Thursday, January 3, 2013

KESULTANAN SINTANG(1362-1960-KINI)






Masa Kerajaan Sintang Hindu

    Kerajaan ini diperkirakan awalnya terletak di Desa Tabelian Nanga Sepauk, berjarak sekitar 50 km dari Kota Sintang (saat ini). Bukti sejarah berdirinya kerajaan ini dapat ditelusuri melalui sejumlah benda peninggalan sejarah. Sebuah patung yang menyerupai Siwa ditemukan di Desa Temian Empakan, Kecamatan Sepauk. Patung ini mempunyai empat tangan yang terbuat dari perunggu. Di samping itu, juga ditemukan Batu Lingga dan Joni yang bergambar Mahadewa di Desa Tabelian Nanga Sepauk (masyarakat menyebutnya dengan nama lain, Batu Kalbut). Di desa yang sama, ditemukan batu yang menyerupai b*** (sensored) atau lembu, beberapa kapak batu, dan makam Aji Melayu.

    Aji Melayu diperkirakan merupakan nenek moyang raja-raja atau sultan-sultan di Kesultanan Sintang. Tidak ada banyak data yang mengungkap tentang asal-usul siapa sebenarnya Aji Melayu itu. Ada sumber yang menyebutkan bahwa ia merupakan penyebar agama Hindu dari Tanah Balang (Semenanjung Malaka) ke Sepauk. Awalnya, ia menetap di Kunjau, dan kemudian pindah ke Desa Tabelian Nanga Sepauk hingga akhir hayatnya. Ia menikah dengan Putung Kempat, dan dikaruniai seorang putri, Dayang Lengkong.

    Dayang Lengkong memiliki garis keturunan yang merupakan para pewaris tahta kekuasaan di Kerajaan Sintang Hindu berikutnya, yaitu:  Abang Panjang, Demong Karang, Demong Kara, Demong Minyak, Dayang Setari, Hasan, Demang Irawan (Jubair Irawan I) dan Dara Juanti.

    Pada abad ke-XIII, Demong Irawan (Jubair Irawan I) memindahkan pusat kerajaan ke Senentang, terletak di persimpangan Sungai Kapuas dan Muara Melawi. Nama Senentang ini lambat-laun lebih dikenal dengan sebutan Sintang. Sebenarnya, penggunaan nama Sintang (Senentang) mulai berlaku sejak zaman pemerintahan Demong Irawan. Pada masa ini, wilayah Kerajaan Sintang mencakup Sepauk dan Tempunak.

    Setelah Demong Irawan wafat, tahta kekuasaan dipegang oleh Dara Juanti. Dara Juanti menikah dengan Patih Legender  yang berasal dari kerajaan Majapahit. Pada masa pemerintahan Dara Juanti, Kerajaan Sintang pernah mengalami masa kemajuan dan kemakmuran. Setelah Dara Juanti mengundurkan diri kerajaan Sintang mengalami kemunduran,tidak terdengar lagi seolah-olah kerajaan Sintang sudah tidak ada lagi. Baru beratus-ratus tahun kemudian muncul Abang Samad sebagai raja dari keturunan Dara Juanti.

    Setelah Abang Samad, tampuk pimpinan Kesultanan Sintang dipegang secara berturut-turut oleh: Jubair Irawan II, Abang Suruh dan Abang Tembilang. Kemudian Abang Pencin yang bergelar Pangeran Agung. Abang Pencin merupakan penguasa terakhir di Kerajaan Sintang Hindu. Ia juga merupakan raja yang menganut Islam pertama kali di Sintang. Masa pemerintahan Abang Pencin dapat dikatakan sebagai babak baru masa Kesultanan Sintang Islam.

 Masa Kesultanan Sintang Islam

Masjid Jami Sultan Nata
      Setelah Abang Pencin meninggal, tahta kekuasaan di Kesultanan Sintang dipegang oleh putranya, Abang Tunggal dengan gelar Pangeran Tunggal. Sebelum meninggal, Pangeran Tunggal pernah berwasiat agar Abang Nata menggantikan dirinya. Abang Nata merupakan anak dari kakak perempuan Pangeran Tunggal, Nyai Cili, yang menikah dengan Mangku Negara Melik.

    Pangeran Tunggal sebenarnya memiliki dua orang putra, yaitu Pangeran Purba dan Abang Itut. Namun, Pangeran Purba telah menikah dengan putri dari Sultan Nanga Mengkiang dan kemudian menetap selamanya di sana. Sementara itu, Abang Nata masih berumur 10 tahun. Oleh karena kondisi semacam ini, Pangeran Tunggal melakukan sebuah cara, yaitu menunjuk dua orang menteri, Mangku Negara Melik dan Sina Pati Laket. Setelah dewasa, Abang Nata mulai memimpin Kesultanan Sintang. Ia bergelar Sultan Nata Muhammad Syamsuddin Sa‘adul Khairi Waddin. Ia merupakan pemimpin pertama di Sintang yang menggunakan gelar sultan.

    Pada masa pemerintahan Sultan Nata, banyak terjadi kemajuan di Kesultanan Sintang. Pada masa ini, mulai dibangun masjid pertama kali yang letaknya di ibu kota kesultanan, meski hanya dengan kapasitas 50 orang. Pada masa ini pula, wilayah kekuasaan Sintang meluas hingga ke daerah Ketungau Hilir dan Ketungau Hulu, hingga ke daerah perbatasan Serawak, Kalimantan Tengah, dan Melawi. Di samping mengalami kemajuan secara fisik, ada sejumlah keputusan penting terkait dengan Kesultanan Sintang yang ditetapkan dalam sebuah rapat, yaitu:

    1. Ditetapkannya Sintang sebagai Kesultanan Islam
    2. Pemimpin Kesultanan Sintang bergelar Sultan
    3. Disusunnya Undang-undang Kesultanan yang terdiri dari 32 pasal
    4. Didirikannya masjid sebagai tempat ibadah
    5. Dibangunnnya istana kesultanan

    Sultan Nata menikah dengan Putri Dayang Mas Kuma, putri dari Sultan Sanggau. Dari hasil pernikahan ini, Sultan Nata dikaruniai seorang putra, Adi Abdurrahman.


Istana Al Mukaramah Sintang
    Sultan Nata meninggal pada tahun 1150 H, dan dimakamkan di Kampung Sungai Durian Sintang. Putranya, Adi Abdurrahman kemudian menggantikannya dengan gelar Sultan Abdurrahman Muhammad Jalaluddin atau dengan sebutan lain, Sultan Pikai atau Sultan Aman,karena semasa beliau berkuasa rakyat aman sentosa tak pernah terjadi kekacauan.

    Sultan Abdurrahman menikah dengan Utin Purwa, putri Sultan Sanggau. Mereka dikaruniai dua orang anak, Raden Machmud dan Adi Abdurrosyid. Sultan Abdurrahman menikah lagi (tidak diketahui identitasnya), yang kemudian dikaruniai seorang putra bernama Abang Tole. Setelah Sultan Abdurrahman meninggal, tahta kekuasaan Sintang dipegang oleh putranya, Adi Abdurrosyid dengan gelar Sultan Abdurrosyid Muhammad Jamaluddin. Sementara itu, anaknya yang lain, Raden Machmud diangkat sebagai Mangkubumi.

    Pada masa Sultan Abdurrosyid, dibangun sebuah masjid baru yang menggantikan masjid lama. Ia tidak lama berkuasa karena jatuh sakit. Pada tahun 1210 H, ia meninggal, dan dimakamkan di Kampung Sungai Durian Sintang. Ia digantikan oleh putranya yang bernama Adi Noh dengan gelar Pangeran Ratu Adi noh Muhammad Qomaruddin. Pada masa pemerintahan Adi Noh, sejumlah rombongan asal Belanda datang pertama kali ke Sintang, tepatnya pada bulan Juli 1822 M, yang dipimpin oleh Mr. J.H. Tobias, seorang Komisaris dari Kust van Borneo.

    Pada bulan November tahun yang sama, Pangeran Ratu Adi Noh Muhammad Qomaruddin meninggal dunia karena sakit parah. Tahta kekuasaan kemudian dipegang oleh Gusti Muhammad Yasin dengan gelar Pangeran Adipati Muhammad Djamaluddin. Pada bulan ini, datang rombongan Belanda yang kedua, di bawah pimpinan Dj. van Dungen Gronovius dan Cf. Golman, dua pejabat tinggi, yang ditemani oleh Pangeran Bendahara Pontianak, Syarif Ahmad Alkadrie, sebagai juru bicara.

    Misi Belanda tersebut menghasilkan sebuah kesepakatan dan kerja sama dagang, yang tertuang dalam Voorlooping Contract (Kontrak Sementara). Kontrak ini ditandatangani pada tanggal 2 Desember 1822 M. setelah itu, muncul beberapa perjanjian lainnya (1823, 1832, 1847, 1855). Secara umum, perjanjian-perjanjian tersebut lebih banyak menguntungkan pihak Belanda untuk melakukan intervensi terhadap pemerintahan dalam negeri Kesultanan Sintang. Alhasil, intervensi tersebut berdampak negatif terhadap masa depan pemerintahan Kesultanan Sintang.

