Showing posts with label NUSA TENGGARA. Show all posts
Showing posts with label NUSA TENGGARA. Show all posts

Saturday, January 12, 2013

KESULTANAN SUMBAWA(1630-1958-KINI)

Bendera Kesultanan Sumbawa


Panji atau Bendera LIPAN atau LIPAN API merupakan Bendera Perang Kesultanan Sumbawa. Bendera ini Selalu dibawa manakala pasukan Bala tentera ketika menunaikan tugas pengamanan wilayah kesultanan dari ancaman musuh. Dewasa ini Bendera asli disimpan oleh pak Makadia keturunan dari Panglima Mayo sebagai hadiah dari Sultan Sumbawa kerana berhasil sebagai penakluk perompak dan lanun laut yg mengganggu perairan Sumbawa

Kronologi Kesultanan Sumbawa 

1650                     Sumbawa di tubuhkan.
 
1816                     letusan Gunung Tambora memusnahkan kerajaan dan rakyat.
 
1837                     Kesultanan Sumbawa DI BANGUNKAN semula
 
1908                     diletakkan di dalam Kolonial Belanda
 
1931                     di hapuskan kesultanan

2011                     di hidupkan semula 
 
Pemerintah (kemudian di  gelar sultan) 

1-1675 - 1701                Dewa Mas Bantan


2-1701 - 1725                Dewa Mas Madina


3-1725 - 1731                Dewa Mas Muhammad Jalaluddin I


4/1731 - 1759                Dewa Mas Mapasusung Muhammad


                             Kahharuddin I


5/1759 - 1761                I Sugi Karaeng Bantoa (f)


6/1761 - 1763                Hasanuddin Datu Jereweh


7/1763 - 1766                Dewa Mas Muhammad Jalaluddin II 


8/1766 - 1780                Mappacongga Mustapha 


9/1780 - 1791                Mahmud Datu Jereweh

 
10/1791 - 1795                Safiatuddin Daeng Masiki 


11/1795 - 1816                Muhammad Kahharuddin II 

---1816 - 1837                        dalam bencana dan kemusnahan
 
12/1837 - 1843                Lulo Murso

13/1843 - 1883                Amarullah 

14/1883 - 1908                Muhammad Jalaluddin

---------1908 - 1931                Interregnum
15/1931 - 1958                Muhammad Kahharuddin III            (d. 1975)


 
---------1958 - 2011                Interregnum

16/ 5 Apr 2011 -              Muhammad Kahharuddin IV             (b. 1941)
 SULTAN MUH.JALALUDDIN III

SEJARAH KERAJAAN SUMBAWA



Kewujudan Tana Samawa atau Kabupaten Sumbawa, mulai dicatat oleh sejarah sejak Zaman Dinasti Dewa Awan Kuning, tetapi tidak banyak sumber bertulis yang boleh dijadikan bahan panduan untuk mengungkapkan situasi dan keadaan pada waktu itu. Sebagaimana masyarakat di daerah lain, sebahagian rakyat Sumbawa masih menganut animisme dan sebahagian sudah menganut agama Hindu. Baru pada kekuasaan raja terakhir dari dinasti Awan Kuning, iaitu Dewa Maja Purwa, ditemukan catatan tentang kegiatan kerajaan, antara lain bahwa Dewa Maja Purwa telah menandatangani perjanjian dengan Kerajaan Gowa di Sulawesi. Perjanjian itu hanya terbatas mengenai perdagangan antara kedua kerajaan kemudian ditingkatkan lagi dengan perjanjian saling menjaga keamanan dan kerukunan 2 buah kerajaan itu sahaja Kerajaan Gowa yang pengaruhnya lebih besar saat itu menjadi pelindung kerajaan Samawa’.

