Tuesday, January 15, 2013

KESULTANAN JAILOLO(1380-KINI)

Bendera Kesultanan Jailolo
[Jailolo]
Kronologi

1380                       pemerintah Jailolo di kenali Jikoma Kolano,di kuasai 
                           oleh  pengaruh Kesultanan Ternate
 
1557 - 1796                di bawah kuasa Kesultanan Ternate 
 
1803 - ....                vassal Kesultanan Ternate

1832                       d bawah penagaruh Belanda


1875 - 1876                di hapuskan oleh Belanda sepenuhnya


2002                       Kesultanan di hidupkan semula



Rulers ( Jikoma Kolano)
1605 - 1613                Doa

1613 - 1656                Saiuddin


1656 - 1684                Alam

1684 - 17..                .... (unknown)                     (d. 1715)


Sultans ( Jikoma Kolano)

1784 - 1805                Muhammad Arif Bila 


1805 - 1808                Vacant

 
1808 - 1832                Muhammad Asgar  

                   (d. 1839)
1832                       Saifuddin Jehad Muhammad
Hajuddin  (d. 1846)

                             Syah                            
1875 - 1876                Danu Hasan                         (b. 1832 -  

  21 Nov 2010     Abdullah Syah                     

Sejarah Kesultanan Jailolo


Suatu hal yang jarang dilakukan oleh para pemerhati sejarah dan budaya “Moloku Kie Raha” (Maluku Utara) adalah membahas tentang Kesultanan Jailolo di pulau Halmahera yang telah lama kosong. Hal ini disebabkan minimanya sumber dan rujukan yang menunjang pembahasan tentang hal itu. Dalam penulisan sejarah oleh bangsa Eropah, Jailolo sering ditulis “Gilolo” yang menurut sebahagian besar sumber barat dianggap sebagai kerajaan tertua di kawasan Maluku bahagian utara, (kerajaan pertama dan tertua di jazirah maluku).


penobatan-abdullah-syah-sebagai-sultan-jailolo2


Menelusuri dan membahas jejak sejarah kesultanan Jailolo, menjadi lebih menarik akhir-akhir ini, setelah dinobatkannya Sdr. Abdullah “Abdul Rahman Haryanto” Syah menjadi Sultan Jailolo yang dilakukan di dalam keraton kesultanan Ternate atas perkenan Sri Sultan Ternate ; H. Mudafar Syah II pada beberapa tahun yang lalu. Yang lebih menarik lagi dari itu adalah menelusuri keturunan dan sisilah para raja Jailolo itu sendiri.
Sekadar info, bahawa beberapa peneliti sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia seperti ; Donald P. Tick gRMK (di Belanda), Christoper Buyers dan Hans Hagerdal hingga saat ini pun belum dapat membuat satu tulisan atau buku yang membahas tentang jejak sejarah dan sisilah raja-raja Jailolo secara utuh dan detail. masalah utama yang dihadapi adalah keterbatasan sumber dan rujukan utama dalam mencari bukti2 kembali fakta sejarah perjalanan kesultanan Jailolo. pada masa ini, baru terdapat ahli sejarah ternama dari Universiti Indonesia Prof. DR. Richard Z. Leiriza yang sudah pernah membuat beberapa karya tulisan tentang sejarah Raja Jailolo dalam meraih gelar Ph.D tahun 1990 dengan Dissertasi berjudul “Raja Jailolo dan Halmahera Timur: Pergolakan di Laut Seram di awal abad ke-19” (The King of Jailolo and Eastern Halmahera: Social upheavals in the Seram Sea during the early 19th century). Kemudian dipublikasikan oleh Balai Pustaka, tahun 1994.

juru-tulis-lamo's-paper

Buku ini membahaskan  secara detail tentang sepak terajang raja Jailolo yang berkuasa di Halmahera timur dan pulau Seram di Maluku Tengah. (yang menurut periodesasi versi saya adalah periode Kesultanan Jailolo Tahap II dan III saja). Kerana yang dibahas oleh beliau adalah “hanya” kejadian atau tempoh antara tahun 1811 hingga 1832 saja yang menjadi kekuatan penulisannya. Sedangkan kronologi perjalanan sejarah kesultanan Jailolo secara utuh dari raja pertamanya “Kolano Daradjati” hingga saat ini, belum ada satupun ahli sejarah yang mengungkapkan “the hidden history” tersebut. Namun demikian, karya besar Prof. DR. Richard Z. Leiriza tersebut merupakan sebuah hasil kajian yang spektakuler yang belum pernah ditulis oleh siapapun tentang kronologi secara detail pada periode tersebut.

Salah satu buku yang juga cukup banyak menguraikan tentang sejarah Sultan Jailolo Tahap II (Muhammad Arif Bila) seorang Sangadji Tahane yang diangkat oleh NUKU dari Tidore untuk melengkapi keempat pilar MOLOKU KIE RAHA adalah karya besar ELVIANUS KATOPPO yang berjudul ; “NUKU, Sultan Saidul Jehad Muhammad el Mabus Amiruddin Syah Kaicil Paparangan alisa Jou Barakati – SULTAN TIDORE – (Riwayat Perjuangan Kemerdekaan Indonesia di Maluku Utara tahun 1780 – 1805)“.
Memang sumber dan referensi sejarah tentang kesultanan Jailolo sangat minima sekali. Namun demikian dari ratusan ribu penduduk Maluku Utara yang hidup saat ini, ternyata masih ada beberapa komuniti yang masih menyimpan dokumen salinan sisilah keturunan raja-raja Jailolo, yang ditulis pada selembar “old manuscript”.  Daftar sisilah raja-raja Jailolo tersebut terdiri dari tiga bahagian. Lembaran besar adalah huraian daftar sisilah yang skemanya diuraikan seperti “pohon terbalik” yang seluruh tulisan nama-namanya beraksara Arab, satu lembaran lagi adalah salinan ulang yang juga dalam aksara Arab namun lebih diperinci dan diperjelaskan dengan melingkari tiap-tiap nama yang tertera kerana lembarann aslinya sudah hampir lapuk, sedangkan satu lagi lembaran kecil bertuliskan huruf arab dan yang berlafadz-kan bahasa Tidore adalah Surat Keterangan yang manjelaskan tentang daftar sisilah tersebut.


original-map-of-mine-since-18562

Ketiga lembaran bersejarah ini ditulis dalam aksara Arab dengan tulisan tangan bertanggal 4 Rabbiul awal 1277 H, yang di kira berdasarkan kalender Masehi adalah bertepatan dengan hari Rabu tanggal 19 September 1860 yang ditulis tangan oleh Sekretaris Besar Kesultanan Tidore yang biasa disebut “Jurutulis Lamo” yang waktu itu dijabat oleh Hasan ud-din. Keterangan ini dilengkapi dan disahkan dengan bubuhan “tanda cap asli” kesultanan Tidore (bakar tempel – bukan tinta). Original paper-nya, saat ini ada di tangan salah satu warga kota Ternate yang masih keturunan ke-13 yang diberikan oleh komuniti keturunan SULTAN DOA yang beranak pinak di Soa Sambelo kota Tidore.  Semula, selama hampir seratus tahun lebih daftar sisilah keturunan ini bersemayam di Fola Lamo di Soa Sambelo, namun akhirnya dihantarkan ke sumber informasi ini, yang seraya meminta dirahasiakan identitinya. , juga masih terdapat pada mereka (keturunan Sultan Doa) yang tersebar di beberapa tempat di pulau Tidore (; Soasio-Sambelo, Toloa dan Mareku).
Sebelum Sdr. Abdullah “Abdul Rahman Haryanto” Syah dinobatkan menjadi Sultan Jailolo masa kini, para keturunan Sultan Doa yang tersebar di mana-mana yakni di Tidore (Soa Sambelo, Mareku dan Toloa), pulau Ternate (Dufa-Dufa), pulau Moti, pulau Makian dan di pulau Ambon sesuai alur dalam daftar sisilah tersebut, mereka seakan telah menutup diri untuk memikirkan “ke-Jailolo-an” nya. Bagi mereka itu semua adalah sebahagian dari masa lalu. Mungkin yang mereka fikirkan adalah; Cukup kami anak-cucu tahu bahwa nenek moyang kami memang berasal dari Jailolo, itu saja. Dan mungkin juga semboyan latin; “Ibi Bene Ubi Patria – yang berarti ; Dimana hidupku senang di situlah tanah airku” yang ada dalam fikiran mereka, Wallahu wa’lam. Hanya mereka yang tahu. Apalagi setelah dinobatkannya Sdr. Abdullah “Abdul Rahman Haryanto” Syah menjadi “simbol” kesultanan Jailolo moden, membuatkan ke-tertutup-an mereka semakin rapat. Mengingatkan hampir semua dari mereka tahu bahwa keturunan Sultan Doa hijrah ke pulau Tidore dan menjadi vassal kesultanan Tidore dan diberikan sebuah kawasan untuk membangun pemukiman (Soa Sambelo – Sabua ma belo) waktu itu adalah akibat dari pergolakan politik intern antar bangsawan di istana Jailolo ketika itu, beliau menyingkir meninggalkan takhtanya dengan tujuan menghindari perang saudara dan pertumpahan darah yang lebih dahsyat lagi yang bisa mengancam kelangsungan dan kehormatan Buldan Jailolo di Limau Tagalaya – Jailolo.


