Saturday, January 5, 2013

KESULTANAN BERAU(1377-1830)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Kesultanan Berau
Lokasi Kalimantan Timur Kabupaten Berau.svg
Wilayah Kesultanan Berau (pasca lepasnya wilayah Bulungan dan Tidung), Kalimantan Timur
Berdiri 1377
Didahului oleh tidak diketahui
Digantikan oleh Kesultanan Sambaliung
Kesultanan Gunung Tabur
Ibu kota Sungai Lati, Kecamatan Gunung Tabur
Bahasa Berau
Agama Hindu, Islam
Pemerintahan
-Raja pertama
-Raja terakhir
Monarki
Aji Raden Suryanata Kesuma,
Amir al-Muminin [1][2]
Sejarah
-Didirikan
-Zaman kejayaan
-Krisis suksesi

1377
1377-1830
1830
Kesultanan Berau adalah sebuah kerajaan yang pernah berdiri di wilayah Kabupaten Berau sekarang ini. Kerajaan ini berdiri pada abad ke-14 dengan raja pertama yang memerintah bernama Baddit Dipattung dengan gelar Aji Raden Suryanata Kesuma dan istrinya bernama Baddit Kurindan dengan gelar Aji Permaisuri. Pusat pemerintahannya berada di Sungai Lati, Kecamatan Gunung Tabur.[3] Sejarahnya kemudian pada keturunan ke-13, Kesultanan Berau terpisah menjadi dua yaitu Kesultanan Gunung Tabur dan Kesultanan Sambaliung. Sebelumnya daerah-daerah milik Berau yang telah memisahkan diri dan berdiri sendiri adalah Bulungan dan Tidung (kemudian ditaklukan Sultan Sulu).[4] Negara Berau kuno meliputi kawasan pesisir dari perbatasan mandala Kerajaan Brunei di Kinabatangan (kini termasuk Sabah) hingga Tanjung Mangkaliat di perbatasan dengan mandala Kerajaan Kutai. Salah satu dari lima daerah bagian Berau adalah Nagri Marancang. Kepala Nagri atau Orang tuanya bernama Rangga Si Kannik Saludai. Pengarappan atau Punggawanya Bernama Harimau Jantan, Lambu Tunggal dan Kuda Sambarani. Wilayah kekuasaannya dari Bulalung Karantigau, Kubuan Pindda, Mangkapadi, Bulungan Selimbatu, Sekatak Buji, Sekata Jelanjang, Betayu, Sesayap, Simangarris, Tawau, Segarung, Talluk Silam dan Kinabatangan berbatasan dengan Brunei.[5][6] Menurut perjanjian VOC-Belanda dengan Kesultanan Banjar, "negara Berau" (yang terdiri atas Gunung Tabur, Tanjung/Sambaliung, Bulungan dan Tidung) merupakan salah satu bekas negara dependensi/negara bagian di dalam "negara Banjar Raya".[7][8][9] Menurut Staatsblad van Nederlandisch Indië tahun 1849, wilayah ini termasuk dalam zuid-ooster-afdeeling yang beribukota di Banjarmasin berdasarkan Bêsluit van den Minister van Staat, Gouverneur-Generaal van Nederlandsch-Indie, pada 27 Agustus 1849, No. 8[10]

 Raja pertama

Aji Raden Suryanata Kesuma, dikenal sebagai seorang raja yang bijak dalam menjalankan pemerintahannya selama 32 tahun sekitar tahun 1400 hingga 1432[3] ada pula yang menyatakan dari 1377 sampai 1426[11] Dibawah pemerintahannya, Baddit Dipattung berhasil membawa rakyatnya sejahtera serta menyatukan beberapa wilayah pemukiman yang dikenal oleh masyarakat Berau dengan sebutan "Banua", di antaranya Banua Merancang, Banua Pantai, Banua Kuran, Banua Rantau Buyut dan Banua Rantau Sewakung. Dalam catatan sejarah, Aji Suryanata Kesuma dikenal sangat berpengaruh dan berwibawa, sehingga dia adalah figur raja yang disegani kawan dan ditakuti lawan. Nama Raja Berau yang pertama ini, kemudian diabadikan menjadi nama Korem 091/Aji Surya Natakesuma (ASN).[3] Kesultanan Brunei menyebut Berau dengan nama Kuran[12]

Hubungan Kesultanan Berau dan Kesultanan Banjar

Menurut Kakawin Nagarakretagama yang ditulis oleh Empu Prapañca tahun 1365 tidak menyebutkan nama Berau sebagai salah satu negeri yang telah ditaklukan Kerajaan Majapahit oleh Gajah Mada, kemungkinan Berau masih memakai nama kuno yang lainnya yaitu Sawaku/Sawakung (sebuah negeri lama di Kabupaten Berau). Hikayat Banjar[13] yang bab terakhirnya ditulis pada tahun 1663, menyebutkan hubungan Berau dengan Banjar pada masa Maharaja Suryanata, penguasa Banjar kuno abad ke-14 (waktu itu disebut Negara Dipa). Menurut Hikayat Banjar, sejak masa kekuasaan Maharaja Suryanata, pangeran dari Majapahit yang menjadi raja Negara Dipa (sebutan Banjar kuno pada masa Hindu), orang besar (penguasa) Berau sudah menjadi taklukannya, di sini hanya disebutkan orang besar, jadi bukan disebut raja seperti sebutan Raja Sambas dan Raja Sukadana. Berau dalam Hikayat Banjar disebutkan sebagai salah satu tanah yang di atas angin (= kerajaan di sebelah timur atau utara) yang telah membayar upeti. [14] Hubungan Berau dengan Kesultanan Banjar di masa Sultan Suryanullah/Sultan Suriansyah/Pangeran Samudera (1520-1546) disebutkan dalam Hikayat Banjar, waktu itu Berau salah satu negeri yang turut mengirim pasukan membantu Pangeran Samudera/Sultan Suriansyah dan juga salah satu negeri yang mengirim upeti. [15] Menurut Hikayat Banjar, pada pertengahan abad ke-17 Sultan Makassar (Gowa-Tallo) meminjam Pasir termasuk daerah ring terluar seperti Kutai, Berau dan Karasikan sebagai tempat berdagang kepada Sultan Banjar IV Mustain Billah/Marhum Panembahan pada waktu Kiai Martasura diutus ke Makassar dan mengadakan perjanjian dengan I Mangadacinna Daeng Sitaba Karaeng Pattingalloang Sultan Mahmud yaitu Sultan Tallo yang menjabat mangkubumi bagi Sultan Malikussaid Raja Gowa tahun 1638-1654. Maka sejak itu Berau tidak lagi mengirim upeti kepada Kesultanan Banjar. [13]

Jacob Mossel, Gubernur Jenderal VOC tahun 1750-1761
Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal VOC Jacob Mossel (1750-1761) dibuat perjanjian antara Sultan Sepuh/Tamjidullah I (1734-1759) dari Banjar dengan Kompeni Belanda ditandatangani pada 20 Oktober 1756. Dalam perjanjian tersebut Kompeni Belanda akan membantu Sultan Tamjidullah I untuk menaklukkan kembali daerah Kesultanan Banjar yang telah memisahkan diri termasuk di antaranya Berau, negeri-negeri tersebut yaitu Berau, Kutai, Pasir, Sanggau, Sintang dan Lawai serta daerah taklukannya masing-masing. Kalau berhasil maka Seri Sultan akan mengangkat Penghulu-Penghulu di daerah tersebut dan selanjutnya Seri Sultan memerintahkan kepada Penghulu-Penghulu tersebut untuk menyerahkan hasil dari daerah tersebut setiap tahun kepada Kompeni Belanda dengan perincian sebagai berikut :
  1. Berau, 20 pikul sarang burung dan 20 pikul lilin.
  2. Kutai, 20 pikul sarang burung dan 40 pikul lilin.
  3. Pasir, 40 tahil emas halus dan 20 pikul sarang burung, serta 20 pikul lilin
  4. Sanggau, 40 tahil emas halus dan 40 pikul lilin
  5. Sintang, 60 tahil emas halus dan 40 pikul lilin
  6. Lawai, 200 tahil emas halus, dan 20 pikul sarang burung
  • Sultan Adam
Pada masa Sultan Adam dari Banjar dibuat perjanjian dengan Belanda yang di antara pasalnya menyerahkan vazal-vazal Banjar termasuk negeri Berau dan daerah-daerah lain di Kalimantan kepada Hindia Belanda. Perjanjian itu terdiri atas 28 pasal dan ditandatangani dalam loji Belanda di Banjarmasin pada tanggal 4 Mei 1826 atau 26 Ramadhan 1241 H. Perjanjian inilah yang menjadi dasar hubungan politik dan ekonomi antara Kesultanan Banjar dengan pemerintah Hindia Belanda di Batavia. Dalam perjanjian tersebut Kerajaan Banjar mengakui suzerinitas atau pertuanan Pemerintah Hindia Belanda dan menjadi sebuah Leenstaat, atau negeri pinjaman.

Friday, January 4, 2013

KESULTANAN GUNUNG TABUR(1820-1960)

1. Sejarah

Kesultanan Gunung Tabur merupakan pecahan dari Kerajaan Berau. Bersama dengan Kesultanan Sambaliyung, Kesultanan Gunung Tabur pernah menyatu dalam satu nama dan sistem pemerintahan Kerajaan Berau. Awal mula perpecahan tersebut terjadi pada abad ke-17, yaitu ketika penjajah Belanda memasuki Kerajaan Berau dengan berkedok sebagai pedagang (VOC). Belanda kemudian menerapkan “devide et empera” (politik perpecahan) pada tahun 1810 yang menyebabkan Kerajaan Berau terpecah. Pecahnya kerajaan ini bersamaan dengan masuknya ajaran agama Islam ke Berau yang dibawa oleh Imam Sambuayan dengan pusat penyebarannya di sekitar Desa Sukan.
Kesultanan Gunung Tabur terletak di Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia. Fakta sejarah yang dapat membuktikan adanya kesultanan ini adalah istana Gunung Tabur. Bagan istana ini sebenarnya telah rusak sejak Perang Dunia ke-2. Namun, secara umum bangunan istana masih bisa dinikmati peninggalan sejarahnya. Letak istana ini berhadap-hadapan dengan Istana Sambaliyung. Istana Gunung Tabur terletak di tepi Sungai Sagan dan Istana Sambaliyung terletak di tepi Sungai Kelay.
Peninggalan kesultanan ini, di samping istana, juga terdapat Keraton Gunung Tabur. Letak keraton ini juga berhadapan dengan Keraton Sambaliyung yang dibelah oleh Sungai Berau. Tempat ini kemudian berubah sebagai Museum Batiwakkal, yang bisa dijangkau dalam waktu sekitar 20 menit melalui jembatan Segah atau tiga menit jika memilih naik ketinting. Museum ini dibangun pada 1990 dan diresmikan pada 1992. Di museum ini tersimpan sekitar 700 koleksi berharga berupa benda sejarah, keramik, benda arkeologis, etnografis, dan naskah. Kini, musem ini telah menjadi tempat wisata yang menarik dikunjungi oleh wisatawan. Para pengunjung juga dapat melihat kediaman Putri Keraton Gunung Tabur.