Setelah Dewa Maja Purwa mangkat ia digantikan oleh Mas Goa, yang masih menganut ajaran Hindu. Ia dianggap telah melanggar salah satu perjanjian damai dengan kerajaan Goa, maka risikonya ia terpaksa disingkirkan bersama pengikut pengikutnya kesebuah Hutan, kira-kira di wilayah Kecamatan Utan sekarang. Pengusiran Mas Goa dan pengikutnya ke wilayah Utan lebih arif disebut kudeta di zaman sekarang. Ia serta merta diturunkan dari tahtanya kerana mungkir janji dari kesepakatan pendahulunya dengan Kerajaan Gowa Tidak disebutkan apa pelanggaran yang telah dilakukan Mas Goa, namun campur tangan Raja Gowa di Sulawesi sangat besar.
Pemberhentian secara paksa ini terjadi pada tahun 1673 M sekaligus mengakhiri pengaruh Dinasti Dewa Awan Kuning di Sumbawa. Tahun berikutnya 1674 M Dinasti baru terbentuk dan diberi nama Dinasti Dewa Dalam Bawa’. Saat itu menurut BUK Tana’ Samawa, rakyat Sumbawa sudah mulai memeluk Agama Islam. Dinasti Dewa Dalam Bawa’ ini berkuasa hingga tahun 1958.
Luas wilayah kekuasaannya dimulai dari wilayah taklukan Kerajaan Empang hingga Jereweh. Raja pertama dari Dinasti Dalam Bawa ini adalah Sultan Harunurrasyid I (1674 – 1702). Ia kemudian diganti oleh putranya Pangeran Mas Madina bergelar Sultan Muhammad Jalaluddin Syah I yang kawin dengan Putri Raja Sidenreng Sulawesi Selatan yang bernama I Rakia Karaeng Agang Jene.Setelah mangkat, Jalaluddin Syah I ini kemudian diganti oleh Dewa Loka Lengit Ling Sampar kemudian oleh Dewa Ling Gunung Setia. Tidak banyak bahan sejarah yang dapat mengungkapkan berapa lama keduanya memerintah, tapi diperkirakan selama 10 tahun. Ada fakta yang menyatakan bahawa pada masa pemerintahan Datu Gunung Setia, kerajaan Sumbawa termasuk “ Bala Balong” lenyap dilalap si jago merah pada tanggal 26 Ramadhan 1145 Hijriah (1732 M).
Pada tahun 1733 Kerajaan Sumbawa kembali dipegang oleh anak saudara Sultan Muhammad Jalaluddin Syah I, bernama Muhammad Kaharuddin I (1733-1758). Ketika ia meninggal, kekuasaan diambil alih istrinya I Sugiratu Karaeng Bontoparang, yang bergelar Sultanah Siti Aisyah. Raja wanita ini dikenal sering berselisih faham dengan pembantu raja, sehingga pada tahun 1761 ia diturunkan dari tahta dan mengharapkan , digantikan oleh Lalu Mustanderman Datu Bajing, namun ia menolak, dan menyarankan untuk mengangkat adiknya yaitu Lalu Onye Datu Ungkap Sermin ( 1761-1762 ).
ISTANA TUA
Pemerintahannya Lalu Onye, hanya berjalan setahun. Konon kerana ia lari dari istana untuk menghindari perang saudara, atas kekeliruannya menikahi seorang wanita yang telah lama ditinggalkan berlayar oleh suaminya, Lalu Angga Wasita yang terkenal keperkasaannya. Ia menyangka Lalu Angga Wasita sudah meninggal kerana tidak pernah ada khabar beritanya. Tapi suatu hari lelaki perkasa itu muncul. Kerana raja merasa bersalah maka ia lari pada malam Selasa , di hari ke 14 Ramadhan waktu bulan purnama raya.
Kepergian Datu Ungkap Sermin itu membuat tahkta raja menjadi kosong. Maka diangkatlah Gusti mesir Abdurrahman, keturunan Raja Banjar. Meski ia bukan dari darah Dinasti Dewa Dalam Bawa, tetapi memungkinkan untuk diangkat menjadi raja kerana telah menikah dengan puteri Sultan Muhammad Jalaluddin Syah I. ia pun diberi gelar Muhammad Jalaluddin Syah II, dan memegang kekuasaan selama 3 tahun (1762-1765). Ia mangkat pada tanggal 1 Dzulhijjah 1179 Hijriah ( 1765 Masehi). Untuk menggantinya diangkatlah putra mahkota yang masih berumur 9 tahun menjadi “raja boneka” iaitu Sultan Mahmud. Sedangkan yang menjalankan pemerintahan diangkat Dewa Mapeconga Mustafa datu Taliwang.
Keputusan ini menimbulkan amarah datu Jereweh, kerana ia sangat berhajat untuk menjadi raja. Maka ia berangkat ke Makasar untuk meminta bantuan kompeni (VOC) agar bisa menciptakan kekacauan di Kerajaan Sumbawa. Sebelum berangkat, datu Jereweh menemui kerajaan-kerajaan tetangganya dan mempengaruhi mereka supaya ikut mendukung rencananya dan ikut menandatangani perjanjian dengan VOC sekaligus membatalkan segala hal yang telah diatur dalam perjanjian Bongaya antara VOC dengan raja Goawa yang isinya antara lain VOC tidak boleh mencampuri urusan perdagangan di kerajaan selatan.
Akhirnya pada tanggal 9 Februari 1765 di Fort Rotterdam ditandatangani perjanjian antara Cornelis Senklaar Komodour sebagai wakil VOC denga pihak raja – raja selatan yang antara lain Sultan Abdul Kadir Muhammad Dzillillah Fil Alam ( raja Bima ), Hasanuddin Datu Jereweh (  mengistiharkan dirinya raja Sumbawa ), Achmad Alauddin Johan Syah (raja Dompu), Abdurrasyid (raja Sanggar) dan Abdurrahman (raja Pekat).
Perjanjian ini berisi tentang diperkenankannya VOC masuk Sumbawa. Tapi perjanjian ini kemudian dibatalkan lewat kontrak baru tanggal 18 Mei 1766 berkat keberhasilan diplomasi utusan kerajaan Sumbawa Dea Tumuseng. Dalam perjanjian ini disebutkan, apabila Sultan Mahmud dewasa, maka kekuasaan raja akan diserahkan kembali kepadanya.Tapi pada waktu Sultan Dewa Mepaconga Mustafa sakit pada tahun 1189 H (1775 M), beliau digantikan oleh Datu Busing Lalu Komak, yang bergelar Sultan Harrunnurrasyid II (1777-1790). Sementara Sultan Mahmud yang putra mahkota itu tidak pernah diangkat menjadi raja yang sebenarnya, hingga ia meninggal dunia pada 8 jumadil akhir 1194 H (1780 M) dalam usia 24 tahun. Pada waktu pemerintahan Harrunnurrasyid II ini telah berhasil diselesaikan penulisan Kitab Suci Al Qur’an dengan tulisan tangan oleh Muhammad Ibnu Abdullah Al Jawi Negeri Sumbawa Madzab Safiie, tepatnya pada 28 Dzulqaidah 1199 H (1784 M).
Sepeninggal Harrunnurrasyid II, tahta kerajaan beralih pada anak perempuannya, iaitu Sultanah Syafiatuddin (1791-1795). Ia kemudian kahwin dengan Sultan Bima dan mengikuti suaminya ke Bima, sekaligus membawa beberapa harta pusaka kerajaan. ( Sebahagian koleksi harta kekayaan Raja Bima sekarang adalah milik Sultan Syafiatuddin yang dibawa dari Sumbawa ). Kerana kejadian itu, maka diputuskan oleh para Menteri Kerajaan untuk tidak lagi mengangkat wanita sebagai raja. Sedangkan pengganti Sultan Syafiatuddin adalah putera Sultan Mahmud bernama Muhammad Kaharuddin II. Pada waktu pemerintahannya inilah Gunung Tambora meletus. Tepatnya pada hari Selasa, 21 Jumadil Awal 1230 H (1815 M). Pada waktu itu Kerajaan Sumbawa dilanda hujan debu. Dalam laporan H. Zolinger disebutkan bahawa sepertiga penduduk mati di pulau Sumbawa dan sepertiganya lagi pindah ke pulau Lombok. Sedangkan abu yang menggenangi wilayah kerajaan Sumbawa sampai setinggi lutut. Setahun kemudian Sultam Muhammad Kaharruddin II pun mangkat pada tanggal 20 Syafar 1231 Hijriah (1816 M). Pemangku kerajaan selanjutnya diserahkan kepada Nene Ranga Mele Manyurang. Ia pun tidak lama menduduki singgasana kerajaan, kerana pada bulan Rabbiul Awal 1241 Hijriah (1825 M), Nene Ranga yang sudah tua itu meninggal dunia. Kekuasaan dilanjutkan oleh Abdullah hingga ia meninggal pada tanggal 87 Muharram 1252 Hijriah (1836 M).
Mulai tahun 1836 sampai 1882, tahta Kerajaan Sumbawa kembali dilanjutkan oleh Putera Muhammad Kaharuddin II, iaittu Sultan Amrullah. Pada waktu pemerintahannya ini tidak banyak catatan sejarah yang bisa ditemukan, barangkali karena kerajaan baru mulai bangkit dari peristiwa meletusnya Gunung Tambora yang sangat dashyat. Sebuah letusan yang konon menyebabkan langit di Eropah diliputi kabut awan selama dua tahun.
Sultan Amrullah meninggal pada tanggal 23 Ogos 1883, sementara tahkta raja diteruskan oleh Sultan Muhammad Jalaluddin III, cucu Sultan Amrullah. Pada masa ini campur tangan Belanda sudah terlalu jauh, terutama dalam hal mengenai pungutan cukai. Akhirnya meledaklah pemberontakan rakyat, yang membuat Belanda harus mendatangkan bala bantuan dari Makassar, sebab hampir di setiap tempat timbul amarah rakyat. Namun kerana kelemahan dalam bidang persenjataan, semua bentuk pemberontakan dapat dipatahkan termasuk pemberotakan yang terjadi di Taliwang yang dilakukan Unru dan kawan-kawan.
Kekuasaan Belanda lewat VOC pun semakin bermaharajalela. Maka dimulailah babak baru, Belanda ikut bermain politik di dalam istana, dan ikut menentukan jalannya pemerintahan. Pulau Sumbawa dan Pulau Sumba dijadikan satu dalam bentuk afdeling dengan ibukota di Sumbawa Besar ( Ibukota Kabupaten Sumbawa sekarang). Asisten Resident yang pertama adalah Janson Van Ray. Kerajaan Sumbawa dibahagi dalam dua ander afdeeling, yaitu Sumbawa Barat dan Sumbawa Timur.
Dalam pemerintahan Sultan Muhammad Jalaluddin III (1833-1931) inilah dibangun “Istana Tua Dalam Loka”. Hal ini sangat dimungkinkan kerana Sultan Muhammad Jalaluddin III menjalankan roda pemerintahan selama 48 tahun. Ia juga mampu menuruti kehendak Belanda. Setelah ia meninggal pada tahun 1931, kekuasaan raja turun kepada putra mahkota yang mendapat gelar Sultan Muhammad Kaharruddin III. Pada zaman pemerintahannya inilah menjadi masa peralihan kolonialisme Belanda kepada Jepun.
Ketika perjanjian Kalijati ditandatangani tanggal 9 Mac 1942, organisasi – organisasi Islam di Kabupaten Sumbawa mulai mengatur siasat. Organisasi itu antara lain Nahdatul Oelama, Moehammadiah dan Al Irsyad. Sementara tiga kerajaan di pulau Sumbawa mengambil sikap tegas, menyatakan diri lepas dari kekuasaan Belanda. Tepat pada bulan Mei 1942, lapan kapal perang Jepun mendarat di Labuhan Mapin di bawah pimpinan Kolonel Haraichi, yang ternyata disambut gembira oleh rakyat. Kekuasaan Jepun tidak berlangsung lama, kerana setelah Hiroshima dan Nagasaki dijatuhi Bom Atom, Jepun menyerah kepada  pakatan bersekutu. Paksi Jepun dan Jerman kekuasaannya berakhir. Sebelum Belanda kembali masuk, Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Ogos 1945.
Kemasukan semula Militer Belanda ke Republik Indonesia mengakibatkan Raja Sumbawa menandatangani sebuah perjanjian politik baru dengan Belanda pada tanggal 14 Desember 1948. Isinya antara lain menjelaskan tentang sisa-sisa kekuasaan yang masih dikuasai oleh Belanda di Sumbawa. Kekuasaan tersebut ada tiga, iaitu bidang pertahanan, hubungan luar negeri dan monopoli atas candu dan garam. Setahun kemudian pemerintah Indonesia Timur berdasarkan Undang – Undang Nomor 44 tahun 1949 membentuk daerah Statuta Federasi Pulau Sumbawa, yang ditetapkan oleh Dewan Raja – raja pada tanggal 6 September 1949.
Perubahan system Pemerintahan terjadi lagi dengan membentuk Provinsi Nusa Tenggara Barat, yang didasarkan pada Undang – Undang Nomor 64 Tahun 1958. Propinsi Sunda Kecil dibahagi menjadi tiga Daerah Swatantra Tingkat I iaitu Bali, Nusa Tenggara Barat ( NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Khusus Daerah Swatantra I Nusa Tenggara Barat menjadi enam Daerah Swantantra Tingkat II, dimana raja sekaligus menjadi Kepala Pemerintahan. Kerana itu otomatis Federasi Pulau dibubarkan. Federasi Pulau Lombok dibubarkan pada tanggal 17 Desember 1958 dan tanggal tersebut hingga sekarang dijadikan sebagai hari lahirnya Propinsi Nusa Tenggara Barat. Sedangkan Federasi Pulau Sumbawa dibubarkan pada tanggal 22 Januari 1959 dan pada saat itu dilantiklah Sultan Muhammad Kaharruddin III menjadi Pejabat Sementara Kepala Daerah Swatantra Tingkat II Sumbawa. Tanggal itulah yang dijadikan hari lahir Kabupaten Sumbawa

raja-raja yang pernah memerintah :

1. Sultan Hasanurrasyid I -1674-1702M
2. SULTAN Muhammad Jalaluddin- I 1702-1723M
3. Datu bala Sawo -1723-1725 M
4. Datu gunung setia- 1725-1732 M
5. Sultan Muhammad Kaharuddin I- 1732-1758 M
6. Sultanah siti Aisyah- 1759-1760 M
7. Datu Ungkap Sermin -1761-1762 M
8. Sultan Muhammad Jalaludddin II- 1762-1765
9. Dewa Mepaconga Mustafa-1765-1776
10. Sultan harunurrasyid II- 1776-1790 M
11. Sultanah shafiyatuddin- 1791-1795 M
12. Sultan Muhammaad kaharuddin II- 1795-1816 M
13. Nene ranga mele Manyurang- 1816-1825 M
14. Mele Abdullah- 1825-1836 M
15. Sultan amrullah II -1836-1882
16. Sultan muhammd Jalaluddin III- 1882-1931 M
17. Sultan Muhammad Kaharuddin III -1931-1958 M

sumber : http://bangmek.wordpress.com/2012/02/13/sejarah-kerajaan-sumbawa/

Wednesday, January 9, 2013

KERAJAAN PEJANGGIK(1648-1841)

.BERDIRINYA PEJANGGIK 
Selain kerajaan Selaparang yang memiliki jangkauan kekuasaan relatif luas di Bumi Sasak, terdapat pula kerajaanPejanggik. Di sisi lain, berdirinya kerajaan Pejanggik disebabkan kerana kerajaan Selaparang yang dianggap mampu mengekalkan keamanan dan hubungan yang baik  ternyata tidak mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan wilayah sekitarnya. Maka kerajaan Pejanggik pun melepaskan diri dari Selaparang.Berbeza dengan Selaparang yang merupakan daerah pesisir,maka Pejanggik merupakan kerajaan yang berada di wilayah pedalaman. Kerajaan Pejanggik yang terletak di daerah pedalaman memang cenderung meluaskan pengaruh dan hubungan yang lebih baik dengan kerajaaan lain di sisnya, akan tetapi  sebab utamanya adalah keadaan kawasan kerajaannya yang lebih tenang dan penuh dengan kewibawaan. Daerah kekuasaan Pejanggik meliputi pantai barat sampai pantai timur pulau Lombok, dari Belongas hingga Tanjung Ringgit .Berdirinya kerajaan

Pejanggik bermula dan perlantikan Deneq Mas Putra Pengendengan Segara  Katon di daerah Rambitan.Beliau didampingi oleh puteranya, Deneq Mas Komala Sempopo,yang kemudian menurunkan raja-raja Pejanggik. Dari keturunan Deneq Mas Komala Dewa Sempopo inilah pada generasi kelima menurunkan Deneq Mas Komala Sari. Kemudian Deneq Mas Unda Putih pada generasi keenam dan dilanjutkan oleh Deneq Mas Bekem Buta Intan Komala Sari pada generasi ketujuh. Kakak Deneq Mas Bekem Buta Intan Komala Sari yang bernama Pemban Mas Aji Komala dilantik sebagai raja muda dan mewakili Gowa di Sumbawa pada tangga1 30 November 1648M. Sejak itulah tercatat bahawa kerajaan Pejanggik mulai mengalami perkembangan yang pesat.