Gusti Ismail Kesuma Negara II
        Pada tahun 1855 M, Pangeran Adipati digantikan oleh putranya yang bernama Adi Abdurrasyid Kesuma Negara dengar gelar Panembahan Abdurrasyid Kesuma Negara I. Setelah Panembahan Abdurrasyid meninggal, tahta kekuasaan dipegang oleh Abang Ismail dengan gelar Panembahan Gusti Ismail Kesuma Negara II. Setelah Panembahan Ismail meninggal, tahta kekuasaan dipegang oleh anaknya, Gusti Abdul Majid dengan gelar Panembahan Gusti Abdul Majid Kesuma Negara III. Gusti Abdul Majid ditangkap dan dibuang ke Bogor oleh Belanda karena dituduh tidak mau membantu Belanda dalam menyerang pasukan Panggi.

Gusti Abdul Majid Kesuma Negara II
      Menghadapi kevakuman pejabat Sintang maka Pemerintah Belanda menunjuk Ade Muhammad Djoen putera Pangeran Temenggung Agama G.M Isya sebagai Wakil Panembahan. Sejak saat itu, sistem pemerintahan Kesultanan Sintang sepenuhnya berada di bawah kontrol kekuasaan kolonial Belanda.

Ade Muhammad Djoen
       Pada tahun 1934 Ade Muhammad Djoen meninggal dunia. Hasil musyawarah keluarga raja-raja Sintang dengan wakil pemerintah Belanda menetapkan putera Gusti Abdul Majid,Raden Abdulbachri Danu Perdana sebagai Panembahan Kerajaan Sintang. Pada masa beliau lah berhasil dibangun Masjid Jami Sultan Nata dan Istana al Mukaramah. Pada tahun 1944 Panembahan Sintang bersaudara dan para bangsawan terpelajar serta  tokoh-tokoh masyarakat ditangkap oleh Jepang dan dibawa ke pontianak. Selanjutnya dibunuh secara massal di Mandor.

Raden Abdulbachri Danu Perdana
     Kemudian pemerintah Jepang mengangkat Raden Muhammad Chalidi Tsafiudin. Karena pada waktu itu raja masih berusia 6 tahun,maka untuk memangku jabatan raja diangkatlah Raden Syamsuddin sebagai Panembahan Sintang. Namun pada tahun 1946 Raden Syamsuddin diberhentikan oleh pemerintah NICA (Belanda) dari jabatan Panembahan,karena terbukti terlibat dalam gerakan Merah Putih di Nanga Pinoh tanggal 15 November 1946 yang dinilai gerakan ini melawan pemerintah Belanda yang akan memerintah kembali di daerah Sintang. Sebagai penggantinya diangkatlah Ade Muhammad Djohan sebagai Ketua Majelis Kerajaan Sintang.

Raden Syamsuddin
       Kesultanan Sintang merupakan satu-satunya kesultanan di Kabupaten Sintang yang masih eksis hingga akhirnya “bubar” pada tanggal 1 April 1960 M. Sejak tahun 1966, Sintang merupakan Daerah Tingkat II (Kabupaten) di Provinsi Kalimantan Barat. Ibu kotanya adalah Sintang. Setelah Reformasi  Sri Sultan Kusuma Negara V bergelar Pengeran Ratu Sri Negara Raden Ichsani Perdana Tsafiudin,putra dari Panembahan  Raden Abdulbahri Danu Perdana dikukuhkan sebagai Sultan Kraton Al Mukaramah Sintang. 
Post title : KESULTANAN SINTANG
URL post : http://restorasiborneo.blogspot.com/2010/08/kesultanan-sintang.html

KESULTANAN KUBU(1772-1958)


Bendera Kesultanan Kubu
[possible Kubu flag]


1772                       Kesultanan Kubu ditubuhkan.

4 Jun 1823 - 1949         Dutch protectorate.


  pemerintah(gelaran Tuan)

1)1772 - 1795                Saiyid `Aydarus Al `Aydarus        (b. 17.. - d. 1795)
 
2)1795 -  7 Jun 1829         Saiyid Muhammad bin `Aydarus Al
                             `Aydarus                         (b. 17.. - d. 1829)

3) 7 Jun 1829 -  2 Feb 1841  Saiyid Abdul Rahman bin Muhammad
                             Al `Aydarus                      (d. 1841)

4) 2 Feb 1841 - 19 Sep 1864  Saiyid Ismail bin Abdul Rahman
                             Al `Aydarus                      (d. 1864)

5)19 Sep 1864 -  4 Nov 1900  Saiyid Hasan bin Abdul Rahman
                             Al `Aydarus                      (d. 1900)

6) 4 Nov 1900 - Apr 1911     Syarif Abbas Al `Aydarus           (b. 1853 - d. 19..)

7)26 Sep 1911 - 11 Apr 1921  Syarif Zainul Idris ibni al-Marhum
                             Syarif Ismail                    (b. 1851 - d. 19..)

8)16 Jun 1921 - 23 Nov 1943  Syarif Salih bin Syarif Idris
                             Al `Aydarus (regent to Sep 1921) (b. 1881 - d. 1944)
 
9)1943 - 1958                Syarif Hasan bin Zain
                             

Kerajaan Kubu adalah sebuah Kerajaan yang diperintah oleh Seorang  Yang Di Pertuan Besar yang pernah  Berdiri dalam wilayah yang sekarang terletak di wilayah Kabupaten Kubu Raya , Kalimantan Barat .

Sejarah

Sejarah Kerajaan Kubu memiliki kaitan yang Erat dengan Sejarah Kesultanan Pontianak. Sejarahnya berkait rapat berhutang budi kepada sekelompok kecil pedagang dan Saudagar Arab yang Singgah dari SANAA atas kemunculan serta tegaknya kedua Kerajaan tersebut pada awalnya. iaitu ketika 45 Pelayar Arab yang berasal dari daerah Hadramaut di Selatan Jazirah Arab, yang pada mulanya bertujuan untuk mencari keuntungan dengan berdagang di Lautan Timur-jauh (Asia) berlabuh di SANA. Leluhur dan Tuan Besar (Raja) Kerajaan Kubu pertama, iaiitu Syarif Idrus Al-Idrus , adalah menantu dari Tuan Besar (Panembahan) Mampawa (Mempawah). Ia Syarif Idrus juga merupakan ipar dari Sultan pertama Kesultanan Pontianak (Al-Qadri). Pada awalnya Beliau Syarif Idrus membina perkampungan di dekat muara Sungai Terentang, barat-daya berdekatan Kalimantan.
SEBAGAIMANA Keluarga sepupunya (Al-Qadri), Keluarga Syarif Idrus Al-Idrus (Idrusi) Tumbuh menjadi Keluarga yang kaya-raya melalui Perdagangan yang Maju. Mereka membina Perhubungan yang  baik dengan Kerajaan Inggeris Raya, pada masa Pemerintahan Gabernor Jeneral Sir Thomas Stamford Raffles (yang membina Singapura), Raffles ditugaskan di Hindia Belanda. Perhubungan ini berlanjutan hingga setelah kembalinya Belanda ke Indonesia (Hindia Belanda) dan dirintisnya adanya pembangunan pembukaan  Singapura.
Bagaimanapun juga, Perhubungan ini tidak disukai oleh Kerajaan Belanda, yang secara rasmi mereka mengendalikan Pulau Kalimantan berdasarkan kontrak perjanjian bangsa-bangsa yang ditetapkan pada tahun 1823. beberapa Keluarga Al-Idrus sempatkan juga mengalami perubahan Kesejahteraan Hidup menjadi sengsara pada masa itu. Mereka ada yang meninggalkan Kalimantan demi menjauhi Sikap Buruk Belanda di daerah Serawak, Mana yang waktu itu menjadi daerah wilayah Kerajaan Inggeris Raya, demi Harapan yang lebih baik akan Perkara ini dalam Perdagangan. Sedangkan Keluarga Al-Idrus yang memilih bertahan di Kubu, bagaimanapun juga, tak jua mendapatkan Kehidupan serta perlakuan yang lebih baik dari pemerintah Belanda.
Menurut Staatsblad van Nederlandisch indie tahun 1849, wilayah ini termasuk dalam Wester-afdeeling berdasarkan Bêsluit van den Menteri van Staat, Gouverneur oleh Ketua van Nederlandsch-Indie , pada 27 Ogos 1849, No 8 [2]
Pemerintah Belanda menurunkan Syarif Abbas Al-Idrus dari jawatan Tuan Besar Kerajaan Kubu atas sokongan sepupunya, Syarif Zainal Al-Idrus ketika terjadi perebutan jawatan Raja pada tahun 1911 . Justru ia akhirnya terbukti menemui kesulitan dalam Pemerintahan serta diturun-tahtakan dengan tanpa memiliki pewaris / GANTIAN yang jelas, lapan tahun kemudian. Tidak adanya Pewaris takhta, Baru ditetapkan dan disahkan setelah beberapa tahun kemudian. sehingga pegawai Kerajaan yang ada selama kurun waktu itu hanyalah  (pemerintah sementara).
Setelah beberapa lama, akhirnya Syarif Shalih, mendapatkan Kehormat agung dari  menjabat sebagai Raja, tetapi kemudian ditahan pada Kedatangan Tentera Jepun di Mandur, pada tahun 1943.
Dewan Kerajaan dan Keluarga Bangsawan tak semudah itu menyutujui Pergantian Kerajaan kepada Syarif Shalih. Hingga akhirnya Justru Jepun menempatkan putra bungsu Raja terdahulu iaitu Syarif Hasan, sebagai Pemimpin Dewan Kerajaan akan tetapi belum sempat terjadi kerana Jepun terlebih dulu kalh pada PD II dan meninggalkan Indonesia. Ia Justeru baru menerima pensijilan sebagai Pemimpin Kerajaan (Tuan Besar) Kubu pada tahun 1949, setelah Pemerintah Indonesia terbentuk. Kerajaan Kubu itu sendiri akhirnya berakhir dan menghilang ketika dihapus oleh Pemerintahan Republik Indonesia pada tahun 1958.

