Thursday, January 3, 2013

KESULTANAN BANJARMASIN(1520-KINI)


Banjarmasin [modern Banjarmasin sultanate (Indonesia)]
                 bendera 7 Dec 2010


 -KRONOLOGI-

-1387                      Kerajaan Banjarmasin di tubuhkan
-1520                      Kesultanan Banjar ditubuhkan
-1905                      kolonial Belanda

-2010                      Kesultanan Banjar diwujudkan semula


Kesultanan Banjar
Kesultanan Banjar 1826-1860.PNG
Wilayah terakhir Kesultanan Banjar antara tahun 1826-1860 yang telah menyusut, karena wilayah sekelilingnya telah diserahkan kepada syarikat VOC Belanda oleh Sultan Banjar . Wilayah Banjar yang lebih kuno terbentang dari Tanjung Sambar sampai Tanjung Aru [1] [2] [3]
Bab Berdiri 1520 - tahun 1860
Didahului oleh Kerajaan Negara Daha
Digantikan oleh Pagustian
Ibu kota Pemakuan Kuin, Banjarmasin (1520) (1612) [4] Tambangan / Batang Banyu Mangapan (1622) Martapura (1632) Sungai Pangeran, Banjarmasin (1663) Kayu Tangi (1680) Bumi Tham (1771) [5] atau Bumi Selamat (1806 ) [6] Sungai Mesa, Banjarmasin (1857) Baras Kuning (1865)







English Banjar
Agama Islam Sunni mazhab Syafi'i (rasmi) [7]
Kaharingan
Konghucu
Nasrani
Pemerintahan
-Sultan pertama
-Sultan terakhir
Monarki
Sultan Riau (1526-1550) Sultan Muhammad Seman ( 1862 - tahun 1905 )
Sejarah
-didirikan
-Zaman Setiabudi
-Protektorat VOC
-Krisis suksesi
Penghujung Pemerintahan darurat

1520 , masuk Islam 1526
1526 - 1787
Kehormat di Royal 1787 1857 1905 [8]
Nota (1526-1548 sebagai bawahan Demak )

Imej kraton / Istana kenegaraan Kesultanan Banjar di Martapura di tahun 1843.

Profail Bangsawan Banjar sekitar tahun 1850 Koleksi Muzium Lambung Mangkurat .

Profail gadis Banjar sekitar tahun 1850 Koleksi Muzium Lambung Mangkurat .
Kesultanan Banjar atau Kesultanan Banjarmasin [9] [10] [11] [12] [13] [14] [15] [16] (Bab Berdiri 1520, masuk Islam 24 September 1526, dihapuskan Belanda 11 Jun 1860, Pemerintahan darurat / pelarian berakhir 24 Januari 1905) adalah sebuah Kesultanan wilayahnya saat ini termasuk ke dalam provinsi Kalimantan Selatan , Indonesia . Kesultanan ini beribukota semula di Banjarmasin kemudian dipindahkan ke Martapura dan sekitarnya ( kabupaten Banjar ). Masjid beribukota di Martapura disebut juga Kerajaan Kayu Tangi .
Masjid ibukotanya masih di Banjarmasin , maka Kesultanan ini disebut Kesultanan Banjarmasin . Kesultanan Banjar merupakan penerus dari Kerajaan Negara Daha yaitu Kerajaan Hindu yang beribukota di kota Negara, sekarang merupakan ibukota Kecamatan Daha Selatan, Hulu Sungai Selatan .
Bendera Negara Banjar berwarna kuning di atas hitam dalam mengufuk bicolour. (John McMeekin, 15 Januari 2011). * Bendera Banjar

 Sejarah

Menurut mitologi suku dikhaskan Maanyan (suku dikhaskan tertua di Kalimantan Selatan), Kerajaan pertama adalah Kerajaan Nan Sarunai yang diperkirakan wilayah kekuasaannya terbentang luas mulai dari daerah Tabalong hingga ke daerah Pasir . Keberadaan mitologi Maanyan yang menceritakan tentang masa-masa keemasan Kerajaan Nan Sarunai sebuah Kerajaan Purba yang dulunya mempersatukan Etnik Maanyan di daerah ini dan telah melakukan Perhubungan dengan berhala Madagascar. Kerajaan ini mendapat serangan dari Jawa (Majapahit) [17] sehingga sebagian rakyatnya menyingkir ke pedalaman (wilayah suku dikhaskan Lawangan ). Salah satu peninggalan arkeologis yang berasal dari zaman ini adalah Candi Agung yang terletak di kota Amuntai . Pada tahun 1996 , telah dilakukan pengujian C-14 terhadap MARA Endang Candi Agung yang Menghasilkan angka tahun dengan Julat 242-226 SM (Kusmartono dan Widianto, 1998:19-20).
Menilik dari angka tahun dimaksudkan maka Kerajaan Nan Sarunai / Kerajaan Tabalong / Kerajaan Tanjungpuri usianya lebih tua 600 tahun di Indonesia hampir terjadi tiap tiga hari dengan Kerajaan Kutai Martapura di Kalimantan Timur.
Menurut Hikayat Sang Bima , Wangsa yang menurunkan raja-raja Banjar adalah Sang Dewa Grimm dengan Wangsa yang menurunkan raja-raja Bima ( Sang Bima ), raja-raja Bali ( Sang Kuala ), raja-raja Kampong ( BHD ), raja-raja Gowa ( Sang Rajuna ) yang merupakan lima Grimm putera-putera dari Maharaja Pandu Dewata . [18] [19]
Sesuai Tutur Candi (Hikayat Banjar versi II), di Kalimantan Selatan telah Bab Berdiri suatu Pemerintahan dari dinasti Kerajaan (keraton) yang terus menerus berlanjut hingga daerah ini digabungkan ke dalam Hindia Belanda Kehormat di Royal 11 Jun 1860 , yaitu:
  1. Keraton awal disebut Kerajaan Jelutong
  2. Keraton I disebut Kerajaan Negara Dipa
  3. Keraton II disebut Kerajaan Negara Daha
  4. Keraton III disebut Kesultanan Banjar
  5. Keraton IV disebut Kerajaan Martapura / Kayu Tangi
  6. Keraton V disebut Pagustian
Maharaja Sukarama, Raja Negara Daha telah berwasiat agar penggantinya adalah cucunya Raden Samudera, anak dari putrinya Puteri Galuh Intan Sari. Ayah dari Raden Samudera adalah Raden Manteri Jaya, putra dari Raden Begawan, saudara Sukarama. Wasiat tersebut menyebabkan Raden Samudera keselamatannya terancam karena para Pangeran juga berambisi sebagai GANTIAN Sukarama yaitu Pangeran Bagalung, Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Tumenggung. Sepeninggal Sukarama, Pangeran Mangkubumi putra Sukarama menjadi Raja Negara Daha, lebih lagi digantikan Pangeran Tumenggung yang juga putra Sukarama. Raden Samudera sebagai kandidat raja dalam wasiat Sukarama keselamatannya terancam, tetapi Berkat pertolongan Arya Taranggana, Mangkubumi Kerajaan Daha, ia berhasil lolos ke Hilir Sungai Barito, kemudian ia dijemput oleh Patih Masih (Kepala Kampung Banjarmasih) dan dijadikan raja Banjarmasih sebagai upaya melepaskan diri dari Kerajaan Negara Daha dengan hendak membina Bandar Perdagangan sendiri dan tidak mau lagi membayar upeti. Pangeran Tumenggung, raja terakhir Kerajaan Negara Daha akhirnya menyerahkan pakaian Kerajaan kepada keponakannya Pangeran Samudera, Raja dari Banjarmasih. Setelah mengalami masa peperangan dimana Banjar memiliki empat laksa (40,000) prajurit setelah mendapat Latest pasukan dari daerah-daerah pesisir Kalimantan dan Kesultanan Demak. Pada masa kejayaannya Kesultanan Demak memiliki 1000 jung yang masing-masing memuatkan 400 prajurit. [20] ) Keputusan akhirnya kekuasaan Kerajaan beralih kepada Pangeran Samudera yang menjadi Sultan Banjar yang pertama, Sementara Pangeran Tumenggung mundur ke daerah Alay di pedalaman dengan seribu penduduk. Tomé Pires melaporkan bahwa Tanjompure (Tanjungpura / SUKADANA) dan Loué (Lawai) Masing-masing Kerajaan tersebut dipimpin Seorang Patee (Patih). Patih-Patih ini tunduk kepada Patee Unus , Demak penguasa . [21] . Kemungkinan besar penguasa Sambas dan Banjarmasin juga telah ditaklukan pada masa Pemerintahan Sultan Demak Pati Unus / Pangeran Sabrang Lor (1518-1521) sebelum penyerbuan ke Malaka.

