-
-
bendera asal
|
-
-
bendera terkini?
|
-SENARAI SULTAN BULUNGAN YANG MEMERINTAH;
1-PEMERINTAH (Bergelar Wira)
1695 - 1731
Digendung
1731 - 1777
Amir
(mangkat 1817)
2-Sultans
1777 - 1817
Aji Muhammad bin Muhammad Zainul Abidin (s.a.)
(= Wira Amir)
1817 - 1861
Muhammad Alimuddin Amirul Muminin
Kahharuddin I bin Muhammad
Zainul Abidin (1st time)
1861 - 1866
Muhammad Jalaluddin bin Muhammad (d.
1866)
Kahharuddin
1866 - 1873
Muhammad Alimuddin Amirul Muminin
Kahharuddin I bin Muhammad
Zainul Abidin (2nd time)
1873 - 1875
Muhammad Khalifatul Adil
1875 - 1889
Muhammad Kahharuddin II bin
Maharaja Lela
1889 - 1899
Muhammad Azimuddin
(d. 18..)
1899 - 1901
Pangean Kesuma (f) -Regent
1901 - 1924
Muhammad Kasimuddin
1924 - 1929
Datu Mansyur -Regent
1929 - 27 Mar 1930
Maulana Ahmad Sulaimanuddin
(b. 1909 - d. 1930)
1930 - 21 Dec 1958
Maulana Muhammad Jalaluddin
(b. 1882 - d. 1958)
1958 - ....
Maulana Al Mamun bin Maulana
Muhammad Jalaluddin
23 Oct 2002 -
Maulana Muhammad Al Mamun
(b. 1940)
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Kesultanan Bulungan atau
Bulongan[1] adalah
kesultanan yang pernah menguasai wilayah pesisir
Kabupaten Bulungan,
Kabupaten Malinau,
Kabupaten Nunukan, dan
Kota Tarakan sekarang. Kesultanan ini berdiri pada tahun
1731, dengan raja pertama bernama
Wira Amir gelar
Amiril Mukminin (
1731–
1777), dan Raja Kesultanan Bulungan yang terakhir atau ke-13 adalah Datuk Tiras gelar
Sultan Maulana Muhammad Djalalluddin (
1931-
1958).
[2] Negeri Bulungan bekas daerah milik "negara Berau" yang telah memisahkan diri
[3] sehingga dalam perjanjian
Kesultanan Banjar dengan VOC-Belanda dianggap sebagai bagian dari "
negara Berau" (Berau bekas
vazal Banjar).
[4] Pada kenyataannya sampai tahun 1850,
Bulungan berada di bawah dominasi
Kesultanan Sulu.
[5]
Sejarah Kerajaan Bulungan
Istana Kesultanan Bulungan pada abad ke-20.
Atraksi
Mendayung saat kedatangan pejabat kolonial ke Kesultanan Bulungan (hingga 1930).
Berdirinya Kerajaan Bulungan tidak dapat dipisahkan dengan mitos
ataupun legenda yang hidup secara turun-temurun dalam masyarakat.
Legenda bersifat lisan dan merupakan cerita rakyat yang dianggap oleh
yang empunya cerita sebagai suatu kejadian yang benar-benar terjadi.
Karena sifatnya yang tidak tertulis dan sering kali mengalami distorsi
maka sering kali pula dapat jauh berbeda dengan kisah aslinya. Yang
demkian itulah disebut dengan
folk history (sejarah kolektif).
Kuwanyi, adalah nama seorang pemimpin suku bangsa
Dayak Hupan (Dayak Kayan) karena tinggal di hilir
Sungai Kayan, mula-mula mendiami sebuah perkampungan kecil yang penghuninya hanya terdiri atas kurang lebih 80 jiwa di tepi
Sungai Payang, cabang
Sungai Pujungan. Karena kehidupan penduduk sehari-hari kurang baik, maka mereka pindah ke hilir sebuah sungai besar yang bernama
Sungai Kayan.
Suatu hari
Kuwanyi pergi berburu ke hutan, tetapi tidak
seekorpun binatang yang diperolehnya, kecuali seruas bambu besar yang
disebut bambu betung dan sebutir telur yang terletak di atas tunggul
kayu Jemlay. Bambu dan telur itu dibawanya pulang ke rumah. Dari bambu
itu keluar seorang anak laki-laki dan ketika telur itu dipecah ke luar
pula seorang anak perempuan. Kedua anak ini dianggap sebagai kurnia para
Dewa. Kuwanyi dan istrinya memelihara anak itu baik-baik sampai dewasa.
Ketika keduanya dewasa, maka masing-masing diberi nama
Jauwiru untuk yang laki-laki dan yang perempuan bernama
Lemlai Suri. Keduanya dikawinkan oleh Kuwanyi.
Kisah
Jauwiru dan
Lemlai Suri kini diabadikan dengan didirikannya sebuah
Monumen Telor Pecah. Monumen tersebut terletak di antara Jl. sengkawit dan Jl. Jelarai,
Kota Tanjung Selor, yang mengingatkan kita tentang cikal bakal berdirinya
kesultanan Bulungan.