Sayyid Idrus bin Sayyid 'Abdu'l Rahman al-Idrus, Tuan Besar Kubu (1772 - 1795)

Sayyid Idrus bin Sayyid 'Abdu'l Rahman al-Idrus, Tuan Besar Kubu ( tahun 1772 - 1795 ) - (lahir di Dukhum Hadramaut Yaman , Nota Sejarah menyatakan Beliau pernah Singgah di Batavia Bersama Al-Habib Husain bin Abubakar al-Idrus - makamnya di Keramat Luaran Batang , Jakarta Utara ) - membina perkampungan Arab di pesisir Sungai Terentang, Mana yang menjadi pengasas dan pendiri Kerajaan Kubu pada tahun 1772 . Gelar Sayyid atau Habib atau Syarif yang disandang beliau menandakan bahwa beliau termasuk keturunan Nabi Muhammad SAW dari jalur Sayyid Al-Imam Husain ra.
Beliau Syarif Idrus menikahi putri HH Pangeran Ratu Kimas Hindi Sri Susuhanan Mahmud Badaruddin I Jayawikrama Candiwalang kalifat ul-Mukminin Sayyidul-Iman , Sultan Palembang , pada tahun 1747 . Syarif Idrus wafat pada tahun 1795 , penerus Beliau:
  1. Syarif Muhammad bin Syarif Idrus al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu - lihat bawah.
  2. Syarif Alawi bin Syarif Idrus al-Idrus, Tuan (Raja) Ambawang (Kerajaan kecil bahagian dari Kerajaan Kubu). Ia menjadikan mencoba Ambawang sebagai Kerajaan yang terpisah dari Kubu pada tahun 1800 akan tetapi tidak diijinkan oleh Pemerintah Belanda yang dideklarasikan pada tahun 1833 sebagai Kerajaan terpisah. Ia wafat di Ambawang.
  3. Syarif Abdurrahman bin Syarif Idrus (Raja / Tuan Besar I Kubu) Al-Idrus. Syarif Abdurrahman bin Syarif Idrus Al-Idrus ini menikahi Syarifah Aisyah Al-Qadri yang merupakan putri dari Sultan Syarif Abdurrahman bin Husein Al-Qadri (Sultan I Kesultanan Pontianak di Kalimantan Barat). Berputra Sultan Syarif Ali Al-Idrus yang hendak membina Kerajaan Sabamban di Angsana (sekarang masuk wilayah Keramat meludahnya, Kabupaten Tanahbumbu - Kalimantan Selatan - Indonesia). Pangeran Syarif Ali Alaydrus menjabat sebagai Raja Sabamban hingga akhir hayatnya. Jadi Keluarga Pangeran Syarif Ali mempertemukan dua jalur kebangsawanan Kalimantan,  dari jalur Kerajaan Kubu (Al-Idrus) dan Kesultanan Pontianak (Al-Qadri).
  4. Syarif Mustafa bin Syarif Idrus al-Idrus (Tuan Besar Kubu).
  5. Syarifa Muzayanah [Makam Menjina] binti Syarif Idrus al-Idrus (Tuan Besar Kubu). Lahir pada 1748 (putri dari Putri Kerajaaan Palembang).
  6. Syarif Muhammad ( 1795 - 1829 ) Ibni al-Sultan Syarif Idrus al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu.

Kerajaan Sabamban

Syarif Ali Al-Idrus, pendiri Kerajaan Sabamban yang merupakan Cucu dari Raja (Tuan Besar) Kubu-Syarif Idrus Al-Idrus ini, pada awalnya menetap di daerah Kubu-Kalimantan Barat (Bersama Keluarga bangsawan Kesultanan Kubu). Pada masa itu Beliau telah memiliki satu istri dan berputra dua orang yaitu: Syarif Abubakar Al-Idrus dan Syarif Hasan Al-Idrus. Karena ada suatu Konflik kekeluargaan, akhirnya Syarif Ali Al-Idrus memutuskan untuk hijrah / Pindah ke Kalimantan Selatan dengan meninggalkan istri dan kedua putranya yang masih tinggal di Kesultanan Kubu, melalui Sepanjang Sungai Barito hingga sampai di daerah Banjar.
Di daerah Banjar tersebut, beliau hendak membina Kerajaan Sabamban dan menjadi Raja yang Pertama, bergelar Pangeran Syarif Ali Al-Idrus. Pada saat beliau menjadi Raja Sabamban ini, Beliau menikah lagi dengan 3 (tiga) Wanita; Yang pertama dari Putri Sultan Adam dari Kesultanan Banjar di Kalimantan Selatan, yang kedua dari Bugis (Putri dari Sultan Bugis di Sulwesi Selatan), yang bagi ketiga dari Tulang ( Putri dari Sultan Bone di Sulawesi Selatan). Pada saat beliau telah menjabat sebagai Raja Sabamban Inilah, kedua putra beliau dari Istri Pertama di Kubu-Kalimantan Barat , Syarif Abubakar dan Syarif Hasan menyusul Beliau ke Angsana - Kerajaan Sabamban (Lansekap Sabamban), dan menetap Bersama Ayahandanya.
Dari bagi ketiga istri beliau di Banjar Kalimantan Selatan serta satu Istri beliau di Kubu-Kalimantan Barat tersebut, Pangeran Syarif Ali Alaydrus memiliki 12 (duabelas) putra. Putra-putra beliau : Dari Isteri Pertama (Kubu-Kalimantan Barat):
  1. Syarif Hasan bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus, putra beliau: Pangeran Syarif Qasim Al-Idrus, Raja II Sabamban menjabat sebagai Raja setelah sepeninggal datuknya ,Pangeran Syarif Ali bin Syarif Abdurrahman Al-Idrus, hingga akhirnya Kerajaan Sabamban ini hilang dari bumi Kalimantan Selatan .
  2. Syarif Abubakar bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus
Dari Isteri ke-dua, Putri Kesultanan Banjar , Isteri ke-tiga (Putri Sultan Bugis) dan Isteri ke-empat (Putri Sultan Bone), menurunkan putra-putra beliau:
  1. Syarif Musthafa bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus,
  2. Syarif Thaha bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus,
  3. Syarif Hamid bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus
  4. Syarif Ahmad bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus
  5. Syarif Muhammad bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus
  6. Syarif Umar bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus
  7. Syarif Thohir bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus
  8. Syarif Shalih bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus
  9. Syarif Ummaiyyah bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus dan
  10. Syarif Husein bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus.
Setelah wafatnya Sultan Syarif Ali Al-Idrus, Jabatan Sultan tidak Disandang oleh putra-putra beliau, akan tetapi yang menjadi Sultan II Sabamban adalah Justeru Cucu beliau , Sultan Syarif Qasim Al-Idrus, putra dari Syarif Hasan (Syarif Hasan adalah putra Sultan Syarif Ali Al-Idrus dari Isteri Pertama / Kubu, waktu Syarif Ali masih menetap di Kubu-Kalimantan Barat).
Jadi Sepanjang sejarahnya, Kesultanan Sabamban ini hanya dijabat oleh dua Sultan saja,  pendirinya Sultan Syarif Ali Al-Idrus sebagai Sultan I dan Cucu beliau sebagai Sultan II Sabamban , Sultan Syarif Qasim Al-Idrus.
Sementara itu, setelah tidak adanya lagi Kesultanan Sabamban tersebut, anak-Cucu Keluarga bangsawan dari keturunan Sultan Syarif Ali Al-Idrus ini, menyebar ke seluruh wilayah Kalimantan Selatan pada Umumnya dan ada yang hijrah ke Malaysia, Filipina, tanah Jawa dan di Hemisfera lain Nusantara hingga saat ini.