 Masa Setiabudi

Kesultanan Banjar mulai mengalami masa Setiabudi pada dekade pertama Abad Ke-17 dengan LADA sebagai Komoditi dagang, secara praktis barat daya, tenggara dan timur berhala Kalimantan membayar upeti pada Kerajaan Banjarmasin. Sebelumnya Kesultanan Banjar membayar upeti kepada Kesultanan Demak, tetapi pada masa Kesultanan Terbit penerus Kesultanan Demak, Kesultanan Banjar tidak lagi menghantar upeti ke Jawa.
Supremasi Jawa terhadap Banjarmasin, dilakukan lagi oleh Tanjong pada tahun 1615 untuk menaklukkan Banjarmasin dengan Bantuan Madura (Arosbaya) dan Surabaya , tetapi gagal karena mendapat perlawanan yang sengit. [22]
Sultan Agung dari Mataram (1613-1646), mengembangkan kekuasaannya atas pulau dan Jawa dengan mengalahkan Pelabuhan-Pelabuhan Côte utara Jawa seperti Jepara dan Gresik (1610), Tanjong (1619), Madura ( 1924) dan Surabaya (1625). Pada tahun 1622 Mataram kembali merencanakan program penjajahannya terhadap Kerajaan sebelah selatan, barat daya dan tenggara pulau dan Kalimantan, dan Sultan Agung menegaskan kekuasaannya atas Kerajaan SUKADANA tahun 1622 . [23]
Seiring dengan hal itu, karena merasa telah memiliki kekuatan yang cukup dari Aspek Ketenteraan dan Ekonomi untuk Menghadapi serbuan dari Kerajaan lain, Sultan Banjar mengklaim Sambas, Lawai, SUKADANA, Kotawaringin, Pembuang, Sampit, Mendawai, KAHAYAN Ck dan KAHAYAN Hulu, Kutai, Pasir, Pulau Laut, Satui, Asam Asam, Kintap dan Swarangan sebagai vazal dari Kerajaan Banjarmasin, hal ini terjadi pada tahun 1636 . [24] [25] [26] [27]
Sejak tahun 1631 Banjarmasin bersiap-siap Menghadapi Serangan Kesultanan Mataram , tetapi karena kekurangan Logistik , maka rancangan serangan dari Kesultanan Mataram sudah tidak ada lagi. Sesudah tahun 1637 terjadi Penghijrahan dari berhala Jawa secara besar-Saiz sebagai akibat dari korban agresi Politik Sultan Agung. Kedatangan imigran dari Jawa mempunyai Pengaruh yang sangat besar sehingga Pelabuhan-Pelabuhan di pulau dan Kalimantan menjadi Pusat difusi kebudayaan Jawa.
Disamping Menghadapi rancangan serbuan-serbuan dari Mataram, Kesultanan Banjarmasin juga harus Menghadapi kekuatan Belanda. Pada tahun 1637 Banjarmasin dan Mataram mengadakan Perdamaian setelah Perhubungan yang tegang selama bertahun-tahun. [22] Perang Makassar (1.660-1669) menyebabkan banyak pedagang Pindah dari Wikipedia Bungah, Pelabuhan Kesultanan Gowa ke Banjarmasin. [28] Mata wang yang Beredar di Kesultanan receh Banjar disebut . [29]
sebelum dibagi menjadi beberapa daerah (Kerajaan kecil), asal wilayah Kesultanan Banjar meliputi provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah , sebelah barat berbatasan dengan Kerajaan Tanjungpura pada lokasi Tanjung Sambar (Ketapang) dan sebelah timur berbatasan dengan Kesultanan Pasir pada lokasi Tanjung Aru. Pada daerah-daerah pecahannya, rajanya bergelar Pangeran, hanya di Kesultanan Banjar yang berhak Memakai gelar Sultan. Kesultanan-Kesultanan lainnya menghantar upeti kepada Kesultanan Banjar, termasuk Kesultanan Pasir yang ditaklukan tahun 1636 dengan Bantuan Belanda.
Kesultanan Banjarmasin merupakan Kerajaan terkuat di pulau dan Kalimantan. [30] Sultan Banjar menggunakan BarTool Kerajaan yang bulet Hindu. [31]