2. Silsilah

Silsilah Sultan dalam Kesultanan Gunung Tabur adalah sebagai berikut:

Zainul Abidin II bin Badruddin (1820-1834)
Ayi Kuning II bin Zainul Abidin (1834-1850)
Amiruddin Maharaja Dendah I (1850-1876)
Hasanuddin II Maharaja Dendah II bin Amiruddin (1876-1882)
Si Atas (1882- …)
(Bupati) Maulana Ahmad (…-1921)
Muhammad Khalifatullah Jalaluddin (1921-1951)
Aji Raden Muhammad Ayub (1951 – 1960)
NB: Masih ada sejumlah sultan yang belum tercatat secara lengkap periode kekuasaannya.

3. Periode Pemerintahan
Kesultanan Gunung Tabur berdiri sejak terpisah dari Kerajaan Berau, yaitu sejak tahun 1820 hingga menyatu kembali dalam tata pemerintahan Kabupaten Berau pada tahun 1960. Artinya bahwa kesultanan ini sempat eksis selama hampir satu setengah abad. Pada tahun 1960, bersama dengan Kesultanan Sambaliyung, Kesultanan Gunung Tabur secara resmi dihapuskan eksistensinya melalui keputusan parlemen Indonesia. Kesultanan Gunung Tabur kemudian menjadi nama sebuah kecamatan dalam lingkup Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur.

4. Wilayah Kekuasaan
Sebelum menyatu dengan Kabupaten Berau, wilayah kekuasaan Kesultanan Gunung Tabur meliputi daerah yang kini dikenal dengan nama Kecamatan Gunung Tabur.

Sumber :
Dinas Pariwisata Kab. Berau

KESULTANAN BULUNGAN(1731-1858)

[Bulungan former flag]
                       bendera asal
[Bulungan flag (Indonesia)]
                     bendera terkini?
  -SENARAI SULTAN BULUNGAN YANG MEMERINTAH;

1-PEMERINTAH (Bergelar Wira)

1695 - 1731                Digendung
1731 - 1777                Amir                                     (mangkat 1817)

2-Sultans
 
1777 - 1817                Aji Muhammad bin Muhammad Zainul Abidin  (s.a.)
                             (= Wira Amir)
1817 - 1861                Muhammad Alimuddin Amirul Muminin 

                             Kahharuddin I bin Muhammad 
                             Zainul Abidin (1st time)
1861 - 1866                Muhammad Jalaluddin bin Muhammad         (d. 1866) 
                             Kahharuddin
1866 - 1873                Muhammad Alimuddin Amirul Muminin 
                             Kahharuddin I bin Muhammad 
                             Zainul Abidin (2nd time)
1873 - 1875                Muhammad Khalifatul Adil
1875 - 1889                Muhammad Kahharuddin II bin 
                             Maharaja Lela
1889 - 1899                Muhammad Azimuddin                        (d. 18..)
1899 - 1901                Pangean Kesuma (f) -Regent
1901 - 1924                Muhammad Kasimuddin
1924 - 1929                Datu Mansyur -Regent
1929 - 27 Mar 1930         Maulana Ahmad Sulaimanuddin               (b. 1909 - d. 1930)
1930 - 21 Dec 1958         Maulana Muhammad Jalaluddin               (b. 1882 - d. 1958)
1958 - ....                Maulana Al Mamun bin Maulana
                             Muhammad Jalaluddin

23 Oct 2002 -              Maulana Muhammad Al Mamun                 (b. 1940)

 Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Kesultanan Bulungan atau Bulongan[1] adalah kesultanan yang pernah menguasai wilayah pesisir Kabupaten Bulungan, Kabupaten Malinau, Kabupaten Nunukan, dan Kota Tarakan sekarang. Kesultanan ini berdiri pada tahun 1731, dengan raja pertama bernama Wira Amir gelar Amiril Mukminin (1731–1777), dan Raja Kesultanan Bulungan yang terakhir atau ke-13 adalah Datuk Tiras gelar Sultan Maulana Muhammad Djalalluddin (1931-1958).[2] Negeri Bulungan bekas daerah milik "negara Berau" yang telah memisahkan diri[3] sehingga dalam perjanjian Kesultanan Banjar dengan VOC-Belanda dianggap sebagai bagian dari "negara Berau" (Berau bekas vazal Banjar).[4] Pada kenyataannya sampai tahun 1850, Bulungan berada di bawah dominasi Kesultanan Sulu.[5]

 Sejarah Kerajaan Bulungan


Istana Kesultanan Bulungan pada abad ke-20.

Sultan Jalaluddin bersama permaisuri (tahun 1940).

Atraksi Mendayung saat kedatangan pejabat kolonial ke Kesultanan Bulungan (hingga 1930).
Berdirinya Kerajaan Bulungan tidak dapat dipisahkan dengan mitos ataupun legenda yang hidup secara turun-temurun dalam masyarakat. Legenda bersifat lisan dan merupakan cerita rakyat yang dianggap oleh yang empunya cerita sebagai suatu kejadian yang benar-benar terjadi. Karena sifatnya yang tidak tertulis dan sering kali mengalami distorsi maka sering kali pula dapat jauh berbeda dengan kisah aslinya. Yang demkian itulah disebut dengan folk history (sejarah kolektif). Kuwanyi, adalah nama seorang pemimpin suku bangsa Dayak Hupan (Dayak Kayan) karena tinggal di hilir Sungai Kayan, mula-mula mendiami sebuah perkampungan kecil yang penghuninya hanya terdiri atas kurang lebih 80 jiwa di tepi Sungai Payang, cabang Sungai Pujungan. Karena kehidupan penduduk sehari-hari kurang baik, maka mereka pindah ke hilir sebuah sungai besar yang bernama Sungai Kayan.
Suatu hari Kuwanyi pergi berburu ke hutan, tetapi tidak seekorpun binatang yang diperolehnya, kecuali seruas bambu besar yang disebut bambu betung dan sebutir telur yang terletak di atas tunggul kayu Jemlay. Bambu dan telur itu dibawanya pulang ke rumah. Dari bambu itu keluar seorang anak laki-laki dan ketika telur itu dipecah ke luar pula seorang anak perempuan. Kedua anak ini dianggap sebagai kurnia para Dewa. Kuwanyi dan istrinya memelihara anak itu baik-baik sampai dewasa. Ketika keduanya dewasa, maka masing-masing diberi nama Jauwiru untuk yang laki-laki dan yang perempuan bernama Lemlai Suri. Keduanya dikawinkan oleh Kuwanyi.

Kisah Jauwiru dan Lemlai Suri kini diabadikan dengan didirikannya sebuah Monumen Telor Pecah. Monumen tersebut terletak di antara Jl. sengkawit dan Jl. Jelarai, Kota Tanjung Selor, yang mengingatkan kita tentang cikal bakal berdirinya kesultanan Bulungan.
Bulungan, berasal dari perkataan Bulu Tengon (Bahasa Bulungan), yang artinya bambu betulan. Karena adanya perubahan dialek bahasa Melayu maka berubah menjadi “Bulungan”. Dari sebuah bambu itulah terlahir seorang calon pemimpin yang diberi nama Jauwiru. Dan dalam perjalanan sejarah keturunan, lahirlah kesultanan Bulungan. Setelah Kuwanyi wafat maka Jauwiru menggantikan kedudukan sebagai ketua suku bangsa Dayak (Hupan). Kemudian Jauwiru mempunyai seorang putera bernama Paran Anyi.
Paran Anyi tidak mempunyai seorang putera, tetapi mempunyai seorang puteri yang bernama Lahai Bara yang kemudian kawin dengan seorang laki-laki bernama Wan Paren, yang menggantikan kedudukannya. Dari perkawinan Lahai Bara dan Wan Paren lahir seorang putera bernama Si Barau dan seorang puteri bernama Simun Luwan. Pada masa akhir hidupnya, Lahai Bara mengamanatkan kepada anak-anaknya supaya “Lungun” yaitu peti matinya diletakkan di sebelah hilir [[sungai Kipah]]. Lahai Bara mewariskan tiga macam benda pusaka, yaitu ani-ani (kerkapan). Kedabang, sejenis tutup kepala dan sebuah dayung (bersairuk). Tiga jenis barang warisan ini menimbulkan perselisihan antara Si Barau dan saudaranya, Simun Luwan. Akhirnya Simun Luwan berhasil mengambil dayung dan pergi membawa serta peti mati Lahai Bara.
Karena kesaktian yang dimiliki oleh Simun Luwan, hanya dengan menggoreskan ujung dayung pada sebuah tanjung dari sungai Payang, maka tanjung itu terputus dan hanyut ke hilir sampai ke tepi Sungai Kayan, yang sekarang terletak di kampung Long Pelban. Di Hulu kampung Long Pelban inilah peti mati Lahai Bara dikuburkan. Menurut kepercayaan seluruh keturunan Lahai Bara, terutama keturunan raja-raja Bulungan, dahulu tidak ada seorangpun yang berani melintasi kuburan Lahai Bara ini, karena takut kutukan Si Barau ketika bertengkar dengan Simun Luwan. Bahwa siapa saja dari keturunan Lahai Bara bila melewati peti matinya niscaya tidak akan selamat. Tanjung hanyut itu sampai sekarang oleh suku-suku bangsa Dayak Kayan dinamakan Busang Mayun, artinya Pulau Hanyut.
Kepergian Simun Luwan disebabkan oleh perselisihan dengan saudaranya sendiri, saat itu merupakan permulaan perpindahan suku-suku bangsa Kayan, meninggalkan tempat asal nenek moyang mereka di sungai Payang menuju sungai Kayan, dan menetap tidak jauh dari Kota Tanjung Selor, ibu kota Kabupaten Bulungan sekarang. Suku bangsa Kayan hingga sekarang masih terdapat di beberapa perkampungan di sepanjang sungai Kayan, di hulu Tanjung Selor, di Kampung Long Mara, Antutan dan Pimping. Simun Luwan mempunyai suami bernama Sadang, dan dari perkawinan mereka lahir seorang anak perempuan bernama Asung Luwan. Asung Luwan kawin dengan seorang bangsawan dari Brunei, yaitu Datuk Mencang.