 Syarif Muhammad (1795 - 1829)

Syarif Muhammad ( 1795 - 1829 ) Ibni al-Sultan Syarif Idrus al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu. Menggantikan Ayahandanya yang meninggal dunia pada 1795 . Menerima Perlindungan dari Belanda jam ia bersetuju kontrak perjanjian dengan Pemerintah Belanda (Hindia Belanda), 4 Jun 1823 . Ia meninggal pada 7 Jun 1829 , memiliki keturunan, tiga putra:
  1. Syarif 'Abdul Rahman bin Syarif Muhammad al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu
  2. Syarif Taha bin Syarif Muhammad al-Idrus, Kampung Sungai Pinang.
  3. Syarif Mubarak bin Syarif Muhammad al-Idrus. Menggantikan kakaknya sebagai Pemimpin di Kampung Sungai Pinang.

 Syarif 'Abdul Rahman (1829 - 1841)

Syarif 'Abdul Rahman ( 1829 - tahun 1841 ) Ibni al-Sultan Syarif Muhammad al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu. Menggantikan Ayahandanya yang meninggal pada 7 Jun 1829 . Menikahi Syarifa Idja. Ia meninggal pada 2 Februari 1841 , memiliki keturunan: [3]
  1. Syarif Ismail bin Syarif 'Abdu'l Rahman al-Idrus, Yang di-Pertuan Kubu - lihat bawah.
  2. Rahman Syarif Hasan bin Syarif 'Abdul al-Idrus, Yang di-Pertuan Kubu - lihat bawah.
  3. Syarif Kasim bin Syarif 'Abdu'l Rahman al-Idrus. menikahi putri dari Pangeran Syarif Hamid, Batavia. Ia memilki, Seorang putra:
    1. Syarif Ismail bin Syarif Kasim al-Idrus.
  4. Syarif Aqil bin Syarif 'Abdu'l Rahman al-Idrus. Menikahi Syarifa Jara. Ia memiliki keturunan:
    1. 'Abdul Rahman bin Syarif Syarif Akil al-Idrus. Menikahi Syarifa Piah Ibni al-Sultan Syarif Hasan 'Ali al-Idrus, putri kedua dari Syarif Hasan bin Syarif' Abdu'l Rahman al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu. Ia memiliki, dua anak.
      1. Syarif Hamid bin Syarif Akil al-Idrus. Menikahi Syarifa Kamala.
      2. Syarifa Saha binti Syarif Akil al-Idrus. Menikah dengan Syarif Umar Ibni al-Sultan Syarif Hasan 'Ali al-Idrus, Putra ke-empat Syarif Hasan bin Syarif' Abdu'l Rahman al-Idrus, Yang di-Pertuan Kubu. Ia memiliki dua anak - lihat bawah.
      3. Syarifa Bunta binti Syarif Akil al-Idrus.
  5. Syarifa Saida binti Syarif 'Abdu'l Rahman al-Idrus. Menikah dengan Syarif Muhammad Ba-Hasan, dan memiliki keturunan:
    1. Syarifa Saha binti Syarif Muhammad Ba-Hasan. Menikah dengan Syarif Umar Al-Qadri, Pontianak.
  6. Syarifa Nur binti Syarif 'Abdu'l Rahman al-Idrus. Menikah dengan Syarif Alawi, memiliki keturunan dua putra:
    1. Syarif 'Abdu'llah bin Syarif Alawi. Menikah dengan Syarifa Saliha, memiliki dua anak.
    2. 'Abdul Rahman bin Syarif Syarif Alawi.

 Syarif Ismail (1841 - 1864)

Syarif Ismail ( 1841 - tahun 1864 ) Ibni al-Sultan Syarif 'Abdul Rahman al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu. Menggantikan Ayahandanya yang meninggal pada 2 Februari 1841 , dilantik pada 28 Mei 1841 . Memiliki beberapa istri, termasuk (yang pertama) Tengku Embong binti al-Sultan Tengku Besar Anum (DSP), Putri bungsu dari HH Tengku Besar Anum Ibni al-Sultan Sultan 'Abdu'l Jalil Shah, Panembahan SUKADANA , dengan istri keduanya, Tengku Jeba binti Tengku Ja'afar, Putri tertua dari Tengku Ja'afar bin Tengku Musa, Tengku Panglima Besar Karimata . Syarif Ismail juga menikahi (yang kedua) Syarifa Zina.
Beliau meninggal 19 September 1864 , memiliki keturunan, 4 laki-laki dan 8 perempuan:
  1. Syarif 'Abdul Rahman Ibni al-Sultan Syarif Ismail ( Putra Mahkota ) menikahi Syarifa Amina. Ia hilang pada masa menuju ke Sarawak (diperkirakan meninggal Dunia), pada 1866.
  2. Syarif Muhammad Zainal Idrus Ibni al-Sultan Syarif Ismail, Tuan Kubu - lihat bawah.
  3. Syarif Said Ibni al-Sultan Syarif Ismail. Menikahi Syarifa Zina, dan memiliki dua anak.
  4. Syarif 'Ali Ibni al-Sultan Syarif Ismail. Menikahi Syarifa Marian.
Anak perempuan:
  1. Syarifa Nur binti al-Sultan Syarif Ismail. Dia meninggal sebelum tahun 1903.
  2. Syarifa Dara binti al-Sultan Syarif Ismail, menikah dengan sepupunya, Syarif 'Ali Ibni al-Sultan Syarif Hasan' Ali al-Idrus, Bungsu Syarif Hasan Putra Ibni al-Sultan 'Abdu'l Rahman Syarif al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu. Ia memilki, 3 anak - lihat bawah.
  3. Syarifa Fatima binti al-Sultan Syarif Ismail.
  4. Syarifa Amina binti al-Sultan Syarif Ismail.
  5. Syarifa Rola binti al-Sultan Syarif Ismail. menikah dengan Syarif Mahmud, dan memiliki 3 anak.
  6. Syarifa Zina binti al-Sultan Syarif Ismail. menikah dengan Syarif Mansur, dan memiliki 1 anak.
  7. Syarifa Talaha binti al-Sultan Syarif Ismail.
  8. Syarifa Mariam binti al-Sultan Syarif Ismail.

 Syarif Hasan (1864 - 1871)

Syarif Hasan ( tahun 1864 - 1871 ) Abdul Rahman Ibni al-Sultan Syarif 'al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu. Menggantikan Kakak tertuanya pada 19 September 1864 . dilantik pada 5 Mac 1866 . Rasmi memegang jawatan Tuan Kubu mulai 7 Julai 1871 . menikah dengan Syarifa Isa. Ia meninggal pada 4 November 1900 , memiliki 13 putra dan 6 putri
Putera:
  1. Syarif Muhammad Ibni al-Sultan Syarif Hasan 'Ali al-Idrus. Lahir sebelum tahun 1862.
  2. Syarif 'Ali Ibni al-Sultan Syarif Hasan' Ali al-Idrus. Lahir sebelum tahun 1862. Ia meninggal pada waktu muda.
  3. Syarif 'Abbas Ibni al-Sultan Syarif Hasan' Ali al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu - lihat bawah.
  4. Syarif 'Abdu'llah Ibni al-Sultan Syarif Hasan' Ali al-Idrus. Lahir pada tahun 1870. menikah dengan Syarifa Selina, dan memiliki lima anak.
  5. Syarif Yasin Ibni al-Sultan Syarif Hasan 'Ali al-Idrus. Lahir tahun 1872. menikah dengan Syarifa Muna, dan memiliki keturunan, 4 anak.
  6. Syarif 'Umar Ibni al-Sultan Syarif Hasan' Ali al-Idrus. menikah dengan Syarifa Saha binti Syarif Akil al-Idrus, putri tertua Syarif Akil bin Syarif 'Abdul Rahman al-Idrus. Ia memilki, dua anak.
  7. Syarif Kasim Ibni al-Sultan Syarif Hasan 'Ali al-Idrus. DH Kubu, MBR. Cncl itu. Regency (Anggota Majlis Rakyat Kabupaten / DPRD) 1.919-1.921. menikah dengan Syarifa Kamariah. Ia meninggal pada 16 Jun 1921.
  8. Syarif Taha Ibni al-Sultan Syarif Hasan 'Ali al-Idrus. menikah dengan Syarifa Darah, dan memiliki keturunan, 2 anak.
  9. Syarif Usman Ibni al-Sultan Syarif Hasan 'Ali al-Idrus. menikah dengan Syarifa 'Isa al-Idrus.
  10. Syarif Sajaf Ibni al-Sultan Syarif Hasan 'Ali al-Idrus.
  11. Syarif Husain Ibni al-Sultan Syarif Hasan 'Ali al-Idrus.
  12. Syarif 'Ali Ibni al-Sultan Syarif Hasan' Ali al-Idrus. menikah dengan sepupunya, Syarifa Dara, Putri kedua Syarif Ismail Ibni al-Sultan 'Abdu'l Rahman Syarif al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu.
  13. Syarif Zaman [Seman] Ibni al-Sultan Syarif Hasan 'Ali al-Idrus.
Puteri:
  1. Syarifa Shaikha binti al-Sultan Syarif Hasan 'Ali al-Idrus.
  2. Syarifa SIPA binti al-Sultan Syarif Hasan 'Ali al-Idrus. menikah dengan Syarif 'Abu Bakar, dan memiliki keturunan, 2 anak.
  3. Syarifa Piah binti al-Sultan Syarif Hasan 'Ali al-Idrus. menikah dengan Syarif 'Abdul Rahman bin Syarif Akil al-Idrus, Putra tertua Syarif Akil bin Syarif' Abdu'l Rahman al-Idrus. Ia memilki, dua anak - lihat atas.
  4. Syarifa Talaha binti al-Sultan Syarif Hasan 'Ali al-Idrus. menikah dengan Syarif Kechil, dan memiliki keturunan 2 anak.
  5. Syarifa Saida binti al-Sultan Syarif Hasan 'Ali al-Idrus. menikah dengan Syarif Muhammad, dan memiliki keturunan dua anak.
  6. Syarifah Mani binti al-Sultan Syarif Hasan 'Ali al-Idrus.
  7. Syarifa Kembong binti al-Sultan Syarif Hasan 'Ali al-Idrus.

