bangsa yang ada di Kalimantan Selatan yang sejak pertengahan abad 18 telah bermukim serta mengembangkan peradaban dan persekutuan di Pagatan (Kalimantan Selatan) yang terletak bahagian Tenggara kepulauan Kalimantan. Suku Bugis yang pertama kali membangunkan Pagatan kemudian mengembangkan peradapan dan persekutuannya dulunya berasal dari Wajo (Sulawesi Selatan), Matulada (1985) menjelaskan suku bangsa Bugis dan Makasar sejak dulu terkenal sebagai salah satu bangsa yang suka mengembara mengharungi samudera sehinga dikenal sebagai pelaut terhebat dan ulung. Dengan perahu layar   mereka dapat mengharungi samudera Nusantara, ke Barat sampai ke Madagaskar, ke Timur sampai  ke Irian dan Australia. Oleh kerana itulah dihampir pantai dan pelabuhan laut dikepulauan Nusantara terdapat perkampungan Bugis. Mereka pada umumnya menetap dan menjadi penduduk daerah itu sambil mengembangkan adat istiadat persekutuan mereka. Terdapat sekarang ini suku Bugis Pagatan di Kalimantan Selatan, suku Bugis Johor di Malaysia, suku Bugis Pasir dan Kutai di Kalimantan Timur, dan lain sebagainya.

Lebih lanjut Matulada (1985) menjelaskan disamping menjadi pelaut dan nelayan suku Bugis juga terkenal dalm bidang pertanian (Tani) dan Perkebunan (Dare) semenjak dahulu. Tanah-tanah persawahan yang subur yang dikenal sebagai lombong pada di Sulawesi Selatan adalah terdapat dinegeri-negeri Bugis itu. Seperti Sidenreng, Penrang, dan Wajo. Bahkan orang Bugis Wajo orang wajo juga terkenal sebagai pedagang yang ulung, sampai pada zaman sekarang orang di Sulawesi percaya bahawa pedagang-pedang Bugis yang banyak berhasil dalam perniagaannya, nescaya mempunyai titisan darah Bugis Wajo.

Berkaitan dengan hal tersebut diatas tersebut tiga orang Bangsawan Bugis dari Wajo dan pengikutnya melakukan pelayaran dari Selat Makasar menuju kepulauan Kalimantan. Tiga orang saudagara yang masing masing membawa perahu layar beserta rombongannya adalah. Pua Janggo, La Pagala, dan Puanna Dekke sesampainya di Kalimantan Pua Janggo dan La Pagala masing-masing hampir mendekati kawasan di Tanggarong dan Pasir, sementara Puanna Dekke terus melakukan pelayaran menelusuri selat Pulau Laut menuju Laut Jawa. Akan tetapi sebelum keluar Laut Jawa Perahu Puanna Dekke dihadang badai yang dahsyat, sehingga ia berlindung di Muara Sungai Kukusan (Muara Pagatan). Badai yang dahsyat belum juga reda Puanne Dekke akhirnya membatalkan niat menuju laut jawa, kemudian malah tertarik untuk menyelusuri perairan sungai Kukusan.

Selama dalam pelayaran menyelusuri sungai Kukusan dia tidak melihat orang melakukan aktiviti di tepian sungai atau melihat perkampungan pada hal waktu pelayaran sudah cukup lama. Tiba pada suatu tempat dia melihat sekelompok orang di tepian sungai sedang mengambil rotan, kemudian dia menghampiri dan bertanya tempat apa nama daerah ini, orang tadi menjawab wilayah ini hutan rotan biasa kami ditempat ini melakukan pekerjaan pemagatan artinya mengambil dan mengumpulkan rotan.

Puanna Dekke tertarik atas tempat pemagatan tersebut dan berniat akan membangun perkampungan diwilayah ini. Tempat pemagatan walaupun hanya ditumbuhi hutan belantara bukan berarti tidak bertuan, akhirnya Puanna Dekke berusaha mencari tahu bahwa wilayah yang diinginkan tersebut ternyata masuk dalam kekuasaan Raja Banjar. Dalam catatan lontara Kapitan Latone (ditulis, 21 Agustus 1868) Setelah Punna Dekke( J.C. Nagtegaal menyebutnya Poewono Deka, 12 : 1939) Daerah yang menarik hatinya itu dibuka itu adalah termasuk wilayah kerajaan Banjar, maka dia pergi menemui sultan Banjarmasin.