 Wilayah Kesultanan Banjar

Wilayah Kesultanan Banjar Raya adalah negeri-negeri yang menjadi wilayah Pengaruh Mandala Kesultanan Banjar khususnya sampai pertengahan Abad ke-17 dan Abad sebelumnya. [32] [33] [34] [35] [36]
Kesultanan Banjar merupakan penerus dari Kerajaan Hindu di Kalimantan Selatan dengan wilayah inti meliputi 5 Dist besar di Kalimantan Selatan yaitu Jelutong (Amuntai), Daha (Nagara-Margasari), Gagelang (Peliharaan Alabio), PUDAK Sategal (Kalua) dan Pandan Arum (Tanjung). [37] Sejak awal Abad ke-16 berdirilah Kesultanan Banjar yang bertindak sebagai wakil Kesultanan Demak di Kalimantan, sedangkan Demak adalah penerus Majapahit. Menurut Hikayat Banjar Kehormat di Royal zaman Pemerintahan Kerajaan Hindu, wilayah yang termasuk Mandala Kerajaan Banjar meliputi daerah taklukan paling barat adalah negeri Sambas ( Kerajaan Sambas kuno ) sedangkan wilayah taklukan paling timur adalah negeri Karasikan (Banjar Kulan / Buranun). Dahulu kala batas-batas negeri / Kerajaan adalah antara satu Tanjung dengan Tanjung lainnya sedangkan penduduk daerah pedalaman dianggap takluk kepada Kerajaan Bandar yang ada di Hilir Misalnya terdapat 3 suku dikhaskan besar Dayak yaitu Dayak Biaju, Dayak Dusun dan Dayak Pari (Ot Danum) yang merupakan bahagian dari rakyat Kerajaan Banjar. Kesultanan Brunei Kesultanan merupakan yang pertama di pulau dan Kalimantan, dan kemudian disusul berdirinya Kesultanan Banjar tahun 1526. Kedua Kesultanan merupakan saingan. Kesultanan Brunei menjadi penguasa tunggal di wilayah utara Kalimantan. Pada masa kejayaannya Kesultanan Banjar mampu menyaingi HARTA Kesultanan Brunei dan menarik upeti kepada raja-raja lokal. Suku / bangsa Banjar merupakan kelompok Masyarakat Melayu yang Terbanyak di Kalimantan, Sebaliknya Jika di Indonesia hampir terjadi tiap tiga hari dengan suku dikhaskan Brunei. Kesultanan Banjar mengalami masa Setiabudi pada Abad ke-16 dan ke-17, yang pada masa itu belum banyak suku dikhaskan pendatang yang mendominasi seperti saat ini seperti suku dikhaskan Jawa, Bugis, Mandar, Arab dan Cina.
Teritorial Kerajaan Banjar pada Abad Ke 15-17 dalam tiga wilayah meskipun terminologi ini tidak dipergunakan dalam sistem POLITIK DAN TADBIR dalam Kerajaan, yaitu:
  1. Negara Agung
  2. Abroad
  3. Daerah pesisir (daerah Tebing / daerah terluar)
Pada mulanya ibukota Kesultanan Banjar adalah Banjarmasin kemudian Pindah ke Martapura. [38] Pada masa kejayaannya, wilayah yang pernah diklaim sebagai wilayah Pengaruh Mandala Kesultanan Banjar meliputi Takat Pusat yaitu Istana raja di Martapura dan berakhir pada Takat luar dari negeri Sambas di barat laut sampai ke negeri Karasikan (Banjar Kulan / Buranun) di timur laut yang letaknya jauh dari Pusat Kesultanan Banjar. Negeri Sambas dan Karasikan (Banjar Kulan / Buranun) pernah menghantar upeti kepada raja Banjar. Selain itu dalam Hikayat Banjar juga disebutkan negeri-negeri di Batang Lawai , SUKADANA, Bunyut (Kutai Hulu) dan Sewa Agung / Sawakung ). [24] Negeri-negeri bekas milik Tanjungpura yaitu Sambas, Batang Lawai, dan SUKADANA terletak di sebelah barat Tanjung Sambar. Pulau Kalimantan kuno terbagi menjadi 3 wilayah Kerajaan besar: Brunei (Borneo), Tanjungpura (SUKADANA) dan Banjarmasin. Tanjung Sambar merupakan sempadan kuno antara wilayah Mandala SUKADANA / Tanjungpura dengan wilayah Mandala Banjarmasin (daerah Kotawaringin). Menurut sumber Inggeris, Tanjung Kanukungan (sekarang Tanjung Mangkalihat) adalah sempadan wilayah Mandala Banjarmasin dengan wilayah Mandala Brunei, tetapi Hikayat Banjar mengklaim daerah-daerah di sebelah utara dari Tanjung Kanukungan / Mangkalihat yaitu Kerajaan Berau kuno juga pernah menghantar upeti kepada Kerajaan Banjar Hindu, dan Sejarah membuktikan daerah-daerah tersebut dimasukkan dalam wilayah Hindia Belanda. [39] [40] sempadan di pedalaman, daerah Aliran Sungai Pinoh (sebagian Kabupaten Melawi ) termasuk dalam wilayah Kerajaan Kotawaringin (bawahan Banjarmasin) yang dinamakan daerah Lawai [41] Sanggau dan Ndoro juga dimasukan dalam wilayah Pengaruh Mandala Kesultanan Banjar. Dari bahagian timur Kalimantan sampai ke Tanjung Sambar terdapat beberapa Dist / Kerajaan kecil yang berada di bawah Pengaruh Mandala kekuasaan Sultan Banjar yaitu Berau, Kutai, Paser, Tanah Bumbu, Tanah Laut, Tatas , Dusun Hulu, Dusun Ilir, Bakumpai, Dayak Besar (KAHAYAN ), Dayak Kecil (Kapuas murung), Mendawai, Sampit, Pembuang, dan Kotawaringin. Inilah yang disebut "negara Kerajaan Banjar". Daerah-daerah kekuasaan Sultan Banjar yang paling whole di Paser, Tanah Bumbu, Tanah Laut , dan Dusun Bakumpai . [42] Terminologi wilayah Tanah Seberang , tidak ada dalam wilayah Kesultanan Banjar, karena tidak memiliki Jajahan di luar kepulauan Kalimantan, walaupun orang Banjar juga merantau sampai Keluar berhala Kalimantan. [43] Kerajaan Banjar menaungi hingga ke wilayah Sungai Sambas adalah dari awal Abad ke-15 M hingga pertengahan Abad ke-16 M yaitu pada masa Kerajaan Melayu hindu Sambas yang menguasai wilayah Sungai Sambas. Kerajaan Melayu Sambas hindu ini kemudian runtuh pada pertengahan Abad ke-16 M dan dilanjutkan dengan Panembahan Sambas hindu yang merupakan keturunan Bangsawan Majapahit dari Wikramawadhana. Pada jam memerintah Panembahan Sambas hindu ini bernaung dibawah Dipati / Panembahan SUKADANA (bawahan Sultan Banjar) sampai awal Abad ke-17 M yang kemudian beralih bernaung dibawah Kesultanan Johor. Panembahan Sambas hindu ini kemudian runtuh pada akhir Abad ke-17 M dan digantikan dengan Kesultanan Sambas yang didirikan oleh keturunan Sultan Brunei melalui Sultan Tengah pada tahun 1675 M. Sejak berdirinya Kesultanan Sambas hingga Sesudah Kesultanan Sambas adalah berdaulat Penuh yaitu tidak pernah bernaung atau membayar upeti kepada pihak manapun kecuali pada tahun 1855 yaitu dikuasai / dikendalikan pemerintahannya oleh Hindia Belanda (seperti juga Kerajaan-Kerajaan lainnya diseluruh Nusantara terutama di Pulau Jawa yang saat itu seluruhnya yang berada dibawah Pemerintah Hindia Belanda di Batavia) yaitu pada masa Sultan Sambas ke-12 ( Sultan Umar Kamaluddin). Dalam perjalanan Sejarah Ketetapan wilayah Kesultanan Banjar tersebut tidak dapat dilihat dengan jelas dengan batas yang tetap karena dipengaruhi oleh saja dilakukan asal maksud yang tidak stabil dan batas wilayah yang fleksibel disebabkan oleh berkembangnya atau Hepi kekuasaan Sultan Banjar .