.BERKEMBANGNYA PEJANGGIK 

Kerajaan Pejanggik mengalami perkembangan yang semakin pesat setelah bertahtanya Pemban Mas Meraja Sakti. Beliau berkawin dengan putri Raden Mas Pamekel (Raja Selaparang) bernama PutriMas Sekar Kencana Mulya. Dewa Mas Pakel sebagai raja di Selaparang menyedari kekeliruannya selama ini yang terlalu banyak memperhatikan Sumbawa dan melupakan Pejanggik yang merupakan saudaranya. Selanjutnya raja Selaparang menyerahkan berbagai benda pusaka  kepada  Pejanggik yang merupakan pertanda bahwa Pejanggik menjadi penerus misi pemerintahan Sasak di bumi  Sasak.Hal ini membuat raja muda Raja Mas Kerta Jagat yang merupakan pengganti selanjutnya di kerajaan Selaparang semakin tersinggung.Bergabungnya Arya Banjar Getas membuatkan Pejanggik semakin kuat. Tetapi hal ini justeru menyebabkan semakin renggangnya hubungan antara Selaparang-Pejanggik. Kerajaan Pejanggik pun mempersatukan kerajaan-kerajaan kecil lainnyas eperti Langko, Sokong, Bayan, Tempit dan Pujut. Kerajaan lainnya dijadikan kedemungan dengan gelar kerajaan seperti Datu Langko,Datu Sokong, Datu Pujut dan lain-lainnya. Sedangkan raja Pejanggik sendiri memakai gelar yang sama dengan kerajaan Selaparang iaitu  Pemban. Semua. itu juga merupakan hasil kepintaran  Arya Bonjar Getas dalam menjalankan tugas-tugasnya dalam peperangan. la pun mendapat gelaran  tanirihan iaitu  "Surengrana" dan "DipatiPatinglanga" .Secara bertahap, strategi-strategi yang digunakan oleh Arya Banjar Getas adalah seperti berikut:

 1. Melakukan pembahruan ke dalam Pejanggik  

 2.Melemahkan Selaparang dengan mendekati kerajaan-kerajaan keluarga Bayan.
  
3.Menewaskan secara halus kerajaan Selaparang dengan menguasai wilayah seperti Kopang, Langko, Rarang, Suradadi, Masbagik, Dasan Lekong; Padamara, Pancor, Kelayu, Tanjung. Kalijaga, baru kemudian masuk ke Selaparang
  
4.Arya Banjar Getas melakukan sebuah strategi yang amat licik dengan menyerahkan keris sebanyak 33 buah kepada raja Pejanggik,lalu mengarak  keliling dan menyerahkannya kepada para prakanggo untuk kemudian ditukar dengan keris pusaka masing-masing. Penukaran tersebut merupakan suatu bentuk kesetiaan dan  loyaliti  tunggal kepada raja Pejanggik. Keberhasilan Arya Banjar Getas melakukan berbagai gerakan tersebut langkah demi langkahdisebut Politik Rerepeq. Bila ditinjau dari segi kekuasaan, kerajaan Pejanggik sangat mantap dan kauat, akan tetapi langkah-langkah yang ditempuh oleh Arya Banjar Getas dianggap sebagai pegkhianatan hubungan yang sudah merupakan budaya turun-menurun di bumi Sasak.

KERUNTUHAN PEJANGGIK 

Pada generasi ke sembilan, tahta dilanjutkan oleh Pemban Mas Komala Kusuma. Nampaknya beliau lebih banyak berperanan sebagai seorang ayah yang baik kepada seorang raja yang mampu membawa Pejanggik menjadi kerajaan yang maju. Pemban Mas Komala Kusuma memang banyak memperingatkan putranya (MerajaKusuma) atas ancaman Selaparang kerana terlalu kagum dan terpesona, dengan patih Arya Sudarsana yang datang membawa 33  keris sebagai tanda setia dan siap mengabdi untuk kebesaran Pejanggik.Pemban Mas Meraja Kusuma berhasrat melamar putri dari kerajaan Kentawang. Proses melamar Putri Kentawang tersebut di percayakan kepada Arya Banjar Getas. Melihat kecantikan Putri Kentawang, Arya Banjar Getas temyata juga memiliki keinginan yang mendalam, untuk mempersuntingkannya. Oleh kerana itu, AryaB anjar Getas melaporkan bahwa Putri Kentawang tidak secucuk  bersanding dengan raja. Laporan tersebut dianggap positif sehingga Putri Kentawang diserahkan kepada Arya Banjar Getas.Setelah terjadi perkawinan Arya  Banjar Getas dengan. PutriKentawang, raja Pejanggik sempat melihat Putri Kentawang.Ternyata ia sangat tertarik, kagum dan jatuh cinta. Untuk mendapatkan Putri Kentawang, Pemban Mas Meraja Kusuma mengutus Arya Banjar Getas menjalankan sebuah misi. Dengan kepergian Arya Banjar Getas, hampir saja raja Pejanggik menodai Putri Kentawang. Sepulangannya dari menjalankan misi, kejadian tersebut di laporkan Putri kentawang kepada suaminya, Arya Banjar Getas.Mendengar hal tersebut, Arya Banjar Getas marah besar.Kemudian berkembang menjadi perselisihan dan pemberontakan pada tahun 1692M. Dalam pemberontakan tersebut Arya Banjar Getas meminta bantuan kerajaan Karang asem Bali, sehingga Pejanggik dapat dikalahkan. Raja Pejanggik ditawan dan diasingkan,kemudian meninggal dunia di Ujung Karang asem. Sedangkan para bangsawan banyak yang melarikan diri ke Sumbawa.Penyerangan Karang asem bukan hanya ke Pejanggik tetapi terus dilanjutkan ke kerajaan Parwa, Sokong, Langko, dan Bayan.Semua kerajaan menyerah tanpa bersyarat dan melawan.Setelah Anak Agung Karangasem bersekutu dengan Arya Banjar Gems, satu persatu kawasan   se-Lombok digempur. Akhirnya pada tahun 1740 M seluruh pulau Lombok dapat ditaklukkan.
ini dimanfaatkan oleh Arya Banjar Getas dengan meminta bantuan Karang Asem untuk menyerang Pejanggik dan Selaparang.Kemenangan Arya Banjar Getas dan Karang asem dalam peperangan di Tanaq Beaq menyebabkan hubungan keduanya semakin baik.Hubungan baik tersebut dituangkan dalam sebuah sumpah bahwa mereka akan selalu bergandingan tangan secara damai turun-temurun. Kemudian keduanya membuat perjanjian yang dikenal dengan "Perjanjian Timur dan Barat Juring". Isi perjanjian tersebuta adalah, untuk bahagian barat dimiliki dan dikuasai oleh Karang asem sedangkan bahagian sebelah timur dimiliki dan dikuasai oleh Arya Banjar Getas.Batas antara kedua bahagian tersebut adalah Sungai Pandan,Sweta Penanteng Aik, Pelambik, Ranggagata, dan Belongas. Raja Karang asem menempatkan wakilnya I Wayan Tegeh dengan ibu kotaTanjung Karang, kemudian dipindah ke Mataram. Sedangkan Arya Banjar Getas mendirikan kerajaannya di Memelaq dan menguasai wilayah Batu Kliang, Puyung serta Praya.
BERKEMBANGNYA KEDATUAN ARYA BANJAR GETAS (1740-1841)

Langkah awal yang dilakukan Arya Banjar Getas adalah menguasai dan meluaskan wilayah kekuasaannya ke wilayah-wilayah Pejanggik yang pernah dikuasai raja Pejanggik dan dijadikan sebagai pemegang kekuasaan di daerahnya dengan sebutan "Perkanggo"(penguasa). Kemudian kebijakan Arya Banjar Getas adalah membangunkan masjid, pasar serta pelaksanaan syariat Islam secara murni, rakyatnya tidak dipungut cukai.Selama pernerintahannya, Arya Banjar Getas membagikan wilayah kekuasaan kepada putera-putreinya maupun menantunya iaitu: 