Sebagai seorang pemimpin Matoa Dagang ( Zainal Abidin, 57 : 1983) tidak sulit buat Punna Dekke berlayar hingga  ke Bandarmasih. Kemudian Puanna Dekke meghadap Panembahan Batu untuk mengutarakan keinginannya. Panembahan Batu kemudian memberikan restu dan izin utuk membangunkan pemukiman sebagaimana yang dimaksudkan. (Lontara Latone) tertulis bahwa pada saat mohon izin kepada panembahan, ditegaskan kepada Puanna Dekke untuk kesanggupnya menanamkan pelabur an sendiri untuk biaya pembangunan pemukiman baru di atas kawasan hutan belantara tersebut, kemudian Puanna Dekke juga dapat menjamin keamanan perairan di Muara Pagatan yang selama ini sering digunakan para lanun laut untuk merompak di Selat Pulaut. Apabila kedua hal tersebut dapat dipatuhi syaratnya maka daerah yang diinginkankan diperkenankan   sebagai perkampungan warga orang Bugis yang dikemudian hari dapat dijaga dan diwariskan kepada anak cucu Puanna Dekke.

Kehormatan yang diberikan Panembahan ini yang kemudian menjadi semangat bagi membagunkan pemukiman baru, sampai akhirnya menjadi sebuah Kampung oleh Puanna Dekke member inama Kampoung Pegatan ( asal kata dari tempat pemagatan). Kampoeng Pagatan dalam tatanan Puanna Dekke berkembangan sebagai salah satu Bandar yang strategik yang diapit oleh Laut Jawa dan di Belah oleh Sungai Kukusan (Sekarang Sungai Kusan), sehingga cepat mengalami kemajuan sebagai salah satu bandar yang penting di wilayah Kerajaan Banjar.

Kemudian Puanna Dekke mengundang saudaranya Pua Janggo dan La Pagala untuk membicarakan pemimpin mengatur pemerintahan internal di kampoeng Pagatan. Dalam perundingan tiga bersaudara ini akhirnya menyiapkan Hasan Panggawa sebagai calon raja Pagatan, Hasan Panggewa sendiri ketika itu masih berumur muda termasuk keturunan salah seorang raja Kampiri di Wajo.

 KERAJAAN PAGATAN TAHUN 1761- 1912 M.

Nagtegaal (1983) menjelaskan bahwa pertengahan abad ke 18 datanglah pedagang Bugis dari Wajo (Sulawesi Selatan) bernama Poewono Deka, dan atas izin Sultan Banjarmasin kemudian mendirikan kerajaan Pagatan. J.C. Noorlander (190: 1983) menjelaskan dari gelar-gelar yang digunakan raja-raja Banjar ternyata yang bergelar Penambahan Batu (Sultan Banjarmasin) adalah Nata Alam atau Panembahan Kaharuddin Halilullah yang memerintah tahun 1761-1801. Maka berdasarkan data tersebutlah dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa kerajaan Pagatan didirikan setelah tahun 1761.

Dengan terjalin hubungan baik Puanna Dekke dengan Panembahan Batu, dimana kepercayaan yang telah diberikan Panembahan kepada Puanna Dekke selalu ia jaga dengan baik, sehingga dalam mengatur Kerajaan Pagatan secara politiknya masuk dalam kedaulatan Kerajaan Banjar. Oleh kerana itu kedudukan Kerajaan Pagatan hanya memiliki hak autonomi pengaturan pemerintahan dalaman, sebagaimana juga kerajaan-kerajaan kecil ketika itu yang tetap berada di bawah kedaulatan kerajaan yang lebih besar. Sebagai mana juga Kerajaan Banjar merupakan kerajaan besar yang ada di Nusantara pada saat itu berfungsi sebagai pelindung terhadap Kerajaan Pagatan.

Kerajaan Pagatan yang muncul pada pada pertengahan abad ke 18. yang diperkirakan berlangsung dari tahun 1861 sampai dengan 1912. Selama satu setengah abad terbagi 4 empat priode sistem pemerintahan, iaitu :

1. Priode ke I Pra Kerajaan di Pimpin Puanna Dekke- sebagai pendiri kerajaan Pagatan, dengan mengerahkan seluruh daya upaya beserta pengikutnya mmbuka hutan belantara, kemudian jadilah pemukiman baru yang kemudian diberi nama Kampoeng Pegatang, selanjutnya Puanna Dekke mempersiapkan cucunya untuk jadi Pemimpin kerajaan Pagatan. Sementara Puanna Dekke yang dikenali pendiri Kerajaan Pagatan tidak mahu menjadi Raja.