 Syarif 'Abbas (1900 - 1911)

Syarif 'Abbas ( 1900 - 1911 ) Ibni al-Sultan Syarif Hasan 'Ali al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu. Lahir 1853 , Pendidikan Terperinci. Menggantikan Ayahandanya yang meninggal pada 4 November 1900 . Dilantik pada 6 Ogos 1901 . Diturunkan dari tahtanya pada April 1911 . memiliki beberapa isetri, termasuk Syarifa Kamariah. . Ia memiliki dua putra dan 10 putri
Putera-putera:
  1. Syarif 'Abdul Rahman Ibni al-Sultan Syarif' Abbas al-Idrus. Lahir 1903 . Ia meninggal pada usia muda ..
  2. Syarif Ahmad Ibni al-Sultan Syarif 'Abbas al-Idrus [Wan Sulung]. Ia terbunuh pada 1906 .
Puteri-puteri:
  1. Syarifa Inah binti al-Sultan Syarif 'Abbas al-Idrus.
  2. Syarifa Zubaida binti al-Sultan Syarif 'Abbas al-Idrus. menikah dengan Syarif Mahmud, dan memiliki keturunan tiga anak.
  3. Syarifa Kamala binti al-Sultan Syarif 'Abbas al-Idrus. menikah dengan Syarif Hamid, dan memiliki satu anak.
  4. Syarifa Buntat binti al-Sultan Syarif 'Abbas al-Idrus. menikah dengan Syarif Kasim, dan memiliki satu anak.
  5. Syarifa Isa binti al-Sultan Syarif 'Abbas al-Idrus.
  6. Syarifa Tura binti al-Sultan Syarif 'Abbas al-Idrus. menikah dengan Syarif Muhammad Zainal Idrus Ibni al-Sultan Syarif Ismail al-Idrus, Tuan Besar Kubu (Lahir pada 1851 ), kedua Syarif Ismail Putra Ibni al-Sultan Syarif 'Abdul Rahman al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu.
  7. Syarifa Nur binti al-Sultan Syarif 'Abbas al-Idrus. menikah dengan Syarif Muhammad [Mo] al-Idrus, dan memiliki satu anak.
  8. Syarifa Saliha binti al-Sultan Syarif 'Abbas al-Idrus. menikah dengan Syarif 'Umar al-Idrus.
  9. Syarifa Kuning binti al-Sultan Syarif 'Abbas al-Idrus.
  10. Syarifa Kebong binti al-Sultan Syarif 'Abbas al-Idrus.

 Syarif Muhammad Zainal Idrus (1911 - 1921)

Syarif Muhammad Zainal Idrus ( 1911 - tahun 1921 ) Ibni al-Sultan Syarif Ismail al-Idrus, Tuan Besar Kubu. Lahir tahun 1851 , Putra kedua Syarif Ismail Ibni al-Sultan 'Abdu'l Rahman Syarif al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu, Pendidikan Tinggi. Dipilih oleh Belanda untuk menggantikan sepupunya yang diturun-tahtakan sebelumnya pada 26 September 1911 . Dilantik pada 15 Januari 1912 . Menyerahkan menyerahkan sewewenang Kesultanan kepada Dewan Kabupaten pada 1919 . di-Turun-tahtakan tanpa adanya pilihan GANTIAN pada 11 April 1921 . Memiliki 3 isteri, termasuk Syarifah Tura binti al-Sultan Syarif 'Abbas al-Idrus, Putri ke-enam Syarif Abbas Ibni al-Sultan Syarif Hasan' Ali al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu. Ia memiliki, 7 putra  :
  1. Syarif Mustafa Ibni al-Sultan Syarif Muhammad Zainal Idrus al-Idrus.
  2. Syarif Akil [Agel] Ibni al-Sultan Syarif Muhammad Zainal Idrus al-Idrus. Lahir 1877 , Pendidikan Terperinci. Menikah dengan putri Syarif Said al-Idrus pada 1900 . Ia memiliki 3 putra:
    1. Syarif 'Usman Ibni al-Sultan Syarif Akil al-Idrus.
    2. Syarif Tani Ibni al-Sultan Syarif Akil al-Idrus.
    3. Syarif Mohsen [Mukhsin] Ibni al-Sultan Syarif Akil al-Idrus.
  3. Syarif Ja'afar Ibni al-Sultan Syarif Muhammad Zainal Idrus al-Idrus.
  4. Syarif Husain Ibni al-Sultan Syarif Muhammad Zainal Idrus al-Idrus (putra dari istri pertama).
  5. Syarif Hasan Ibni Syarif al-Sultan Muhammad Zainal Idrus al-Idrus, Tuan Besar Kubu (putra dari istri kedua) - lihat bawah.
  6. Syarif 'Ibni Usman al-Sultan Syarif Muhammad Zainal Idrus al-Idrus (putra dari istri ke-tiga).
  7. Syarif Salim Ibni al-Sultan Syarif Muhammad Zainal Idrus al-Idrus.

Syarif Salih (1921 - 1943)

Syarif Salih ( 1921 - 1943 ) Ibni al-Sultan Idrus al-Idrus, Tuan Besar Kubu. Lahir 1881, Pendidikan khusus. Dipilih oleh Belanda , Bersama Dewan Kesultanan , Dikenali sebagai Kanan MBR. Cncl itu. Regent 1919 (Anggota Senior Dewan Rakyat Kabupaten). Menjadi Pembantu maju pada 16 Jun 1921 . Dikenali sebagai melakukan Sementara Kesultanan, pada September 1921 . Dilantik pada 7 Februari 1922 . Ditangkap oleh Jepun pada 23 November 1943 . Menerima: KNT. Order of Orange-Nassau (1940/08/17) gelar Ksatria-Bangsawan dari Kerajaan Belanda ( 17 Ogos 1940 ), dan Lesser Golden Star untuk Kesetiaan dan Merit (gelar pengabdian dan Perkhidmatan penterjemahan Luaran Biasa dari Kerajaan Belanda ). Ia dibunuh (dipancung) oleh Tentera Jepun di Mandur pada 28 Jun 1944 , memiliki dua putra:
  1. Syarif Yahya Ibni al-Sultan Syarif Salih al-Idrus. Ia memiliki putra:
    1. Syarif Syarif Hamid bin Yahya al-Idrus.
    2. 'Abdul Rahman bin Syarif Syarif Yahya al-Idrus.
  2. Syarif Syarif Husain bin Salih al-Idrus. Dikecualikan daripada penggantian kerana ketidakupayaan mental dan fizikal. Ia memiliki Seorang anak:
    1. Syarif Yusuf bin Syarif Husain al-Idrus. (Mbr. Cncl itu. Kabupaten (Anggota Senior Dewan Rakyat Kota) 1946 ).

 Syarif Hasan (1943 - 1958)

Syarif Hasan ( 1943 - 1958 ) Ibni Syarif al-Sultan Muhammad Zainal Idrus al-Idrus, Tuan Besar Kubu, Pendidikan: Pontianak NYA . Menjadi Ketua bestuur comite oleh Jepun pada tahun 1943 . Dilantik sebagai Pemimpin Dewan Rakyat Daerah (Cncl. Kabupaten / DPRD) pada 1946 . Baru terpilih sebagai ketua monarki pemerintahan sendiri (Pemimpin Kerajaaan-Kerajaan di Indonesia) pada 16 ogos 1949 . Diturunkan dari tahtanya jam Kesultanan Kubu dihapus oleh Pemerintah RI pada tahun 1958 .

 Nasab Bani Alawi al-Husaini

Bani Alawi ialah gelar Marga yang diberikan kepada mereka yang nasab-nya bersambung kepada Sayyid Alawi bin Ubaidullah (Abdullah) bin Ahmad bin Isa Al-Muhajir. Ahmad bin Isa Al-Muhajir telah meninggalkan Basrah di Iraq Bersama Keluarga dan pengikut-pengikutnya pada tahun 317H/929M untuk berhijrah ke Hadhramaut di Yaman Selatan. Cucu Ahmad bin Isa yang bernama Alawi, merupakan orang pertama yang Dilahirkan di Hadramaut. Oleh itu anak-Cucu Alawi digelar Bani Alawi, yang bermakna "Keturunan Alawi". Panggilan Bani Alawi atau Ba'Alawi juga ialah bertujuan memisahkan kumpulan KELUARGA ini daripada cabang-cabang Keluarga yang lain yang juga keturunan dari Nabi Muhammad SAW. Bani Alawi (Ba 'Alawi) juga dikenali dengan kata-nama Sayid (jamaknya: Sadah) atau Habib (jamaknya: Haba'ib) atau Syarif (jamaknya: Asyraf, khusus bagi bangsawan / ningrat-nya). Untuk kaum wanitanya Dikenali juga dengan sebutan Syarifah . Keluarga yang bermula di Hadhramaut di negara Yaman ini, telah berkembang dan menyebar, dan saat ini banyak di antara mereka yang menetap di segenap pelosok Dunia baik Arab, Indonesia, Asia Tenggara, India, Afrika dan lainnya.