translate-to-latin-letter

Kembali pada pembahasan semula…,  Dokumen tentang sisilah raja-raja Jailolo ini dalam historiografi tentang kesejarahan Jailolo adalah sebuah dokumen lama yang sangat diperlukan dalam untuk dijadikan salah satu referensi (sumber otentik) dalam studi kajian tentang hal ini. Hampir semua sumber-sumber tentang sejarah yang berghubungan dengan Jailolo yang ada di Leiden Museum Belanda, Museum Swedia, Museum di Inggeris, dan dokumen Oxford University dan dokumen digital milik Smithsonian Institute USA, tidak pernah diketemukan dokumen seperti ini.
Sebagai pemerhati budaya, tradisi dan sejarah Maluku Utara, saya sangat berminat untuk studi kajian tentang hal ini. Upaya untuk merekontruksi kembali fakta sejarah tentang perjalanan sejarah kesultanan Jailolo terus saya lakukan dengan menghimpun berbagai sumber tertulis baik di dalam negeri maupun sumber asing. Aspek subjektifitas yang mungkin masih ada pada masing-masing penulis sejarah termasuk pada saat ini saya dalam menyajikan artikel ini ke blog, diupayakan untuk diminimalisir sebisa mungkin, agar mencapai sebuah hasil kajian historiografi yang lebih objektif.
Beberapa saat yang lalu saya sering melakukan kontak dan sharing dengan dua orang peneliti sejarah kerajaan2 di Indonesia seperti yang sudah saya sebutkan di atas, yaitu : Donal P. Tick gRMK dan Christoper Buyers termasuk Hans Hagerdal (silakan searching nama-nama ini di Google Search) sehubungan dengan kajian tentang sejarah kesultanan Jailolo ini. Mereka banyak menulis tentang seputar kerajaan di Indonesia termasuk kerajaan Jailolo. Para ahli sejarah ini tertarik untuk meneliti lebih jauh tentang sisilah raja-raja Jailolo yang saya kemukakan ini, termasuk keinginan mereka untuk meneliti berasal dari mana sisilah Sultan Abdullah Syah. Abdullah Syah diyakini adalah salah satu dari keturunan dari Prins Gugu Alam turun hingga ke Muhammad Asgar dan Hay ud-din yang dibuang oleh Belanda ke Cianjur  pada tahun 1832. Untuk kerajaan-kerajaan di Maluku Utara, baru kesultanan Ternate yang sudah dipublikasikan melalui website Royal Ark dalam titel “Ternate, Brief History ”, sedangkan untuk kasultanan Tidore, Jailolo dan Bacan belum ada data lengkap untuk dipublikasikan.
Setelah sekian banyak komunikasi & sharing dengan kedua peneliti sejarah ini, saya mencocokan data ahli sejarah tersebut di atas dengan salinan “old manuscript” tersebut (lihat gambar), maka terdapat banyak kesamaan.
Dengan demikian menurut saya, untuk sementara disimpulkan bahwa; Muhammad Arif Bila (dalam sisilah tersebut ditulis Sultan Gugu Alam) adalah keturunan ke-8 dari Prins Gugu Alam. Prins Gugu Alam adalah nenek moyang keturunan kedelapan ke atas dari Sultan Gugu Alam alias Muhammad Arif Bila – Ada beberapa nama yang sama dalam sisilah ini, namun pada jenjang dan periode yang berbeda waktunya. Prins Gugu Alam adalah adalah adik bungsu dari Sultan Doa dan Prins Prentah. Mereka bertiga adalah anak dari Sultan Yusuf , Sultan Jailolo yang menjadi Sultan Jailolo di tanah Jailolo (Limau Tagalaya) sekitar tahun 1500-an, data tahun yang tepat belum bisa dipastikan.

view-jailolo-dari-pantai-dufa-dufa-ternate

Menurut sumber ini, Muhamad Arif Bila memiliki 4 orang putera. Ayah dari Muhamad Arif Bila yakni Syah Yusuf (lain dengan Sultan Yusuf yang ayahnya Sultan Doa, beda periode) adalah bangsawan Jailolo yang hijrah ke pulau Makian di desa Tahane. Muhammad Arif Bila sebelum diangkat oleh Sultan Nuku dari Tidore untuk manjadi Sultan Jailolo I (pada periode kedua sejarah kronologis kesultanan Jailolo) beliau sebelumnya menjabat sebagai Sangadji Tahane. Setelah itu selama sekitar 13 tahun jabatannya meningkat menjadi Jogugu kesultanan Tidore pada saat berkuasanya Sultan Kamaluddin dari Tidore (1784-1797) yang tidak lain adalah kakak dari Nuku. Ketika Nuku baru menjadi Sultan di Tidore Muhammad Arif Bila adalah seorang panglima yang handal.
Setelah Nuku mengangkat Muhamad Arif Bila menjadi Sultan Jailolo I (sebutan menurut catatan dari sumber Belanda), tidak semua orang di pulau Halmahera (Utara) mengakui keabsahan dia sebagai Sultan Jailolo, lagi pula mereka yang mengklaim dirinya sebagai Sultan Jailolo ini (sejak tahun 1637 hingga 1918 saat dibuang ke Cianjur) mereka tidak pernah berkuasa di atas tanah Jailolo itu sendiri, melainkan hanya menjadi Sultan Jailolo di pengasingan saja seperti di Weda dan Halmahera belakang termasuk juga juga di pulau Seram.

view-jailolo-dari-bandara-babullah-ternate1

Wilayah kesultanan Jailolo sudah dilebur menjadi wilayah Ternate sejak tahun 1635, sedangkan pada masa kekuasaan Sultan Nuku, bekas wilayah kesultanan Jailolo masuk dalam kekuasaan kesultanan Tidore. Muhammad Arif Bila wafat di daerah Weda pada tahun 1807 karena kecelakaan.
Putera tertuanya Muhammad Asgar diangkat oleh pengikutnya di Halmahera timur menjadi Sultan Jailolo II, pada periode ke-2 ini. Kronologis sejarah kesultanan Jailolo Periode I (pertama) berawal dari Kolano Daradjat dan berakhir pada masa Sultan Doa saja. (Keturunan Sultan Doa masih tercatat jelas dalam sisilah keturunan ini yang tersebar di Maluku Utara, diantaranya; pulau Tidore – paling banyak, pulau Moti, pulau Makian, pulau Ternate, dsb). Hal ini juga menjadi perhatian kedua peneliti tersebut untuk melakukan penelitiannya nanti di masa yang akan datang.
Pada tahun 1810 Muhamad Asgar ditangkap oleh penguasa Inggris karena Inggris yang sedang berkuasa saat itu tidak mengakuinya sebagai Sultan Jailolo. Kemudian pada tahun 1817 Muhammad Asgar diasingkan ke Semarang dan bermukim jauh dari keramaian kota Semarang yakni di sekitar antara daerah Semarang dan Jepara.

gunung-jailolo

Tahun 1825 setelah Belanda kembali berkuasa setelah Inggris, ia dikembalikan lagi ke Maluku Utara dan diangkat oleh penguasa Belanda seperti sebelumnya sebagai Sultan Jailolo dalam pengasingan namun berkedudukan di pulau Seram Maluku Tengah. Adik Muhammad Asgar yakni Kaicil Haji beserta pengikutnya menyusul ke pulau Seram dan akhirnya diangkat Belanda menjadi Sultan Jailolo III dengan nama kebesaran; Sultan Syaif ud-din Jihad Muhammad Hay ud-din Syah.
Karena perselisihan dengan pihak Belanda, akhirnya Sultan Jailolo III ini bersama dengan Jogugu Jamaluddin, Kapita laut Kamadian beserta seluruh keluarga berjumlah 60 orang diasingkan Belanda ke Batavia kemudian ke Cianjur. Beliau wafat pada tahun 1839 di Cianjur Jawa Barat. Akhirnya eksistensi kesultanan Jailolo Tahap III inipun berakhir. Dan Maloku Kie Raha tinggal hanya 3 kesultanan saja, yaitu Ternate, Tidore dan Bacan.
Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, bahwa menurut asumsi saya, kemungkinan dari keturunan inilah, penelusuran dilakukan oleh Sri Sultan Ternate saat ini untuk memilih Abdullah Syah bin Abdul Haryanto dan mengangkatnya menjadi Sultan Jailolo sekarang, adalah berasal dari keturunan di Cianjur ini. Untuk hal ini saya belum sempat melakukan wawancara dengan Sultan Ternate. Selain itu, penunjukan Sultan Jailolo ini juga dilakukan dengan ritual khusus oleh Sultan Mudafar Syah II dan memakan waktu yang cukup lama. (biasanya orang Ternate menyebut Sultan Jailolo dengan sebutan “KOLANO JOU TIA”).