2. Priode ke II Puanna Dekke Mengistiharkan kerajaan Pagatan,- dengan menobatkan cucunya bernama La Panggewa sebagai raja pertama di Kerajaan Pagatan.diperkirakan berlangsung dari tahun 1761-1861.

3. Priode ke II Kerajaan Pagatan mengalami perluasan wilayah kekuasaan dengan bergabung kerajaan Kusan,- sehingga menjadi Kerajaan Pagatan- Kusan. Berlangsung dari tahun 1861 – 1908.

4. Priode ke IV. Kerajaan Pagatan Kusan pada tahun 1908-1912 M telah mengalami perubahan pemerintahaan- kalau sebelumnya beerdaulat terhadap kerajaan Banjar, maka sejak tanggal, 1 Julai 1908 diserahkan kepada pemerintahan Hinda Belanda.

Andi Syaiful (1993) berpendapat bahwa kerajaan Pagatan diperkirakan berlangsung dari tahun 1761- 1912. dan Raja Pagatan yang pertama adalah bernama Hasan Pangewa/La Panggewa Kapitan Laut Pulo (Nategaal, 12-14) menjelaskan beberapa orang raja telah memerintahan Pagatan. Setelah pemerintahan Hasan Pangewa.


. RAJA PAGATAN DAN KUSAN

1. Hasan Penggewa Raja Pagatan I (1761-1838)

Hasan Pengewa/ La Penggewa adalah Raja Pagatan yang pertama beliau cucu dari Punna Dekke pendiri Kerajaan Pagata. La Panggewa masih keturunan dari Raja Kampiri (Wajo), sejak kecil dibawa bersama Puanne Dekke dari kampiri ke Pagatan, bahkan konon di Pagatanlah La Panggewa di khatankan kemudian dinobatkan menjadi Raja Pagatan yang pertama. Mengingatkan umurnya masih belia maka untuk mengaturkan pemerintahan untuk sementara dipercayakan kepada pamannya Raja Bolo, sambil mendidik dan membimbing La Pangewa supaya boleh menjadi pemimpin dan mengatur pemerintahan setelah dewasa, atas gembelengan Puanna Dekke dan Raja Bolo La Pengewa menjadi seorang perkasa,

Pada suatu peristiwa La Penggewa diutus oleh Raja Bolo untuk menghadap Raja Banjar dalam rangka menyampaikan bahwa selama ini dialur muara sungai Barito para perahu layar saudagar mengalami kesulitan untuk masuk berlayar ke Banjarmasin kerana sering digangu oleh para lanun laut yang mengacaukan muara sungai tersebut. Kemudian oleh Panambahan menyambut baik kedatangan La Panggewa Cucu Puanna Dekke, serta diberikanlah kepercayaan La Panggewa memimpin askar untuk mengusir para lanun laut di Muara Sungai Barito tersebut, atas kehormatan yang dipercayakan Panembahan tidak disia-siakan La Penggewa dan berhasil mengusir perompak tersebut dan lari berpindah ke Biajao. Atas keberhasilan La penggewa inilah kemudian Panembahan menganugerahkan gelar kehormatan kepada La Penggewa sebagai Kapitan Laut Pulo. Atas kesetiaan Puanne Dekke mengutus cucunya oleh Penambahan mengegaskan kembali kepada Kapitan Laut Pulo bahwa  Pagatan yang telah dibangunkan Puanne Dekke diserahkan secara sah untuk dikuasai dan dikemudian hari dipersilahkan untuk diwariskan kepada keturunan Puanna Dekke. Sekembalinya dari kerajaan Banjar La Penggwa oleh Puanna Dekke dan Raja Bolo menyerahkan segala hak La Penggewa untuk memimpin dan mengatur pemerintahan kerajaan Pagatan tahun 1800, kemudian La Penggewa Kapitan Laut Pulo magkat tahun 1838 digantikan oleh putranya bernama Abdul Rahim.