1.Dende Wirachandra dikawinkan dengan Panji Langko dan diberi wilayah kekuasaan meliputi Mujur, Marong, Ganti hingga ke laut sebelah timur.
2.Raden Juruh diberi kekuasaan untuk memerintah di Batukliang,
Akan tetapi, kerjasama Arya Banjar Getas dengan Karang asem Bali tidak mendapatkan restu dari datu-datu di daerah  Lombok. Oleh sebab itu, dalam pemerintahannya banyak datu-datuyang melakukan pemberontakan, antara lain:
1. Pemberontakan Datu Bayan dan Datu Buluran. Kedua raja ini menyerbu Pringgabaya namun serangan itu dapat ditahan dan keduanya tewas dalam pertempuran tersebut.
2. Pemberontakan Datu Kadinding tetapi juga dapat dipatahkan.
3. Pemberontakan Datu Semong Moh Jalaluddin, raja Sumbawa.Datu Semong tewas kera na pengkhianatan saudaranya. Perang inidilanjutkan oleh pembantu-pembantunya sampai tahun 1725 M.
4. Pemberontakan Selaparang, yang juga dapat dipatahkan dan oleh  sebahagian rakyatnya  di Sekarbela, Dasan Agung dan Rembiga.Keberhasilan Arya Banjar Getas dalam menangkal setiap serangan dari luar adalah hasil bantuan Gusti Ketut Karang asem.
 KERUNTUHAN KEDATUAN ARYA BANJAR GETAS 
Adapun penyebab keruntuhan Kerajaan Arya Banjar Getas adalah:
1. Banyak kekacauan terjadi sehingga tidak berkesempatan untuk membangunkan dan memantapkan wilayah kekuasaannya sebagaima yang perlu di lakukan.
2. Karang asem ingkar janji terhadap sumpah yang pernah dilakukan.  Banyak wilayah kekuasaan Arya Banjar Getas yang diambil alih.
3. Ketika Arya Banjar Getas meninggal, putra-putra penggantinya kurang memiliki kemampuan dalam memantapkan  kerajaan.Sedangkan yang menjadi raja selanjutnya adalah:
1.Raden Ronton.Dalam kepemimpinannya, Raden Ronton memindahkan ibu kotanaya  ke hutan Berora yang berubah menjadi adi Praya.
2. Raden Lombok memperistri puteri raja Sokong Prawira. Dari perkawinan tersebut lahir seorang putera bernama Dene' Bangli.Pada masa pemerintahan Deneq Bangli terjadi pemberontakan Demung Selaparang yang dibantu oleh komplot lanun laut.Untuk menumpaskan pemberontakan itu diperintah kanlah bapa saudaranya Deneq Bangli untuk mengejar komplot  lanun laut itu sampai ke Sumbawa. Dalam pengejaran ini, sesampai di Labuan Lombok, bapa saudara Deneq Bangli menderita sakit kemudian meninggal dunia di Ketangga. Beliau disebut Raden Hang Ketangga. Dene' Banglidiganti oleh puteranya bernama Raden Mumbul.
3. Raden Mumbul Raden Mumbul gugur dalam suatu perang tanding dengan Demung Bone Mamben memperebutkan seekor kuda belang panji. Setelah Raden Mumbul meninggal maka ia digantikan Raden Wiratmaja.
4. Raden Wiratmaja Pada masa pemerintahan Raden Wiratmaja daerahnya banyak mendapatkan tekanan dari Karang asem. Karang asem memaksa rakyat membayar ufti sehingga timbullah Perang Praya pertama.Peperangan Praya I ini merupakan titik awal berakhirnya kerajaan Arya Banjar Getas tepatnya pada tahun 1841 M. Dengan demikian, pada akhir abad ke-18
sampai permulaan abad ke 19 M,kerajaan Karangasem berhasil menjadi kerajaan terkemuka di Bali.Kerajaan Karang asem Lombok Bahagian Barat membentuk kerajaan Mataram dan kerajaan Singasari. Pada era inilah terjadi migrasi besar-besaran orang-orang Bali ke pulau Lombok

KERAJAAN SELAPARANG(1358-1740)

  SEJARAH KERAJAAN SELAPARANG

Kerajaan Selaparang muncul pada dua periode yakni pada abad ke-13 dan abad ke-16. Kerajaan Selaparang pertama adalah kerajaan Hindu dan kekuasaannya berakhir dengan kedatangan ekspedisi Kerajaan Majapahit pada tahun 1357. Kerajaan Selaparang kedua adalah kerajaan Islam.
Secara selintas, urutan berdirinya kerajaan-kerajaan di daerah ini boleh dirunut sebagai berikut, dengan catatan, ini bukan satu-satunya versi yang berkembang. Pada awalnya, kerajaan yang berdiri adalah Laeq. Diperkirakan, posisinya berada di kecamatan Sambalia, Lombok Timur. Dalam perkembangannya, kemudian terjadi migrasi, masyarakat Laeq berpindah dan membangun sebuah kerajaan baru, yaitu Kerajaan Pamatan, di Aikmel, desa Sembalun sekarang. Lokasi desa ini berdekatan dengan Gunung Rinjani. Suatu ketika, Gunung Rinjani meletus, menghancurkan desa dan kerajaan yang berada di sekitarnya. Para penduduk menyebar menyelamatkan diri ke wilayah aman. Perpindahan tersebut menandai berakhirnya Kerajaan Pamatan.


Wilayah Kerajaan Selaparang
 
Setelah Pamatan berakhir, muncullah Kerajaan Suwung yang didirikan oleh Batara Indera. Lokasi kerajaan ini terletak di daerah Perigi saat ini. Setelah Kerajaan Suwung berakhir, barulah kemudian muncul Kerajaan Lombok. Seiring perjalanan sejarah, Kerajaan Lombok kemudian mengalami kehancuran akibat serangan tentara Majapahit pada tahun 1357. M. Raden Maspahit, penguasa Kerajaan Lombok melarikan diri ke dalam hutan. Ketika tentara Majapahit kembali ke Jawa, Raden Maspahit keluar dari hutan dan mendirikan kerajaan baru dengan nama Batu Parang. Dalam perkembangannya, kerajaan ini kemudian lebih dikenal dengan nama Selaparang.
Menurut catatan sejarah masuknya ekspedisi Majapahit tahun 1343 M, di bawah pimpinan Mpu Nala. Ekspedisi Mpu Nala ini dikirim oleh Gajah Mada sebagai bagian dari usahanya untuk mempersatukan seluruh nusantara di bawah bendera Majapahit. Pada tahun 1352 M, Gajah Mada datang ke Lombok untuk melihat sendiri perkembangan daerah taklukannya. Ekspedisi Majapahit ini meninggalkan jejak Kerajaan Gelgel di Bali.
Di Lombok, berdiri empat kerajaan utama yang saling bersaudara, iaitu:
1. Kerajaan Bayan di barat
2. Kerajaan Selaparang di Timur
3. Kerajaan Langko di tengah
4. Kerajaan Pejanggik di selatan.
Selain keempat kerajaan tersebut, terdapat beberapa kerajaan kecil, seperti Parwa dan Sokong Samarkaton serta beberapa desa kecil, seperti Pujut, Tempit, Kedaro, Batu Dendeng, Kuripan, dan Kentawang. Seluruh kerajaan dan desa ini takluk di bawah Majapahit. Ketika Majapahit runtuh, kerajaan dan desa-desa ini kemudian menjadi wilayah yang merdeka.
Di antara kerajaan dan desa-desa di atas, yang paling terkemuka dan paling terkenal adalah Kerajaan Lombok yang berpusat di Labuhan Lombok. Pusat kerajaan ini terletak di Teluk Lombok yang strategis, sangat indah dengan sumber air tawar yang banyak. Posisi strategis dan banyaknya sumbe air menyebabkannya banyak dikunjungi pedagang dari berbagai negeri, seperti Palembang,Banten, Gresik, dan Sulawesi. Berkat perdagangan yang ramai, maka Kerajaan Lombok berkembang dengan cepat.
Kerajaan Selaparang merupakan salah satu kerajaan tertua yang pernah tumbuh dan berkembang di pulau Lombok, bahkan disebut-sebut sebagai embrio yang kemudian melahirkan raja-raja Lombok masa lalu. Posisi ini selanjutnya menempatkan Kerajaan Selaparang sebagai icon penting kesejarahan pulau ini. Terbukti penamaan pulau ini juga sering disebut sebagai bumi Selaparang atau dalam istilah tempatannya sebagai Gumi Selaparang.
Berkaitan dengan Selaparang, kerajaan ini terbagi dalam dua periode: pertama, periode Hindu yang berlangsung dari abad ke-13 M, dan berakhir akibat ekspedisi Kerajaan Majapahit pada tahun 1357 M; dan kedua, periode Islam, berlangsung dari abad ke-16 M, dan berakhir pada abad ke-18 (1740 M), setelah ditaklukkan oleh pasukan gabungan Kerajaan Karang Asem, Bali dan Banjar Getas.
Raja Lombok

disebutkan bahwa pada abad XII, terdapat satu kerajaan yang dikenal dengan nama kerajaan Perigi yang dibangun oleh sekelompok transmigran dari Jawa di bawah pimpinan Prabu Inopati dan sejak waktu itu pulau Lombok dikenal dengan sebutan Pulau Perigi. Ketika kerajaan Majapahit mengirimkan ekspedisinya ke Pulau Bali pada tahun 1443 yang diteruskan ke Pulau Lombok dan Dompu pada tahun 1357 dibawah pemerintahan Mpu Nala, ekspedisi ini menaklukkan Selaparang (Perigi) dan Dompu.

Dalam Babad Lombok disebutkan, pengislaman ini merupakan upaya dari Raden Paku atau Sunan Ratu Giri dari Gersik, Surabaya yang memerintahkan raja-raja Jawa Timur dan Palembang untuk menyebarkan Islam ke berbagai wilayah di Nusantara. Kemajuan Kerajaan Selaparang ini membuat kerajaan Gelgel di Bali merasa tidak senang.

Gelgel yang merasa sebagai pewaris Majapahit, melakukan serangan ke Kerajaan Selaparang pada tahun 1520, akan tetapi menemui kegagalan. Sekalipun Selaparang unggul melawan kekuatan Kerajaan Gelgel, namun pada saat yang bersamaan, suatu kekuatan baru dari arah barat telah muncul pula. Embrio kekuatan ini telah ada sejak permulaan abad ke-15 dengan datangnya para imigran petani liar dari Karang Asem (Bali) secara bergelombang, dan mendirikan koloni di kawasan Kotamadya Mataram sekarang ini.

Kekuatan itu telah menjelma sebagai sebuah kerajaan kecil, iaitu Kerajaan Pagutan dan Pagesangan, yang berdiri pada tahun 1622. Namun bahaya yang dinilai menjadi ancaman utama dan akan tetap muncul secara tiba-tiba yaitu kekuatan asing, Belanda, yang sewaktu-waktu akan melakukan ekspansi. Kekuatan dari tetangga dekat diabaikan, karena Gelgel yang demikian kuat mampu dipatahkan. Sebab itu sebelum kerajaan yang berdiri di wilayah kekuasaannya di bagian barat ini berdiri, hanya diantisipasi dengan menempatkan pasukan kecil di bawah pimpinan Patinglaga Deneq Wirabangsa.