Para kerabat Kesultanan Bulungan
Sejak pemerintahan Datuk Mencang inilah timbulnuya kerajaan Bulungan. Datuk Mencang adalah salah seorang putera Raja Brunei di Kalimantan Utara yang telah mempunyai bentuk pemerintahan teratur. Datuk Mencang berlabuh di muara sungai Kayan Karena kehabisan persediaan air minum. Dengan sebuah perahu kecil Datuk Mencang dan Datuk Tantalani menyusuri sungai Kayan mencari air tawar, tetapi suku bangsa Kayan sudah siap menghadang kedatangan mereka. Mujur pihak Datuk Mencang dan Datuk Tantalani cukup bijaksana dapat mengatasi keadaan dan berhasil mengadakan perdamaian dengan penduduk asli sungai Kayan. Dari hasil perdamaian ini akhirnya Datuk Mencang kawin dengan Asung Luwan, salah seorang puteri keturunan Jauwiru.
Menurut legenda, lamaran Datuk Mencang atas Asung Luwan ditolak, kecuali Pangeran dari Brunei itu sanggup mempersembahkan mas kawin berupa kepala Sumbang Lawing, pembunuh Sadang, kakaknya. Melalui perjuangan, ketangkasan dan kecerdasan, akhirnya Datuk Mencang dapat mengalahkan Sumbang Lawing. Perang tanding dilakukan dengan uji ketangkasan membelah jeruk yang bergerak dengan senjata. Datuk Mencang lebih unggul dan meme-nangkan uji ketangkasan tersebut.
Setelah Asung Luwan menikah dengan datuk Mencang (1555-1594), berakhirlah masa pemerintahan di daerah Bulungan yang dipimpin oleh Kepala Adat/Suku, karena sejak Datuk Mencang memimpin daerah Bulungan, pemimpinnya disebut sebagai Kesatria/Wira.
Berikut adalah daftar Sultan Bulungan, daftar berikut masih belum sempurna, karena ada tahun yang hilang serta nama yang tidak diketahui.[6]

 Masa Pemerintahan Yang Dipimpin Oleh Seorang Kesatria/Wira

  • Datuk Mencang (Seorang bangsawan dari Brunei), beristrikan Asung Luwan(1555-1594)
  • Singa Laut, Menantu dari Datuk Mencang (1594-1618)
  • Wira Kelana, Putera Singa Laut (1618-1640)
  • Wira Keranda, Putera Wira Kelana (1640-1695)
  • Wira Digendung, putra Wira Keranda (1695-1731)
  • Wira Amir, Putera Wira Digendung Gelar Sultan Amiril Mukminin (1731-1777)

Masa Pemerintahan Yang Dipimpin Oleh Seorang Sultan

  • Aji Muhammad/Sultan Alimuddin bin Muhammad Zainul Abidin/Sultan Amiril Mukminin/Wira Amir (1877-1817)
  • Muhammad Alimuddin Amirul Muminin Kahharuddin I bin Sultan Alimuddin (jabatan ke-1) (1817-1861)
  • Muhammad Jalaluddin bin Muhammad Alimuddin (1861-1866)
  • Muhammad Alimuddin Amirul Muminin Kahharuddin I bin Sultan Alimuddin (jabatan ke-2) (1866-1873)
  • Muhammad Khalifatul Adil bin Maoelanna (1873-1875)
  • Muhammad Kahharuddin II bin Maharaja Lela (1875-1889)
  • Sultan Azimuddin bin Sultan Amiril Kaharuddin (1889-1899).
  • Pengian Kesuma (1899-1901). Ia adalah istri Sultan Azimuddin.
  • Sultan Kasimuddin
  • Datu Mansyur (1925-1930), Pemangku jabatan sultan
  • Maulana Ahmad Sulaimanuddin (1930-1931) menikah dengan Tengku Lailan Syafinah binti alm. Tuanku Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rakhmat Shah (Sultan Langkat)[7]
  • Maulana Muhammad Jalaluddin (1931-1958)
Orang Belanda menaklukkan Berau pada tahun 1834 dan dikenakan kedaulatan Belanda terhadap Kutai pada tahun 1848, dan kemudian terhadap Bulungan yang ditandatangani dengan Sultan Bulungan Kontrak Politik pada tahun 1850. Bersemangat untuk memerangi pembajakan dan perdagangan budak, bersedia untuk melawan pembajakan dan perdagangan budak, mereka mulai untuk campur tangan di wilayah ini.
Dalam tahun 1853, Bulungan sudah dimasukkan dalam wilayah pengaruh Belanda.[8]
Sampai tahun 1850, Bulungan berada di bawah Kesultanan Sulu.[9] Selama periode ini, kapal Sulu pergi ke Tarakan dan kemudian di Bulungan untuk perdagangan langsung dengan Tidung. Pengaruh ini berakhir pada 1878 dengan penandatanganan perjanjian antara Inggris dan Spanyol yang dirancang untuk Sulu.
Pada 1881, Perusahaan Kalimantan Utara Chartered dibentuk, yang merupakan Borneo utara di bawah yurisdiksi Inggris, tetapi Belanda mulai menolak. Kesultanan itu akhirnya dimasukkan dalam kerajaan Hindia Belanda pada tahun 1880-an kolonial. Orang Belanda menginstal sebuah pos pemerintah di Tanjung Selor pada tahun 1893. Pada tahun 1900-an, seperti banyak negara-negara kerajaan lain di kepulauan ini, Sultan terpaksa menandatangani Korte verklaring, pernyataan "singkat" oleh yang menjual sebagian besar kekuasaannya atas tanah hulu.
Orang Belanda akhirnya mengakui perbatasan antara dua wilayah hukum pada tahun 1915. Kesultanan ini dikenakan status Zelfbestuur, "administrasi sendiri", pada tahun 1928, lagi-lagi seperti banyak negara pangeran Hindia Belanda.
Penemuan minyak di BPM (Bataafse Petroleum Maatschappij) di pulau Bunyu dan Tarakan akan memberikan sangat penting bagi Bulungan untuk orang Belanda, karena Tarakan ibukota daerah.
Setelah pengakuan kemerdekaan Indonesia dari Kerajaan Belanda, wilayah menerima status Wilayah Swapraja Bulungan atau "wilayah otonom" di Republik Indonesia pada tahun 1950, maka Wilayah Istimewa atau "wilayah khusus " pada tahun 1955. Sultan terakhir, Jalaluddin, meninggal pada tahun 1958. kesultanan itu dihapuskan pada tahun 1959 dan wilayah itu menjadi kabupaten yang sederhana.

KERAJAAN DJONGKONG(1800-1917)




   LATAR BELAKANG 
 
Menurut kisah “Jongkong” berasal dari salah satu nama tumbuhan atau kayu yang dalam bahasa setempat disebut ”Jungkung” (libut). Sejenis kayu yang lembut,mengapung atau timbul,jika diatas air,tapi sulit dipotong.
Karakteristik kayu libut memang unik, lembut tapi “liut”, ibaratkan sifat manusia yang lemah lembut, tapi sulit ditundukkan. Tumbuhan ini hidup diatas air, sesuai ciri kawasan yang rendah dan mudah tergenang air.
Nama Jongkong terdapat pula di Tanjung Balai Karimun yaitu sebuah kawasan yang kaya dengan tambang tembaga. Tak jelas, memang apakah ada hubungan anatara Kota Jongkong di Muara Sungai Embau dengan Kota Jongkong di Tanjung Balai Karimun Propinsi Riau.
Apakah nama kedua kota ini yang kebetulan sama karena serupun kaum melayu, atau memang kota ini didirikan oleh orang riau dulunya? ( allahu a’lam bissahawab ).




  1.     TUAH JONGKONG
Sebuah kota yang terletak dipinggir sungai dimuara batang embau berderetan rumah tinggi terbuat dari tiang-tiang tembesu dan lanting-lanting yang membentang sepanjang bibir sungai. Sebuah kota yang semakin ramai dan galak perkembangannya dari gari kehari .
Disetiap sudut kota, berdiri masjid dan surau yang menandai kota yang bernuansa religious berprndudukan yang paling besar dari suku melayu yang menganut agama islam.
Kota air memang lebih cocok buat jongkong, karena letak kota di dataran rendah dan pemukiman penduduk dibawah hamparan bukit senara dan bukit semujan yang berdiri kokoh.
Tak jelas berdirinya kota ini, yang pasti jongkong bukan hongkong, tapi mirip dari segi aktifitas, dengan semangat anak melayu yang rajin dan gembar berdagang, serta memiliki keunikan budaya yang khas berupa, “ Lomba Aruk “ seperti lomba sampan serupa dengan perahu naga di negeri cina.
Jongkong tak pernah sepi dan tak hirau dengan kegalauan orang akan kemacetan jalan dilintas selatan. Kota ini seakan mempunyai tuah dan penuh rahmat dan berkah .

  1. B.     SEJARAH BERDIRINYA KERAJAAN JONGKONG
Raja Jongkong yang pertama adalah Abang Jembu yang menikah dengan Putri Galuh, dari perkawinan Abang Jembu alias Abang Tedung Bergelar Kiyai Pati Uda melahirkan seorang anak yang bernama Abang Usman bergelar Pangeran Kusuma dan Abang Abdurllah yang bergelar Raden Nata Serta Abang Alam yang bergelar Pangeran Mangku Negeri.
Berdasarkan sumber sejarah ( ethoven : 1903 )” bujak adalah adalah keturunan semagat dari Suku Dayak Embaloh Palin disungai Ulak Limau Temau yang setelah menjadi mualaf kemudian menetep di Muara Ulak Landau Tahun 1860.
Bujak menikah dengan cucu kiyai pati uda dan setelah menjadi muslim, bujak berganti nama Gusti Abdul Arab Alias H. Abdul Samad Putra 2 orang yaitu gusti Sulaiman Landung dan Putrid Rondu.
Abdul arab pernah memimpin ini tak kala menjadi kevakuman kepemimpinan setelah wafatnya abang abdurlah alias raden nata ( 1850-1864 )
Dalam catatan “ jongkong State Founded Tahun 1890-1917” tercatat bahwa raja-raja yang pernah memerintah  kerajaan jongkong adalah :
  1. Abang jombu bin abang tedung bergelar kiyai pati uda ( 1800 – 1864 )
  2. Abang abdurlah bergelar raden nata ( 1850-1864 )
  3. Abang abdul arab bergelar pangeran muda suria Negara ( 1864-1866 )
  4. Abang abdurllah  bin abang unang bergelar pangeran haji muda gusti alam  1886-1917 yang disahkan melalui akte van verban tanggal 11 desember 1899 yang disahkan oleh yang mulia seri paduka government general van naderland indie pada tanggal 19 februari 1900, sebagai raja pertama yang bergelar pangeran muda, gusti alam.
Gusti sulaiman ladung anak dari gusti abdul arab kemudian menikah dengan putrid masinti, dilanjutkannya pernikahan antara gusti sulaiman ladung dan putrid masinti mendapatkan anaka yang bernama :
  1. Gusti Alam
  2. Gusti Muhammad Umar
  3. Gusti Hamzah
Setelah meninggalnya sulaiman ladung, maka diangkatlah putra tertua dari ketiga bersaudara yaitu gusti alam yang bergelar gusti alam putra Negara pangeran yang muda beristrikan putrid rahmah suria ( suadara kandung penebahan selimbau ).
Dari pernikahan ini mendapat putrid bernama luk luai maznun yang sehari-hari dipanggil putrid nun. Anak semata wayang ini menikah dengan raden Mahmud anak kandung penebahan selimbau yang melahirka 4 orang anak yaitu ;
  1. Gusti Muhammad Saleh Mahmud
  2. Putrid Hijriah Binti Raden Mahmud
  3. Gusti Muhammad Nuh Mahmud
  4. Gudti Mazdalifah Mahmud
Dalam catatan terakhir bahwa gusti Muhammad Saleh Mahmud merupakan salah satu seseorang camat yang bertugas di Jongkong.