abdullah-syah-sultan-jailolo-sekarang

Hal ini tergambar dalam syair lagu yang berjudul “JOU TIA” hasil karya Sultan H. Mudaffar Syah yang dinyanyikan oleh “EL-EL” Vocal Group pada era tahun 1980-an.
Upaya untuk menghidupkan kembali kesultanan Jailolo Tahap IV, pernah dilakukan oleh Dano Baba Hasan pada tahun 1876. Ia meminta pemerintah Belanda mengakuinya sebagai Sultan Jailolo. Menurut beberapa penulis, Dano Baba Hasan adalah kerabat keraton Ternate yang pada tahun 1832 diangkat oleh Sultan Ternate Muhammad Zain menjadi Salahakan (Utusan Sultan) di pulau Seram. Tanggal 21 Juni, Dano Baba Hasan mengakhiri usahanya dan menyerahkan diri kepada Residen Tobias, dan dideportasi ke Ternate dan akhirnya diasingkan ke Muntok di Sumatera. Merunut dari sisilah tersebut, Dano Baba Hasan adalah cucu dari Abdul Gani, saudara bungsu dari Muhamad Asgar dan Muhamad Hayuddin yang dibuang ke Cianjur tersebut.
Setelah periode untuk menghidupkan kesultanan Jailolo Tahap IV gagal, Upaya untuk itu dimulai lagi yakni pada Periode Jailolo Tahap V dilakukan oleh Dano Jae ud-din di Weda dan Waigeo di Halmahera Timur pada tahun 1914. Seorang Dano dari Ambon yang masih keturunan Dano Baba Hasan mengklaim dirinya sebagai ahli waris, memproklamasikan dirinya sebagai Sultan Jailolo pada periode Tahap V ini. Ia kemudian ditangkap Belanda dan dipenjarakan di Ternate hingga akhir hayatnya. Demikian berakhir pula usaha untuk menghidupkan kesultanan Jailolo Tahap V juga gagal.
Perlu digaris-bawahi, bahwa semua upaya untuk menghidupkan kembali eksistensi kesultanan Jailolo dan berkuasanya para Sultan Jailolo pada periode II, III, IV dan V, sama sekali bukan berkedudukan di wilayah kesultanan Jailolo yang sebenarnya (Limau Tagalaya), melainkan di tempat pengasingan di luar wilayah kultur kesultanan Jailolo itu sendiri.
Upaya terakhir untuk menghidupkan kembali Kesultanan Jailolo Tahap VI, maka Sri Sultan Ternate H. Mudafar Syah II mengambil prakarsa untuk menghidupkan kembali kesultanan Jailolo yang telah hilang selama ratusan tahun. Hal ini dilakukan dalam rangka mempertahankan eksistensi budaya Maluku Utara sebagai symbol pemersatu bangsa dalam wadah NKRI dan juga dalam rangka untuk melengkapi empat pilar persekutuan kerajaan-kerajaan di “Maloku Kie Raha” yang hanya tinggal tiga, yakni; Ternate, Tidore dan Bacan. Dengan menunjuk Sdr. Abdullah Abdul Rahman Haryanto Syah, seorang mantan tentara yang menurut penelusuran beliau adalah keturunan Muhammad Asgar dan Kaicil Hadji yang dibuang oleh Belanda ke Cianjur Jawa barat.
Sebab semua masyarakat di Maluku Utara tahu kalau cuma ada tiga pilar/kesultanan saja, itu bukan berarti Maloku Kie Raha lagi, akan tetapi Maloku Kie Ra’ange. (Admin; Raha=empat, Ra’ange=tiga).
Demikian beberapa sharing saya melalui email dengan kedua penulis asing tersebut. Pada kesempatan terakhir via e-mail, Mr. Donal P. Tick gRMK, meminta kapada saya gambar/foto diri dari Dano Jae ud-din jikalau ada dokumen tentang itu. Tapi saya rasa sulit untuk mendapatkan gambar tentang Dano Jae ud-din yang mereka maksud. Beliau tertarik untuk meneliti pula tentang keturunan dari Dano Jae ud-din ini, kata Mr. Donal P. Tick gRMK menulis dalam e-mail nya :
“Interesting about the descendant of Dano Baba Hasan with name Dano Jae ud-din, who was regarded as dynastychief / heir in 1914. Do you know more about him ? A picture of him would be fascinating. I also would like to know, if the present Sultan is taken very seriously. Some say he is only a creation of Sultan Ternate”. Thank you for all. If you want, you can add some info under the picture of Sultan Jailolo on my website at : http://kerajaan-indonesia.blogspot.com”.


Namun sayangnya, pada event SOUTH EAST ASIA ROYAL FESTIVAL di Bali pada tanggal 25-30 November 2008 yang lalu Mr. Donal P. Tick gRMK tidak sempat hadir karena ada mega proyek yang tidak boleh ditinggalkan di Belanda, sehingga rencana kami untuk bertemu muka juga tidak terlaksana. Hal ini sehubungan dengan minat kedua peneliti ini untuk mengungkap apa yang mereka sebut ”The Hidden History of Jailolo”.
Sources :

sumber;dari blog berbahasa indonesia

Monday, January 14, 2013

KESULTANAN TIDORE(1077-1909-KINI)

Bendera Kesultanan Tidore
 
[Tidore state flag]

KRONOLOGI

1450                    Kesultanan Tidore di tubuhkan
 
Sultans (di kenali Kiema Kolano)

1797 - 14 Nov 1805         Sultan Saidul Jihad Muhammad Nabus 
                             Amiruddin Syah "Jou Barakti"
 
1805 - 18..                Sultan Jamal Abidin
 
18.. - 1821                Sultan Muhammad Tahir "Sultan Mossel"
 
1822 - 1856                Sultan al-Mansur II
 
1856 - 1865                Sultan Ahmad Safiuddin Syah
                             "Sultan Arnold Alting"
1865 - 1867                Vacant
 
1867 - 1893                Sultan Said Ahmad Fathuddin Syah
 
1893 - 1904                Sultan Iskandar Shajuddin Nur Amal

 1999 -                     H. Djafar Danoyunus 
 
Susunan Kolano (Raja atau Sultan) yang pernah memerintah Kerajaan Tidore sebelum masuknya agama Islam sebagai berikut :
1. Kolano Syahjati alias Muhammad Nakel
2. Kolano Bosamawango
3. Kolano Suhud aluas Subu
4. Kolano Balibunga
5. Kolano Duko Madoya
6. Kolano Kie Matiti
7. Kolano Seli
8. Kolano Matagena
Setelah agama Islam masuk ke wilayah Maluku Utara pada awal abad ke-11 tepatnya pada tahun 470 H atau 1077 M, yang ditandatangani  dengan kedatangan seorang ulama dari Arab yang bernama Ja’far Shadiq. Mulai saat itu gelar Kolano (Raja) berubah menjadi Sultan. Susunan para Sultan yang pernah memimpin Kesultanan Tidore sebagai berikut :
1. Sultan Nuruddin, mulai 1334-1372 M
2. Sultan Hasan Syah, mulai 1372-1405 M
3. Sultan Cirililiat alis Jamluddin, mulai 1405-1512 M
4. Sultan Mansyur, mulai 1512-1526 M
5. Sultan Aminuddin Iskandar Zulkarnain, mulai 1526-1535 M
6. Sultan Rijali Mansur, mulai 1535-1569 M
7. Sultan Iskandar Isani alias Amiril Mathlan Syah, mulai 1569-1568 M
8. Sultan Gapi Baguna alias Bifadlil Siradjuddin Arifin, mulai 1568-1600 M
9. Sultan Fola Madjino alias Zainuddin, mulai 1600-1626 M
10. Sultan Ngora Malamo alias Alaudin, mulai 1626-1631 M
11. Sultan Gorontalo alias Saifuddin, mulai 1631-1642 M
12. Sultan Saidi, mulai 1642-1653 M
13. Sultan Mole Manginyau alias Malikidin, mulai 1653-1657 M
14. Sultan Saifuddin alias Djuo Kota, mulai 1657-1674 M
15. Sultan Hamzah Fahruddin, mulai 1674-1705 M
16. Sultan Abdul Fadhlil Masyur, mulai 1705-1708 M
17. Sultan Hasanuddin Kaicil Garcia, mulai 1708-1728 M
18. Sultan Amir Bifodlil Aziz Muhidin Malikul Manan, mulai 1728-1757 M
19. Sultan Muhammad Mashud Jamaluddin, mulai 1757-1779 M
20. Sultan Patra Alam, mulai 1780-1783 M
21. Sultan Hairul Alam Kamaludin Asgar, mulai 1784-1797 M
22. Sultan Amiruddin Syaifuddin Syah Muhammad El Mabus Kaicil Paparangan Jou Barakatai alias NUKU, mulai 1797-1805 M
23. Sultan Zainal Abidin, mulai 1805-1810 M
24. Sultan Motahuddin Mohammad Tahir, mulai 1810-1821 M
25. Sultan Ahmadul Mansur Sirajuddin Syah, mulai 1821-1856 M
26. Sultan Ahmad Syaifuddin Alting, mulai 1856-1892 M
27. Sultan Ahmad Fatahuddin Nur Syah Kaicil Jauhar alam, mulai 1892-1894 M
28. Sultan Ahmad Kawiyuddin Alting, mulai 1894-1906 M
29. Sultan Zainal Abidin Sjah, mulai 1947-1967 M
30. Sultan Hi. Jafar Syah, Mulai 1999-Sekarang.
Berdasarkan penjelasan diatas, disebutkan bahwa Agama Islam di wilayah Kesultanan Tidore setelah Sultan ke sembilan memimpin. Namun, menurut Irham Rosyidi pendapat ini masih dapat diperdebat. Jika penjelasan diatas benar, mengapa raja/Kolano pertama Kesultanan Tidore bernama Syahjati alias Muhammad Nakel, bukankah nama tersebut mengindikasi pengaruh agama Islam?.  Berpijak pada nama tersebut maka bakap Irham Rosyidi berpendapat bahwa agama Islam masuk wilayah Kesultanan Tidore diduga kuat sejak raja/Kolano pertama pada tahun 1108 M.
Sejak tahun 1906 sampai 1946 (selama 40 tahun) Kesultanan Tidore tidak mempunyai Sultan. Kekosongan pemerintah Kesultanan Tidore disebabkan oleh pemerintah kolonial Belanda yang tidak senang jika Kesultanan Tidore aktif . Sultan Tidore dan para kerabatnya dikenal Belanda sebagai suatu pemerintah yang sulit dikendalikan dan tidak senang diajak bekerja sama. Sikap konsisten yang anti terhadap kolonial Belanda tersebut membuat pemerintah Republik Indonesia memberi gelaran pahlawan nasional kepada Sultan ke-22, iaiu Sultan Syaedul Jehad Amiruddin Syaifuddin Syah Muhammad El Mabus Kaicil Paparangan Jou Barakati alias Nuku, yang memerintah 1797-1805 M.
Pada tanggal 14 Desember 1946 pemerintah Kesultanan Tidore diaktifkan kembali dengan dilantiknya Zainal Abidin Syah sebagai Sultan Tidore ke-29. Sultan Zainal Abidin Syah dilantik di Denpasar Bali pada tanggal 14 Desember 1946, selanjutnya disusul dengan penobatan secara adat Kerajaan Tidore pada tanggal 27 Pebruari 1947 di Limau Timore, Soasio.
(Dikutip dari buku karangan Irham Rosyidi, S.H., M.H. dengan judul “Eksplorasi Nilai, Asas, dan Konsep dalam Dinamika Ketatanegaraan Kesultanan Tidore”. Halaman 177-179).