Para Perajurit Kerajaan Lombok


Di balik itu, memang ada faktor-faktor lain terutama masalah perbatasan antara Selaparang dan Pejanggik yang tidak kunjung selesai. Hal ini menyebabkan adanya saling mengharapkan peran yang lebih di antara kedua kerajaan serumpun ini. Atau saling lempar tanggung jawab. Mengambil pelajaran dari serangan yang gagal pada 1520, Gelgel dengan cerdik memaanfaatkan situasai untuk melakukan infiltrasi dengan mengirimkan rakyatnya membuka pemukiman dan persawahan di bagian selatan sisi barat Lombok yang subur. Bahkan disebutkan, Gelgel menempuh strategi baru dengan mengirim Danghiang Nirartha untuk memasukkan faham baru berupa singkretisme Hindu-Islam.
Walau tidak lama di Lombok, tetapi ajaran-ajarannya telah dapat mempengaruhi beberapa pemimpin agama Islam yang belum lama memeluk agama Islam. Namun niat Kerajaan Gelgel untuk menaklukkan Kerajaan Selaparang terhenti karena secara internal kerajaan Hindu ini juga mengalami stagnasi dan kelemahan di sana-sini. Kerajaan ini berakhir pada tahun 1740 setelah ditaklukkan oleh gabungan Kerajaan Karangasem dari Bali dan Arya Banjar Getas yang merupakan keluarga kerajaan yang berkhianat terhadap Selaparang karena permasalahan dengan raja Selaparang.

Raden Arya Banjar Getas, ditengara berselisih pendapat dengan rajanya. Raden Arya Banjar Getas akhirnya meninggalkan Selaparang dan hijrah mengabdikan diri di Kerajaan Pejanggik.yang dulu (Kerajaan Pejanggik-red) berada di Daerah Kec. Pejanggik cukup jauh dari desa Labulia yang berada di Kecamatan JonggatAtas prakarsanya sendiri, Raden Arya Banjar Getas dapat menyeret Pejanggik bergabung dengan sebuah Ekspedisi Tentara Kerajaan Karang Asem yang sudah mendarat menyusul di Lombok Barat. Semula, informasi awal yang diperoleh, maksud kedatangan ekspedisi itu akan menyerang Kerajaan Pejanggik.Namun dalam kenyataan sejarah, ekspedisi itu telah menghancurkan Kerajaan Selaparang. Dan Kerajaan Selaparang dapat ditaklukkan hampir tanpa perlawanan, karena sudah dalam keadaan sangat lemah. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1672. Pusat kerajaan hancur; rata dengan tanah, dan raja beserta seluruh keluarganya mati terbunuh.

Selaparang jatuh hanya tiga tahun setelah menghadapi Belanda. Empat belas tahun kemudian, pada tahun 1686 Kerajaan Pejanggik dibumi hanguskan oleh Kerajaan Mataram Karang Asem. Akibat kekalahan Pejanggik, maka Kerajaan Mataram mulai berdaulat menjadi penguasa tunggal di Pulau Lombok setelah sebelumnya juga meluluh lantakkan kerajaan-kerajaan kecil lainnya. Demikianlah, Kerajaan Selaparang muncul, berkembang kemudian runtuh. Walaupun demikian, sisa-sisa peradaban tulis yang ditinggalkannya menunjukkan bahwa, kehidupan budaya di negeri ini cukup semarak dan berkembang.

Menelusuri Sisa Majapahit di Lombok


Cakranegara yang kini salah satu pusat perniagaan di Kota Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat, pernah bikin cerita penting bagi Indonesia. Ekspedisi militer Belanda menggempur habis-habisan puri atau istana di Cakranegara, mengakibatkan kediaman Raja Karangasem yang penguasa wilayah Lombok, luluh lantak.

Sehari sebelum Cakranegara jatuh dalam kekuasaan Belanda, menurut telusur pustaka, pada 19 November 1894, dilaporkan sebuah temuan naskah sastra, yang ditulis di lembaran daun lontar di antara puing-puing reruntuhan itu.

Cakep (ikatan) daun til atau lontar itu adalah naskah Nagarakretagama karya Mpu Prapanca, seorang pujangga Jawa abad ke-14 M. Sewindu kemudian, naskah berbahasa Jawa Kuno diterbitkan dalam huruf Bali dan Bahasa Belanda oleh Dr JLA Brandes (1902), namun hanya sebagian. Disusul upaya penerjemahan oleh Dr JHC Kern tahun 1905-1914, dilengkapi dengan komentar-komentarnya

Baru pada tahun 1919, Dr NJ Krom menerbitkan utuh isi lontar Nagarakretagama. Krom juga melengkapinya dengan catatan historis. Naskah Nagarakretagama ini akhirnya diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia oleh Prof Dr Slametmulyana dan disertai tafsir sejarahnya. Menyusul kemudian, Dr Th Pigeud yang menerjemahkan Nagarakretagama ke dalam Bahasa Inggris.

Seperti diketahui kemudian, Nagarakretagama pernah disimpan di Perpustakaan Universitas Leiden Belanda dengan nomor koleksi 5023. Pemerintah Belanda mengembalikannya ke Pemerintah Indonesia di masa pemerintahan Presiden Soeharto. Kini naskah itu menjadi koleksi unggulan Perpustakaan Nasional di Jakarta. Nagarakretagama, antara lain, berisi rekaman sejarah kejayaan Kerajaan Majapahit, perjalanan Hayam Wuruk, Raja Majapahit, serta kondisi sosial, politik, keagamaan, pemerintahan, kebudayaan, dan adat istiadat. Semua itu dikumpulkan dan digubah menjadi sebuah karya sastra oleh Mpu Prapanca, saat mengunjungi daerah-daerah kekuasaan kerajaan itu di Nusantara.

Lontar itu ada di Puri Cakranegara, Lombok, dibawa keluarga Kerajaan Kediri pada masa kekuasaan mereka di Karangasem, ujung timur Pulau Bali, sekitar akhir abad ke-17 M sampai pertengahan abad ke-18 M. Lombok sendiri merupakan wilayah kekuasaan Raja Karangasem, dan sebelumnya ada beberapa kerajaan berada di sana, seperti Kerajaan Selaparang dan Pejanggik.

Slametmulyana dalam bukunya Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya (1979), menyebutkan sedikitnya sudah ditemukan empat naskah lain yang serupa, di beberapa geriya (kediaman pendeta Hindu) di Bali. Namun, naskah-naskah itu diduga merupakan turunan naskah Nagarakretagama, yang ditemukan di Puri Cakranegara, Lombok. Isi Nagarakretagama diterapkan di Lombok demi membangun sistem pemerintahan dan sekaligus pertahanan menyerupai kerajaan Majapahit

Ini juga ditujukan demi menjadikan Lombok sebagai benteng mempertahankan ajaran Hindu di Bali, menyusul masuk dan berkembangnya ajaran Islam di Jawa, yang ditandai dengan masuknya Raja Jenggala dan kerajaannya sebagai kerajaan Islam. Raja Kediri dan Raja Jenggala adalah bersaudara, kata Anak Agung Biarsah Huruju Amla Negantun, cucu Anak Agung Anglurah Gede Karang Asem, Raja Lombok terakhir. Perbedaan agama, yang dianut masing-masing raja itu, diakui, menjadi salah satu penyebab meletusnya perang saudara di antara dua kerajaan ini.

”Dari cerita yang pernah saya dengar dari orang-orang tua, naskah ini dibawa leluhur saya dari Kediri waktu ekspedisi ke Lombok. Di dalamnya dijelaskan teknik peperangan dan teknik mengatur pemerintahan. Nagarakretagama dibawa ke Lombok untuk mengatur wilayah Lombok, dengan konsep pusat pertahanannya di Cakranegara,” tutur Agung Biarsah

Tuesday, January 8, 2013

KESULTANAN BIMA (1640-KINI)

Bendera Kesultanan Bima
 
[Bima Bendera Kesultan]
Kronologi;

750M                       Kerajaan BIMA kuno di tubuhkan,sebuah kerajaan Hindu
 
1640                       Kesultanan BIMA ditubuhkan SETELAH memeluk Islam

26 May 1792                Dutch protectorate.



Sultan

1) 1 Jul 1695 - 23 Jan 1731  Hasanuddin Muhammad Ali         (b. 1689 - d1731)
 
2)23 Jan 1731 - 27 May 1748  Alauddin Muhammad               (b. 1706 - d. 1748)
 
3)27 May 1748 - 28 Jun 1751  Kamalat (f) -Sultana            (b. 1728 - d. 1753)
 
4)28 Jun 1751 - 31 Aug 1773  Abdul Karim Muhammad            (b. 1735 - d. 1773)
 
5)31 Aug 1773 - 14 Jul 1817  Syafiuddin Abdul Hamid Muhamm   (b. 1762 - d. 1817)
 
6)14 Jul 1817 - 29 May 1854  Ismail Muhammad                 (b. 1797 - d. 1854)
 
7)29 May 1854 - 10 Aug 1868  Abdullah Muhammad              (b. 1844 - d. 1868)
 
8)29 May 1854 - 10 Aug 1868  Muhammad Yakub -Regent

9)10 Aug 1868 - 30 Jun 1881  Abdul Aziz                       (d. 1881)
 
10)30 Jun 1881 -  6 Dec 1915  Ibrahim                        (b. 1866 - d. 1915)
 
11)16 Dec 1915 - 11 Jul 1951  Muhammad Salehuddin           (b. 1889 - d. 1951)
 
----------------11 Jul 1959 -  3 May 2001  Interregnum

12)17 jun 2001            Sultan ISKANDAR ZULKARNAIN SHAH    (B.1964)

 Sejarah Kesultanan Bima(1620-kini)


Istana Sultan Bima di tahun 1949
Sultan Muhammad Salahuddin (bertahta 1920-1943)
Sultan Muhammad Salahuddin bersama tamu tentara Belanda (tahun 1949)
 