  • Sejak ibukota dipindahkan ke Daerah Martapura [44] maka kota Martapura sebagai Kota Raja merupakan wilayah / cincin pertama dan Pusat pemeritahan Sultan Banjar.
  • Wilayah teritorial / cincin kedua, Negara Agung terdiri daripada:
  1. Tanah Laut atau Laut Darat terdiri daripada:
    1. Satui
    2. Tabunio . Diserahkan kepada VOC-Belanda pada 13 Ogos 1787.
    3. Maluka , daerah yang dikuasai Inggeris pada 1815 - tahun 1816 yaitu Maluka , Liang Anggang , Kurau dan Pulau Lamai.
  2. Daerah Banjar Lama / Kuin (Banjarmasin bahagian Utara) dan Pulau Tatas (Banjarmasin bahagian Barat). Tahun 1709 [45] [46] atau Tahun 1747 Belanda hendak membina Benteng di Pulau Tatas (Banjarmasin bahagian barat) merupakan daerah yang Mula-Mula dimiliki VOC_Belanda. [47] Pulau Tatas termasuk daerah yang diserahkan kepada VOC-Belanda pada 13 Ogos 1787, lebih lagi Mantuil sampai Sungai Mesa diserahkan kepada Hindia Belanda pada 4 Mei 1826, sedangkan Banjar Lama (Kuin) sampai sempadan daerah Margasari masih tetap sebagai wilayah Kesultanan sampai 1860.
  3. Margasari . Wilayah Kerajaan sampai 1860.
  4. Eo besekutuannya Artinya besekutuannya nang empat yaitu besekutuannya Padang , besekutuannya Halat , notorious besekutuannya Parigi dan besekutuannya . Wilayah Kesultanan sampai 1860.
  5. Amandit . Wilayah Kerajaan sampai 1860.
  6. Labuan AMAS . Wilayah Kerajaan sampai 1860.
  7. Alay . Wilayah Kerajaan sampai 1860.
  8. Besekutuannya Lima Artinya lalawangan nang lima yaitu Negara , Peliharaan Alabio , Sungai Banar , Amuntai dan Kalua . Wilayah Kerajaan sampai 1860.
  9. Pulau Bakumpai yaitu Tebing barat Sungai Barito dari kuala Anzaman ke Ck sampai kuala Lupak. Diserahkan kepada Hindia Belanda pada 4 Mei 1826 Bersama daerah Pulau Burung .
  10. Tanah Dusun yaitu dari kuala Marabahan sampai Hulu Sungai Barito . Pada 13 Ogos 1787 , Dusun Atas diserahkan kepada VOC-Belanda tetapi daerah Mengkatip (Dusun Hilir) dan Tamiang Layang (Dusun Timur) dan sekitarnya tetap termasuk daalam wilayah inti Kesultanan Banjar hingga dihapuskan oleh Belanda tahun 1860.
  • Teritorial / cincin bagi ketiga, yaitu Abroad , dengan kedua Latest daerah ini merupakan wilayah asal Kesultanan Banjar sebelum pemekaran yang terdiri daripada:
    • Wilayah Barat yaitu wilayah Tanah Kotawaringin dan Tanah Dayak (Biaju) yaitu meliputi daerah Kerajaan Kotawaringin (dengan Dist-distriknya: Jelai dan Kumai ), Pembuang , Sampit , Mendawai serta daerah milik Kotawaringin di susuk yang Dimasuki Dayak Ot Danum yaitu Lawai atau Pinoh (sebagian Kabupaten Melawi ) yang letaknya bersebelahan dengan rantau udik Sungai Polls / Mendawai dan berbatasan dengan Kerajaan Ndoro. Sempadan Kerajaan Kotawaringin dengan Kerajaan SUKADANA / Matan terletak di Tanjung Sambar. Juga turut diklaim wilayah Tanah Dayak ( Grand Prix Ot Danum ), yang ber Pusat Mandala di udik Sungai KAHAYAN (tumbang Anoi) yaitu daerah-daerah suku dikhaskan Dayak Biaju dan Dayak Pari (Ot Danum) beserta semua daratan yang takluk kepadanya. Dist-Dist Semua di wilayah Tanah Kotawaringin dan Tanah Dayak diserahkan kepada VOC-Belanda pada 13 Ogos 1787. Secara rasmi daerah-daerah Dayak pedalaman tersebut diduduki Belanda Kehormat di Royal Perjanjian tumbang Anoi pada Tahun 1894.
    • Wilayah Timur (Kalimantan Tenggara):. Yaitu Paser Tanah dan Tanah Bumbu Kerajaan Paser didirikan oleh Seorang Panglima Kerajaan Banjar atau Jelutong-Daha, sehingga Kehormat di Royal semula takluk kepada Kesultanan Banjar, namun belakangan berada di bawah Pengaruh La Madukelleng. Tahun 1703 Tanah Paser Ditukar dari Pemerintahan Panembahan menjadi Kesultanan, daerah ini diserahkan kepada Hindia Belanda pada 13 Ogos 1787 dan dimulakan pada masa Sultan Paser Sultan Mahmud Han menjalin kontrak POLITIK dengan Hindia Belanda. Kerajaan Tanah Bumbu didirikan Pangeran Dipati Tuha bin Sultan Saidullah, yang pada mulanya mencakup rantau mulai Tanjung Aru Tanjung sampai Silat , belakangan wilayah terutama intinya terdiri daripada atas 7 Divisi: Cengal (Pamukan), Manunggul, Sampanahan, Bangkalaan (Kelumpang), Cantung, Buntar- Laut dan Batulicin. Pada bulan Jun 1825, Raja Aji Jawi, penguasa Tanah Bumbu yang memiliki 6 daerah (Cengal, Manunggul, Sampanahan, Bangkalaan, Cantung, Buntar-Laut) membuat kontrak dengan POLITIK Hindia-Belanda yang menjadikan Tanah Bumbu sebagai swapraja. Tahun 1841, Sampanahan negeri di bawah Pangeran Mangku Bumi (TIKI Ali) menjadi swapraja terpisah dari wilayah Tanah Bumbu lainnya. Tahun 1846 Buntar-Laut dianeksasi / diintegrasikan oleh penguasa Cantung yang kelak menjadi swapraja tersendiri terpisah dari wilayah Tanah Bumbu di bawah Raja Aji Mandura sebagai Raja Cantung dan Buntar-Laut. Negeri Batulicin di bawah Pangeran Aji Musa, kemudian digantikan puteranya Pangeran Abdul Kadir yang kelak mendapatkan negeri Kusan dan Pulau Laut . Kerajaan Kusan pada mulanya didirikan Sultan Amir bin Sultan Muhammadillah saingan Sunan Nata Alam dalam memperebutkan takhta Kesultanan Banjar. Sultan Banjar melantik Hasan La Pangewa sebagai Kapten suku dikhaskan Bugis bergelar Kapitan Laut dhéwé sebagai penguasa Pagatan setelah ia berhasil mengusir Sultan Amir dari Kerajaan Kusan. Di masa Arung Botto, Raja Pagatan menjalin kontrak sebagai swapraja di bawah Hindia Belanda. Belakangan wilayah Kusan digabung dengan Tanah Pagatan dan kemudian Hindia Belanda membentuk pula swapraja Sabamban . Wilayah Kalimantan Tenggara ini diserahkan kepada VOC-Belanda pada 13 Ogos 1787, ditegaskan lagi pada tahun 1826. Pada akhir Abad ke-19 Hindia Belanda menjadikannya Afdeeling Pasir en de Tanah Boemboe dengan 11 swapraja yang meliputi Kesultanan Paser dan wilayah Tanah Bumbu ( Sabamban , Kusan , Pagatan , Batu Licin , Pulau Laut dengan Pulau Sebuku , Bangkalaan , Cantung dengan Buntar-Laut , Sampanahan , Manunggul , Cengal ). Semua Kerajaan ini termasuk ke dalam Borneo Timur di bawah Pembantu Residen yang berkedudukan di Raub Kehormat di Royal tahun 1846.