KESULTANAN TERNATE(1257-1919-KINI)

 Bendera Kesultanan Ternate
 [Ternate]

 KRONOLOGI;

1257                       Negeri Ternate di tubuhkan.
1380                       pemerintah Ternate dilantik sebagai Kolano Maloko, 
                           menguasai kesultanan Jailolo.
1522 - 26 Dec 1575         Portuguese protectorate.
28 Mar 1606 - May 1607     Spanish protectorate.
12 Oct 1676                Dutch protectorate.
25 Oct 1876 -  4 Oct 1879  di kuasai oleh Belanda.




Sejarah Kesultanan Ternate


Artikel ini bagian dari seri
Sejarah Indonesia
Sejarah Indonesia .png
Lihat pula:
Garis waktu sejarah Indonesia
Sejarah Nusantara
Prasejarah
Kerajaan Hindu-Buddha
Kutai (abad ke-4)
Tarumanagara (358–669)
Sriwijaya (abad ke-7 sampai ke-11)
Sailendra (abad ke-8 sampai ke-9)
Kerajaan Medang (752–1045)
Kerajaan Sunda (932–1579)
Kediri (1045–1221)
Dharmasraya (abad ke-12 sampai ke-14)
Singhasari (1222–1292)
Majapahit (1293–1500)
Malayapura (abad ke-14 sampai ke-15)
Kerajaan Islam
Kesultanan Samudera Pasai (1267-1521)
Kesultanan Ternate (1257–sekarang)
Kerajaan Pagaruyung (1500-1825)
Kesultanan Malaka (1400–1511)
Kesultanan Cirebon (1445 - 1677)
Kerajaan Inderapura (1500-1792)
Kesultanan Demak (1475–1548)
Kesultanan Aceh (1496–1903)
Kesultanan Banten (1527–1813)
Kesultanan Mataram (1588—1681)
Kesultanan Siak (1723-1945)
Kerajaan Kristen
Kerajaan Larantuka (1600-1904)
Kolonialisme bangsa Eropa
Portugis (1512–1850)
VOC (1602-1800)
Belanda (1800–1942)
Kemunculan Indonesia
Kebangkitan Nasional (1899-1942)
Pendudukan Jepang (1942–1945)
Revolusi nasional (1945–1950)
Indonesia Merdeka
Orde Lama (1950–1959)
Demokrasi Terpimpin (1959–1966)
Orde Baru (1966–1998)
Era Reformasi (1998–sekarang)

Ngara Lamo, gerbang Istana Sultan Ternate pada tahun 1930-an
Kerajaan Gapi atau yang kemudian lebih dikenal sebagai Kesultanan Ternate (mengikuti nama ibukotanya) adalah salah satu dari 4 kerajaan Islam di Maluku dan merupakan salah satu kerajaan Islam tertua di Nusantara. Didirikan oleh Baab Mashur Malamo pada 1257. Kesultanan Ternate memiliki peran penting di kawasan timur Nusantara antara abad ke-13 hingga abad ke-17. Kesultanan Ternate menikmati kegemilangan pada  separuh abad ke -16 berkat perdagangan rempah-rempah dan kekuatan ketenteraannya. Di masa kejayaan kekuasaannya membentang mencakupi wilayah Maluku, Sulawesi utara, timur dan tengah, bagian selatan kepulauan Filipina hingga sejauh Kepulauan Marshall di pasifik.

 Asal Usul

Pulau Gapi (kini Ternate) mulai ramai di awal abad ke-13, penduduk Ternate awal merupakan warga imigran dari Halmahera. Awalnya di Ternate terdapat 4 kampung yang masing - masing dikepalai oleh seorang momole (kepala marga), merekalah yang pertama – tama mengadakan hubungan dengan para pedagang yang datang dari segala penjuru mencari rempah – rempah. Penduduk Ternate semakin heterogen dengan bermukimnya pedagang Arab, Jawa, Melayu dan Tionghoa. Oleh karena aktivitas perdagangan yang semakin ramai ditambah ancaman yang sering datang dari para perompak maka atas prakarsa momole Guna pemimpin Tobona diadakan musyawarah untuk membentuk suatu organisasi yang lebih kuat dan mengangkat seorang pemimpin tunggal sebagai raja.
Tahun 1257 momole Ciko pemimpin Sampalu terpilih dan diangkat sebagai Kolano (raja) pertama dengan gelar Baab Mashur Malamo (1257-1272). Kerajaan Gapi berpusat di kampung Ternate, yang dalam perkembangan selanjutnya semakin besar dan ramai sehingga oleh penduduk disebut juga sebagai “Gam Lamo” atau kampung besar (belakangan orang menyebut Gam Lamo dengan Gamalama). Semakin besar dan popularnya Kota Ternate, sehingga kemudian orang lebih suka mengatakan kerajaan Ternate daripada kerajaan Gapi. Di bawah pimpinan beberapa generasi penguasa berikutnya, Ternate berkembang dari sebuah kerajaan yang hanya berwilayahkan sebuah pulau kecil menjadi kerajaan yang berpengaruh dan terbesar di bahagian timur Indonesia khususnya Maluku.

Organisasi kerajaan

Di masa – masa awal suku Ternate dipimpin oleh para momole. Setelah membentuk kerajaan jabatan pimpinan dipegang seorang raja yang disebut Kolano. Mulai pertengahan abad ke-15, Islam diadaptasikan secara keseluruhannya oleh kerajaan dan penerapan syariat Islam dilakukan. Sultan Zainal Abidin meninggalkan gelar Kolano dan menggantinya dengan gelaran Sultan. Para ulama menjadi figur penting dalam kerajaan.
Setelah Sultan sebagai pemimpin tertinggi, ada jabatan Jogugu (perdana menteri) dan Fala Raha sebagai para penasihat. Fala Raha atau Empat Rumah adalah empat klan bangsawan yang menjadi tulang belakang kesultanan sebagai representasi para momole pada masa lalu, masing – masing dikepalai seorang Kimalaha. Mereka antara lain ; Marasaoli, Tomagola, Tomaito dan Tamadi. Pejabat – pejabat tinggi kesultanan umumnya berasal dari klan – klan ini. Bila seorang sultan tak memiliki pewaris maka penerusnya dipilih dari salah satu klan. Selanjutnya ada jabatan – jabatan lain Bobato Nyagimoi se Tufkange (Dewan 18), Sabua Raha, Kapita Lau, Salahakan, Sangaji dll. Untuk lebih jelasnya lihat Struktur organisasi kesultanan Ternate.

 Moloku Kie Raha

Selain Ternate, di Maluku juga terdapat paling tidak 5 kerajaan lain yang memiliki pengaruh. Tidore, Jailolo, Bacan, Obi dan Loloda. Kerajaan – kerajaan ini merupakan saingan Ternate memperebutkan hegemoni di Maluku. Berkat perdagangan rempah Ternate menikmati pertumbuhan ekonomi yang mengesankan, dan untuk memperkuat hegemoninya di Maluku, Ternate mulai melakukan perluasan empayar. Hal ini menimbulkan antipati dan memperbesar kecemburuan kerajaan lain di Maluku, mereka memandang Ternate sebagai musuh bersama hingga membibitkan titik terjadinya perang. Demi menghentikan konflik yang berlarutan, raja Ternate ke-7 Kolano Cili Aiya atau disebut juga Kolano Sida Arif Malamo (1322-1331) mengundang raja – raja Maluku yang lain untuk berdamai dan bermusyawarah membentuk persekutuan. Persekutuan ini kemudian dikenal sebagai Persekutan Moti atau Motir Verbond. Butir penting dari pertemuan ini selain terjalinnya persekutuan adalah penyeragaman bentuk perlembagaan kerajaan di Maluku. Oleh kerana pertemuan ini dihadiri 4 raja Maluku yang terkuat maka disebut juga sebagai persekutuan Moloku Kie Raha (Empat Gunung Maluku).