Gelar dan Istilah

Putra Mahkota / Pangeran: Syarif (atau Sayyid) (nama peribadi) Ibni al-Sultan Syarif (atau Sayyid) (nama bapaknya) Al-Idrus (nama Marga / Keluarga), Tuan Besar Kubu (aslinya: Yang di-Pertuan Besar).
laki-laki Anggota Keluarga Kesultanan yang lain, keturunan pada Garis Bapak: Syarif (atau Sayyid) (nama peribadi) Ibni Syarif (atau Sayyid) (nama bapaknya) Al-Idrus (nama Marga / Keluarga).
Anggota Wanita Keluarga Kesultanan, keturunan pada Garis bapak: Syarifah (nama peribadi) binti Syarif (atau Sayyid) (nama bapaknya) Al-Idrus (nama Marga / Keluarga).

Aturan Suksesi (Pergantian)

Pemilihan Raja dijalankan oleh Dewan Kesultanan (Majlis Negeri) dan Anggota Senior dari Keluarga kebangsawanan yang menjabat Mufti / Qadhi (Ketetapan House).


 Sumber

  • Maktab Ad-Daimy, Badan pengumpulan nasab Bani Alawi - Al-Husaini, Rabithah Alawiyah Pusat, Jakarta-Indonesia, Attn: Habib Zainal Abidin Seggaf As-Seggaf (Ketua) dan Habib Abubakar Seggaf As-Seggaf (giat), Buku Data nasab Bani Alawi Al-Husaini, No 1, hlm. 149, (Jakarta: Maktab ad-Daimy), 1997
  • Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya dan Pasukan Penulis panitia Muktamar ke-10 Jam'iyah Ahli Al Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyah 1426H/2005 M - Pekalongan, Mengenal Thariqah - Tutorial Pemula Mengenal Jalan Menuju Allah; Bab Akhir , Sekilas Perihal Thariqah Alawiyah, (Jakarta: Fleet Sains), 2005
  • http://www.asyraaf.org (kajian Kitab Al-Mu'Jamul Lathif 140-141 halaman, tentang Qabilah Marga Al-Idrus)
  • Al-Habib Muhammad bin Abubakar Asy-Syalli Ba-'Alawy, As-Syaikh Abdullah Al-Akbar Al-Idrus dalam Al-Masyra' Ar-Rawiy fi Manaqib As-Sadah Al-Kiram Bani Alawiy, tt
  • Sayyid Ahmad bin Muhammad As-Syathiri, Sirah As-Salaf Min Bani 'Alawiy Al-Husainiyin, (Jeddah: dicetak oleh Alam Ma'rifah), 1405H/1984
  • Prof Dr Terusir, Soal Jawab Agama Islam, (Kuala Lumpur: Pustaka Melayu Baru), 1978.
  • Ronald Lewcock, Wadi Hadhramaut dan Kota Walled Shibam, UNESCO, 1986
  • Daniel van der Meulen dan H. Von Wissmann, Hadramaut Sebahagian Misteri Its Diumumkan
  • JPJ Barth, Overzicht der afdeeling Soekadana, van Verhandelingen het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en wetenschappen. Deel L, Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Albrecht & Co, Batavia, 1897.
  • JJK Enthoven, bijdragen tot de Geographie van Borneo Wester-afdeeling. EJ Brill, Leiden, 1903.
  • H. von Dewall, "Matan, Simpang, Soekadana, de Karimata-eilanden en Koeboe (Wester-afdeeling van Borneo)", Tijdschrisft voor Living Taal-, Land-en Volkenkunde, Deel XI, Vierde Divisi Deel II, Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Batavia, 1862.

 Nota kaki

Pautan luar

KESULTANAN TANJUNG PURA-SUKADANA(1454-KINI)


Kerajaan Tanjungpura atau Tanjompura [1] merupakan Kerajaan tertua di Kalimantan Barat . Kerajaan yang terletak di Kabupaten Kayong Utara ini pada Abad ke-14 menjadi Bukti bahwa Peradaban negeri Tanah Kayong sudah cukup Maju pada masa lampau. Tanjungpura pernah menjadi provinsi Kerajaan Singhasari sebagai Bakulapura . Nama Bakula berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti TUMBUHAN Tanjung ( Mimusops elengi ), sehingga setelah dimelayukan menjadi Tanjungpura.
Wilayah kekuasaan Tanjungpura membentang dari Tanjung Dato sampai Tanjung Sambar . Pulau Kalimantan kuno terbagi menjadi 3 wilayah Kerajaan besar: Borneo (Brunei), SUKADANA (Tanjungpura) dan Banjarmasin. Tanjung Dato adalah sempadan wilayah Mandala Borneo (Brunei) dengan wilayah Mandala SUKADANA (Tanjungpura), sedangkan Tanjung Sambar batas wilayah Mandala SUKADANA / Tanjungpura dengan wilayah Mandala Banjarmasin (daerah Kotawaringin). [2] [3] Daerah Aliran Sungai Jelai, di Kotawaringin di bawah kekuasaan Banjarmasin, sedangkan Sungai KENDAWANGAN di bawah kekuasaan SUKADANA. [4] sempadan di pedalaman, daerah Aliran Sungai Pinoh perhuluan (Lawai) termasuk dalam wilayah Kerajaan Kotawaringin (bawahan Banjarmasin) [5]
Pada masa mahapatih Gajah Mada dan Hayam Wuruk seperti disebutkan dalam Kakawin Nagarakretagama , negeri Tanjungpura menjadi ibukota bagi daerah-daerah yang diklaim sebagai taklukan Majapahit di Nusa Tanjungnagara (Kalimantan). Majapahit mengklaim bekas daerah-daerah taklukan Sriwijaya di pulau dan Kalimantan dan sekitarnya. Nama Tanjungpura seringkali dipakai untuk sebutan berhala Kalimantan pada masa itu. Pendapat lain beranggapan Tanjungpura berada di Kalimantan Selatan sebagai Pangkalan yang lebih strategik untuk menguasai wilayah yang lebih luas lagi. Menurut Pararaton , Tanjungpura Bhre adalah anak Bhre Singhasari II (abangnya Suhita ). Bhre Tanjungpura bernama Manggalawardhani fasih Suragharini yang berkuasa 1429 - 1464 , dia menantu Bhre Tumapel III Kertawijaya . Kemudian dalam Batu bersurat Trailokyapuri disebutkan Manggalawardhani fasih Suragharini menjabat Bhre Daha VI (1464-1474). Di dalam Mandala Majapahit , Ratu Majapahit merupakan Prasada , sedangkan Mahapatih Gajahmada sebagai Pautan , sedangkan Madura dan Tanjungpura sebagai ANSA -nya.

 Perpindahan ibukota Kerajaan

Ibukota Kerajaan Tanjungpura beberapa kali mengalami perpindahan dari satu tempat ke tempat lainnya. Beberapa penyebab Kerajaan Tanjungpura berpindah ibukota adalah terutama karena serangan dari kawanan perompak (Pirate laut) atau Dikenali sebagai Lanon . Konon, pada masa itu sepak-terjang gerombolan Lanon sangat kejam dan meresahkan penduduk. Kerajaan Tanjungpura Sering beralih Pusat Pemerintahan adalah demi mempertahankan diri karena Sering mendapat serangan dari Kerajaan lain. Kerap berpindah-pindahnya ibukota Kerajaan Tanjungpura dibuktikan dengan adanya tapak Sejarah yang dijumpai di bekas ibukota-ibukota Kerajaan tersebut. Negeri Baru di Ketapang merupakan salah satu tempat yang pernah dijadikan Pusat Pemerintahan Kerajaan Tanjungpura. Dari Negeri Baru, ibukota Kerajaan Tanjungpura berpindah ke SUKADANA . Pada masa Pemerintahan Sultan Muhammad Zainuddin (1665-1724), Pusat Istana bergeser lagi, kali ini ditempatkan di daerah Sungai Matan (Ansar Rahman, tt: 110). Dari sinilah Kurikulum Kerajaan Matan dimulai. Seorang penulis Belanda menyebut wilayah itu sebagai Kerajaan Matan, kendati sesungguhnya manusia itu menyaksikan nama Kerajaan tersebut pada waktu itu masih bernama Kerajaan Tanjungpura (Mulia [ed], 2007:5). Pusat Pemerintahan Kerajaan ini kemudian berpindah lagi yakni pada 1637 di wilayah Indra Laya. Indra Laya adalah nama dari suatu tempat di tepian Sungai Puye, anak Sungai Pawan. Kerajaan Tanjungpura kembali beringsut ke Kartapura, kemudian ke Desa Tanjungpura, dan terakhir Pindah lagi ke Muliakerta di Mana Keraton Muhammad Saunan sekarang Bab Berdiri.