  1. C.    ORANG EMBAU DAN DEMANG NUTUB
Demang Nutub anak kandung Jebair irwan dari kabupaten sintang adalah orang kuat yang mempunyai kesaktian yang luar biasa. Dalam pengembaraannya kekapuas hulu, Demang Nutup menikah dengan di Nanga Letuh kawasan sungai embau, yaitu :
  1. Ne’ Riam Sunsang, bermukiman di Nanga Leteuh dan disana ada tangga melintang yang bernama tangga kanji.
  2. Pukat jarang, bermukiman di Nanga Mentok sebelah hulu Desa Bugang atau sebelah Hilir Desa kelakar.
  3.  Raga Rambang, bermukiman di Riam Ara atau Namga Lidi
  4. Remi, bermukiman di Ribang Tamang Jongkong dengan tanda Kucilang Besi yang menurut orang-orang melayu di jongkong dan disekitarnya.
Dalam buku Khasana yang Bertabur di Nusantara diceritakan Demng nutup mati raib atau menghilang disungai Suhaid sewaktu menangkap kijang emas.
Keturuna pertama Demang nutub yang masuk islam adalah Abang Tajak yang bergelar Abang tajakSuriadilaga Paku Negara yang menjadi raja selimbau.
Orang emabau dikenal sebagai kaum pengelana ( hijriah ) sesuai dengan Krakteristik Demang Nutub yang gagah berani.
Dalam sebuah dokumentasi yang disampaikan tuan Donald Tick tanggal 24 september ( pusat dokumentasi kerajaan-kerajaan Indonesia pusaka yang beralamat di Bleiswijk Street 52c 3135 AM Vlserdingen naderland ), dalam kerajaan sanggau dituliskan bahwa : “ adapun pengganti dari dayang mas ( yang keturunan Dara Nate Raja Sanggau ) adalah dayang puasa yang bergelar Nyai Sura yang bersuamikan Kiyai Patih Gemuk dan beranakan Abang Renggang setelah Kiyai Patih Gemuk meninggal, maka barulah Nyai Sura menggantikan kedudukan suaminya. Kemudian Nyai Sura menikah dengan Abang Awal dari kerajaan Embau Hulu Kapuas mempunyai 4 orang anak yaitu :
  1. Abang Djalal bertahta di Balai Lindi – Melawi
  2. Abang Nurul Kamal Bertahta dan menjadi penebahan di Sanggau
  3. Abang Djauhir yang menjadi penebahan kerajaan disintang

  1. A.    KESIMPULAN
Telah dijelasakan diatas bahwa mayorita di kerajaan jongkong adalah masyarakat muslim yaitu menganut agama islam.
Banyak terjadinya silsilah kekeluargaan nyambung – menyambung
Pengghasilan masyarakat dijongkong adalah berdagang dan perkerja kerasa dan orang jongkong dan sekitarnya boleh disebut juga kaum pengelana ( hijrah ).

  1. B.     SARAN
Dari kesimpulan diatas kerajaan ini merupakan ujung tombak untuk berfikir dan memahami serta mengambil hikmah dari keuleten mereka pada masa itu. Dengan kesederhanaan letak yang strategis kerjaan ini juga ramai dengan hiruk piruk disepanjang jalan lintas selatan.


DAFTAR PUSTAKA

Putussibau, 5 shafar 1428 H
Penyunting : Drs. H. Akhmad Alias



Thursday, January 3, 2013

KERAJAAN NANGA BUNUT(1815-1909)

Sejarah kerajaan Bunut -petikan dari blog dengan bahasa indonesia


keris raja

tongkat raja

Seperti biasa Mahyudin sangat antusias dengan segala kegiatan penelitian kami, sore ini sudah menunggu di halaman depan rumah pak Wim. Seperti yang ia janjikan kami akan dibawa bertemu dengan salah seorang ahli waris kerajaan bunut, pak Raden Sudarso namanya. Beliau tinggal di kampung Hilir (desa Bunut Hilir). Sebelum berangkat kerumah pak Su (panggilan pak Sudarso) Fahri dan Kukuh sempat berdiskusi cukup panjang mengenai masalah yang sebenarnya cukup sederhana menurut saya. Hari ini kami semestinya bertarawih di masjid Kampung Hilir bersama pak Wim, tapi karena janji dengan pak Su rencana Tarawih pun di batalkan. Permasalahannya adalah bagaimana cara mengatakan dengan halus kepada pak Wim sang kepala desa bahwa kami hari ini tidak akan ikut bertarawih dengan beliau. Apakah kami akan membagi kelompok: satu orang menemani pak Wim sholat di Hilir dan sisanya wawancara dengan Pak su atau solusi lainnya. Setelah berdebat cukup panjang belakangan diketahui bahwa pak Wim sudah berangkat tarawih sendirian. Dan pak Su setelah ditelpon pun tidak bisa ditemui langsung pada saat itu karena beliau ternyata bertarawih di masjid Hulu, masjid yang sama tempat pak Wim sholat. Alhasil karena kemalasan dan demi efisiensi waktu kami berempat (saya, Fahri, Kukuh dan bang Mahyudin) memutuskan untuk bertarawih di Surau terdekat dari rumah, surau yang bilangan rakaatnya paling sedikit.
Selesai tarawih kami berjalan kearah barat Nanga Bunut menuju kampung Hilir (masyarkat setempat biasa menyebut desa Bunut Hilir dengan Kampung Hilir saja)jalan menuju rumah pak Su berada tepat dibelakang kantor kecamatan, satu jalan dengan kantor KUA, puskesmas dan kantor korem (cek lagi). Sebelumnya kami belum pernah melewati daerah ini. Suasana sepi karena sedang hujan gerimis, tampaknya tidak ada yang berminat keluar atau sekedar duduk-duduk diberanda rumah pada cuaca seperti ini. Selama perjalanan menuju rumah pak su seperti biasa bang Mahyudin terusmengoceh memberikan informasi-informasi yang menurutnya perlu kami ketahui dengan gayanya yang humoris. Termasuk informasi kalau untuk mencium tangan pak Su jika kami bertemu dengan beliau.
Diberanda rumah pak Su ada ibu Dayang (istri pak Su) dan Deni, dia masih kerabat jau dengan pak Su. Belakangan di ketahui bahwa walaupun Deni masih berkerabat dengan Pak Su tapi dia belum pernah sekalipun diizinkan untuk melihat pusaka kerajaan. Dan setelah mengetahui dari Mahyudin bahwa kami semua akan dipertontonkan pusaka kerajaan oleh pak Su maka diapun sudah stand by di rumah
Pak Su sebelum kedatangan kami. Pak Su belum berada di rumah, lalu kami terlibat percakapan basa basi dengan Deni sementara bu Dayang bergegas ke dalam untuk membuatkan sepoci the hangat untuk kami.
Deni yang sekarang sudah semakin kelihatan rasa tidak sabar dan penasarannya berinisiatif untuk menelpon pak Su, terjadi percakapan dalam bahasa Hulu antara Deni dan pak Su. Dalam bahasa Hulu Mahyudin menanyakan apa yang di katakan pak Su kepada Deni didalam tepon. Lalu dia (Mahyudin) menerangkan kepada kami bertiga dalam bahasa Indonesia kalau pak Su sedikit lebih lama di masjid karena urusan pesantren anak nya yang bersekolah di Tsanawiyah.
Sedangkan apabila seorang laki-laki berdarah bangsawan menikah dengan perempuan biasa maka istrinya juga tidak akan mendapat gelar bangswan tapi anak-anak mereka akan menjadi bagian dari istana. Semua anak mereka akan mendapat gelar kebangsawanan.
Kerajaan bunut didirikan oleh tiga bersaudara yang berasal dari tanah jawa (jogjakarta), masing masing mereka bertekat untuk mendirikan sebuah negri yang sejahtera. Maka mereka bertiga berembuk untuk membagi daerah mana yang akan menjadi daerah kekuasaan mereka. Maka didapatlah sebuah kesepakatan Raden Setia Abang Berita mendapat bagian memerintah di Bunut, dua orang saudara nya yang lain memerintah di embaloh dan daerah kapuas. Sang kakak yang memerintah di Kapuas kemudia pulang ke tanah Jawa karena takut tidak ada yang akan memerintah kerajaan yang disana, maka ia menyerahkan tanah kerajaan yang di Kapuas kepada Abang berita untuk dipimpin. Maka bertambah luaslah wilayah kerajaan bunut. Akan tetapi kemudian hari didapat berita bahwa sudah ada yang melanjutkan pemerintahan kerajaan di tanah Jawa, walaupun begitu sang kakak terlanjur malu untuk kembali ke Kalimantan untuk meminta kembali kerajaan kapuas yang telah diserahkan kepada sang adik Abang Berita. Kerajaan ini diresmikan pleh pemeritah kolonial Belanda pada tahun 1877 didalam Surat asisten residen Sintang nomor 91 tahun 1877 pada tanggal 19 januari 1877. Namun sebenarnya kerjaan ini sudah berdiri 62 tahun sebelum disahkan oleh pemerintah kolonial Belanda.
Kampung pemukiman pertama di negri bunut adalah bernama kampung Palin, diawal pendudukan Abang Berita melakukan ekspansi dan pendudukan di tanah Kalimantan dia menaklukkan bangsa Dayak yang pada saat itu masih menganut animisme. Rakyat negri bunut pada awal kerajaan terbentuk sangat sedikit, tidak lebih dari 100 orang. Kebanyakan diantara mereka adalah Dayak, kemungkinan mereka kemudian masuk Islam dengan cara kawin dengan pasukan (tentara) tiga orang Raja yang datang dari tanah Jawa ini.
Pada saat sekarang mereka mereka mengidentifikasi diri mereka sebagai orang Melayu Bunut, menarik bahwa sebagai sebuah kerajaan yang dibentuk dari hasil penaklukkan bangsa Jawa kebudayaan mereka sangat kental dengan unsur Melayu Sumatra. Hal ini terlihat sangat jelas dari bahasa yang mereka dunakan (bahasa Melayu Hulu atau sering disebut sebagai bahasa Hulu saja), banyak ragam kosakata yang sangat dekat bunyinya dengan kosakata bahasa melayu sumatra (Riau, Sumbar dan sekitarnya) seperti cara pemanggilan didalam keluarga (atok, inik, ayi, mamak, abang, kakak, mak ngah, angko dan lain sebagainya). Beberapa kesenian tradisional yang diaku sebagai milik mereka seperti tari zapin, alat-alat musik. Arsitektur bangunan yang sangat mirip dengan arsitektur melayu riau, lalu hal ini juga terlihat pada motif2 kerajinan kerajaan (pada payung raja, pada tenunan kain raja dan lain sebagainya). Tapi walaupun begitu pengaruh dayak dan jawa juga terlihat, beberapa kata dalam bahasa hulu memuliki bunyi dan dan makna yang sama dengan kata dalam bahasa dayak kantuk. Pengaruh jawa terlihat dari gelar2 gelar kerajaan seperti raden, gusti , ratu pangeran dan lain sebagainya. Satu peninggalan kerajaan yang sangat bercirikan jawa adalah keris Raja. Menurut pak raden Sudarso keris ini pernah diminta kembali oleh keraton Jogja karta tapi demi menjaga amanah leluhur beliau menolak untuk mengembalikan keris ini.
Pak Su menjawab pertanyaan-pertanyaan kami dengan dengan nada yang lembut, perlahan dengan artikulasi yang sangat jelas dia menekankan kata-kata yang dianggapnya penting, kata-kata yang keluar dari mulitnya tertata rapi secara umum saya menilai pak Su berusaha untuk tampil seformal mungkin didepan kami. Bahkan ketika Mahyudin memancingnya berkelakar dalam bahasa hulu dia terkesan tidak terlalu mengapresiasi kelakar Mahyudin. Hal ini juga terlihat dari bahasa tubuh pak Su, dia menunjukkan arah dengan menggunakan ibu jari kanan. Hal ini tidak bias di bagi orang bunut. Saya tidak bisa menilai apakah semua bangsawan kerajaan Bunut seperti ini atau tidak.
Walaupun pak Su tidak mengetahui dengan pasti sampai seberapa luas wilayah kekuasaan bunut, saya mengira cukup luas karena Jongkong dan embaloh juga masuk wilayah kerajaan. Dan yang pasti adalah menurut pak Su danau Siawan dan Pontu masuk kedalam wilayah kekuasaan kerajaan Bunut. Ada tradisi yang masa kerajaan yang masih dilakukan masyarakat samapi sekarang, pada masa kerajaan raja membuat peraturan agar tidak membuang kepala ikan biawan kedalam sungai tapi harus dibuang ke daratan. Karena dipercaya belatung dari kepala-kepala ikan yang membusuk ini akan menjadi lebah.
Beberapa benda pusaka kerajaan yang ada disimpan oleh pak Su adalah :
Tongkat kerajaan, tongkat ini terbuat dari kayu belian bagian ujung yang menjadi pegangan terbuat dari tulang. Menurut pak Su tongkat ini sudah dimiliki oleh keluarganya selama empat generasi. Ketika dipegang oleh kakeknya tongkat ini mengeluarkan bau harum. Ketika seseorang mengukur tongkat ini dengan jengkal maka ketika dia mengukur untuk yang kedua kalinya hasilnya tidak akan pernah sama. Jika jari kelingking seseorang berada tepat di ujung tongkat ketika jengkalan yang kedua dia diramalkan bisa menjadi seorang pemimpin, menurut pak Su selama tongkat ini dia pegang hanya ada tiga orang yang mengukur tongkat dengan pas yaitu bupati dan wakil bupati Kapuas Hulu sekarang dan mantan Bupati Kapuas Hulu dari periode sebelumnya.
Gentong keramat yang terbuat dari tanah liat, gentong keramat ini menurut pak Su bisa berpindah tempat. Karena gentong ini terus mengikutinya ketika terus mengikutinya ketika pindah rumah dia memukul mulut gentong dengan palu. Setelah itu gentong keramat tidak bisa lagi berpindah tempat secara gaib, tapi semenjak pemukulan mulut gentong oleh pak Su beliau arwah penghuni gentong marah dan menghatui pak Su. Setelah minta maaf baru makhluk halus penunggu gentong ini tenang dan tidak mengganggu lagi. Ada satu pantangan ketika melihat gentong, dilarang melihat bagian dalam gentong karena akan mengakibatkan orang yang melihat tersebut kerasukan yang tidak bisa disembuhkan.
Keris raja. Dilihat dari fisik keris ini tidak ada nuansa melayu sedikit pun sepengetahuan saya keris ini sangat mirip sekali dengan keris Jawa. Menurut pak su keris ini dibawa oleh raja dari tanah Jawa. Menurut pak Su keris ini bisa mendatangkan hujan, beliau mmbisikkan doa sambil menempelkan keris tersebut dikeningnya sebelum mencabut keris dari sarangnya. Dan 10 menit kemudian terjadi hujan lebat, dan ajaibnya beberapa saat setelah keris dimasukkan kembali kedalam sarungnya hujan kembali mereda digantikan oleh rintik-rintik kecil.
Selama kunjungan kerumah pak Su hanya tongkat dan keris yang dia tunjukkan kepada kami, menurut Mahyudin kami termasuk orang yang beruntung dapat melihat benda-benda kerajaan ini. Karena kami berkunjung pada malam hari jadi jadi agak kurang pantas untuk mengeluarkan semua benda-benda kerajaan.