Kedatangan Islam

Tak ada sumber yang jelas mengenai teori awal kedatangan Islam di Maluku khususnya Ternate. Namun diperkirakan sejak awal berdirinya kerajaan Ternate masyarakat Ternate telah mengenal Islam mengingat banyaknya pedagang Arab yang telah bermukim di Ternate kala itu. Beberapa raja awal Ternate sudah menggunakan nama bernuansa Islam namun kepastian mereka maupun keluarga kerajaan memeluk Islam masih diperdebatkan. Hanya dapat dipastikan bahwa keluarga kerajaan Ternate rasmi memeluk Islam pertengahan abad ke-15.
Kolano Marhum (1465-1486), penguasa Ternate ke-18 adalah raja pertama yang diketahui memeluk Islam bersama seluruh kerabat dan pejabat istana. Pengganti Kolano Marhum adalah puteranya, Zainal Abidin (1486-1500). Beberapa langkah yang diambil Sultan Zainal Abidin adalah meninggalkan gelar Kolano dan menggantinya dengan Sultan, Islam diakui sebagai agama resmi kerajaan, syariat Islam diberlakukan, membentuk lembaga kerajaan sesuai hukum Islam dengan melibatkan para ulama. Langkah-langkahnya ini kemudian diikuti kerajaan lain di Maluku secara keseluruhannya, hampir tanpa perubahan. Ia juga mendirikan madrasah yang pertama di Ternate. Sultan Zainal Abidin pernah memperdalamkan ajaran Islam dengan berguru pada Sunan Giri di pulau Jawa, disana beliau dikenal sebagai "Sultan Bualawa" (Sultan Cengkih).

Kedatangan Portugal dan perang saudara

Di masa pemerintahan Sultan Bayanullah (1500-1521), Ternate semakin berkembang, rakyatnya diwajibkan berpakaian secara islamik, teknik pembuatan perahu dan senjata yang diperoleh dari orang Arab dan Turki digunakan untuk memperkuatkan pasukan Ternate. Di masa ini pula datang orang Eropah pertama di Maluku, Loedwijk de Bartomo (Ludovico Varthema) tahun 1506. Tahun 1512 Portugal untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Ternate dibawah pimpinan Fransisco Serrao, atas persetujuan Sultan, Portugal diizinkan mendirikan pos dagang di Ternate. Portugal datang bukan semata – mata untuk berdagang melainkan untuk menguasai perdagangan rempah – rempah Pala dan Cengkih di Maluku. Untuk itu terlebih dulu mereka harus menaklukkan Ternate. Sultan Bayanullah wafat meninggalkan pewaris - pewaris yang masih sangat muda. Janda sultan, permaisuri Nukila dan Pangeran Taruwese, adik almarhum sultan bertindak sebagai wali. Permaisuri Nukila yang asal Tidore bermaksud menyatukan Ternate dan Tidore dibawah satu mahkota yakni salah satu dari kedua puteranya, pangeran Hidayat (kelak Sultan Dayalu) dan pangeran Abu Hayat (kelak Sultan Abu Hayat II). Sementara pangeran Tarruwese menginginkan tahta bagi dirinya sendiri. Portugal memanfaatkan kesempatan ini dan mengadu domba keduanya hingga pecah perang saudara. Kubu permaisuri Nukila didukung Tidore sedangkan pangeran Taruwese didukung Portugal. Setelah meraih kemenangan pangeran Taruwese justreu dikhianati dan dibunuh Portugal. Gabernor Portugal bertindak sebagai penasihat kerajaan dan dengan pengaruh yang dimiliki berhasil memujuk dewan kerajaan untuk mengangkat pangeran Tabariji sebagai sultan. Tetapi ketika Sultan Tabariji mulai menunjukkan sikap bermusuhan, ia difitnah dan dibuang ke Goa – India. Disana ia dipaksa Portugal untuk menandatangani perjanjian menjadikan Ternate sebagai kerajaan Kristian dan vassal kerajaan Portugal, namun perjanjian itu ditolak mentah-mentah Sultan Khairun (1534-1570).

Pengusiran Portugal

Perlakuan Portugal terhadap saudara – saudaranya membuat Sultan Khairun geram dan bertekad mengusir Portugal dari Maluku. Tindak – tanduk bangsa barat yang satu ini juga menimbulkan kemarahan rakyat yang akhirnya berdiri di belakang sultan Khairun. Sejak masa sultan Bayanullah, Ternate telah menjadi salah satu dari tiga kesultanan terkuat dan pusat Islam utama di Nusantara abad ke-16 selain Aceh dan Demak setelah kejatuhan kesultanan Malaka tahun 1511. Ketiganya membentuk Aliansi Tiga untuk membendung sepak terjang Portugal di Nusantara.
Tak ingin menjadi Melaka kedua, sultan Khairun mengobarkan perang pengusiran Portugal. Kedudukan Portugal kala itu sudah sangat kuat, selain memiliki benteng dan  kekuatan di seluruh Maluku mereka juga memiliki sekutu – sekutu suku pribumi yang bisa dikerahkan untuk menghadang Ternate. Dengan adanya Aceh dan Demak yang terus mengancam kedudukan Portugal di Melaka, Portugal di Maluku kesulitan mendapat bala bantuan hingga terpaksa memohon damai kepada sultan Khairun. Secara licik Gabernor Portugal, Lopez de Mesquita mengundang Sultan Khairun ke meja perundingan dan akhirnya dengan kejam membunuh Sultan yang datang tanpa pengawalnya. Pembunuhan Sultan Khairun semakin mendorong rakyat Ternate untuk menyingkirkan Portugal, bahkan seluruh Maluku kini mendukung kepemimpinan dan perjuangan Sultan Baabullah (1570-1583), pos-pos Portugal di seluruh Maluku dan wilayah timur Indonesia digempur, setelah peperangan selama 5 tahun, akhirnya Portugal meninggalkan Maluku untuk selamanya tahun 1575. Kemenangan rakyat Ternate ini merupakan kemenangan pertama putera-putera nusantara atas kekuatan barat. Dibawah pimpinan Sultan Baabullah, Ternate mencapai puncak kejayaan, wilayah membentang dari Sulawesi Utara dan Tengah di bagian barat hingga kepulauan Marshall dibahagian timur, dari Filipina (Selatan) dibahagian utara hingga kepulauan Nusa Tenggara dibahagian selatan. Sultan Baabullah dijoloki “penguasa 72 pulau” yang semuanya berpenghuni (sejarawan Belanda, Valentijn menuturkan secara terperinci nama-nama ke-72 pulau tersebut) hingga menjadikan kesultanan Ternate sebagai kerajaan islam terbesar di Indonesia timur, disamping Aceh dan Demak yang menguasai wilayah barat dan tengah nusantara kala itu. Periode keemasaan tiga kesultanan ini selama abad 14 dan 15 entah sengaja atau tidak dikesampingkan dalam sejarah bangsa ini padahal mereka adalah tunjang utama yang membendung kolonialisme barat.

Kedatangan Belanda

Sepeninggalan Sultan Baabullah Ternate mulai lemah, Sepanyol yang telah bersatu dengan Portugal tahun 1580 mencuba menguasai kembali Maluku dengan menyerang Ternate. Dengan kekuatan baru Sepanyol memperkuatkan kedudukannya di Filipina, Ternate pun menjalin aliansi dengan Mindanao untuk menghalau Sepanyol namun gagal bahkan sultan Said Barakati berhasil ditawan Sepanyol dan dibuang ke Manila. Kekalahan demi kekalahan yang diderita memaksa Ternate meminta bantuan Belanda tahun 1603. Ternate akhirnya berjaya menahan Sepanyol namun dengan timbalan yang amat mahal. Belanda akhirnya secara perlahan-lahan menguasai Ternate, tanggal 26 Juni 1607 Sultan Ternate menandatangani kontrak monopoli VOC di Maluku sebagai timbalan bantuan Belanda melawan Sepanyol. Pada tahun 1607 pula Belanda membangunkan benteng Oranje di Ternate yang merupakan benteng pertama mereka di nusantara.
Sejak awal hubungan yang tidak sihat dan tidak seimbang antara Belanda dan Ternate menimbulkan ketidakpuasan para penguasa dan bangsawan Ternate. Diantaranya adalah pangeran Hidayat (15?? - 1624), Raja muda Ambon yang juga merupakan mantan wali raja Ternate ini memimpin oposisi yang menentang kedudukan sultan dan Belanda. Ia mengabaikan perjanjian monopoli dagang Belanda dengan menjual rempah – rempah kepada pedagang Jawa dan Makassar.