Bulungan, berasal dari perkataan
Bulu Tengon (
Bahasa Bulungan),
yang artinya bambu betulan. Karena adanya perubahan dialek bahasa
Melayu maka berubah menjadi “Bulungan”. Dari sebuah bambu itulah
terlahir seorang calon pemimpin yang diberi nama
Jauwiru. Dan dalam perjalanan sejarah keturunan, lahirlah
kesultanan Bulungan.
Setelah Kuwanyi wafat maka Jauwiru menggantikan kedudukan sebagai ketua
suku bangsa Dayak (Hupan). Kemudian Jauwiru mempunyai seorang putera
bernama
Paran Anyi.
Paran Anyi tidak mempunyai seorang putera, tetapi mempunyai seorang puteri yang bernama
Lahai Bara yang kemudian kawin dengan seorang laki-laki bernama
Wan Paren, yang menggantikan kedudukannya. Dari perkawinan
Lahai Bara dan
Wan Paren lahir seorang putera bernama
Si Barau
dan seorang puteri bernama Simun Luwan
. Pada masa akhir hidupnya,
Lahai Bara mengamanatkan kepada anak-anaknya supaya “
Lungun” yaitu peti matinya diletakkan di sebelah hilir [[sungai Kipah]]. Lahai Bara mewariskan tiga macam benda pusaka, yaitu
ani-ani (
kerkapan).
Kedabang, sejenis tutup kepala dan sebuah dayung (
bersairuk). Tiga jenis barang warisan ini menimbulkan perselisihan antara Si Barau dan saudaranya,
Simun Luwan. Akhirnya Simun Luwan berhasil mengambil dayung dan pergi membawa serta peti mati Lahai Bara.
Karena kesaktian yang dimiliki oleh Simun Luwan, hanya dengan
menggoreskan ujung dayung pada sebuah tanjung dari sungai Payang, maka
tanjung itu terputus dan hanyut ke hilir sampai ke tepi Sungai Kayan,
yang sekarang terletak di kampung Long Pelban. Di Hulu kampung Long
Pelban inilah peti mati Lahai Bara dikuburkan. Menurut kepercayaan
seluruh keturunan Lahai Bara, terutama keturunan raja-raja Bulungan,
dahulu tidak ada seorangpun yang berani melintasi kuburan Lahai Bara
ini, karena takut kutukan Si Barau ketika bertengkar dengan Simun Luwan.
Bahwa siapa saja dari keturunan Lahai Bara bila melewati peti matinya
niscaya tidak akan selamat.
Tanjung hanyut itu sampai sekarang oleh suku-suku bangsa Dayak Kayan dinamakan
Busang Mayun, artinya
Pulau Hanyut
.
Kepergian
Simun Luwan disebabkan oleh perselisihan dengan
saudaranya sendiri, saat itu merupakan permulaan perpindahan suku-suku
bangsa Kayan, meninggalkan tempat asal nenek moyang mereka di sungai
Payang menuju sungai Kayan, dan menetap tidak jauh dari
Kota Tanjung Selor, ibu kota
Kabupaten Bulungan
sekarang. Suku bangsa Kayan hingga sekarang masih terdapat di beberapa
perkampungan di sepanjang sungai Kayan, di hulu Tanjung Selor, di
Kampung
Long Mara,
Antutan dan
Pimping.
Simun Luwan mempunyai suami bernama
Sadang, dan dari perkawinan mereka lahir seorang anak perempuan bernama
Asung Luwan. Asung Luwan kawin dengan seorang bangsawan dari
Brunei, yaitu
Datuk Mencang.
Para kerabat Kesultanan Bulungan
Sejak pemerintahan Datuk Mencang inilah timbulnuya
kerajaan Bulungan. Datuk Mencang adalah salah seorang putera Raja Brunei di
Kalimantan Utara
yang telah mempunyai bentuk pemerintahan teratur. Datuk Mencang
berlabuh di muara sungai Kayan Karena kehabisan persediaan air minum.
Dengan sebuah perahu kecil Datuk Mencang dan
Datuk Tantalani
menyusuri sungai Kayan mencari air tawar, tetapi suku bangsa Kayan sudah
siap menghadang kedatangan mereka. Mujur pihak Datuk Mencang dan Datuk
Tantalani cukup bijaksana dapat mengatasi keadaan dan berhasil
mengadakan perdamaian dengan penduduk asli sungai Kayan. Dari hasil
perdamaian ini akhirnya Datuk Mencang kawin dengan Asung Luwan, salah
seorang puteri keturunan Jauwiru.
Menurut legenda, lamaran Datuk Mencang atas Asung Luwan ditolak,
kecuali Pangeran dari Brunei itu sanggup mempersembahkan mas kawin
berupa kepala
Sumbang Lawing, pembunuh
Sadang, kakaknya.
Melalui perjuangan, ketangkasan dan kecerdasan, akhirnya Datuk Mencang
dapat mengalahkan Sumbang Lawing. Perang tanding dilakukan dengan uji
ketangkasan membelah jeruk yang bergerak dengan senjata. Datuk Mencang
lebih unggul dan meme-nangkan uji ketangkasan tersebut.