KESULTANAN TAYAN(1450-KINI)


Sejarah Kesultanan Tayän Kalimantan Barat

Pendiri Kerajaan Tayän adalah putra brawijaya dari Kerajaan Majapahit yang bernama TIKI Likar / Lekar. Bersama dengan saudara-saudaranya, TIKI Likar meninggalkan Kerajaan Tanjungpura yang Sering terlibat peperangan. Pemerintahan Kerajaan Tayän kemudian dipegang oleh TIKI Ramal bergelar Pangeran Marta Jaya Yuda Kesuma, putra Pangeran Mancar pendiri Kerajaan Meliau yang adalah kemenakan TIKI Likar. Mula-Mula ibukota Kerajaan berlokasi di Teluk Kemilun. Setelah Pangeran Marta Jaya Yuda Kesuma wafat, putranya yang tertua, Suma Yuda, Naik takhta dengan gelar Panembahan Tua. Panembahan Seterusnya> adalah putra Panembahan Tua, bernama TIKI Mekah dengan gelar Panembahan Nata Kesuma yang disebut juga Panembahan Muda. Pada waktu Pemerintahan Nata Kesuma Kerana itulah Kerajaan Tayän Mula-Mula memeterai kontrak (Korte verklaring) dengan Pemerintahan Hindia Belanda pada 12 November 1822. pontianak.web.id Pangeran Nata Kesuma mangkat pada 1825 dengan tidak meninggalkan keturunan. Takhta Kerajaan kemudian diduduki oleh saudaranya yang bernama TIKI Repa dengan gelar Pangeran Ratu Kesuma. Beliau memerintah hanya selama 3 tahun hingga 1828 karena wafat. Penggantinya adalah saudara Panembahan Tua, Utin Belondo dengan gelar Ratu Utin Belondo yang juga digelar Ratu Tua. Pemerintahan dilaksanakan oleh suaminya, Hassan TIKI Pangeran Ratu Kesuma dengan gelar Panembahan Mangku Negara Surya Kesuma. Tahun 1855 Panembahan Mangku Negara Surya Kesuma digantikan oleh putranya yang bernama TIKI Inding dengan gelar sama dengan Ayahnya. Tahun 1858, Belanda mengganti gelar Mangku dengan Anum Paku, sehingga TIKI Inding kemudian bergelar Panembahan Anum Paku Negara Surya Kesuma. Karena pontianak.web.id Panembahan Anum Paku Negara Surya Kesuma tidak mampu memimpin Pemerintahan dan tidak berputra, Pemerintahan kemudian diserahkan kepada saudaranya, TIKI Kerma Pangeran Ratu Paku Negara dengan gelar Panembahan kasim II Kesuma Negara. Panembahan Anum Paku Negara Surya Kesuma mangkat pada 23 November tahun 1873 di Batang Tarang. Panembahan kasim II Kesuma Negara memerintah sampai tahun 1880 dan digantikan oleh putra tertuanya, TIKI Mohamad Ali alias TIKI Inding dengan gelar Panembahan Paku Negara Surya Kesuma. Ibukota Kerajaan kemudian dipindahkan dari Rayang ke Tayän. Pada 26 Februari 1890, Kerajaan Meliau digabungkan ke dalam Kerajaan Tayän. pontianak.web.id Paku Negara Surya Kesuma, mangkat pada tahun 1905 dan dimakamkan di Tayän. Beliau diganti oleh TIKI Tamzid Pangeran Ratu bergelar Panembahan Anum Paku Negara. Pada masa Pemerintahan Panembahan Anum Paku Negara, Meliau kembali diserahkan kembali atas permintaan Belanda sendiri menjadi Gouvernement Gebied Mangkatnya Panembahan Anum Paku Negara, putra mahkota yang tertua, TIKI Jafar dinobatkan Naik takhta Kerajaan dengan gelar Panembahan Anum Adi Negara. Pada tahun 1944, TIKI Jafar dan TIKI Makhmud sebagai Ahli Waris Kerajaan jatuh menjadi korban Jepun. pontianak.web.id Setelah Jepun cangkem pada Perang Dunia II, TIKI Ismail dinobatkan menjadi Panembahan Kerajaan Tayän dengan gelar Panembahan Paku Negara. Tahun 1960, beliau masih memerintah dan Pemerintahan swaparja berakhir. TIKI Ismail kemudian menjabat Wedana di Tayän. Ibukota kewedanaan kemudian dipindahkan ke Sanggau, sedangkan bekas Kerajaan Tayän menjadi ibu kota Kecamatan Tayän Hilir Sumber: Arsip pontianak.web.id Ogos 2008  http://www.pontianak.web.id
 Kerajaan Tayän adalah sebuah Kerajaan yang dimulai awal Abad 15 atau sekitar tahun 1450. Pendiri Kerajaan Tayän adalah putra brawijaya dari Kerajaan Majapahit yang bernama TIKI Likar / Lekar. Bersama dengan saudara-saudaranya, TIKI Likar meninggalkan Kerajaan Tanjungpura yang Sering terlibat peperangan. Pemerintahan Kerajaan Tayän kemudian dipegang oleh TIKI Ramal bergelar Pangeran Marta Jaya Yuda Kesuma, putra Pangeran Mancar pendiri Kerajaan Meliau yang adalah kemenakan TIKI Likar. Mula-Mula ibukota Kerajaan berlokasi di Teluk Kemilun. Setelah Pangeran Marta Jaya Yuda Kesuma wafat, putranya yang tertua, Suma Yuda, Naik takhta dengan gelar Panembahan Tua. Panembahan Seterusnya> adalah putra Panembahan Tua, bernama TIKI Mekah dengan gelar Panembahan Nata Kesuma yang disebut juga Panembahan Muda. Pada waktu Pemerintahan Nata Kesuma Kerana itulah Kerajaan Tayän Mula-Mula memeterai kontrak (Korte verklaring) dengan Pemerintahan Hindia Belanda pada 12 November 1822. Pangeran Nata Kesuma mangkat pada 1825 dengan tidak meninggalkan keturunan. Takhta Kerajaan kemudian diduduki oleh saudaranya yang bernama TIKI Repa dengan gelar Pangeran Ratu Kesuma. Beliau memerintah hanya selama 3 tahun hingga 1828 karena wafat. Penggantinya adalah saudara Panembahan Tua, Utin Belondo dengan gelar Ratu Utin Belondo yang juga digelar Ratu Tua. Pemerintahan dilaksanakan oleh suaminya, Hassan TIKI Pangeran Ratu Kesuma dengan gelar Panembahan Mangku Negara Surya Kesuma. Tahun 1855 Panembahan Mangku Negara Surya Kesuma digantikan oleh putranya yang bernama TIKI Inding dengan gelar sama dengan Ayahnya. Tahun 1858, Belanda mengganti gelar Mangku dengan Anum Paku, sehingga TIKI Inding kemudian bergelar Panembahan Anum Paku Negara Surya Kesuma. Karena Panembahan Anum Paku Negara Surya Kesuma tidak mampu memimpin Pemerintahan dan tidak berputra, Pemerintahan kemudian diserahkan kepada saudaranya, TIKI Kerma Pangeran Ratu Paku Negara dengan gelar Panembahan kasim II Kesuma Negara. Panembahan Anum Paku Negara Surya Kesuma mangkat pada 23 November tahun 1873 di Batang Tarang. Panembahan kasim II Kesuma Negara memerintah sampai tahun 1880 dan digantikan oleh putra tertuanya, TIKI Mohamad Ali alias TIKI Inding dengan gelar Panembahan Paku Negara Surya Kesuma. Ibukota Kerajaan kemudian dipindahkan dari Rayang ke Tayän. Pada 26 Februari 1890, Kerajaan Meliau digabungkan ke dalam Kerajaan Tayän. Paku Negara Surya Kesuma, mangkat pada tahun 1905 dan dimakamkan di Tayän. Beliau diganti oleh TIKI Tamzid Pangeran Ratu bergelar Panembahan Anum Paku Negara. Pada masa Pemerintahan Panembahan Anum Paku Negara, Meliau kembali diserahkan kembali atas permintaan Belanda sendiri menjadi Gouvernement Gebied Mangkatnya Panembahan Anum Paku Negara, putra mahkota yang tertua, TIKI Jafar dinobatkan Naik takhta Kerajaan dengan gelar Panembahan Anum Adi Negara. Pada tahun 1944, TIKI Jafar dan TIKI Makhmud sebagai Ahli Waris Kerajaan jatuh menjadi korban Jepun. Setelah Jepun cangkem pada Perang Dunia II, TIKI Ismail dinobatkan menjadi Panembahan Kerajaan Tayän dengan gelar Panembahan Paku Negara. Tahun 1960, beliau masih memerintah dan Pemerintahan swaparja berakhir. TIKI Ismail kemudian menjabat Wedana di Tayän. Ibukota kewedanaan kemudian dipindahkan ke Sanggau, sedangkan bekas Kerajaan Tayän menjadi ibu kota Kecamatan Tayän Hilir.  : http://id.wikipedia.org 15 Februari 2011 Kerajaan Tayän * Enam Abad jarak Sejarah Kerajaan Tayän Bermula dari Pengamanan Jalur Upeti pada Kerajaan Matan PILAR Kerajaan Tayän dimulai awal Abad 15 atau sekitar tahun 1450. TIKI Lekar, anak kedua Panembahan Dikiri, Raja Matan yang hendak membina Kerajaan Tayän. Awalnya Kedatangan TIKI Lekar ke wilayah Tayän untuk mengamankan jalur upeti rakyat pada Kerajaan Matan. Jalur penghantaran upeti sebelumnya selalu mendapat Gangguan dan merosot. Itu dilakukan oleh seseorang yang menyatakan diri sebagai raja di Kuala Labai. Perkara ini TIKI Lekar mengamankan upeti untuk Kerajaan Ayahnya dibantu Seorang suku dikhaskan Dayak bermana Kia Jaga dari Tebang. Tak berselang lama setelah berhasil mengusir penggangu jalur upeti dan hendak membina Kerajaan Tayän, TIKI Lekar menikahi Enci 'Periuk, anak tunggal Kia Jaga. Mereka dikarunia empat anak, masing-masing diberi nama, TIKI Gagok, TIKI Manggar, TIKI Togok, dan Perua TIKI. TIKI Lekar hendak membina Kerajaan Baru, Sementara anak pertama Penembahan Dikiri, Duli Maulana Sultan Muhammad Syarifuddin, meneruskan kedudukannya menjadi Raja Matan. Sultan Muhammad Syarifuddin menjadi raja pertama yang memeluk Agama Islam. Tuan Syech Syamsuddin lah yang memperkenalkan Agama Islam padanya. Selain memeluk Agama Islam, ia juga mendapat Hadiah Al-quran kecil dan Cincin bermata Jamrud merah dari Makkah. Sejarah Kerajaan Tayän Dihadapankan anak, Cucu, dan cicit TIKI Lekar, setelah ia wafat dan dimakamkan di bukit dekat Kota Meliau masih dalam wilayah Kerajaan Tayän. Terdapat tiga versi asal usul nama Tayän di Masyarakat. Ada yang menyatakan nama Tayän diambil dari kondisi tanah Ujung Tanjung, tempat Bab Berdiri Kota Tayän, sehingga Tayän diartikan tanah Tajam. Tapi ada yang mengartikan Tayän sebagai kota besar (tai: besar dan an: kota). Tempayan yang ditenggelamkan di muara Sungai Tayän sebagai Penanda mulai berdirinya Kota Tayän juga dijadikan sumber nama Tayän. Sejak mangkatnya TIKI Lekar, ibukota Kerajaan Tayän dipindahkan ke Rayang. Sampai sekarang di SANA masih terdapat peninggalan Makam Raja-raja dan Meriam. Konon Meriam itu tidak dapat dipindahkan ke tempat lain dan ada saat-saat tertentu posisinya Ditukar sendiri. ibukota Kerajaan Pindah kembali ketempat semula di muara Sungai Kemilun 700 m dari muara Sungai Tayän. Pemindahan dilakukan cicit TIKI Lekar, TIKI Kamarudin, setelah sakit kulitnya yang dideritanya sembuh oleh ikan patin yang memakan Kulit kaki raja ketika merendam kaki di Sungai. Wabah Penyakit Kulit itu melanda seluruh Kerajaan. Semasa kekuasaannya, Kerajaan Tayän Place dengan Kerajaan Pontianak dan Sanggau. Pihak TIKI Kamarudin diserang pula oleh sentiam orang-orang China yang membuat terowongan satu kilometer menuju Istana dari balik Buki Hujan Emas. Kerajaan Tayän juga pernah mengikat kontrak dengan Belanda pada 12 November 1822, pada kekuasaan TIKI Mekah, anak TIKI Kamaruddin. Setelah wafat, ia digantikan adiknya TIKI Repa. Tapi setelah TIKI Repa wafat, kekuasaan beralih ke adik TIKI Kamaruddin, Utin Blondo Semasa ia memerintah, Belanda ingin mengubah perjanjian dengan syarat yang memberatkan rakyat. Utin Blondo jelas menolak keras dan marah. Sepertinya Perhubungan itu baru membaik, pada kekuasaan cicitnya TIKI Muhammad Ali. Masa itu, 26 Februari 1890, Belanda Mengembalikan kekuasaan Kerajaan Meliau padanya. Itu dilakukan setelah Raja Meliau Raden Abdul Salam melepaskan kekuasaannya pada Belanda. TIKI Muhammad Ali juga memindahkan Keraton Tayän ke Kampung Pedalaman, lokasi keraton sekarang. http://disbudpar.kalbarprov.go.id