Perlawanan rakyat Maluku dan kejatuhan Ternate

Semakin lama cengkeraman dan pengaruh Belanda pada sultan – sultan Ternate semakin kuat, Belanda dengan berleluasanya mengeluarkan peraturan yang merugikan rakyat dan pemerintah sultan, sikap Belanda yang kurang ajar dan sikap sultan yang cenderung mengikut telunjuk menimbulkan kekecewaan semua kalangan. Sepanjang abad ke-17, setidaknya ada 4 pemberontakan yang dikobarkan bangsawan Ternate dan rakyat Maluku.
  • Tahun 1635, demi memudahkan pengawasan dan mengawal harga rempah yang merosot Belanda memutuskan melakukan penebangan besar – besaran pohon cengkeh dan pala di seluruh Maluku atau yang lebih dikenal sebagai Hongi Tochten, akibatnya rakyat mengobarkan perlawanan. Tahun 1641, dipimpin oleh raja muda Ambon Salahakan Luhu, puluhan ribu pasukan gabungan Ternate – Hitu – Makassar menggempur berbagai kedudukan Belanda di Maluku Tengah. Salahakan Luhu kemudian berhasil ditangkap dan di hukum mati bersama seluruh keluarganya tanggal 16 Junn 1643. Perjuangan lalu dilanjutkan oleh saudara ipar Luhu, kapita Hitu Kakiali dan Tolukabessi hingga 1646.
  • Tahun 1650, para bangsawan Ternate mengobarkan perlawanan di Ternate dan Ambon, pemberontakan ini di dorong sikap Sultan Mandarsyah (1648-1650,1655-1675) yang terlampau akrab dan dianggap cenderung menuruti kemahuan Belanda. Para bangsawan berkomplot untuk menurunkan Mandarsyah. Tiga di antara pemberontak yang utama adalah trio pangeran Saidi, Majira dan Kalumata. Pangeran Saidi adalah seorang Kapita Laut atau panglima tertinggi pasukan Ternate, pangeran Majira adalah raja muda Ambon sementara pangeran Kalumata adalah adik sultan Mandarsyah. Saidi dan Majira memimpin pemberontakan di Maluku tengah sementara pangeran Kalumata bergabung dengan raja Gowa sultan Hasanuddin di Makassar. Mereka bahkan sempat berhasil menurunkan sultan Mandarsyah dari tahta dan mengangkat Sultan Manilha (1650–1655) namun berkat bantuan Belanda kedudukan Mandarsyah kembali dipulihkan. Setelah 5 tahun pemberontakan Saidi cs berhasil dipadamkan. Pangeran Saidi disiksa secara kejam hingga mati sementara pangeran Majira dan Kalumata menerima pengampunan Sultan dan hidup dalam pengasingan.
  • Sultan Muhammad Nurul Islam atau yang lebih dikenal dengan nama Sultan Sibori (1675 – 1691) merasa geram dengan tindak – tanduk Belanda yang semena - mena. Ia kemudian menjalin persekutuan dengan Datuk Abdulrahman penguasa Mindanao, namun upayanya untuk menggalang kekuatan kurang maksima karena daerah – daerah strategik yang boleh diandalkan untuk basis perlawanan terlanjur jatuh ke tangan Belanda oleh berbagai perjanjian yang dibuat para pendahulunya. Ia kalah dan terpaksa di singkir ke Jailolo. Tanggal 7 Julai 1683 Sultan Sibori terpaksa menandatangani perjanjian yang intinya menjadikan Ternate sebagai kerajaan dependen Belanda. Perjanjian ini mengakhiri masa Ternate sebagai negara berdaulat.
Meski telah kehilangan kekuasaan mereka beberapa Sultan Ternate berikutnya tetap berjuang mengeluarkan Ternate dari cengkeraman Belanda. Dengan kemampuan yang terbatas kerana selalu diawasi mereka hanya mampu menyokong perjuangan rakyatnya secara diam – diam. Yang terakhir tahun 1914 Sultan Haji Muhammad Usman Syah (1896-1927) menggerakkan perlawanan rakyat di wilayah – wilayah kekuasaannya, bermula di wilayah Banggai dibawah pimpinan Hairuddin Tomagola namun gagal. Di Jailolo rakyat Tudowongi, Tuwada dan Kao dibawah pimpinan Kapita Banau berhasil menimbulkan kerugian di pihak Belanda, banyak perajurit Belanda yang tewas termasuk Coentroleur Belanda Agerbeek, markas mereka dihancurkan. Akan tetapi kerana keunggulan militer serta persenjataan yang lebih lengkap dimiliki Belanda perlawanan tersebut berhasil dipatahkan, kapita Banau ditangkap dan dijatuhi hukuman gantung. Sultan Haji Muhammad Usman Syah terbukti terlibat dalam pemberontakan ini oleh kerananya berdasarkan keputusan pemerintah Hindia Belanda, tanggal 23 September 1915 no. 47, sultan Haji Muhammad Usman Syah dipecat dari jabatan sultan dan seluruh hartanya disita, beliau dibuang ke Bandung tahun 1915 dan meninggal disana tahun 1927. Pasca penurunan sultan Haji Muhammad Usman Syah jabatan sultan sempat kosong selama 14 tahun dan pemerintahan adat dijalankan oleh Jogugu serta dewan kesultanan. Sempat muncul keinginan pemerintah Hindia Belanda untuk menghapuskan kesultanan Ternate namun niat itu tidak dilaksanakan kerana khuatir akan reaksi keras yang boleh menyebabkan pemberontakan baru sementara Ternate berada jauh dari pusat pemerintahan Belanda di Batavia.
Dalam usianya yang kini memasuki usia ke-750 tahun, Kesultanan Ternate masih tetap bertahan meskipun hanya tinggal simbol belaka. Jabatan sultan sebagai pemimpin Ternate ke-49 kini dipegang oleh sultan Drs. H. Mudaffar Sjah, BcHk. (Mudaffar II) yang dinobatkan tahun 1986.

Warisan Ternate

Imperium nusantara timur yang dipimpin Ternate memang telah runtuh sejak pertengahan abad ke-17 namun pengaruh Ternate sebagai kerajaan dengan sejarah yang panjang masih terus terasa hingga berabad kemudian. Ternate memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kebudayaan nusantara bagian timur khususnya Sulawesi (utara dan pesisir timur) dan Maluku. Pengaruh itu mencakupi agama, adat istiadat dan bahasa.
Sebagai kerajaan pertama yang memeluk Islam Ternate memiliki peranan yang besar dalam upaya pengislaman dan pengenalan syariat-syariat Islam di wilayah timur nusantara dan bahagian selatan Filipina. Bentuk organisasi kesultanan serta penerapan syariat Islam yang diperkenalkan pertama kali oleh sultan Zainal Abidin menjadi standar yang diikuti semua kerajaan di Maluku hampir tanpa perubahan yang bererti. Keberhasilan rakyat Ternate dibawah sultan Baabullah dalam mengusir Portugal tahun 1575 merupakan kemenangan pertama pribumi nusantara atas kekuatan barat, oleh kerananya almarhum Buya Hamka bahkan memuji kemenangan rakyat Ternate ini telah menunda penjajahan barat atas bumi nusantara selama 100 tahun sekaligus memperkokoh kedudukan Islam, dan sekiranya rakyat Ternate gagal nescaya wilayah timur Indonesia akan menjadi pusat kristian seperti halnya Filipina.
Kedudukan Ternate sebagai kerajaan yang berpengaruh turut pula mengangkat darjat Bahasa Ternate sebagai bahasa pergaulan di berbagai wilayah yang berada dibawah pengaruhnya. Prof E.K.W. Masinambow dalam tulisannya; “Bahasa Ternate dalam konteks bahasa - bahasa Austronesia dan Non Austronesia” mengemukakan bahwa bahasa Ternate memiliki dampak terbesar terhadap bahasa Melayu yang digunakan masyarakat timur Indonesia. Sebanyak 46% kosakata bahasa Melayu di Manado diambil dari bahasa Ternate. Bahasa Melayu – Ternate ini kini digunakan luas di Indonesia Timur terutama Sulawesi Utara, pesisir timur Sulawesi Tengah dan Selatan, Maluku dan Papua dengan dialek yang berbeda – beda. Dua naskah Melayu tertua di dunia adalah naskah surat sultan Ternate Abu Hayat II kepada Raja Portugal tanggal 27 April dan 8 November 1521 yang saat ini masih tersimpan di muzium Lisbon – Portugal.

PDF
Berikut adalah daftar Raja-Raja yang memerintah Ternate sejak terbentuknya Moloku Kie Raha.

NONAMA SULTANPERIODE
1.
CICO (1257 - 1277)
2.
POIT (1277 - 1284)
3.
SIALE (1284 - 1298)
4.
KALABATA (1298 - 1304)
5.
KOMALO (1304 - 1317)
6.
PATSARANGA (1317 - 1322)
7.
SIDANG ARIF (1322 - 1331)
8.
PAJI MA LAMO (1331 - 1332)
9.
SYAH ALAM (1332 - 1343)
10.
TOLU MA LAMO (1343 - 1347)
11.
BOHEYAT (1347 - 1350)
12.
NGOLO MA CAYA (1350 - 1357)
13.
MOMOLE (1357 - 1359)
14.
GAPI MA LAMO (1359 - 1372)
15.
GAPI BAGUNA I (1372 - 1377)
16.
KOMALO PULU (1377 - 1432)
17.
GAPI BAGUNA II (1432 - 1465)
18.
MARHUM (1465 - 1486)
19.
ZAINAL ABIDIN (1486-1500)
20.
BAYAN SIRULLAH (1500 - 1521)
21.
BOHEYAT (1522 - 1529)
22.
DAYAL (1529 - 1533)
23.
TABARIJI (1533 - 1535)
24.
HAIRUN JAMILU (1535 - 1570)
25.
BAAB ULLAH (1570 - 1583)
26.
SAIDI BARKAT (1584 - 1606)
27.
MUDAFFAR (1606 - 1627)
28.
HAMZA (1627 - 1648)
29.
MANDAR SJAH KAICIL (1648 - 1675)
30.
SIBORI AMSTERDAM (1675 - 1690)
31.
SAID FATUDDIN TOLOKO (1692 - 1714)
32.
SAFIUDDIN KAICIL RAJA LAUT (1751 - 1752)
33.
OUTHOORN AYAN SJAH (1752 - 1754)
34.
SYAH MARDAN (1755 - 1764)
35.
JALALUDDIN KAICIL ZWAARDEKROON (1765 - 1774)
36.
ARUN SJAH (1774 - 1781)
37.
AHARAL (1781 - 1796)
38.
SARKAN (1796 - 1801)
39.
MUHAMMAD JASIN (1801 - 1807)
40.
MUHAMMAD ALI (1807 - 1821)
41.
SARMOLE VAN DER PARRA (1821 - 1823)
42.
MUHAMMAD ZAIN (1823 - 1859)
43.
MUHAMMAD ARSAD (1861 - 1876)
44.
AYANHAR (1879 - 1900)
45.
MUHAMMAD ILHAM (1902)
46.
MUHAMMAD USMAN SJAH (1904 - 1914)
47.
ISKANDAR MUHAMMAD DJABIR SJAH (1929 - 1975)
48.
MUDAFFAR SJAH (1975 - SEKARANG) 

Saturday, January 12, 2013

KESULTANAN SUMBAWA(1630-1958-KINI)

Bendera Kesultanan Sumbawa


Panji atau Bendera LIPAN atau LIPAN API merupakan Bendera Perang Kesultanan Sumbawa. Bendera ini Selalu dibawa manakala pasukan Bala tentera ketika menunaikan tugas pengamanan wilayah kesultanan dari ancaman musuh. Dewasa ini Bendera asli disimpan oleh pak Makadia keturunan dari Panglima Mayo sebagai hadiah dari Sultan Sumbawa kerana berhasil sebagai penakluk perompak dan lanun laut yg mengganggu perairan Sumbawa

Kronologi Kesultanan Sumbawa 

1650                     Sumbawa di tubuhkan.
 
1816                     letusan Gunung Tambora memusnahkan kerajaan dan rakyat.
 