2. Arung Pallewange Raja Pagatan II ( Tahun 1838 – 1855)

Abdul Rahim bin Hasan Pengewa dinobatkan menjadi raja Pagatan II pada tanggal 19 Julai 1838 kemudian bergelar Arung Pallewange, selama 26 tahun berkuasa kemudian wafat pada tanggal, 28 April 1855. selanjutnya digantikan oleh putranya Abdul Karim. Dalam catatan sejarah, bahwa keturunan Abdul Rahim ini kemudian yang banyak memimpin kerajaan Pagatan,

3. Arung La Mattunru Raja Pagatan III (Tahun 1855-1871)

Abdul Karim Bin Abdul Rahim dinobatkan menjadi raja Pagatan III tahun 1855 dan bergelar Arung La Mattunru, pada masa pemerintahannya terjadi perluasan wilayah kerajaan Pagatan dengan bergabung kerajaan Kusan tahun 1861, sehingga menjadi kerajaan Pagatan – Kusan. Kemudian Arung La Mattunru wafat tahun 1871 digantikan oleh putranya Abdul Djabbar.

4. Arung La Makkaraw Raja Pagatan IV (Tahun 1871-1875)

Abdul Djabbar Bin Abdul Karim dinobatkan jadi raja Pagatan tahun 1871 dan bergelar Arung La Makkaraw tidak lama berkuasa kemudian wafat tahun 1875, karena Arung La Makkaraw tidak mempunyai keturunan maka digantikan oleh Daeng Mankkaw putri dari Arung Pallewange.

5. Ratu Daeng Mankkaw Raja Pagatan V (Tahun 1875-1883)

Daeng Mankkaw Binti Abdul Rahim adalah raja Pagatan V yang dinobatkan menjadi raja tahun 1875 kemudian bergelar Ratu Daeng Mankkaw. Pada masa pemerintahan Ratu daeng Mankkaw didampingi oleh suaminya Pengeran Muda Aribillah. salah seorang raja Kerajaan Tanah Bumbu sebuah kerajaan kecil yang berada disebelah Utara Kerajaan Pagatan. Pengeran Muda Aribillah merupakan cucu dari Sultan Banjar Tamjidillah I yang telah mengadakan ikatan perkawinan dengan Ratu Daeng Makkao dari ikatan perkawinan inilah kemudian lahir Andi Tangkung dan Andi Sallo (Abdul Rahim).

Ratu Daeng Mankkaw wafat tahun 1883. Sementara anaknya bernama Abdul Rahim belum dewasa maka untuk pemerintahan kerajaan Pagatan dipercayakan kepada Kolonial Belanda, sementara pemangku kerajaan dipercayakan kepada kakaknya Andi Tangkung

6. Andi Tangkung Raja Pagatan VI ( Tahun 1883-1893)

Andi Tangkung memangku jabatan kerajaan Pagatan bergelar Petta Ratu yang berlansung sejak tahun 1883 dan berahir tahun 1893. Kemudian digantikan oleh Abdul Rahim

7. Arung Abdul Rahim Raja Pagatan VII (Tahun 1893-1908)

Andi Sallo bergelar Arung Abdul Rahim naik tahta tahun 1893 dan berahir pada tanggal, 16 Julai 1908. Pada masa akhir kekuasaan Arung Abdul Rahim telah terjadi kemelut dalaman kerajaan Pagatan Kusan. Peristiwa tersebut berawal perseteruan antara dua saudara antara Andi Sallo dan Andi Tangkung. Andi Tangkung mempersiapkan putranya bernama Andi Iwang sebagai penganti Arung Abdul Rahim pemangku kerajaan Pagatan Kusan, sementara juga Andi Sallo juga mempersiapkan putranya bernama Andi Kacong untuk mengantikan dirinya sebagai pemangku kerajaan Pagatan Kusan. konflik perebutan tahkta yang berterusan akhirnya setahun sebelum wafatnya Arung Abdul Rahim, yakni pada tanggal, 20 April 1907. Arung Abdul Rahim mengeluarkan suatu pernyataan bahwa kerajaan Pagatan dan Kusan diserahkan kepada pemerintahan kolonial Belanda. Maka setelah empat tahun (1908-1912) pelaksanaan pemerintahan kerajaan Pagatan dan Kusan di bawah suatu wilayah (zelfbestuusraad), terjadi pada tanggal, 1 Julai 1912 kerajaan Pagatan dan Kusan dihapuskan dalam pemerintahan langsung Hindia Belanda (Nategaal: 1983).

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...