Kesultanan Bima adalah kerajaan yang terletak di Bima.Nusa tenggara ,indonesia,adalah sebuah kesultanan yang berdaulat.serta teguh mengamal ajaran islam..kesultanan ini juga antara penyebar islam sejati
.Penduduk daerah ini dahulunya beragama Hindu/Syiva. Pada masa Pemerintahan Raja XXVII,yang bergelar “Ruma Ta Ma Bata Wadu”. Menurut BO (catatan lama Istana Bima), menikah dengan adik dari isteri Sultan Makassar Alauddin bernama Daeng Sikontu, puteri Karaeng Kassuarang. Ia menerima/memeluk agama Islam pada tahun 1050 H atau 1640 M, kemudian raja atau Sangaji Bima tersebut digelari dengan “Sultan” yaitu Sultan Bima I, beliau inilah dengan nama Islam-nya “Sultan Abdul Kahir”. Setelah Sultan Bima I mangkat dan digantikan oleh putranya yang bernama Sultan Abdul Khair Sirajuddin sebagai Sultan II, maka sistem pemerintahannya berubah dengan berdasarkan “adat dan Hukum Islam”. Hal ini berlaku sampai dengan masa pemerintahan Sultan Bima XIII (Sultan Ibrahim). Sultan Abdul Khair Sirajuddin adalah putera dari Sultan Abdul Kahir. Dilahirkan bulan + April 1627 (Ramadan 1038 H), bergelar Ruma Mantau Uma Jati. Ia juga bernama La Mbila, orang Makassar menyebut “I Ambela”. Wafat tanggal + 22 Julai 1682 (17 Rajab 1099 H), dimakamkan di Tolo Bali. Menikah dengan saudara Sultan Hasanuddin, bernama Karaeng Bonto Je’ne, pada tanggal 13 September 1646 (22 Rajab 1066 H), di Makassar. Abdul Khair Sirajuddin dinobatkan menjadi Sultan Bima II, pada tahun 1640 (1050 H).
Sultan Nuruddin Abubakar Ali Syah adalah putera dari Sultan Abdul Khair Sirajuddin. Dilahirkan pada tanggal 5 Desember 1651 (29 Zulhijah 1061 H). Orang Makassar diberi gelar “Mappara bung Nuruddin Daeng Matali Karaeng Panaragang”. Naik tahta pada tahun 1682 (Zulhijah 1093 H). Menikah dengan Daeng Tamemang, saudara Karaeng Langkese puteri Raja Tallo pada tanggal  7 Mei 1684 (22 Jumadilawal 1095 H). Setelah meninggal, diberi gelar “Ruma Ma Wa’a Paju”, karena yang mula-mula memakai Payung jabatan yang berwarna kuning yang terkenal dengan “Paju Monca”.
Sultan Muhammad Salahuddin adalah Putera dari Sultan Ibrahim, dilahirkan pada tahun 1888 (jam 12.00, 15 Zulhijah 1306 H). Dilantik menjadi Sultan Bima XIII pada tahun 1917. Meninggal di Jakarta pada hari Khamis 11 Jun 1951, jam 22.00 (7 Syawal 1370 H) dalam usia 64 tahun. Setelah wafat diberi gelar “Ma Kakidi Agama”, kerana menjunjung tinggi agama serta memiliki pengetahuan yang  luas dalam bidang agama. Sejak berumur 9 tahun, memperoleh pendidikan dan pelajaran agama dari ulama terkenal, diantaranya: H. Hasan Batawi dan Syeikh Abdul Wahab (Imam Masjidil Haram Mekkah). Ia memiliki koleksi buku-buku agama karya ulama-ulama terkenal dari Mesir, Mekkah, Medinah, dan Pakistan. Juga karya oleh Imam Syafi’i. Ia mendalami Ilmu Fiqih dan Qira’ah. Pada era pemerintahannya, tidak mengherankan apabila perkembangan agama mengalami kemajuan pesat terutama di bidang pendidikannya. Wazir Ruma Bicara yang dipegang oleh Abdul Hamid (menggantikan Muhammad Qurais) pada era itu juga mempunyai peran dan menaruh perhatian yang amat besar dalam bidang yang sama.

- Biografi Tokoh-

Sultan Muhammad Salahuddin

Sultan Muhammad Salahuddin (lahir di Bima, Nusa Tenggara Barat, 15 Julai 1889 – meninggal 11 Jun 1951 pada umur 61 tahun) adalah Sultan Bima yang bertahta tahun 1920-1943. Namanya kini diabadikan di Bandar Udara Muhammad Salahuddin, Bima.

KESULTANAN PAPEKAT(1660-1815)

Pemerintahan Kesultanan Papekat

 Kronologi;
1660                     Kesultanan Papekat di tubuhkan

10 Apr 1815              Letusan gunung berapi Tambora memusnahkan kerajaan.
 
Sultan

1794 - 10 Apr 1815         Abdul Muhammad                     (d. 1815)
  Sejarah Kerajaan Papekat (Pekat).

Dimasa pemerintahan kabupaten Dompu,nama Pekat saat ini merupakan nama sebuah desa yang terletak di wilayah kecamatan Pekat – Calabay Dompu (Nama Ibu Kota Kecamatan Pekat) Konon nama Pekat berasal dari kata “Pepekat”.
Kerajaan kecil ini tidak banyak meninggalkan atau menyimpan bukti-bukti untuk mendukung keberadaan kerajaan tersebut dari dulu bahkan hampir dikatakan tidak ada sama sekali,hanya nama Pekat kini merupakan nama sebuah desa di kawasan lereng gunung Tambora. Catatan sejarah menyebutkan,meskipun suatu kerajaan kecil tetapi Pekat saat itu terus berdiri  dengan izin oleh pemerintah penjanjah VOC terutama untuk membendung pengaruh dari Kerajaan Makassar  pada masa itu supaya dapat membentuk kekuatan di situ. Maka dengan Pekat pihak VOC mengikat terus persahabatan yang baik sekali, tetapi akibat gunung Tambora meletus,akhirnya penduduk di Kerajaan Pekat musnah seluruhnya kemudian bekas kerajaan Pekat digabung kan dengan wilayah kekuasaan Kerajaan dompu hingga sekarang ini.

Gunung Tambora Meletus pada tanggal 10 – 11 April 1815, dalam catatan sejarah Dompu letusan Tambora yang paling dahsyat yakni letusan pada tanggal 11 April 1815 yang mengakibatkan beberapa Kerajaan kecil yang terletak di sekitar Tambora menjadi sasaran empuk musibah tersebut sehingga 3 Kerajaan kecil tersebut musnah. Pralaya (Malapetaka) tersebut tampaknya di satu sisi berdampak positif bagi berkembangan Kerajaan Dompu, sebab setelah sekian tahun lamanya dalam perkembangan selanjutnya wilayah Kerajaan (Kesultanan) Dompu bertambah luas wilayahnya kerana bekas wilayah 3 Kerajaan kecil pernah musnah akibat letusan Tambora tersebut akhirnya masuk kedalam wilayah Kerajaan (Kesultanan) Dompu hingga sekarang ini. Dengan bertambahnya wilayah Kesultanan Dompu tersebut (Pekat,Tambora dan sebagian wilayah Kerajaan Sanggar) maka  merupakan suatu pertanda kelahiran baru bagi DOMPU BOU (Dompu Baru), yakni pergantian antara Dompu Lama dan Dompu Baru. Peristiwa tersebut menggambarkan kelahiran wilayah Dompu yang bertambah luas wilayahnya. 11 April 1815 Tambora meletus dengan dahsyatnya, akibat letusan Tambora wilayah Dompu dikemudian hari bertambah luasnya meliputi bekas Kerajaan Pekat, Kerajaan Tambora. DOMPU YANG BARU pun akhirnya lahir. Oleh ahli sejarah Prof.DR.Helyus Syamsuddin.PHd, peristiwa 11 April 1815 tersebut akhirnya dijadikan sebagai hari bermakna dan dasar yang kuat sehingga 11 April dijadikan sebagai hari lahir atau hari jadi DOMPU. Selanjutnya melalui Peraturan Daerah (Perda) No.18 tanggal 19 Bulan Jun 2004 ditetapkan bahawa tanggal 11 April 1815 sebagai hari lahir/hari jadi Dompu.

KERAJAAN SANGGAR(1700-1926)

Pemerintahan Kerajaan Sanggar

 -kronologi-

1700                  Kerajaan Sanggar DITUBUHKAN

1926                  DI satukan dalam Kesultanan Bima


                    

Raja

1)1700 - 1704              Kalongkong Hasanuddin

2)1704 - c.1764             
Daeng Pamalie

3)1765 - 17..                Muhammad Johan Syah


4)17.. - 1790                Adam Safiallah


5)1790 - 1805                Muhammad Sulaiman


6)1805 - 1815                Ismail Ali


7)1815 - 1836                La Lisa Daeng Jaie


8)1836 - 1845                Daeng Malabba


9)1845 - 1869                Manga Daeng Manasse 


10)1869 - 22 Dec 1900         La Kamea Daeng Nganjo Siamsuddin   (b. c.1820 - d. 1900)


22 Dec 1900 - 1901         Regency

 
11)1901 - 1926                Abdullah Siamsuddin Daeng Manggala (d. c.1928)



Sejarah

Sanggar pada masa lalu adalah sebuah kerajaan berdaulat. Menurut A. Razak Aziz dalam tulisannya “ Rangkaian Peristiwa di Kerajaan Sanggar 1667-1928” (1990:1) “ Kerajaan Sanggar telah berdiri sekitar abad 14 Masehi berpusat di Boro” Dalam perkembangan sejarah kerajaan-kerajaan di Pulau Sumbawa Kerajaan Sanggar tidak banyak dibicarakan. Keberadaanya seolah olah “tenggelam” di antara Kerajaan Bima dan Sumbawa. Padahal dari hasil-hasil penelitian kebelakangan ini, Sanggar sesungguhnya mempunyai peranan penting dalam pelayaran dan perdagangan di Indonesia Timur. Dalam Peta Indonesia yang dibuat oleh Theodore De Bryn dari “ Petits Voyages” tahun 1527-1598 Core ( baca: Kore-Sanggar) adalah salah satu dari tiga kerajaan yakni Sumbawa, Bima yang ada di Pulau Sumbawa yang merupakan jaringan perdagangan Internasional.

 Pusat Kerajaan

Pada awal berdirinya Kerajaan Sanggar berpusat di Boro. Ditinjau dari letak geografinya Kerajaan Sanggar merupakan kerajaan maritim yang letaknya berada di pesisir pantai (+ 500 m dari garis pantai). Dalam perkembangannya kemudian, pada abad 17 Kerajaan Sanggar berpusat di Kore sampai dengan terjadinya proses integrasi Sanggar ke dalam wilayah Kerajaan Bima 1928/1929 yang sampai saat ini masih menjadi bahan perdebatan. “Apakah proses itu atas kehendak rakyat Sanggar atau upaya pemaksaan Kerajaan Bima dalam memperluas wilayah kekuasaanya? atau bahkan kerana kebijakan politik Belanda?. Menurut Tawalidin Haris dkk (1997) “ Proses integrasi Kerajaan Sanggar ke dalam wilayah Kerajaan Bima tidak terlepas dari campur tangan Kolonial Belanda”.