1837                     Kesultanan Sumbawa DI BANGUNKAN semula
 
1908                     diletakkan di dalam Kolonial Belanda
 
1931                     di hapuskan kesultanan

2011                     di hidupkan semula 
 
Pemerintah (kemudian di  gelar sultan) 

1-1675 - 1701                Dewa Mas Bantan


2-1701 - 1725                Dewa Mas Madina


3-1725 - 1731                Dewa Mas Muhammad Jalaluddin I


4/1731 - 1759                Dewa Mas Mapasusung Muhammad


                             Kahharuddin I


5/1759 - 1761                I Sugi Karaeng Bantoa (f)


6/1761 - 1763                Hasanuddin Datu Jereweh


7/1763 - 1766                Dewa Mas Muhammad Jalaluddin II 


8/1766 - 1780                Mappacongga Mustapha 


9/1780 - 1791                Mahmud Datu Jereweh

 
10/1791 - 1795                Safiatuddin Daeng Masiki 


11/1795 - 1816                Muhammad Kahharuddin II 

---1816 - 1837                        dalam bencana dan kemusnahan
 
12/1837 - 1843                Lulo Murso

13/1843 - 1883                Amarullah 

14/1883 - 1908                Muhammad Jalaluddin

---------1908 - 1931                Interregnum
15/1931 - 1958                Muhammad Kahharuddin III            (d. 1975)


 
---------1958 - 2011                Interregnum

16/ 5 Apr 2011 -              Muhammad Kahharuddin IV             (b. 1941)
 SULTAN MUH.JALALUDDIN III

SEJARAH KERAJAAN SUMBAWA



Kewujudan Tana Samawa atau Kabupaten Sumbawa, mulai dicatat oleh sejarah sejak Zaman Dinasti Dewa Awan Kuning, tetapi tidak banyak sumber bertulis yang boleh dijadikan bahan panduan untuk mengungkapkan situasi dan keadaan pada waktu itu. Sebagaimana masyarakat di daerah lain, sebahagian rakyat Sumbawa masih menganut animisme dan sebahagian sudah menganut agama Hindu. Baru pada kekuasaan raja terakhir dari dinasti Awan Kuning, iaitu Dewa Maja Purwa, ditemukan catatan tentang kegiatan kerajaan, antara lain bahwa Dewa Maja Purwa telah menandatangani perjanjian dengan Kerajaan Gowa di Sulawesi. Perjanjian itu hanya terbatas mengenai perdagangan antara kedua kerajaan kemudian ditingkatkan lagi dengan perjanjian saling menjaga keamanan dan kerukunan 2 buah kerajaan itu sahaja Kerajaan Gowa yang pengaruhnya lebih besar saat itu menjadi pelindung kerajaan Samawa’.