  • Teritorial / cincin keempat, adalah pesisir yaitu daerah terluar, maka dengan kedua Latest wilayah ini teritorial Kerajaan semakin bertambah luas lebih kurang sama dengan Provinsi Borneo pada masa kolonial Hindia Belanda. Perjanjian Sultan Tamjidullah I dengan VOC pada 20 Oktober 1756 yang merancang untuk untuk menaklukan kembali daerah-daerah yang melepaskan diri yaitu Sanggau, Ndoro, Lawai, Paser, Kutai dan Berau. Daerah pesisir terdiri daripada:
    • Pesisir Timur disebut tanah yang di atas angin meliputi rantau timur Kalimantan dan Jika digabung dengan rantau selatan Kalimantan menjadi Karesidenan Afdeeling Selatan dan Timur Borneo pada masa kolonial Hindia Belanda. [48] Kerajaan-Kerajaan di Alak tergolang sebagai negara dependen di dalam Kesultanan Banjar. [ 49]
  1. Wilayah Tanah Kutai . Tahun 1735 Kerajaan Kutai Kartanegara Ditukar dari Pemerintahan Pangeran Adipati menjadi Kesultanan. Diserahkan kepada Hindia Belanda pada 13 Ogos 1787 dan 4 Mei 1826. Tahun 1844 Sultan Kutai mengakui Kedaulatan Hindia Belanda.
  2. Wilayah Tanah Berau / Kuran (Kehormat di Royal 1810 terbagi menjadi Gunung tabur dan Tanjung ) beserta daerah Berau yang melepaskan diri pada Abad Ke-18 dan bawah Pengaruh Kesultanan Sulu (& Brunei) yaitu Tanah Bulungan dan Tanah Tidung . Diserahkan kepada Hindia Belanda pada 13 Ogos 1787 dan 4 Mei 1826.
  3. Wilayah terluar di timur yang telah lama melepaskan diri dan kemudian di bawah Pengaruh Brunei yaitu Karasikan atau Buranun / Banjar Kulan (Banjar Kecil). [50] [51] [52] [40] [5] [53] [54]
    • Pesisir Barat disebut tanah yang di bawah angin meliputi rantau barat Kalimantan yang kemudian menjadi Karesidenan Borneo Barat pada masa kolonial Hindia Belanda.
  1. Wilayah Batang Lawai atau Sungai Kapuas (Tanah Sanggau, Tanah Ndoro dan Tanah Lawai ). [55] Wilayah Batang Lawai menghantar upeti melalui anak-anak Sungai Melawi dilanjutkan dengan jalan Darat menuju Sungai Polls yang bermuara ke laut Jawa dilanjutkan perjalanan laut dekat Sungai Barito di Banjarmasin. Kerajaan Ndoro mulai diperintah Dinasti Majapahit semenjak pernikahan Patih Logender dari Majapahit dengan Dara Juanti (Raja Ndoro ke-9). Tahun 1600 Raja Ndoro menghantar Utusan ke Banjarmasin untuk menyalin Kitab Suci Al-Quran. Kerajaan Ndoro dan Mlawai ( Kabupaten Melawi ) dan Jelai termasuk daerah yang diserahkan oleh Sultan Adam kepada Hindia Belanda pada 4 Mei 1826 . Mlawai sebelumnya termasuk daerah-daerah yang diserahkan oleh Sunan Nata Alam kepada VOC-Belanda pada 13 Ogos 1787 . Belakangan Tanah Sanggau ditaklukan dan berada di bawah supremasi Pemerintahan Sultan Pontianak (protektorat VOC Belanda).
  2. Wilayah Tanah SUKADANA (sebahagian besar susuk) [56] Kerajaan SUKADANA / Tanjungpura diperintah oleh Dinasti Majapahit. Kerajaan SUKADANA menjadi vazal Kehormat di Royal era Kerajaan Banjar-Hindu. Sejak pernikahan Raden Saradewa / Giri Mustaka dengan Putri Gilang (Dayang Gilang) Cucu Sultan Mustainbillah maka sebagai Hadiah Perkahwinan SUKADANA / Matan dibebaskan dari membayar upeti. [24] Saat itu Raja SUKADANA memiliki perniagaan dan tinggal di Banjarmasin dan termasuk anggota Dewan Mahkota. Pada tahun 1622, Kerajaan SUKADANA Ditukar dari Pemerintahan Panembahan menjadi Kesultanan , lebih lagi Panembahan Giri Mustaka bergelar Sultan Muhammad Safi ad-Din. Pada tahun 1661 SUKADANA / Matan terakhir kalinya SUKADANA menghantar upeti kepada Kesultanan Banjar. Di bawah Pemerintahan Sultan Muhammad Zainuddin kembali menghantar upeti sebagai daerah Perlindungan Kesultanan Banjar. Kemudian SUKADANA dianggap sebagai vazal Kesultanan Banten setelah mengalami kekalahan dalam bebek SUKADANA-Landak pada tahun 1700 (dimana Landak dibantu Banten & VOC), kemudian Banten menyerahkan Landak (vazal Banten) dan Tanah SUKADANA / Tanjungpura (sebahagian besar susuk) kepada VOC-Belanda pada 26 Mac 1778 , kemudian diserahkan oleh VOC di bawah supremasi Pemerintahan Sultan Pontianak, karena itu gelar Sultan untuk penguasa SUKADANA / Matan diubah menjadi Panembahan [57]
  3. Wilayah terluar di barat adalah Tanah Sambas . Menurut Hikayat Banjar, Kehormat di Royal era Pemerintahan Kerajaan Banjar-Hindu, wilayah Sambas kuno menjadi taklukannya dan terakhir kalinya Dipati Sambas (Panembahan Sambas) mengantar upeti dua biji intan yang besar yaitu si Misim dan si dinampak kepada Sultan Banjar IV Sultan Panembahan ( 1595 - 1642 ) . [58] [59] [24] Pada 1 Oktober 1609, negeri Sambas menjadi daerah protektorat VOC Belanda dan lepaskan dari Pengaruh Kesultanan Banjar. Si Intan Misim kemudian dipersembahkan oleh Sultan Banjar kepada Sultan Agung , raja Mataram pada bulan Oktober tahun 1641 yang merupakan Interior (bukan upeti) terakhir yang dikirim kepada Pemerintahan di Jawa ( Kesultanan Mataram ). [60] [61] [62] Semula Kerajaan Sambas diperintah oleh Dinasti Majapahit yang bergelar Pangeran Adipati / Panembahan Sambas, lebih lagi mulai tahun 1675 Tanah Sambas diperintah oleh Dinasti Brunei dan Ditukar menjadi Kesultanan bernama Kesultanan Sambas . Tahun 1855 Sambas digabungkan ke dalam Hindia Belanda sebagai ibukota dari Karesidenan Sambas, yang membawahi Kerajaan-Kerajaan di Kalimantan Barat. [63]