 Perpindahan ibukota Kerajaan SUKADANA

Menurut Nota TIKI Iswadi, S. Cohn dalam buku Pesona Tanah Kayong, Kerajaan Tanjungpura dalam perspektif Sejarah disebutkan, bahwa, dari negeri baru Kerajaan Tanjungpura berpindah ke SUKADANA sehingga disebut Kerajaan SUKADANA, kemudian Pindah lagi Ke Sungai Matan (sekarang Kec. Simpang Hilir ). Dan Semasa Pemerintahan Sultan Muhammad Zainuddin sekitar tahun 1637 Pindah lagi ke Indra Laya sehingga disebut Kerajaan Indralaya. Indra Laya adalah nama dari satu tempat di Sungai Puye anak Sungai Pawan Kecamatan SANDAI . Kemudian disebut Kerajaan Kartapura karena Pindah lagi ke Karta Pura di desa Tanah Merah, Kec. Nanga Tayap , kemudian Baru ke Desa Tanjungpura sekarang ( Kecamatan Muara Pawan ) dan terakhir Pindah lagi ke Muliakarta di Keraton Muhammad Saunan yang ada sekarang yang terakhir sebagai Pusat Pemerintahan swapraja.
Bukti adanya sisa Kerajaan ini dapat dilihat dengan adanya Masjid tua di kota-kota tersebut , yang merupakan Saksi bisu sisa Kerajaan Tanjungpura dahulu. Untuk sentiasa mengawal peninggalan ini pemerintah Kabupaten Ketapang telah mengadakan Ir.Roosseno dan Penyenggaraan di tempat peninggalan Kerajaan tersebut. Objektifnya agar genarasi muda dapat mempelajari Setiabudi Kerajaan Tanjungpura pada masa lampau.
Dalam melacak Jejak raja-raja yang pernah memimpin Kerajaan Matan, patut diketahui pula Silsilah Raja-raja Kerajaan Tanjungpura karena kedua Kerajaan ini sebenarnya masih dalam satu rangkaian Kurikulum panjang. Berhubung terdapat beberapa versi tentang Sejarah dan Silsilah Raja-raja Tanjungpura beserta Kerajaan-Kerajaan lain yang masih satu rangkaian dengannya, maka berikut ini dipaparkan silsilahnya menurut Procon versi, yaitu berdasarkan buku Sekilas Menapak Langkah Kerajaan Tanjungpura (2007) Suntingan Drs. H. TIKI Mhd. Mulia: Kerajaan Tanjungpura



  1. Brawijaya (1454-1472) [6]
  2. Bapurung (1472-1487) [7]
  3. Panembahan Tanjung Karang (1487-1504)
Pada masa Pemerintahan Panembahan Tanjung Karang, Kerajaan Pusat Tanjungpura yang semula berada di Negeri Baru dipindahkan ke SUKADANA, dengan demikian nama kerajaannya pun Ditukar menjadi Kerajaan SUKADANA Kerajaan SUKADANA Quick yang Islam itu indah oleh Oliver van Noord tahun 1600, menggambarkan lokasi Succadano, Tamanpure, COTA Matan , dan Loué [8]




  1. Panembahan Tanjung Karang (1487-1504)
  2. TIKI Syamsudin atau Pundong Asap atau Panembahan Sang Ratu Agung (1504-1518)
  3. Atau Panembahan Bendala TIKI Abdul Wahab (1518-1533)
  4. Panembahan Pangeran Anom (1526-1533)
  5. Panembahan baroh (1533-1590)
  6. TIKI Aliuddin atau Giri Kesuma atau Panembahan Sorgi (1590-1604)
  7. Ratu Mas Jaintan (1604? 1622)
  8. TIKI Kesuma Matan atau Giri Mustika atau Sultan Muhammad Syaifuddin (1622-1665)
Inilah raja terakhir Kerajaan SUKADANA sekaligus raja pertama dari Kerajaan Tanjungpura yang bergelar Sultan. Kerajaan Matan


  1. TIKI Jakar Tham atau Sultan Muhammad Zainuddin (1665-1724)
  2. TIKI Kesuma Bandan atau Sultan Muhammad Muazzuddin (1724-1738)
  3. TIKI Bendung atau Pangeran Ratu Agung atau Sultan Muhammad Tajuddin (1738-1749)
  4. TIKI Kencuran atau Sultan Ahmad Kamaluddin (1749-1762)
  5. TIKI Asma atau Sultan Muhammad Jamaluddin (1762-1819)
TIKI Asma adalah raja terakhir Kerajaan Matan dan pada masa pemerintahannya, Pusat Pemerintahan Kerajaan Matan dialihkan ke Simpang, nama dan kerajaannya pun berganti menjadi Kerajaan Simpang atau Kerajaan Simpang-Matan. Kerajaan (penambahanschap) Simpang-Matan


  1. TIKI Asma atau Sultan Muhammad Jamaluddin (1762-1819). Anak Sultan Ahmad Kamaluddin
  2. TIKI Mahmud atau Panembahan Anom Suryaningrat (1.819-1845). Menantu Sultan Ahmad Kamaluddin [9]
  3. TIKI Muhammad Roem atau Panembahan Anom Kesumaningrat (1.845-1889). Anak Panembahan Anom Suryaningrat [9]
  4. TIKI Panji atau Panembahan Suryaningrat (1889-1920)
  5. TIKI Roem atau Panembahan TIKI Roem (1912-1942)
  6. TIKI Komplek atau Panembahan TIKI Komplek (1942-1943)
  7. TIKI Ibrahim (1945)
TIKI Komplek menjadi tawanan Tentera Jepun yang berhasil merebut wilayah Indonesia dari Belanda pada 1942, karena Kerana itulah maka terjadi kekosongan Pemerintahan di Kerajaan Simpang. Pada akhir masa pendudukan Jepun di Indonesia, sekira tahun 1945, diangkatlah TIKI Ibrahim, anak lelaki TIKI Komplek, sebagai raja. Namun, karena saat itu usia TIKI Ibrahim baru menginjak 14 tahun maka Roda Pemerintahan dijalankan oleh Keluarga Kerajaan yaitu TIKI Mahmud atau Mangkubumi yang memimpin Kerajaan Simpang hingga wafat pada tahun 1952. Kerajaan Kayong-Matan atau Kerajaan Tanjungpura II


  1. TIKI Irawan atau Sultan Mangkurat [10]
  2. Pangeran Agung
  3. Sultan Mangkurat Berputra
  4. Panembahan Anom Kesuma Negara atau Muhammad Zainuddin Mursal (1829-1833) [11]
  5. Pangeran Muhammad Sabran [12]
  6. TIKI Muhammad Saunan [13]
Menurut Staatsblad van Nederlandisch indie tahun 1849, Kerajaan-Kerajaan wilayah ini termasuk dalam Wester-afdeeling berdasarkan Bêsluit van den Menteri van Staat, Gouverneur-oleh Ketua van Nederlandsch-Indie , pada 27 Ogos 1849, No 8 [14] Meski menjadi terpecah-Pecah beberapa Kerajaan, namun Kerajaan-Kerajaan turunan Kerajaan Tanjungpura (SUKADANA Kerajaan, Kerajaan Simpang-Matan, dan Kerajaan Kayong-Matan atau Kerajaan Tanjungpura II) masih tetap eksis dengan pemerintahannya Masing-masing. Silsilah raja-raja yang pernah berkuasa di Kerajaan Matan (dan sebelum berdirinya Kerajaan Matan) di atas adalah salah satu versi yang berhasil diperoleh. Terdapat versi lain yang juga menyebutkan Silsilah Raja-raja Matan yang diperoleh dari Keluarga Kerajaan Matan sendiri dengan menghimpun data dari berbagai sumber (PJ Veth, 1854; JU Lontaan, 1975 H. von Dewall, 1862; JPJ Barth, 1896; Silsilah Keluarga Kerajaan Matan-Tanjungpura; Silsilah Raja Melayu dan Bugis; Raja Ali Haji, Tufat al-Nafis ; Jelani Harun, 2004; HJ de Graaf, 2002; TIKI Cambodia, 2004), yakni sebagai berikut: Kerajaan Tanjungpura