Setelah
Asung Luwan menikah dengan
datuk Mencang (
1555-
1594), berakhirlah masa pemerintahan di daerah Bulungan yang dipimpin oleh Kepala Adat/Suku, karena sejak
Datuk Mencang memimpin daerah
Bulungan, pemimpinnya disebut sebagai
Kesatria/Wira.
Berikut adalah daftar Sultan Bulungan, daftar berikut masih belum
sempurna, karena ada tahun yang hilang serta nama yang tidak diketahui.
[6]
Masa Pemerintahan Yang Dipimpin Oleh Seorang Kesatria/Wira
- Datuk Mencang (Seorang bangsawan dari Brunei), beristrikan Asung Luwan(1555-1594)
- Singa Laut, Menantu dari Datuk Mencang (1594-1618)
- Wira Kelana, Putera Singa Laut (1618-1640)
- Wira Keranda, Putera Wira Kelana (1640-1695)
- Wira Digendung, putra Wira Keranda (1695-1731)
- Wira Amir, Putera Wira Digendung Gelar Sultan Amiril Mukminin (1731-1777)
Masa Pemerintahan Yang Dipimpin Oleh Seorang Sultan
- Aji Muhammad/Sultan Alimuddin bin Muhammad Zainul Abidin/Sultan Amiril Mukminin/Wira Amir (1877-1817)
- Muhammad Alimuddin Amirul Muminin Kahharuddin I bin Sultan Alimuddin (jabatan ke-1) (1817-1861)
- Muhammad Jalaluddin bin Muhammad Alimuddin (1861-1866)
- Muhammad Alimuddin Amirul Muminin Kahharuddin I bin Sultan Alimuddin (jabatan ke-2) (1866-1873)
- Muhammad Khalifatul Adil bin Maoelanna (1873-1875)
- Muhammad Kahharuddin II bin Maharaja Lela (1875-1889)
- Sultan Azimuddin bin Sultan Amiril Kaharuddin (1889-1899).
- Pengian Kesuma (1899-1901). Ia adalah istri Sultan Azimuddin.
- Sultan Kasimuddin
- Datu Mansyur (1925-1930), Pemangku jabatan sultan
- Maulana Ahmad Sulaimanuddin (1930-1931) menikah dengan Tengku Lailan Syafinah binti alm. Tuanku Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rakhmat Shah (Sultan Langkat)[7]
- Maulana Muhammad Jalaluddin (1931-1958)
Orang Belanda menaklukkan Berau pada tahun 1834 dan dikenakan
kedaulatan Belanda terhadap Kutai pada tahun 1848, dan kemudian terhadap
Bulungan yang ditandatangani dengan Sultan Bulungan Kontrak Politik
pada tahun 1850. Bersemangat untuk memerangi pembajakan dan perdagangan
budak, bersedia untuk melawan pembajakan dan perdagangan budak, mereka
mulai untuk campur tangan di wilayah ini.
Dalam tahun 1853, Bulungan sudah dimasukkan dalam wilayah pengaruh Belanda.
[8]
Sampai tahun 1850,
Bulungan berada di bawah
Kesultanan Sulu.
[9] Selama periode ini, kapal Sulu pergi ke
Tarakan dan kemudian di Bulungan untuk perdagangan langsung dengan
Tidung. Pengaruh ini berakhir pada
1878 dengan penandatanganan perjanjian antara Inggris dan Spanyol yang dirancang untuk Sulu.
Pada 1881, Perusahaan Kalimantan Utara Chartered dibentuk, yang
merupakan Borneo utara di bawah yurisdiksi Inggris, tetapi Belanda mulai
menolak. Kesultanan itu akhirnya dimasukkan dalam kerajaan Hindia
Belanda pada tahun 1880-an kolonial. Orang Belanda menginstal sebuah pos
pemerintah di
Tanjung Selor pada tahun
1893.
Pada tahun 1900-an, seperti banyak negara-negara kerajaan lain di
kepulauan ini, Sultan terpaksa menandatangani Korte verklaring,
pernyataan "singkat" oleh yang menjual sebagian besar kekuasaannya atas
tanah hulu.
Orang Belanda akhirnya mengakui perbatasan antara dua wilayah hukum pada tahun
1915.
Kesultanan ini dikenakan status Zelfbestuur, "administrasi sendiri",
pada tahun 1928, lagi-lagi seperti banyak negara pangeran Hindia
Belanda.
Penemuan minyak di BPM (Bataafse Petroleum Maatschappij) di
pulau Bunyu dan Tarakan akan memberikan sangat penting bagi Bulungan untuk orang Belanda, karena Tarakan ibukota daerah.
Setelah pengakuan kemerdekaan Indonesia dari Kerajaan Belanda,
wilayah menerima status Wilayah Swapraja Bulungan atau "wilayah otonom"
di Republik Indonesia pada tahun 1950, maka Wilayah Istimewa atau
"wilayah khusus " pada tahun 1955. Sultan terakhir, Jalaluddin,
meninggal pada tahun 1958. kesultanan itu dihapuskan pada tahun 1959 dan
wilayah itu menjadi kabupaten yang sederhana.