Pada Abad ke-18 Pangeran Tamjidullah I berhasil memindahkan kekuasaan Pemerintahan kepada dinastinya dan menetapkan Pangeran Nata Dilaga sebagai Sultan yang pertama sebagai Panembahan Kaharudin Khalilullah . Pangeran Nata Dilaga yang menjadi raja pertama dinasti Tamjidullah I dalam masa Setiabudi kekuasaannya, menyebutkan Dirinya Susuhunan Nata Alam pada tahun 1772 . Putera dari Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah yang bernama Pangeran Amir atau Cucu Sultan Hamidullah melarikan diri ke negeri Pasir, dan meminta Bantuan pada pamannya yang bernama Arung Tarawe (dan Ratu Dewi). Pangeran Amir kemudian kembali dan menyerang dengan Kesultanan Banjar dengan pasukan orang Bugis yang besar pada tahun 1757 , dan berusaha merebut kembali tahtanya dari Susuhunan Nata Alam. Karena saya takut kehilangan takhta dan kekuatiran jatuhnya Kerajaan di bawah kekuasaan orang Bugis, Susuhunan Nata Alam meminta Bantuan Kepada VOC. VOC menerima permintaan tersebut dan menghantarkan Kapten Hoffman dengan pasukannya dan berhasil mengalahkan pasukan Bugis itu. Sedangkan Pangeran Amir terpaksa melarikan diri kembali ke negeri Pasir. Beberapa waktu kemudian Pangeran Amir pula mencoba untuk meminta Bantuan Kepada para bangsawan Banjar di daerah Barito yang tidak Senang kepada Belanda, karena di daerah Bakumpai / Barito diserahkan Pangeran Nata kepada VOC. Dalam pertempuran yang kedua ini Pangeran Amir tertangkap dan dibuang ke ke Sri langka pada tahun 1787 . Sesudah itu diadakan perjanjian antara Kesultanan Banjar dengan VOC, dimana raja-raja Banjar memerintah Kerajaan sebagai peminjam tanah VOC. Dalam tahun 1826 diadakan perjanjian kembali antara Pemerintah Hindia Belanda dengan Sultan Adam , berdasarkan perjanjian dengan VOC yang terdahulu, berdasarkan perjanjian ini, maka Belanda dapat mencampuri permasalahan Tetapan mengenai pengangkatan Putra Mahkota dan Mangkubumi , yang mengakibatkan rusaknya adat Kerajaan dalam bidang ini, yang kemudian menjadikan Procon penyebab pecahnya Perang Banjar .
Perjanjian itu terdiri daripada atas 28 pasal dan ditandatangani dalam Genting Belanda di Banjarmasin pada tanggal 4 Mei 1826 atau 26 Ramadhan 1241 H. Selain Sultan Adam al Watsiq Billah, perjanjian itu juga ditandatangani oleh Paduka Pangeran Ratu (Putra Mahkota) , Pangeran Mangkubumi , Pangeran Dipati, Pangeran Ahmad dan disaksikan oleh para Pangeran lainnya. Perjanjian Inilah yang menjadi dasar Perhubungan Politik dan Ekonomi antara Kesultanan Banjar dengan pemerintah Hindia Belanda di Batavia . Dalam perjanjian tersebut Kesultanan Banjar mengakui suzerinitas atau pertuanan Pemerintah Hindia Belanda dan menjadi sebuah Leenstaat , atau negeri pinzaman. Mengikut perjanjian ini maka Kedaulatan Kerajaan Keluar negeri hilang sama sekali, sedangkan kekuasaan ke dalam tetap berkuasa dengan beberapa pembatasan dan Residen berperan sebagai agen Politik pemerintah kolonial Hindia Belanda. Isi perjanjian 1826 itu antara lain adalah: [64]
  1. Kerajaan Banjar tidak Boleh mengadakan Perhubungan dengan lain kecuali hanya dengan Belanda.
  2. Wilayah Kerajaan Banjar menjadi lebih kecil, karena beberapa wilayah menjadi bahagian dibawah Pemerintahan langsung Hindia Belanda. Wilayah-wilayah milik Hindia Belanda seperti tersebut dalam Perkara 4:
    1. Pulau Tatas dan Kuwin sampai di seberang kiri Antasan Kecil.
    2. Pulau Burung Kuala mulai Banjar seberang Kanan sampai di Mantuil,
    3. Mantuil seberang Pulau Tatas sampai ke Timur pada Rantau Keliling dengan Sungai-sungainya Kelayan Kecil, Kelayan Besar dan kampung di seberang Pulau Tatas.
    4. Sungai Mesa di Hulu kampung Cina sampai ke Darat Sungai Baru sampai Sungai Lumbah.
    5. Pulau Bakumpai mulai dari Kuala Banjar seberang kiri Mudik sampai di Kuala Anjaman di kiri ke Ck sampai Kuala Lupak.
    6. Segala Tanah Dusun semuanya kiri desa-desa Kanan Mudik ke Hulu mulai Mangkatip sampai terus negeri Siang dan Ck sampai di Kuala Marabahan.
    7. Tanah Dayak Besar - Kecil dengan semua desa-desanya kiri Kanan mulai dari Kuala Dayak Mudik ke Hulu sampai terus di daratan yang takluk padanya.
    8. Tanah Mandawai .
    9. Sampit
    10. Kecamatan Pambuang semuanya desa-desa dengan segala tanah yang takluk padanya
    11. Tanah Kotawaringin , Ndoro , Lawai , Jelai dengan desa-desanya.
    12. Desa Tabanio dan segala Tanah Laut sampai di Tanjung Selatan dan ke Timur sampai batas dengan Pagatan, ke utara sampai ke Kuala Maluku, Mudik Sungai Maluku, Selingsing, Liang Anggang, Banyu Irang sampai ke timur Gunung Pamaton sampai sempadan dengan Tanah Pagatan .
    13. Negeri-negeri di pesisir timur: Pagatan , Pulau Laut , Batu Licin , Pasir , Kutai , Berau semuanya dengan yang takluk padanya.
  3. Penggantian Pangeran Mangkubumi harus mendapat Perjanjian pemerintah Belanda.
  4. Belanda menolong Sultan terhadap musuh dari luar Kerajaan, dan terhadap musuh dari dalam negeri.
  5. Beberapa daerah padang perburuan Sultan yang sudah menjadi Tradisi, diserahkan pada Belanda. Semua padang perburuan itu pengawet Keajaiban dari kersik bagi penduduk sekitarnya untuk berburu Menjangan. Padang perburuan itu, meliputi:
    1. Padang Lampi berhala sampai ke Batang Banyu Maluka
    2. Padang Bajingah
    3. Padang Penggantihan
    4. Padang Munggu BASUNG
    5. Padang Taluk Batangang
    6. Padang Atirak
    7. Padang Pacakan
    8. Padang Simupuran
    9. Padang Ujung Karangan
  6. Belanda juga memperoleh pajak penjualan intan sepersepuluh dari harga intan dan sepersepuluhnya untuk Sultan. Kalau dijumpai intan yang lebih dari 4 karat mesti dijual pada Sultan. Harga pembelian intan itu, sepersepuluhnya diserahkan pada Belanda.
Melintang umum Abad Ke-19 bagi Kesultanan Banjar, bahwa Perhubungan Kerajaan Keluar SEBAGAIMANA yang pernah dijalankan sebelumnya, terputus khususnya dalam masalah Perhubungan Perdagangan antarabangsa. Tetapi kekuasaan Sultan ke dalam tetap utuh, tetap berdautat menjalani kekuasaan sebagai Seorang Sultan. Pada tahun 1860, Kesultanan Banjar dihapuskan dan digantikan Pemerintahan pemangku yang berkedudukan Masing-masing di Martapura (Pangeran Jaya Pemenang) dan di Amuntai (Raden Adipati Danu Raja). Adat Resam sembah menyembah tetap berlembutlah hingga meninggalnya Pangeran Suria Winata , Regent Martapura saat itu. Jawatan pemangku raja di daerah ini akhirnya dihapuskan pada tahun 1884.Hindia Belanda 1930.gif