  1. Sang Maniaka atau Krysna Pandita (800 M-?) [15]
  2. Hyang-Ta (900-977) [16]
  3. Siak Bahulun (977-1025) [17]
  4. Rangga Sentap (1290 -?) [18]
  5. Prabu Jaya / Brawijaya (1447-1461) [19]
  6. Raja Baparung, Pangeran Prabu (1461-1481)
  7. Karang Tunjung, Panembahan Pudong Prasap (1.481-1.501)
  8. Panembahan Kalahirang (1501-1512) [20]
  9. Panembahan Bandala (1512-1538) Anak Kalahirang
  10. Panembahan Anom (1538-1565); Saudara Panembahan Bandala
  11. Panembahan Dibarokh atau Sibiring Mambal (1565? 1590)
Kerajaan Matan
  1. Giri SBH (1590-1608); Anak Panembahan Bandala
  2. Ratu SUKADANA atau Putri Bunku / Ratu Mas Jaintan (1608-1622); Istri Giri SBH / Anak Ratu Prabu Landak
  3. Panembahan Ayer Mala (1622-1630); Anak Panembahan Bandala
  4. Sultan Muhammad Syafeiudin, Giri Mustaka, Panembahan Meliau atau Pangeran Iranata / Cakra (1630-1659); Anak / Menantu Giri SBH
  5. Sultan Muhammad Zainuddin / Pangeran Muda (1659-1725); Anak Sultan Muhammad Syaeiuddin
  6. Pangeran Agung (1710-1711); Perebutan kekuasaan
  7. Pembahagian kekuasaan, memimpin Kerajaan di Tanah Merah
    1. Pangeran Agung Kertanegara (1725-1730); Anak Sultan Muhammad Zainuddin, Pembahagian kekuasaan memimpin Kerajaan di Tanah Merah
    2. Pangeran Mangkurat / Sultan Aliuddin Dinlaga (1728-1749); Anak Sultan Muhammad Zainuddin, Pembahagian kekuasaan di SANDAI dan Tanah Merah
  8. Pembahagian kekuasaan, memimpin Kerajaan di Simpang
    1. Pangeran Ratu Agung (1735-1740); Anak Sultan Muhammad Zainuddin, Pembahagian kekuasaan, memimpin Kerajaan di Simpang
    2. Sultan Muazzidin Girilaya (1749-1762); Anak Pangeran Ratu Agung, memimpin Kerajaan di Simpang
  9. Sultan Ketuanan Kamaluddin / Panembahan Tiang Tiga (1762-1792); Anak Sultan Aliuddin Dinlaga
  10. Sultan Muhammad Jamaluddin, sebelumnya: Pangeran Ratu, sebelumnya: TIKI Arma (1792-1830); Anak Sultan Ketuanan Kalamuddin [21]
  11. Pangeran Adi Mangkurat Iradilaga atau Anom Panembahan Kusuma Negara (1831-1843); Anak Pangeran Mangkurat
  12. Pangeran Cakra yang Tua atau Pangeran Jaya Anom (1843-1845); Sebagai pegawai perdana menteri, anak Pangeran Mangkurat
  13. Panembahan TIKI Muhammad Sabran (1845-1908); Anak Anom Panembahan Kusuma Negara
  14. Pangeran Laksamana UTI Muchsin (1908-1924); Anak Panembahan TIKI Muhammad Sabran
  15. Panembahan TIKI Muhammad Saunan atau Pangeran Mas (1924-1943); Anak TIKI Muhammad Busra
  16. Majlis Pemerintah Kerajaan Matan (1943-1948), terdiri daripada UTI Halil (Pg. Mangku Negara), Apilah UTI (Pg. Adipati), TIKI Kencana (Pg. Anom Laksamana)

Penggunaan nama Kerajaan

Saat ini nama Kerajaan ini diabadikan sebagai nama Universiti Negeri di Kalimantan Barat yaitu Universiti Tanjungpura di Pontianak , dan juga digunakan oleh TNI Angkatan Darat sebagai nama Kodam di Kalimantan yaitu Kodam XII / Tanjungpura

Nota kaki

  1. ^ (Inggeris) Tomé Pires, Armando Cortesão, Francisco Rodrigues (1990). Suma Oriental Tome Pires: Akaun Timur, dari Laut Merah ke Jepun, Ditulis di Melaka dan India dalam 1512-1515, dan The Book of Francisco Rodrigues, Rutter Voyage satu di Laut Merah, Peraturan Nautika, Almanack dan Peta, Ditulis dan Siti di Timur Sebelum 1515 . 1 . Perkhidmatan Pendidikan Asia. hlm.  978-81-206-0535-0
  2. ^ (Inggeris) Smedley, Edward (1845). Encyclopædia Metropolitana;, Universal kamus pengetahuan . hlm. 
  3. ^ (Inggeris) Malayan miscellanies (1820). miscellanies Malayan . hlm. 
  4. ^ (Belanda) Hoëvell, Wolter Robert (1861). Tijdschrift voor Nederlandsch Indie . 52 . Ter Tanah-drukkerij. hlm. 
  5. ^ (Belanda) Persahabatan Sains Alam Indonesia, Madjalah ILMU alam untuk Indonesia (1856). Indonesia jurnal alam semula jadi 
  6. ^ (Belanda) Blume, Carl Ludwig (1843). Bij De Living . 1 . HW Hazenburg. hlm. 
  7. ^ Sejarah-Hady-pemecutan.blogspot.com
  8. ^ (Inggeris) MacKinnon, Kathy (1996). Ekologi Kalimantan . Oxford University Press. ISBN 9780945971733  ISBN 0-945971-73-7
  9. ^ a b (Belanda) Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Lembaga Kebudajaan Indonesia (1862). Tijdschrift voor Living Taal, tanah, volkenkunde en . 11 ​​. Lange & 
  10. ^ TIKI Irawan merupakan putra kedua Sultan Muazuddin (Raja Kerajaan Matan) dan adik dari Sultan Muhammad Tajuddin yang melanjutkan takhta Sultan Muazuddin sebagai Raja Matan
  11. ^ Panembahan Anom diberhentikan sebagai sultan Kehormat di Royal 1833 karena dianggap tidak setia kepada Sultan Abdul Jalil Pertuan Syah Raja Negara SUKADANA. Posisi menjadi pemimpin Kerajaan Kayong kemudian dialihkan kepada kakaknya Pangeran Anom yaitu Pangeran Cakra Negara yang berkuasa sebagai Panembahan Matan pada periode 1833? 1835. Atas Campur tangan Belanda, mulai tahun 1835 Pangeran Anom kembali didudukkan menjadi Panembahan Matan hingga tahun 1847.
  12. ^ Muhammad Sabran adalah anak dari Panembahan Anom. Masjid diresmikan menjadi sultan dengan Mel KeputusanKu Gubernemen (Pemerintah Kolonial Hindia Belanda) No. 3 tertanggal 11 Mac 1847, Pangeran Muhammad Sabran masih berusia sangat muda sehingga dibentuklah sebuah presidium yang beranggotakan 5 orang menteri dan dilantik oleh Yang Pangeran Mangkurat untuk menjalankan Roda Pemerintahan. Muhammad Sabran baru menjabat sebagai Panembahan Matan pada tahun 1856. Pada masa Pemerintahan Panembahan Muhammad Sabran, Pusat Kerajaan berpindah dari Tanjungpura ke Muliakerta, Ketapang, Kalimantan Barat. Panembahan Sabran memerintah hingga tahun 1908. Setahun kemudian, pada tahun 1909, Panembahan Sabran meninggal dunia.
  13. ^ Muhammad Saunan merupakan Cucu dari Panembahan Sabran yang dinobatkan sebagai pewaris takhta Kerajaan karena menyanyikan putra mahkota, anak pertama Panembahan Sabran yang bernama Pangeran Ratu TIKI Muhammad Busra, wafat terlebih dulu dari Ayahnya. Masjid dilantik sebagai Pemimpin Kerajaan pada tahun 1909, TIKI Muhammad Saunan (putra pertama TIKI Muhammad Busra) masih belum cukup dewasa, maka berpandu Pemerintahan dipegang oleh UTI Muchsin Pangeran Laksamana Anom Kesuma Negara (Paman TIKI Muhammad Saunan / adik TIKI Muhammad Busra). TIKI Muhammad Saunan rasmi menjabat sebagai Panembahan Matan pada tahun 1922 dan meninggal Dunia pada era pendudukan Jepun di Indonesia yaitu tahun 1942.
  14. ^ (Belanda) Staatsblad van Nederlandisch indie, sn, 1849
  15. ^ Menurut Bustan Arifin Al Salatin, Sejarah Nasional, Sejarah Melayu, Pengaruh Syailendralah dan Sriwijaya (850-900)
  16. ^ Menurut kronik Cina, Pengaruh Sriwijaya Jangkamasa Kerajaan Kalingga (India Selatan)
  17. ^ Menurut Sejarah Kalimantan Barat / Cerita Lisan Jangkamasa Serangan Kerajaan Cola (India Selatan) ke Sriwijaya
  18. ^ Taklukan Singhasari, Ekspedisi Pamalayu Jangkamasa Singhasari (1222-1293)
  19. ^ Taklukan Majapahit, menurut Negarakertagama, menurut Batu bersurat TB Pitu (1447)
  20. ^ Kerajaan Pindah ke SUKADANA, Politik ekspansi sampai Tanjung Datuk, Tanjung Meletakkan, Karimata, dan Pulau Tujuh
  21. ^ (Belanda) Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Lembaga Kebudajaan Indonesia (1862). Tijdschrift voor Living Taal, tanah, volkenkunde en . 11 ​​. Lange & Co. hlm. 

[ sunting ] Sumber

Lihat juga

Pautan luar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...