KERAJAAN ISMAHAYANA LANDAK(1275-KINI)


Kerajaan Ismahayana Landak adalah sebuah Kerajaan yang saat ini berlokasi di Kabupaten Landak , Kalimantan Barat . Keraton Ismahayana Landak memiliki kronik Sejarah yang relatif panjang, meskipun sumber-sumber bertulis yang membuktikan Sejarah Kerajaan ini bisa dikatakan sangat Terhingga. Sama halnya dengan sumber dari cerita-cerita rakyat yang Appear di Ngabang, Kalimantan Barat, tempat di mana Kerajaan ini berada. Kendati demikian, arkeologis Bukti-Bukti berupa bangunan Istana Kerajaan (keraton) kepada atribut-atribut Kerajaan yang masih dapat kita Daftarkan diri hingga Kini dan juga buku Indoek lontar Keradjaan Landak yang Ditulis bergantung kepada keputusan oleh TIKI Soeloeng Lelanang (raja ke-19) pada tahun 1942, sesungguhnya manusia itu menyaksikan cukup memadai untuk membuktikan perjalanan panjang Kerajaan ini yang secara garis Besar terbagi ke dalam dua FASA, yakni FASA FASA Hindu dan Islam, ini telah dimulai Kehormat di Royal tahun 1275 M.

 Jangkamasa Pemerintahan

Jangkamasa Pemerintahan Kerajaan ini di bagi ke dalam empat periode dari dua FASA, yaitu: FASA Hindu

  • Kerajaan Landak di Ningrat Batur (1292-1472)
FASA Islam
  • Kerajaan Landak di Mungguk Ayu (1472-1703)
  • Kerajaan Landak di Bandong (1703-1768)
  • Kerajaan Landak di Ngabang (1768-sekarang)
  •  
  • Wilayah Kekuasaan
Wilayah kekuasaan Kerajaan Ismahayana Landak Kira-Kira mencakup seluruh Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Pada tiga periode awal, secara geografi wilayah yang dikuasai Kerajaan ini meliputi daerah Sepanjang Sungai Landak berikut Sungai-Sungai kecil yang merupakan cabang darinya. Sungai yang merupakan juak Sungai Kapuas ini memiliki panjang sekitar 390 km. Dalam perkembangannya kemudian, cakupan wilayah kekuasaan Landak semakin luas kepada daerah-daerah pedalaman. Jika dibayangkan dengan kondisi saat ini, Kira-Kira batas wilayah Kerajaan Landak menyerupai wilayah Kabupaten Landak yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Sanggau di sebelah timur; Kabupaten Pontianak di Sisi barat; Kabupaten Bengkayang di bahagian utara dan bahagian selatan oleh Kabupaten Ketapang. Ditengarai bahwa gak pernah buka Tumpuan para pendahulu Kerajaan Landak memilih bantaran Sungai Landak sebagai tempat bermukim adalah karena di Sepanjang Sungai ini memiliki Keupayaan HARTA alam yang luar biasa, yakni intan dan emas. Usman [1] mengatakan bahwa intan terbesar yang pernah dijumpai dan dimiliki oleh Kerajaan Landak bernama Palladium Intan Kubi (intan ubi) Berat dengan 367 karat. Setelah penemuan itu, intan tersebut diberi nama sebagai Intan Danau Raja. Intan ini dijumpai tatkala Raden Nata Pangeran Tua Sanca Nata SBH Tua (1714-1764) bertahta sebagai raja Landak ke XIX di Bandong. Lanjut, sebagai sebuah Kerajaan, Landak tidak menutup diri dengan dunia luar. Kerajaan ini Justru Aktif menjalin Perhubungan dengan Kerajaan-Kerajaan lain di sekitar Kalimantan Barat. Ratio yang ditegakkan adalah Perhubungan kekerabatan, seperti dengan Kesultanan Sambas Alwazikhubillah, Kerajaan Mempawah Amantubillah, Kerajaan Sanggau, Kerajaan Matan, dan Kerajaan Tayän. [2]

 Silsilah

Silsilah Raja-raja Kerajaan Landak dibagi menjadi empat periode Pemerintahan serta dua FASA Agama: Hindu dan Islam. Keempat periode yang dimaksudkan berkiblat pada keberadaan Istana Kerajaan Landak yang tercatat pernah menempati empat lokasi berbeda.