  Hubungan Kerajaan Sanggar dengan kerajaan-kerajaan sekitarnya.

Dalam sumber sumber sastera Jawa Kuno (kitab Nagarakertagama yang ditulis oleh Empu Prapanca pada masa Kerajaan Majapahit abad 14 M), disebutkan bahwa Kore (baca: Kerajaan Sanggar) telah menjalin hubungan politik maupun budaya dengan kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa dan Bali. Disebutkan pula bahwa Kore (baca: Kerajaan Sanggar) dan Bima adalah merupakan pelabuhan penting yang berada di pantai utara. Dengan demikian keberadaan Kore (baca: Kerajaan Sanggar) dalam sejumlah karya sastera berbahasa Jawa Kuno membuktikan bahwa Kerajaan Sanggar telah dikenal oleh orang orang Jawa atau Bali baik melalui dominasi politik maupun  perdagangan.
Selain menjalin hubungan dengan kerajaan di Jawa, Kerajaan Sanggar juga menjalin hubungan perdagangan dengan kerajaan kerajaan di Sulawesi. Dalam kronik Gowa dan Tallo disebutkan enam buah kerajaan di Pulau Sumbawa yakni, Sanggar, Bima, Dompu, Sumbawa, Tambora dan Pekat. Kerajaan kerajaan ini ditaklukkan oleh ekspedisi Makassar (Gowa) dalam rangka menyebarkan agama Islam di Pulau Sumbawa pada awal abad 17. Sejak menjadi vassal Gowa ( Makassar) kerajaan Sanggar mengirimkan ufti berupa hasil bumi ke Kerajaan Gowa.
Secara politik hubungan Kerajaan Sanggar dengan Kerajaan Gowa berakhir setelah ditandatanganinya Perjanjian Bungaya tahun 1667, yang mengakhiri Perang Makassar, namun hubungan perdagangan dan budaya tetap berlangsung pada abad abad sesudahnya. Dari hasil penelusuran  tentang keturunan orang-orang Sanggar terutama yang menetap di boro dan Kore saat ini, ternyata tidak sedikit yang memiliki garis keturunan Makassar dan Bugis.

KESULTANAN TAMBORA(1675-1815)

Pemerintahan Kesultanan Tambora

- KRONOLOGI;

1675                       Kesultanan Tambora DI TUBUHKAN.
 
10 Apr 1815                Musnah keseluruhan kerajaan dan rakyatnya akibat letusan Gunung Tambora yang dahsyat
 
Sultans
 
1)1794 - 1800                Abdul Rasyid Tajul Arifin
 
2)1800 - 1801                Muhammad Tajul Masahur
 
3)1801 - 10 Apr 1815         Abdul Ghafur Daeng Mataram          (d. 1815)

* Sejarah realiti Asal Mulanya Meletus Gunung Tambora*

Ini adalah cerita tentang kerajaan Tambora yang dimurkai Allah SWT, maka binasalah kerajaan Tambora sekarang ini.
Ceritanya bermula dari seorang Syekh Said Idrus, yang berasal dari Bengkulu, beliau datang menumpang kapal orang Bugis, datang ke kerajaan Tambora untuk berdagang. Maka pada suatu  hari Syeikh Said Idrus pergi daratan, masuk ke kerajaan Tambora untuk berjalan-jalan sembari melihat keadaan negeri tersebut sampai tiba Lohor, maka ia masuk dalam mesjid untuk melakukan Sholat (sembahyang) Lohor, kemudian didalam Mesjid itu terdapat seekor Anjing, maka Syeikh Said Idrus menyuruh orang untuk mengusir Anjing tersebut dan memukulnya. Maka orang yang bertugas untuk menjaga Anjing tersebut marah, kemudian dia mengatakan, bahwa Anjing itu adalah kepunyaan sultan. Syeikh Said mengatakan, “siapapun Tuannya Anjing ini, kerana ini adalah Mesjid, Rumah Allah Subhanahu Wa Taala untuk beribadah yang harus tetap suci, maka siapapun yang memasukkan Anjing kedalam Mesjid maka dia adalah Kafir”. Kemudian orang yang bertugas menjaga Anjing tersebut pergi mengadu kepada sultan Tambora, dia melaporkan kepada Raja, mengatakan “ada seorang Syeikh Arab mengatakan kita ini orang Tambora dikatakan kafir, sebab dia melihat ada Anjing didalam Mesjid”.
Setelah sultan Tambora yang bernama Abdul Gafur mendengar pengaduan itu, maka sultan pun marah, maka sultan Tambora memerintahkan orang untuk menyembelih Anjing dan Kambing, kemudian menyuruh orang mengundang Syeikh Said Idrus itu. Maka Syekh Said Idruspun datang ke Istana Raja Tambora dengan segala didampingi oleh para Prajurit. Setelah memasuki Istana kemudian Syekh dipersilakan duduk. Kemudian makananpun di hidangkan di hadapan para tamu-tamu Raja, akan tetapi hanya satu hidangan yang berisi daging Anjing iaitu hidangan untuk syeikh Said Idrus, sedangkan daging Kambing di hidangkan untuk para Undangan lainnya dan sultan Tambora.
Maka hidanganan pun disantap. Setelah selesai menyantap makanan yang dihidangkan, sultan Tambora itu pun bertanya kepada Syeikh Said Idrus, kata sultan Tambora “hai orang Arab! Bagaimana menurut anda tentang haramnya Anjing?” maka Syeikh menjawab pertanyaan sultan, “memang Haram”. Maka sultan Tambora itu pun berkata, “ jika kau katakana Haram, mengapa engkau memakan daging Anjing tadi?”, kemudian Syeikh menjawab perkataan sultan, “bukan Anjing yang saya makan tadi, itukan daging kambing seperti  yang dibilang oleh pelayan”. Kemudian Syeikh dan sultan saling berbantahan satu sama lain, lalu sultan sangat marah kepada Syeikh Said, kemudian Raja memerintahkan pengawalnya membawa Syekh Said untuk dibunuh “bawa orang Arab ini, dan bunuh dia”, kemudian para pengawal membawa Syeikh Said ke atas gunung Tambora, sesampainya diatas gunung Tambora Syeikh Said di tikam dengan tombak akan tetapi tombak tersebut tidak mengenai Syeikh Said, kemudian para pengawal itu mengambil sebongkah batu dan kayu memukul kepala beserta badannya Syeikh Said hingga darahnya memercik dimana-mana hingga mati, kemudian para pengawal Raja membuang jasadnya Syeikh Said Idrus kedalam Gua, lalu para pengawal pulang untuk pergi melaporkan kepada sultan, ditengah jalan antara gunung dan kerajaan para pengawal melihat Api yang menyala ditempat terbunuhnya Syeikh Said Idrus, Api tersebut makin membesar dan membakar seluruh pohon dan mengarah ke kerajaan Tambora, maka para pengawal yang telah membunuh Syeikh, melarikan diri semua kedalam kerajaan Tambora, akan tetapi Api lebih cepat membakar kerajaan Tambora, kemudian seluruh Rakyat kerajaan Tambora panik kerana pada saat itu mereka sedang asik tidur dikala Subuh. Bunyi ledakan gunung menunjukkan kebesaran Allah SWT, orang-orang masing menyelamatkan diri dengan di tutupi oleh hujan abu, beberapa ribuan orang mati seketika, hingga kerajaan Tambora hilang  dibakar oleh api gunung Tambora.
Maka kerajaan Tamborapun terkena bala, kerajaan Sanggar dan Pekat (kala itu Raja Pekat di bawah sultan  Muhammad) juga tertelan oleh Ombak besar dan Lahar yang membakar menghanguskan Bumi, kerajaan Sumbawa, Dompu dan Bima, mengalami kelaparan hingga mati dan terkena tempiasnya, hingga ada yang menjual dirinya dan menukar dirinya dengan Padi hanya untuk bisa mendapatkan makanan.
Semua kerajaan di Pulau Sumbawa tenggelam oleh hujan abu segala macam binatang mati tertutup abu, Selama tiga tahun tidak dapat bercucuk tanam, sehingga banyak orang yang mati.
Dan sebahagian lagi di kerajaan Makasar dan kerajaan Bugis, pada saat gunung Tambora meledak dua kerajaan itu menjadi gelap gulita tertutup oleh hujan abu hitam seantero kerajaan Makasar dan Bugis sehingga tanah di dua kerajaan itu menjadi tebal oleh abu.
Selang beberapa hari setelah meletusnya gunung Tambora, dari arah Selatan datang tiga ombak besar dan menghanyutkan korban yang tersisa dan membawa kapal-kapal yang berlabuh naik ke hutan dan meluluh-lantahkan tujuh kerajaan kecil.
 
(di kuitip dari : Roorda Van Eysinga, 1841, II, hlm. 37-40, Bo` Sangaji Kai, hlm. Naskah 87; Chambert-Loir & Salahuddin 1999, 319).