 Sistem Pemerintahan

  1. Raja  : bergelar Sultan / Panambahan / Ratu / Susuhunan
  2. Putra Mahkota  : bergelar Ratu Anum / Pangeran Ratu / Sultan Muda
  3. Perdana Menteri  : Perdana disebut mantri / Mangkubumi / Wazir , dibawah Mangkubumi: mantri Panganan, mantri Pangiwa, mantri Bumi dan 40 orang mantri Sikap, setiap mantri Sikap memiliki 40 orang pengawal.
  4. Lalawangan  : kepala Dist, kedudukannya sama seperti pada masa Hindia Belanda .
  5. Sarawasa, Sarabumi dan Sarabraja: Kepala Urusan keraton
  6. Mandung dan Raksayuda: Kepala Balai Longsari dan bangsal dan Benteng
  7. Mamagarsari: Pengapit raja duduk sentiasa di Situluhur
  8. Parimala: Kepala Urusan dagang dan pekan (pasar). Dibantu Singataka dan Singapati.
  9. Sarageni dan Saradipa: kuasa dalam Urusan Senjata (Taman Negara Bukit Tigapuluh, ganjur), duhung, tameng, Badik, parang, badil, Meriam dll.
  10. Puspawana: kuasa dalam Urusan tanaman, hutan, perikanan, ternak, dan berburu
  11. Pamarakan dan Rasajiwa: Sysop umum tentang keperluan pedalaman / Istana
  12. Kadang Aji: Ketua Balai Petani dan Perumahan. Nanang sebagai Penasihat
  13. Wargasari: Sysop besar tentang Penawaran bahan Samy Vellu dan kepuk padi, Kesejahteraan
  14. Anggarmarta: Bandar Juru, Kepala Urusan Pelabuhan
  15. Astaprana: Juru tabuh-tabuhan, kesenian dan Kesasteraan.
  16. Kaum Mangkumbara: Kepala Urusan Upacara
  17. Wiramartas: mantri Dagang, berkuasa mengadakan Perhubungan dagang dengan luar negeri, dengan Perjanjian Sultan.
  18. Bujangga: Kepala Urusan bangunan rumah, Agama dan rumah ibadah
  19. Singabana: Kepala ketenteraman umum.
Jawatan-jawatan pada masa Panembahan Kacil (Sultan Mustain Billah), terdiri daripada:
  1. Mangkubumi
  2. Mantri Pangiwa dan mantri Panganan
  3. Mantri Jaksa
  4. Tuan Panghulu
  5. Tuan Khalifah
  6. Khatib
  7. Perenggan Dipati
  8. Perenggan Pryai
  • Masalah-masalah Agama Islam dibicarakan dalam Rapat / musyawarah oleh Penghulu yang memimpin pembicaraan, dengan anggota terdiri daripada: Mangkubumi, Dipati, Jaksa, Khalifah dan Penghulu.
  • Masalah-masalah hukum sekuler dibicarakan oleh Jaksa yang memimpin pembicaraan dengan anggota terdiri daripada Raja, Mangkubumi, Dipati dan Jaksa.
  • Masalah tata Urusan Kerajaan merupakan pembicaraan antara raja, Mangkubumi dan Dipati.
  • Dalam hieraki Struktur negara, dibawah Mangkubumi adalah Panghulu, Jaksa kemudian. Urutan dalam suatu sidang negara adalah Raja, Mangkubumi, Panghulu, Jaksa kemudian. Urutan kalau Raja kewajibannya, diikuti Mangkubumi, Jaksa kemudian Panghulu dan lebih lagi. Kewenangan Panghulu lebih tinggi dari Jaksa, karena Panghulu mengurusi masalah Agama, sedangkan Jaksa mengurusi masalah keduniaan.
  • Perenggan Dipati, terdiri daripada para saudara raja, menemani dan membantu raja, tetapi mereka adalah kedua setelah Mangkubumi.
Sistem Pemerintahan mengalami perubahan pada masa Pemerintahan Sultan Adam Al-Watsiq Billah. Perubahan itu meliputi jawatan:
  1. Mufti: hakim Tertinggi, Penyelia Pengadilan umum
  2. Qadi: kepala Urusan hukum Agama Islam
  3. Penghulu: hakim Pamah
  4. Lurah: langsung sebagai pembantu Lalawangan (Kepala Dist) dan mengamati pekerjaan beberapa orang Pambakal (Kepala Kampung) dibantu oleh Khalifah, Bilal dan Kaum.
  5. Pambakal: Kepala Kampung yang menguasai beberapa anak kampung.
  6. Mantri: pangkat Kehormat untuk orang-orang terkemuka dan Berjasa, diantaranya ada yang menjadi kepala desa dalam wilayah yang sama dengan Lalawangan.
  7. Tatuha Kampung: orang yang terkemuka di kampung.
  8. Panakawan: orang yang menjadi suruhan raja, dibebas dari segala maklumat pajak dan Wajib ke atas.
  • Sebutan Kehormat
    • Sultan , disebut: Yang Maha Mulia Paduka Seri Sultan
    • Gubernur Jeneral VOC  : Tuan Yang Maha Bangsawan Gubernur Jeneral .
    • Jika Ratu Permaisuri disebut keturunan bangsawan atau Nyai Ratu Jika berasal dari kalangan biasa, sedangkan para selir disebut Nyai.
    • Anak laki-laki raja bergelar TIKI (= Raden / Raden Aria pada zaman Hindu & awal Islam), dan Jika anak Permaisuri akan mendapat gelar Pangeran dan Jika menjabat Dipati mendapat gelar berganda menjadi Pangeran Dipati. Perenggan Pangeran keturunan Sultan yang memerintah menurunkan gelar "TIKI" ini kepada keturunannya baik anak lelaki maupun Wanita. Perenggan TIKI (lelaki) yang sudah jauh Garis keturunannya dengan Sultan yang memerintah hanya menurunkan gelar TIKI hanya kepada anak lelaki.
    • Anak perempuan raja bergelar TIKI (= Raden Galuh pada zaman Hindu), Jika anak Permaisuri akan mendapat gelar Putri dan setelah menikah mendapat gelar Ratu.
    • Andin, menurut Tutur Candi gelar tersebut untuk keturunan Kerajaan Negara Daha yang telah dikalahkan oleh Sultan Riau dan tidak diperkenankan lagi Memakai gelar Pangeran.
    • Antung, gelar untuk putera / puteri dari Wanita "TIKI" yang menikah dengan orang kalangan biasa. Antung SETARA dengan gelar Utin (Perempuan) Di Kotawaringin.
    • Seorang lelaki dari kalangan biasa yang menikah dengan puteri Sultan, akan mendapat gelar Raden. Raden juga merupakan gelar bagi pegawai birokrasi dari Golongan Nanang / Anang Misalnya gelar Raden Tumenggung, yang lebih lagi dan Q menjadi Raden Dipati. Menurut Hikayat Banjar, gelar Nanang diberikan untuk kalangan Keluarga AMPU Jatmika yang disebut kadang Haji (haji = raja), sedangkan Keluarga Isteri AMPU Jatmika tidak mendapat gelar tersebut atau juga diberikan kepada lelaki dari kalangan biasa yang menikah dengan puteri Sultan Misalnya Nanang Sarang (kandungannya pada Abad ke-17).
    • Seorang lelaki keturunan Arab yang menikah dengan puteri Sultan akan mendapat gelar Pangeran Serip (Syarif), sedangkan puteri Sultan tersebut laper Isteri Permaisuri disebut Ratu Serip (Ratu Syarif). [65]