 FASA Hindu

  • Kerajaan Landak di Ningrat Batur (1292-1472)
  1. Ratu Sang Nata Musabaqah Pali I
  2. Ratu Sang Nata Musabaqah Pali II
  3. Ratu Sang Nata Musabaqah Pali III
  4. Ratu Sang Nata Musabaqah Pali IV
  5. Ratu Sang Nata Musabaqah Pali V
  6. Ratu Sang Nata Musabaqah Pali VI
  7. Ratu Sang Nata Musabaqah Pali VII

 FASA Islam

  • Kerajaan Landak di Mungguk Ayu (1472-1703)
  1. Raden Adipati Raja Iswaramahayan Karang Tanjung Tua atau Raden Abdul Kahar (1472-1542) (masuk Islam pada periode ini di Kerajaan Landak)
  2. Raden Pati Karang Raja Adipati Karang Tanjung Muda (1542-1584)
  3. Raden Cili (Tjili) Pahang Tua Raja Adipati Karang Sari Tua (1584-1614)
  4. Raden Karang Tedung Tua (wakil raja) Raja Adipati Karang Tedung Tua (1614-1644)
  5. Raden Cili (Tjili) Pahang Raja Muda Adipati Karang Sari Muda (1644-1653)
  6. Raden Karang Tedung Muda (wakil raja) Raja Adipati Karang Tedung Muda (1.679-1.689)
  7. Raden Mangku Tua (wakil raja) Raja Mangku Bumi Tua (1679-1689)
  8. Raden Kusuma Agung Tua (1689-1693)
  9. Raden Mangku Muda (wakil Raja) Pangeran Mangku Bumi Muda (1.693-1.703)
  • Kerajaan Landak di Bandong (1703-1768)
  1. Raden Kusuma Agung Muda (1703-1709)
  2. Raden Purba SBH (wakil raja) Pangeran Purba SBH (1709-1714)
  3. Raden Pangeran Tua Nata Sanca Nata SBH Tua (1714-1764)
  4. Raden Anom Jaya SBH (wakil raja) Pangeran Anom Jaya SBH (1764-1768)
  • Kerajaan Landak di Ngabang (1768-sekarang), dengan kepala negara bergelar Paduka Panembahan dan kepala Pemerintahan bergelar Paduka Pangeran [3]
  1. Raden Pangeran Muda Nata Sanca Nata SBH (1768-1798)
  2. Raden Bagus Nata SBH (wakil raja) Ratu Answer Nata SBH (1.798-1802)
  3. TIKI Husin (wakil raja) TIKI Husin SUTA Wijaya (1802-1807)
  4. Aliuddin Panembahan TIKI Muhammad (1807-1833)
  5. Haji TIKI Ismail (wakil Panembahan) Pangeran Mangkubumi Haji TIKI Ismail (1833-1835)
  6. Panembahan TIKI Mahmud Akamuddin (1835-1838)
  7. Ya Gelombang Unus (wakil Panembahan) Pangeran Temenggung SBH (1838-1843)
  8. Panembahan TIKI Muhammad Amaruddin Ratu Answer Adi Muhammad SBH (1843-1868)
  9. TIKI Doha (wakil Panembahan) (1868-1872)
  10. Panembahan TIKI Abdulmajid SBH kasim II (1872-1875)
  11. Haji TIKI Andut Muhammad Tabri (wakil Panembahan) Pangeran Wira Nata SBH (1875-1890)
  12. TIKI Ahmad (wakil Panembahan) Pangeran Mangkubumi TIKI Ahmad (1890-1.895)
  13. Panembahan TIKI Abdulazis SBH Akamuddin (1895-1899) [4]
  14. TIKI Bujang Isman Tajuddin (wakil Panembahan) Pangeran Mangkubumi TIKI Bujang (1.899-1.922)
  15. Panembahan TIKI Abdul Hamid (1922-1943)
  16. TIKI Sotol (wakil Panembahan) (1943-1945)
  17. Haji TIKI Mohammad Appandi Ranie (wakil Panembahan) Mohammad TIKI Pangeran Mangkubumi Appandi Ranie Setia Negara (1946, hanya sekitar 4 bulan berkuasa)
  18. Pangeran Ratu Haji TIKI Amiruddin Hamid (?)
  19. Drs. TIKI Suryansyah Amiruddin, M.Si. Pangeran Ratu Keraton Landak (2000-sekarang)

 Rujukan

  1. ^ Othman, 2007: 4-5
  2. ^ Othman, 2002: 18-21
  3. ^ (Belanda) van Eysinga, Philippus Pieter Roorda (1841). Handboek der tanah-en volkenkunde, geschiedtaal, aardrijks-en staatkunde von Nederlandsch Indie . 3 . Van Bakkenes. hlm. 
  4. ^ http://resourcessgd.kb.nl/SGD/18981899/PDF/SGD_18981899_0000783.pdf

KESULTANAN SANGGAU(1380-1960)





Cikal Telpon Sejarah Pemerintahan (bekas) Kerajaan Sanggau Kapuas, bermula dengan supersoulmate Dara Nant e dan Babai Singa yang melegenda secara Turun temurun. Dara Nant e menikah dengan Babai Singa yang berasal dari daerah S isang Hulu (Sekayam). Dara Nant e sendiri berasal dari Labai Lawai, Procon Penempatan di Simpang Mendawan daerah Terentang GudegNet. Perjodohan keduanya melahirkan kelaknya Seorang putra yang diberi nama Aria Jamban. Aria Jamban kemudian menurunkan Aria Batang dan lebih lagi Aria Batang beranak Aria Likar. Pada masa itu, Dara Nant e yang menjadi Pemimpin Autonomi lokal di Mengkiang mengangkat orang kepercayaannya, Aria Dakudak untuk menjadi Seorang Patih di daerah Semboja atau Segarong yang letaknya di antara Sungai Mawang dan Bunut sekarang.

Dalam perkembangan kemudian, Patih Dakudak digantikan oleh Dayang Mas. Pada masanya ini, Pusat Pemerintahan dialihkan ke Mengkiang dari Semboja. Dayang Mas merupak Kerabat dekat dari Dara Nant e Dalam memimpin Negeri Mengkiang, ia didampingi suaminya Patih Nurul Kamal putra dari Patih Kiyai Kerang yang berasal dari Banten. Lebih lagi dari keturunan Dayang Mas dan Patih Nurul Kamal menggunakan nama Kiyai seperti Kiyai Patih Gemuk, Kiyai Mas Senapati, Kiyai Mas Demang, Kiyai Mas Jaya, Kiyai Mas Jaya Ngebil dan Kiyai Mas Temenggung.

Wafat Setelah Dayang Mas, ia digantikan oleh Dayang Puasa. Mulanya Dayang Puasa menikah dengan Kiyai Patih Gemuk, yang merupakan saudara dekat Patih Nurul Kamal. Perjodohannya itu dikaruniai Seorang anak yang bernama Pangeran Agung Renggang. Setelah Kiyai Patih Gemuk mangkat, Dayang Puasa yang bergelar Ratu Nyai Surah menikah lagi dengan Abang Penghujung yang berasal dari Kerajaan Embau Hulu Kapuas. Perkahwinan yang kedua ini dikaruniai empat orang anak. Keempatnya, masing-masing bernama Abang Djamal yang merintis dan bertahta di Negeri BELITANG sebagai cikal Telpon Kerajaan BELITANG. Anak kedua, Abang Djalal bertahta di Balai Lindi Melawi. Kemudian Abang Nurul kamal yang bertahta dan menjadi Panembahan di Sanggau Lama. Dan anak keempat Abang Jawahir atau Abang Djauhir yang memerintah di daerah Ndoro.

Pangeran Agung Renggang setelah dewasa kemudian menduduki takhta. Namun ia hanya beberapa bulan memerintah, kemudian mengundurkan diri dan lebih lagi digantikan oleh saudara seibunya, Nurul Kamal yang Dikenali juga dengan sebutan Abang Gani yang bergelar Kiyai Patih Busu SBH. Setelah mangkat, Abang Gani atau Nurul Kamal digantikan putranya yang bernama Abang Basun Pangeran Mangkubumi. Dalam memerintah ia didampingi dua orang saudaranya, Abang Abun Pangeran Sumabaya dan Abang Guning.

Wafatnya Abang Basun maka naik tahtalah Abang Ahmad atau Abang Daruja atau Uju yang belakangan kemudian bergelar Sultan Ahmad Jamaluddin. Abang Ahmad atau Abang Daruja atau Uju, di atas takhta Kerajaan Mengkiang bergelar Sultan Ahmad Jamaluddin. Ia kemudian mengalihkan Pusat Pemerintahan Kerajaan di tengah Kota Sanggau Kapuas GudegNet Pusat Kerajaan ditegakkan di Tebing Aliran Sungai Kapuas. Ia merupakan peletak dasar berdirinya Kerajaan Sanggau dengan Pusat kekuasaan di Kota Sanggau Kapuas. la menikah dengan Putri Ratu Ayu yang berasal dari Kerajaan Landak. Pasangan Sultan Ahmad Jamaluddin dan Putri Ratu Ayu Inilah yang merupakan penurun para raja dan wakil raja serta kaum Kerabat bekas Kerajaan Sanggau Sesudah.

Setelah wafat ia digantikan Abang Saka yang bergelar Sultan Muhammad Kamaruddin. Dalam memerintah, ia didampingi saudaranya yang bernama Abang Sebilanghari, yang kemudian bergeiar Panembahan Ratu Surya SBH. Semasa hidupnya, sultan terdahulu, Ahmad Jamaluddin telah membagi kekuasaan Kerajaan, di mana Abang Saka memerintah di Keraton Darat, dan Abang Sebilanghari di Keraton Laut. Gelar yang dipakai untuk menjadi raja diberi Latest TIKI untuk penguasa di sebelah Darat. Sedangkan untuk penguasa yang membantu raja memerintah diberi gelar Ade atau penguasa di sebelah laut. Dengan demikian, sepeninggal Abang Uju, kekuasaan menjadi terpisah dalam dua wilayah kekuasaan. Setelah Abang Saka atau Sultan Muhammad Kamaruddin wafat, maka tampuk kekuasaan diambilalih oleh Abang Sebilanghari yang kemudian bergelar Panembahan Ratu Surya SBH. la menikah dengan Utin Parwa dari Kerajaan Tayän. Setelah wafat, digantikan oleh putranya TIKI Thabrani Pangeran Ratu Surya Negara didampingi Abang Togok yang bergelar Pangeran Mangkubumi TIKI Muhammad Thahir yang menikah dengan Ratu Wajah.


Dengan pecahnya keturunan raja-raja Sanggau dalam melaksanakan kekuasaan Pemerintahan, di mana adanya Pusat kekuasaan di sebelah Darat dan di sebelah laut, maka dalam masa Pemerintahan TIKI Thabrani diambil suatu Kesepakatan antara kedua turunan penguasa di Darat dan laut untuk memerintah secara bergantian menduduki takhta. Apabila raja sebelah Darat yang menjadi raja atau Panembahan, maka raja sebelah laut menduduki jawatan selaku Mangkubumi. Sesudah Begitu pula, apabila di laut sebelah menduduki takhta sebagai Panembahan, maka keturunan sebelah Darat menjabat sebagai Mangkubumi. Perkembangan ini Terus berlangsung sampai Kedatangan kolonial Belanda ke ibukota Kerajaan Sanggau Kapuas.