Sunday, January 6, 2013

KESULTANAN DOMPO(1545-1958-KINI)

[Dompu]   
 BENDERA KESULTANAN DOMPO


KRONOLOGI;

1545                       KESULTANAN DOMPO DITUBUHKAN
 1 Jul 1942 - 1945         DILETAKKAN DI BAWAH PENGARUH KESULTANAN BIMA



Sultans
 
1686 - 1701                Abdul Rasul I Bumisorowo
1701 - 1702                Usman Sultan Manuru Goa
1702 - 1717                Ahmad Syah II
1717 - 1727                Abdul Kadir Daeng Manambung        (d. 1727)
1727 - 1737                Samsuddin Sultan Mawaa Sampela
                             Abdul Yusuf
1737                       Kamaluddin
1737 - 1746               
Abdul Kahar Daeng Mamu
1746 - 1748                Abdurrahman Manuru Kempo
1749 - 1793                Abdul Wahab                        (d. 1793)
1793 - 1798                Abdullah Mawaa Sainu
1798 - 1799               
Mpuri Jacob
1799 - 1801                Abdullah I Mawa
1801 - 1805                Muhammad Zainal Abidin             (d. 1805)
1805 - 25 Dec 1809         Muhammad Tajularifin
1809 - 1857                Daeng Hau Sultan Abdul Manuru      (b. 1787 - d. 1857)
                             Bata Rasul II        
1857 - 28 Aug 1870         Muhammad Sultan Salahuddin         (d. 1870)
1870 - 1882                Abdullah II
1882 - 1934                Muhammad Sirajuddin I              (d. 1939)
1934 - 1947                Interregnum
12 Sep 1947 - 1958         Muhammad Tajularifin
Sirajuddin II (b. 1916 - d. 1964)



 Ekspedisi Majapahit
 
Tapak bersejarah Warukali keadaannya mengejutkan penemuaan beberapa artifak kerana sejumlah bata yang terdapat di tapak ini juga banyak yang dimanfaatkan masyarakat untuk pembangunan rumah-rumah penduduk. Bahkan pernah terjadi penggalian haram di lokasi ini, kerana menurut masyarakat setempat kawasan tersebut dicurigai menyimpan harta karun. Akibat penggalian haram ini menyebabkan keousaknya sejumlah bata material bangunan kuno tersebut. penemuan bata berukuran besar ini tersebar dalam lingkungan kawasan lebih luas di wilayah ini di antaranya di Doro Empana, Doro Ngao dan bahkan di wilayah Sambitangga, penemuan bata ini digali habis untuk material pembangunan rumah.
Di lokasi ini juga ditemukan sejumlah seramik yang masih elok seperti piring dan mangkok Cina yang diperkirakan berasal dari Dinasti Yuan (abad 14 - 15 M). Sehingga secara jelasnya, hubungan antara kawasan sekitarnya ini merupakan kesatuan wilayah dan budaya pada masa lalu, dilihat dari penemuan sejumlah benda arkeologi seperti seramik. penemuan data ini juga didapat di tapak kawasan perkuburan bersebelahan tapak bersejarah Warukali. Menurut informasi masyarakat setempat, bata kuno tersebut ditemukan cukup banyak di kawasan perkuburan, sehingga pada waktu penggalian liang kubur, bata-bata ini diangkat dari dalam galian sedalam 1 m dari permukaan tanah. Nama Warukali yang dikenal sekarang pada mulanya merupakan gelaran penobatan seorang tokoh agama Islam -- gelaran tersebut mengandungi simbol lapan sifat kepemimpinan yang harus ditaati seorang tokoh atau pemimpin.
Adanya dugaan penobatan tokoh di wilayah ini kemungkinan kerana secara sejarahnya wilayah tersebut dipandang penting sejak zaman Hindu, sehingga dalam perkembangan pada masa masuknya pengaruh Islam kawasan ini juga diberikan kehormatan sebagai tempat penobatan tokoh penyebar agama Islam.
Nama Warukali secara sejarahnya tetap dikenail sampai sekarang. Berdasarkan bukti-bukti sejarah Walwaktikta, kebesaran Majapahit memang sampai menguasai wilayah ini. Seperti disebutkan dalam kitab Negara Kertagama, bahawa dalam masa pemerintahan Hayam Wuruk (1350 - 1389), seluruh negeri di Pulau Sumbawa yaitu pulau Taliwang, Dompu, Sapi, Sanghiang Api, Bima, Seran, dan Utan Kadali menjadi daerah Kerajaan Majapahit.
Dalam cerita mengenai kerajaan Dompu pada zaman pemerintahan Mawaa Taho, iaitu tahun 1357, ekspedisi Majapahit yang dipimpin oleh Laksamana Nala dan dibantu oleh askar dari Bali yang dipimpin oleh Pasung Gerigis berhasil menaklukan Dompu dan daerah sekitarnya. Sejak saat itulah Dompu bernaung di bawah kekuasaan Majapahit. Tercatatnya Kerajaan Dompu sebagai salah satu target penguasaan Majapahit kerana dipandang Kerajaan Dompu strategik pada saat itu. Kerajaan Dompu sudah dikenali Majapahit sejak pemerintahan Tribuwana (1328 - 1350).
Dalam sejarah Dompu disebutkan, kelahiran Dompu sebagai bakal kerajaan telah dimulai sejak abad ke-7 yaitu pada zaman Sriwijaya. Sebab, dalam cerita rakyat yang berkembang di Dompu disebut-sebut bahwa Sang Kula (cikal bakal Raja Dompu) yang juga dikenal dengan sebutan Ncuhi Patikula mempunyai seorang putri yang ia kawinkan dengan putra Raja dari Tulang Bawang dan atas kesepakatan para Ncuhi ia dinobatkan sebagai raja Dompu yang berkedudukan di Negeri Tonda -- sekitar 10 km arah selatan Dompu. Sampai kini, jejak budaya Majapahit masih tersebar di kawasan ini.
Bentuk Bangunan
Di tapak bersejarah Warukali dekat Doro Bata ditemukan sejumlah runtuhan dan susunan struktur yang tidak beraturan. Secara morfologi, bentuk bangunan diperkirakan berteraskan dengan konstruksi kayu pada bangunan atas. Pertimbangan ini didasari adanya perbezaan ketinggian temuan struktur atas dan bawah dengan selisih ketinggian 160 cm. Bangunan berteras semacam ini masih menjadi tradisi di Bali yang lebih dikenali dengan bangunan gunung rata.
Memperhatikan material yang dipergunakan iaitu bata pecah dan batu kali, sepertinya merupakan material sisa dari pembuatan bangunan suci. Ini merupakan indikasi, kemungkinan bangunan tersebut merupakan bangunan profan, yang menurut kepercayaan bahwa material bangunan profan tidak boleh sama atau lebih baik dari bangunan suci. Memperhatikan lokasinya yang memilih tempat yang tinggi terkait dengan fungsi bangunan itu, secara hirarki merupakan permukaan tokoh keagamaan atau bangsawan (Ncuhi) pada masa itu. Indikasi ini diperkuat pula dengan penemuan aktiviti seharian masyarakat yang membuat dari seramik yang mempunyai nilai tinggi pada masa itu.
Sedangkan bangunan suci keagamaannya berada di Doro Bata yang letaknya di pusat kawasan dari keempat wilayah Doro Empana, Doro Ngao, Sambitangga, dan Doro Swete. Kewujudan keempat wilayah tersebut mengitari Doro Bata, dari empat arah penjuru mata angin yang terminologinya di Bali dikenal dengan konsep "nyatur desa". Dugaan ini diperkuat oleh pendapat yang menyebutkan tapak sejarah berpenghuni pada umumnya berada tidak jauh dari kawasan bangunan suci.

Saturday, January 5, 2013

KERAJAAN ADONARA(1650-KINI)

  • Sejarah Tempatan di Adonara didokumentasikan dari abad 16, ketika pedagang Portugis dan misionaris mendirikan penempatan di pulau terdekat Solor. Pada saat itu Adonara dan pulau-pulau di sekitarnya ritual dibagi antara populasi penduduk pesisir dikenal sebagai Paji, dan berpenduduk terutama penyelesaian pedalaman pegunungan disebut Demon. Para Paji keseluruhannya menganut agama Islam, sementara demon  cenderung tunduk di bawah pengaruh Portugis. Daerah Paji di Adonara berisi tiga kerajaan, yaitu Adonara tepat (berpusat di pantai utara pulau), dan Terong dan Lamahala (di pantai selatan). Bersama dua kerajaan di Solor, Lohayong dan Lamakera, mereka merupakan lima kerajaan  yang disebut Watan Lema (“lima pantai”). Para Watan Lema bersekutu dengan Belanda East India Company (VOC). Kerajaan-kerajaan Adonara memiliki permusuhan sering dengan Portugis di Larantuka di Flores, dan tidak selalu taat kepada penguasa Belanda. Dalam perjalanan abad 19, penguasa Adonara (tepat) di utara memperkuat posisinya di kepulauan Solor. saat itu, ia juga raja dari bagian timur Flores dan Lembata. Daerah demon berdiri di bawah kekuasaan raja dari kerajaan Larantuka, yang pada gilirannya berada di bawah kekuasaan Portugis hingga 1859, ketika menyerahkan ke Belanda. Kerajaan-kerajaan dari Larantuka dan Adonara (tepat) dihapuskan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1962. Beberapa pasca kemerdekaan pejabat setempat melacak akar mereka kepada para penguasa masa lalu, yang disebut raja, dari Adonara (tepat). Ini termasuk Raja-Raja yang menguasai kerajaan adonara:
  •  Foramma, c. 1650
  •     Boli saya, c. 1671-1684
  •     Eke 1684-1688 (dibunuh oleh orang gunung)
  •     Gogok, c. 1702
  •     Wuring (saudara Eke), 1688-1719
  •     Boli II (anak dari Wuring), 1719-setelah 1756 diketahui penguasa
  •     Jou, c. 1815
  •     Lakabella Jou (anak dari Jou), c. 1832
  •     Begu, d. 28 Juli 1850 (dibunuh)
  •     Pela (ng) (anak Begu), 1850-1857
  •     Jou (saudara Pela), 1857-1868
  •     Kamba Begu (saudara Lakabella), 1868-1893
  •     Bapa Tuan (anak dari Kamba Begu), sementara Raja pada tahun 1893 selama 6 bulan
  •     Arkiang Kamba (Arakang; saudara Bapa Tuan, b 1866.), 1893 atau 1894 – melepasnya 18 Desember 1930
  •     Bapa Ana (anak dari saudara perempuan dari Kamba Begu), Bupati dengan gelar Kapitan 1930 – 1 Desember 1935, dijatuhi hukuman penjara seumur hidup tahun 1935 dan dikirim ke Kupang
  •     Bapa Nuhur, (anak Gela, putra Bapa Tuan, b. 1915), 1941-1947
  •     Bapa Kaya, (anak dari Bapa Ana, d. 1954/12/01), Bupati 1947-1951
  •     Mohamad Eke (cicit Raja Jo, 1929 -. C 1985), 1951-1962, pertama disebut Pemerintah Asst selama pemerintahan Bapa Kaya dan juga dari Kapitan Adonara

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...