Setelah Dewa Maja Purwa mangkat ia digantikan oleh Mas Goa, yang masih menganut ajaran Hindu. Ia dianggap telah melanggar salah satu perjanjian damai dengan kerajaan Goa, maka risikonya ia terpaksa disingkirkan bersama pengikut pengikutnya kesebuah Hutan, kira-kira di wilayah Kecamatan Utan sekarang. Pengusiran Mas Goa dan pengikutnya ke wilayah Utan lebih arif disebut kudeta di zaman sekarang. Ia serta merta diturunkan dari tahtanya kerana mungkir janji dari kesepakatan pendahulunya dengan Kerajaan Gowa Tidak disebutkan apa pelanggaran yang telah dilakukan Mas Goa, namun campur tangan Raja Gowa di Sulawesi sangat besar.
Pemberhentian secara paksa ini terjadi pada tahun 1673 M sekaligus mengakhiri pengaruh Dinasti Dewa Awan Kuning di Sumbawa. Tahun berikutnya 1674 M Dinasti baru terbentuk dan diberi nama Dinasti Dewa Dalam Bawa’. Saat itu menurut BUK Tana’ Samawa, rakyat Sumbawa sudah mulai memeluk Agama Islam. Dinasti Dewa Dalam Bawa’ ini berkuasa hingga tahun 1958.
Luas wilayah kekuasaannya dimulai dari wilayah taklukan Kerajaan Empang hingga Jereweh. Raja pertama dari Dinasti Dalam Bawa ini adalah Sultan Harunurrasyid I (1674 – 1702). Ia kemudian diganti oleh putranya Pangeran Mas Madina bergelar Sultan Muhammad Jalaluddin Syah I yang kawin dengan Putri Raja Sidenreng Sulawesi Selatan yang bernama I Rakia Karaeng Agang Jene.Setelah mangkat, Jalaluddin Syah I ini kemudian diganti oleh Dewa Loka Lengit Ling Sampar kemudian oleh Dewa Ling Gunung Setia. Tidak banyak bahan sejarah yang dapat mengungkapkan berapa lama keduanya memerintah, tapi diperkirakan selama 10 tahun. Ada fakta yang menyatakan bahawa pada masa pemerintahan Datu Gunung Setia, kerajaan Sumbawa termasuk “ Bala Balong” lenyap dilalap si jago merah pada tanggal 26 Ramadhan 1145 Hijriah (1732 M).
Pada tahun 1733 Kerajaan Sumbawa kembali dipegang oleh anak saudara Sultan Muhammad Jalaluddin Syah I, bernama Muhammad Kaharuddin I (1733-1758). Ketika ia meninggal, kekuasaan diambil alih istrinya I Sugiratu Karaeng Bontoparang, yang bergelar Sultanah Siti Aisyah. Raja wanita ini dikenal sering berselisih faham dengan pembantu raja, sehingga pada tahun 1761 ia diturunkan dari tahta dan mengharapkan , digantikan oleh Lalu Mustanderman Datu Bajing, namun ia menolak, dan menyarankan untuk mengangkat adiknya yaitu Lalu Onye Datu Ungkap Sermin ( 1761-1762 ).
ISTANA TUA
Pemerintahannya Lalu Onye, hanya berjalan setahun. Konon kerana ia lari dari istana untuk menghindari perang saudara, atas kekeliruannya menikahi seorang wanita yang telah lama ditinggalkan berlayar oleh suaminya, Lalu Angga Wasita yang terkenal keperkasaannya. Ia menyangka Lalu Angga Wasita sudah meninggal kerana tidak pernah ada khabar beritanya. Tapi suatu hari lelaki perkasa itu muncul. Kerana raja merasa bersalah maka ia lari pada malam Selasa , di hari ke 14 Ramadhan waktu bulan purnama raya.
Kepergian Datu Ungkap Sermin itu membuat tahkta raja menjadi kosong. Maka diangkatlah Gusti mesir Abdurrahman, keturunan Raja Banjar. Meski ia bukan dari darah Dinasti Dewa Dalam Bawa, tetapi memungkinkan untuk diangkat menjadi raja kerana telah menikah dengan puteri Sultan Muhammad Jalaluddin Syah I. ia pun diberi gelar Muhammad Jalaluddin Syah II, dan memegang kekuasaan selama 3 tahun (1762-1765). Ia mangkat pada tanggal 1 Dzulhijjah 1179 Hijriah ( 1765 Masehi). Untuk menggantinya diangkatlah putra mahkota yang masih berumur 9 tahun menjadi “raja boneka” iaitu Sultan Mahmud. Sedangkan yang menjalankan pemerintahan diangkat Dewa Mapeconga Mustafa datu Taliwang.
Keputusan ini menimbulkan amarah datu Jereweh, kerana ia sangat berhajat untuk menjadi raja. Maka ia berangkat ke Makasar untuk meminta bantuan kompeni (VOC) agar bisa menciptakan kekacauan di Kerajaan Sumbawa. Sebelum berangkat, datu Jereweh menemui kerajaan-kerajaan tetangganya dan mempengaruhi mereka supaya ikut mendukung rencananya dan ikut menandatangani perjanjian dengan VOC sekaligus membatalkan segala hal yang telah diatur dalam perjanjian Bongaya antara VOC dengan raja Goawa yang isinya antara lain VOC tidak boleh mencampuri urusan perdagangan di kerajaan selatan.
Akhirnya pada tanggal 9 Februari 1765 di Fort Rotterdam ditandatangani perjanjian antara Cornelis Senklaar Komodour sebagai wakil VOC denga pihak raja – raja selatan yang antara lain Sultan Abdul Kadir Muhammad Dzillillah Fil Alam ( raja Bima ), Hasanuddin Datu Jereweh (  mengistiharkan dirinya raja Sumbawa ), Achmad Alauddin Johan Syah (raja Dompu), Abdurrasyid (raja Sanggar) dan Abdurrahman (raja Pekat).
Perjanjian ini berisi tentang diperkenankannya VOC masuk Sumbawa. Tapi perjanjian ini kemudian dibatalkan lewat kontrak baru tanggal 18 Mei 1766 berkat keberhasilan diplomasi utusan kerajaan Sumbawa Dea Tumuseng. Dalam perjanjian ini disebutkan, apabila Sultan Mahmud dewasa, maka kekuasaan raja akan diserahkan kembali kepadanya.Tapi pada waktu Sultan Dewa Mepaconga Mustafa sakit pada tahun 1189 H (1775 M), beliau digantikan oleh Datu Busing Lalu Komak, yang bergelar Sultan Harrunnurrasyid II (1777-1790). Sementara Sultan Mahmud yang putra mahkota itu tidak pernah diangkat menjadi raja yang sebenarnya, hingga ia meninggal dunia pada 8 jumadil akhir 1194 H (1780 M) dalam usia 24 tahun. Pada waktu pemerintahan Harrunnurrasyid II ini telah berhasil diselesaikan penulisan Kitab Suci Al Qur’an dengan tulisan tangan oleh Muhammad Ibnu Abdullah Al Jawi Negeri Sumbawa Madzab Safiie, tepatnya pada 28 Dzulqaidah 1199 H (1784 M).
Sepeninggal Harrunnurrasyid II, tahta kerajaan beralih pada anak perempuannya, iaitu Sultanah Syafiatuddin (1791-1795). Ia kemudian kahwin dengan Sultan Bima dan mengikuti suaminya ke Bima, sekaligus membawa beberapa harta pusaka kerajaan. ( Sebahagian koleksi harta kekayaan Raja Bima sekarang adalah milik Sultan Syafiatuddin yang dibawa dari Sumbawa ). Kerana kejadian itu, maka diputuskan oleh para Menteri Kerajaan untuk tidak lagi mengangkat wanita sebagai raja. Sedangkan pengganti Sultan Syafiatuddin adalah putera Sultan Mahmud bernama Muhammad Kaharuddin II. Pada waktu pemerintahannya inilah Gunung Tambora meletus. Tepatnya pada hari Selasa, 21 Jumadil Awal 1230 H (1815 M). Pada waktu itu Kerajaan Sumbawa dilanda hujan debu. Dalam laporan H. Zolinger disebutkan bahawa sepertiga penduduk mati di pulau Sumbawa dan sepertiganya lagi pindah ke pulau Lombok. Sedangkan abu yang menggenangi wilayah kerajaan Sumbawa sampai setinggi lutut. Setahun kemudian Sultam Muhammad Kaharruddin II pun mangkat pada tanggal 20 Syafar 1231 Hijriah (1816 M). Pemangku kerajaan selanjutnya diserahkan kepada Nene Ranga Mele Manyurang. Ia pun tidak lama menduduki singgasana kerajaan, kerana pada bulan Rabbiul Awal 1241 Hijriah (1825 M), Nene Ranga yang sudah tua itu meninggal dunia. Kekuasaan dilanjutkan oleh Abdullah hingga ia meninggal pada tanggal 87 Muharram 1252 Hijriah (1836 M).
Mulai tahun 1836 sampai 1882, tahta Kerajaan Sumbawa kembali dilanjutkan oleh Putera Muhammad Kaharuddin II, iaittu Sultan Amrullah. Pada waktu pemerintahannya ini tidak banyak catatan sejarah yang bisa ditemukan, barangkali karena kerajaan baru mulai bangkit dari peristiwa meletusnya Gunung Tambora yang sangat dashyat. Sebuah letusan yang konon menyebabkan langit di Eropah diliputi kabut awan selama dua tahun.
Sultan Amrullah meninggal pada tanggal 23 Ogos 1883, sementara tahkta raja diteruskan oleh Sultan Muhammad Jalaluddin III, cucu Sultan Amrullah. Pada masa ini campur tangan Belanda sudah terlalu jauh, terutama dalam hal mengenai pungutan cukai. Akhirnya meledaklah pemberontakan rakyat, yang membuat Belanda harus mendatangkan bala bantuan dari Makassar, sebab hampir di setiap tempat timbul amarah rakyat. Namun kerana kelemahan dalam bidang persenjataan, semua bentuk pemberontakan dapat dipatahkan termasuk pemberotakan yang terjadi di Taliwang yang dilakukan Unru dan kawan-kawan.
Kekuasaan Belanda lewat VOC pun semakin bermaharajalela. Maka dimulailah babak baru, Belanda ikut bermain politik di dalam istana, dan ikut menentukan jalannya pemerintahan. Pulau Sumbawa dan Pulau Sumba dijadikan satu dalam bentuk afdeling dengan ibukota di Sumbawa Besar ( Ibukota Kabupaten Sumbawa sekarang). Asisten Resident yang pertama adalah Janson Van Ray. Kerajaan Sumbawa dibahagi dalam dua ander afdeeling, yaitu Sumbawa Barat dan Sumbawa Timur.
Dalam pemerintahan Sultan Muhammad Jalaluddin III (1833-1931) inilah dibangun “Istana Tua Dalam Loka”. Hal ini sangat dimungkinkan kerana Sultan Muhammad Jalaluddin III menjalankan roda pemerintahan selama 48 tahun. Ia juga mampu menuruti kehendak Belanda. Setelah ia meninggal pada tahun 1931, kekuasaan raja turun kepada putra mahkota yang mendapat gelar Sultan Muhammad Kaharruddin III. Pada zaman pemerintahannya inilah menjadi masa peralihan kolonialisme Belanda kepada Jepun.
Ketika perjanjian Kalijati ditandatangani tanggal 9 Mac 1942, organisasi – organisasi Islam di Kabupaten Sumbawa mulai mengatur siasat. Organisasi itu antara lain Nahdatul Oelama, Moehammadiah dan Al Irsyad. Sementara tiga kerajaan di pulau Sumbawa mengambil sikap tegas, menyatakan diri lepas dari kekuasaan Belanda. Tepat pada bulan Mei 1942, lapan kapal perang Jepun mendarat di Labuhan Mapin di bawah pimpinan Kolonel Haraichi, yang ternyata disambut gembira oleh rakyat. Kekuasaan Jepun tidak berlangsung lama, kerana setelah Hiroshima dan Nagasaki dijatuhi Bom Atom, Jepun menyerah kepada  pakatan bersekutu. Paksi Jepun dan Jerman kekuasaannya berakhir. Sebelum Belanda kembali masuk, Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Ogos 1945.
Kemasukan semula Militer Belanda ke Republik Indonesia mengakibatkan Raja Sumbawa menandatangani sebuah perjanjian politik baru dengan Belanda pada tanggal 14 Desember 1948. Isinya antara lain menjelaskan tentang sisa-sisa kekuasaan yang masih dikuasai oleh Belanda di Sumbawa. Kekuasaan tersebut ada tiga, iaitu bidang pertahanan, hubungan luar negeri dan monopoli atas candu dan garam. Setahun kemudian pemerintah Indonesia Timur berdasarkan Undang – Undang Nomor 44 tahun 1949 membentuk daerah Statuta Federasi Pulau Sumbawa, yang ditetapkan oleh Dewan Raja – raja pada tanggal 6 September 1949.
Perubahan system Pemerintahan terjadi lagi dengan membentuk Provinsi Nusa Tenggara Barat, yang didasarkan pada Undang – Undang Nomor 64 Tahun 1958. Propinsi Sunda Kecil dibahagi menjadi tiga Daerah Swatantra Tingkat I iaitu Bali, Nusa Tenggara Barat ( NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Khusus Daerah Swatantra I Nusa Tenggara Barat menjadi enam Daerah Swantantra Tingkat II, dimana raja sekaligus menjadi Kepala Pemerintahan. Kerana itu otomatis Federasi Pulau dibubarkan. Federasi Pulau Lombok dibubarkan pada tanggal 17 Desember 1958 dan tanggal tersebut hingga sekarang dijadikan sebagai hari lahirnya Propinsi Nusa Tenggara Barat. Sedangkan Federasi Pulau Sumbawa dibubarkan pada tanggal 22 Januari 1959 dan pada saat itu dilantiklah Sultan Muhammad Kaharruddin III menjadi Pejabat Sementara Kepala Daerah Swatantra Tingkat II Sumbawa. Tanggal itulah yang dijadikan hari lahir Kabupaten Sumbawa

raja-raja yang pernah memerintah :

1. Sultan Hasanurrasyid I -1674-1702M
2. SULTAN Muhammad Jalaluddin- I 1702-1723M
3. Datu bala Sawo -1723-1725 M
4. Datu gunung setia- 1725-1732 M
5. Sultan Muhammad Kaharuddin I- 1732-1758 M
6. Sultanah siti Aisyah- 1759-1760 M
7. Datu Ungkap Sermin -1761-1762 M
8. Sultan Muhammad Jalaludddin II- 1762-1765
9. Dewa Mepaconga Mustafa-1765-1776
10. Sultan harunurrasyid II- 1776-1790 M
11. Sultanah shafiyatuddin- 1791-1795 M
12. Sultan Muhammaad kaharuddin II- 1795-1816 M
13. Nene ranga mele Manyurang- 1816-1825 M
14. Mele Abdullah- 1825-1836 M
15. Sultan amrullah II -1836-1882
16. Sultan muhammd Jalaluddin III- 1882-1931 M
17. Sultan Muhammad Kaharuddin III -1931-1958 M

sumber : http://bangmek.wordpress.com/2012/02/13/sejarah-kerajaan-sumbawa/

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...