Setelah Abang Thabrani wafat, naik tahtalah Abang Togok bergelar TIKI Muhammad Thahir I yang mernerintah Kerajaan Sanggau dalam tahun 1798-1812. Panembahan Thahir I memerintah Pangeran Mangkubumi didampingi Osman Paku Negara. Wafatnya Panembahan Thahir I, maka naik tahtalah Pangeran Osman Pak-u Negara sebagai Panembahan yang berkuasa dalam tahun 1812-1814. Ia memerintah didampingi Pangeran Mangkubumi Muhammad Ali Mangku Negara I yang kemudian menggantikan Panembahan Osman sebagai Panembahan Sanggau tahun 1814-1825. Masjid memerintah didampingi Pangeran Mangkubumi Ayub Paku Negara.

Pada akhirnya setelah menjabat selama sembilan tahun sebagai Mangkubumi Sanggau, Pangeran Ayub Paku Negara kemudian menduduki takhta Kerajaan bergelar Sultan Ayub dan memerintah dalam tahun I825-1830. Dia kemudian mengalihkan Pusat Pemerintahan ke Kampung Kantuk GudegNet. Tahun 1826 Sultan Ayub Drs Masiid Jami Syuhada dan mulai saat itu Kerajaan SANGGAU mengalami clusters dan perkembangan pesat serta moderen. Sebelumnya, Kerajaan SANGGAU telah diserahkan oleh Kesultanan Banten (melalui Kesultanan Pontianak) ke tangan Belanda, karena Sanggau merupakan Kerajaan vazalnya, bersamaan dengan berdirinya Kesultanan Pontianak.

Wafatnya Sultan Ayub, maka naik tahtalah saudaranya yang bernama Ade Ahmad yang bergelar Panembahan Muhammad SBH Negara yang memerintah tahun 1830-1860. Sebagai Pangeran Mangkubumi diangkatlah TIKI Muhammad Thahir II yang bergelar Pangeran Ratu Sri Paduka Maharaja. Dalam perkembangan lebih lagi, menyusul penyerahan Kerajaan Sanggau ke tangan Belanda oleh Pontianak dan Banten, dilangsungkan Penandatanganan Korte Verklaring atau Perjanjian Pendek yang mengikat Kerajaan ini dengan kolonial Belanda pada tanggal 8 Mei dan 20 Mei 1877. Perjanjian ini ditanda tangani antara Kerabat Kerajaan Sanggau dengan Residen Westerafdeeling van Borneo dan Pembantu Residen Westerafdeeling van Borneo Ndoro yang secara khusus berkunjung ke Sanggau Kapuas. Pihak Kerajaan SANGGAU ditanda tangani oleh Panembahan Muhammad SBH negara, Mangkubumi Muhammad Saleh, Pangeran Ratu Mangku Negara penguasa Semerangkai, Pangeran Mas Putra Paduka Raja penguasa Balai Karangan dan Pangeran Adi Ningrat Menteri Kerajaan Sanggau. Dalam perjanjian itu ditetapkan bahwa Tanjung Sekayam sebagai daerah yang diserahkan kepada Ketenteraan Belanda.


Sesudah, upaya kolonial Belanda tidak hanya sampai di situ atau bukan sebatas melakukan perjanjian atau Korte verklaring. Namun telah melangkah lebih jauh. Hal itu dilakukannya dengan POLITIK CIS et impera atau POLITIK Pecah-belah, di mana Belanda telah mencampuri Urusan Tetapan Pemerintahan Kerajaan Sanggau. Kolonial Belanda melalui Residen Borneo Barat telah mengangkat raja yang Baru yaitu TIKI Muhammad Thahir II menjadi raja menggantikan Panembahan Muhammad SBH Negara. Selanjutnya> pula, setelah menduduki takhta, TIKI Muhammad Thahir II diharuskan terikat dengan Korte Verklaring terdahulu. Dalam memerintah ia didampingi Pangeran Mangkubumi Haji Sulaiman Paku Negara. Rasaya diangkat sebagai raja, Thahir II telah berkunjung ke Brunei Darussalam dan diangkat sebagai Kerabat oleh Sultan Brunei Darussalam Syarif Syahbuddin dengan diberi gelar Pangeran Paduka Srimaharaja Kehormat di Royal 8 Jumadil Awal 1296 H, ditandai pula dengan Tetapan tapal batas antara Kerajaan Sanggau dan Brunei mulai dari Hulu Sekayam sampai Hilir Kembayan dan dihadiahi satu Meriam bermotif naga dari Brunei. Semasa hidupnya TIKI Thahir II dikaruniai dua orang putra, yang tertua TIKI Ahmad Putra Negara Dikenali sangat anti kolonial Belanda. Karenanya dalam tahun 1876-1890 ia diasingkan Belanda ke Gaza dan wafat di SANA.

TIKI Thahir II wafat, digantikan Ade Haji Sulaiman Paku Negara yang memerintah tahun 1876-1908. Di masa Panembahan Sulaiman, pada tanggal 14 April 1882, kembali ditandatangani Korte Verklaring antara Sanggau dengan Beianda. Selaku Mangkubumi Semasa Pemerintahan Panembahan Sulaiman adalah Pangeran Haji Muhammad Ali Surya Negara. Korte verklaring tersebut mengandungi antara Lain menunjuk dua orang raja di Sanggau Masing-masing di Darat Pangeran Haji Muhammad Ali Mangku Negara dan di laut Panembahan Haji Sulaiman Paku Negara. Mengatur Pembahagian kerja untuk raja dan kerabatnya. Bagi orang Dayak dianggap sebagai rakyat Kerajaan. Mengatur sempadan Pemerintahan Kerajaan Sanggau dengan Kerajaan lain serta mengatur pembayaran upeti oleh rakyat kepada Kerajaan yang dinamakan letupan dan natura. Semula para penguasa Kerajaan menjadi tuan di negerinya. Namun Kehormat di Royal ditanda tanganinnya Korte verklaring tersebut, mereka seumpama peminjam tanah dan hak mereka dari kolonial Belanda. Segala Sesuatu yang semula sebagai Autonomi dari Kerajaan, telah dihalang dan harus dengan pengelolaan pemerintah kolonial Belanda.

Setelah Panembahan Ade Haji Sulaiman mangkat, takhta dilanjutkan Pangeran Haji TIKI Muhammad Ali II Surya Negara. Ia adalah putra dari TIKI Haji Ahmad Putra Negara yang diasingkan kolonial Belanda ke Gaza hingga wafatnya di SANA. Namun sebelum menduduki takhta Kerajaan dalam tahun 1908, terjadi perselisihan dengan kerabatnya. Di Mana Pangeran Adipati atau Pangeran Dipati Ibnu putra dari Panembahan Sulaiman raja terdahulu tidak mau menyerahkan takhta. Menurutnya, Dirinya lebih berhak menggantikan Ayahnya Panembahan Sulaiman untuk melanjutkan kekuasaan Kerajaan. mengatasi Masalah tersebut, pihak kolonial Belanda Campur tangan dan kemudian menobatkan TIKI Muhammad Ali II sebagai raja Sanggau dalam tahun 1908 dan memerintah hingga 1915. Dan Pangeran Adipati diasingkan ke Pulau Jawa. Sebagai Mangkubumi dinobatkan saudara kandung Panembahan Sulaiman yaitu Haji Pangeran Ade Muhammad Said Paku Negara. Setelah Panembahan Ali II wafat, naik tahtalah Haji Ade Muhammad Said Paku Negara (1915-1920) didampingi Mangkubumi TIKI Muhammad Thahir III Surya Negara selaku penguasa Kerajaan Sanggau.

Panembahan TIKI Muhammad Ali Semasa hidupnya dikaruniai sembilan orang putra dan lima putri. Masing-masing TIKI Muhammad Thahir III Surya Negara, TIKI Ahmad Pangeran Adipati Surya Negara, TIKI Abdurrahman, TIKI Burhan, TIKI Muhammad Arief, TIKI Zainal Abidin, TIKI Syamsuddin, TIKI Abdul Murad, TIKI Terahib, Utin Isah, utin Hadijah, Utin Mas Uray , Utin Maryam dan Utin Maimun. Setelah Panembahan Ali II mangkat, diangkatlah Haji Muhammad berkata Paku Negara sebagai raja. Ia menduduki takhta tahun 1915-1920 didampingi Mnagkubumi TIKI Muhammad Thahir III Surya Negara putra dari Pangeran Haji Muhammad Ali II. Selanjutnya> TIKI Thahir III putra Pangeran Haji TIKI Muhammad Ali II Surya Negara, menduduki takhta Kehormat di Royal 1920 hingga wafat tahun 1941.

Pembaharuan atau reformasi di dalam Tubuh Kerajaan mulai dilakukan Panembahan Thahir III. Berbagai kemudahan pendidikan dan sarana fisik lainnya yang membuka Perhubungan Sanggau dengan daerah lain dilakukan secara gencar. Salah satunya, isolasi Jiaotong Darat mulai Terbuka lebar sehingga Perhubungan dari dan ke Sanggau, Landak Ngabang dan Ndoro mudah ditempuh. Sebelumnya, masih menghandalkan sarana transfortasi Sungai dengan mempersiapkan dan mengarahkan peserta Sungai Sekayam dan Sungai Kapuas. Di bersebelahan itu, di dalam tata jajangadi Pemerintahan juga dilakukan reformasi di bidang hukum, di mana pada masa itu didirikan Lembaga Mahkamah Syariah atau Raad Agama di dalam Kerajaan Sanggau. Lembaga ini dipimpin oleh Pangeran Temenggung Surya Agama Haji Muhammad Yusuf dan Pangeran Penghulu Surya Agama Ade Ahmadin Badawi.

Dalam masa itu diatur pula mengenai peribadatan kaum Nasrani berada di bawah Jabatan wewnang van Onderwijs En Eredient, sedangkan Urusan Agama Islam diatur oleh Kerajaan dan Lembaga Mahkamah Syariah demikian pula menyangkut hukum adat. Dalam tahun 1941 Panembahan Thahir III mangkat. Maka dinobatkanlah Ade Muhammad Arif putra dari Panembahan Haji Muhammad Said Paku Negara sebagai Raja Sanggau. Olehnya, Pusat Pemerintahan dialihkan ke Sungai Aur Kampung Beringin. Dalam tahun 1944, beserta Kerabat keluarganya yang lain, Panembahan Arif menjadi korban kekejaman balatentara pendudukan Ketenteraan Jepun.

Selanjutnya, untuk Mengisi kekosongan takhta, maka diangkatlah kemudian TIKI Muhammad Umar (1944) untuk memangku Sementara takhta Kerajaan. Dalam tahun 1945, ia digantikan TIKI Muhammad Ali Akbar yang menjabat hingga 1946. Sesudah. yang menduduki takhta Kerajaan terakhir Sanggau hingga dihapuskannya sistem Pemerintahan Swapraja Sanggau dalam tahun 1959 adalah Panembahan TIKI Muhammad Thaufiq putra dari TIKI Thahir III. TIKI Thaufiq yang menjabat antara tahun 1946-1959, terakhir sebagal kepala Swapraja Sanggau hingga dibentuknya Kabupaten Sanggau dalam tahun 1960.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...