 Sultan Banjar

Berikut adalah senarai figur ini = figur Pemimpin yang memerintah di Kesultanan Banjar . [66] [67] [68] [69]
No Masa Sultan K eterangan
1
1520 - 1546 Sultan Suriansyah * Banjarmasih Raja. Nama lahirnya Raden Samudra , Raja Banjar pertama sebagai perampas kekuasaan yang memindahkan Pusat Pemerintahan di Kampung Banjarmasih yang menggantikan pamannya raja Pangeran Tumenggung (Raden Panjang), menurutnya dia Ahli Waris yang sah sesuai wasiat kakeknya Maharaja Sukarama (Raden Paksa) dari Kerajaan Negara Daha , padahal ia Garis keturunan perempuan (menurut Hikayat Banjar versi Resensi I). Baginda dibantu Mangkubumi Aria Taranggana. [24] Baginda memeluk Islam pada 24 September 1526 . Makamnya di Komplek Makam Sultan Suriansyah dengan gelar anumerta Sunan Batu Habang . Dalam Agama lama, beliau dianggap membegawan Hidup di alam gaib sebagai Sangiang digelari Perbata Batu Habang .
2
1546 - 1570 Sultan Rahmatullah bin Sultan Suriansyah * Raja Banjarmasih. Pemerintahannya dibantu Mangkubumi Aria Taranggana . [24] Makamnya di Komplek Makam Sultan Suriansyah dengan gelar anumerta Panembahan Batu Putih .
3 1570 - 1595 Sultan Sultan Hidayatullah I bin Rahmatullah * Raja Banjarmasih. Pemerintahannya dibantu Mangkubumi Kiai Anggadipa . [24] Makamnya di Makam Sultan Suriansyah dengan gelar anumerta Panembahan Batu Irang . Puteranya Raden Bagus dilantik sebagai raja muda dengan gelar Ratu Answer, belakangan Ratu Answer ditawan di Tanjong oleh Sultan Mataram dan Baru dibebaskan pada masa Sultan Mustain Billah. Trah keturunan Sultan Hidayatullah I menjadi Datu-datu TALIWANG dan Sultan- sultan Sumbawa . Sultan Muhammad Jalaluddin Syah II / TIKI Komplek Abdurrahman / Dewa Pangeran (Sumbawa Sultan (1763 -. 1766) merupakan menantu Sultan Sumbawa Kemudian dia dilantik sebagai Sultan Sumbawa Seterusnya> oleh Datu TALIWANG (raja daerah TALIWANG yang juga keturunan Raja Banjar Sultan Hidayatullah I) [ 70]
4 1595 - 1641 Sultan Mustain Billah bin Sultan Hidayatullah I * Raja Banjarmasih / Raja Martapura . Nama lahirnya Raden Senapati , diduga ia perampas kekuasaan, sebab ia anak meskipun baru dari Permaisuri meskipun ia anak tertua. Pemerintahannya dibantu Mangkubumi Kiai Jayanagara, dilanjutkan sepupunya Kiai Tumenggung Raksanagara . Gelar yang lain: TIKI Kacil / Pangeran Senapati / Sultan / Raja Panembahan Maruhum dan gelar yang dimasyhurkan Sultan Panembahan. Beliau memindahkan ibukota ke sebelah Hulu setelah mendapat serangan dari VOC Belanda dan memberi nama ibukota Baru Martapura. [24] Oleh Suku Dayak yang menghayati Kaharingan Baginda dianggap Hidup sebagai Sangiang di Lewu Tambak Raja Dikenali sebagai Raja Helu Maruhum usang. Pada bulan Oktober 1641 Baginda menghantar Utusan yang membawa Hadiah Interior (bukan upeti) kepada Sultan Mataram sebagai Penanda persahabatnan. Sekitar tahun 1635 Perhubungan Banjar dan Mataram mengalami ketegangan, namun mulai membaik Kehormat di Royal tahun 1637. Keturunannya menjadi Sultan-sultan Banjar dan Pangeran Ratu Kotawaringin.
5 1641 - 1646 Sultan Inayatullah bin Sultan Mustain Billah * Raja Martapura. Gelarnya sebelum menjadi Sultan adalah Pangeran Dipati Tuha [ke-1]. Pemerintahannya dibantu adiknya Pangeran di Darat sebagai Mangkubumi. Gelar yang lain: Ratu Agung / Ratu Lama dimakamkan di Kampung Keraton , Martapura . Adiknya, Pangeran Dipati Anta-Kasuma diangkat menjadi raja muda di wilayah sebelah barat yang disebut Kerajaan Kotawaringin
6 1646 - 1660 Sultan Saidullah bin Sultan Inayatullah * Raja Martapura. Nama lahirnya Raden Kasuma Alam . Pemerintahannya dibantu Mangkubumi pamannya Panembahan di Darat , dilanjutkan pamannya Pangeran Dipati Anta-Kasuma, terakhir dilanjutkan Paman tirinya Pangeran Dipati Mangkubumi (Raden Halit). Terdapat masa kekosongan Sultan selama setahun sebelum dia ditabalkan, dan menjalankan "kekuasaan" saat itu adalah Mangkubumi Pangeran di Darat. [24] gelar yang lain: Wahidullah / Ratu Anum / Ratu Anumdullah / Sultan Ratu. Sultan Ratu memiliki dua putera yaitu Pangeran Suria Helang (Raden Answer / Sultan Amrullah) dan Pangeran Suria Negara (Raden Basus / Pangeran Dipati Tuha). [71] Keturunannya menjadi Raja-raja Banjar dan Tanah Bumbu.
7 1660 - 1663 Sultan Ri'ayatullah bin Sultan Mustain Billah * Raja Martapura. Nama lahirnya Raden Halit . Ia sebagai sementara raja / Badal menjadi melakukan Tugas bagi Raden Bagus, Putra Mahkota yang belum dewasa. Sebagai Penjabat Sultan dengan gelar rasmi dalam khutbah Sultan Rakyatullah (Rakyat Allah). Pemerintahannya dibantu Mangkubumi keponakan tirinya Mas Pangeran Dipati bin Pangeran Dipati Antasari. Gelar yang lain: Pangeran Dipati Tapasena / Pangeran Mangkubumi / Panembahan Sepuh / Tahalidullah / Dipati Halit. Pada tahun 1663 ia dipaksa menyerahkan takhta kepada Cucu tirinya Pangeran Dipati Anom II / Sultan Agung yang berpura-pura akan menyerahkan takhta kepada Putra Mahkota Raden Bagus tetapi Ternyata untuk Dirinya sendiri yang hendak menjadi Sultan. [24]
8 1663 - 1679 Sultan Amrullah Answer Kasuma bin Sultan Saidullah * Nama lahirnya Raden Bagus . Masa pemerintahannya Sering Ditulis bergantung kepada keputusan tahun 1660-1700. Pada tahun 1660-1663 ia diwakilkan oleh Sultan Rakyatullah dalam menjalankan Pemerintahan karena ia belum dewasa. Pada tahun 1663 Paman tirinya Pangeran Dipati Anom II / Sultan Agung merampas takhta dari Sultan Rakyatullah, yang semestinya dirinyalah sebagai Ahli Waris yang sah sebagai Sultan Banjar Seterusnya>. [24] Sementara itu ia telah dilantik oleh Pangeran Tapesana / Sultan Rakyatullah dengan gelar Sultan Amrullah Answer Kasuma. Tahun 1663-1679 ia sebagai raja pelarian yang memerintah dari pedalaman ( Alay )
9 1663 - 1679 Sultan Agung / Pangeran Suryanata II bin Sultan Inayatullah * Raja Banjarmasih. Nama lahirnya Raden Kasuma Lalana . Mengkudeta / mengambil hak kemenakannya Raden Bagus sebagai Sultan Banjar. Ia dengan Bantuan suku dikhaskan Biaju , memindahkan Pusat Pemerintahan ke Sungai Pangeran (Banjarmasin). Pemerintahannya dibantu Pangeran Mangkubumi Aria tempat tissu , putera Pangeran Ratu. Sebagai raja muda ditunjuk adik kandungnya, Pangeran Purbanagara. Ia berbagi kekuasaan dengan saudara kakeknya Pangeran Ratu (Sultan Rakyatullah) yang kembali memegang Pemerintahan Martapura sampai mangkatnya pada 1666 . Gelar lain: Pangeran Dipati Anom II. [24]
10 1679 - 1700 Sultan Amrullah Answer Kasuma / Suria Angsa / Saidillah bin Sultan Saidullah * Raja Kayu Tangi . Ia sempat lari ke daerah Alay (1663-1679) kemudian Mengasaskan kekuatan dan berhasil membinasakan pamannya tirinya Sultan Agung beserta anaknya Pangeran Dipati, kemudian Naik takhta kedua kalinya. Saudara tirinya Raden Basus / Suria Negara / Pangeran Dipati Tuha diangkat sebagai Raja daerah Negara , yang kemudian membina Kerajaan Tanah Bumbu dengan wilayah dari Tanjung Aru sampai Tanjung Silat yang diperuntukan bagi anaknya yaitu Pangeran MANGU, anak lainnya Pangeran Citra menjadi Sultan Kelua .
11 1700 - 1717 Sultan Tahmidullah I / Panembahan Kuning bin Sultan Amrullah * Raja Kayu Tangi. Tahmidullah saya memiliki dua putera dewasa, yang tertua adalah Sultan Ilhamidullah / Sultan Kuning / Sultan Badarul Alam dan yang kedua Sultan Sepuh / Tamjidullah I. [72] [73] Sedangkan penguasa daerah Negara dijabat oleh Pangeran Mas Dipati [74]
12 1717 - 1730 Panembahan Kasuma Dilaga / Tahlilullah * Raja Kayu Tangi. Ia adalah Mangkubumi dan adik sultan sebelumnya. Iparnya yang bernama Raden Jaya Negara dilantik sebagai penguasa daerah Negara
13 1730 - 1734 Sultan il-Hamidullah / Sultan Kuning bin Sultan Tahmidullah I * Raja Kayu Tangi. Gelar yang lain: Sultan Kuning atau Pangeran Bata Kuning [75] Panglima bebek dari La Madukelleng menyerang Banjarmasin pada tahun 1733
14 1734 - 1759 Sultan Tamjidullah I bin Sultan Tahmidullah I * Raja Kayu Tangi. Gelar yang lain: Sultan Sepuh / Panembahan Badarulalam. [75] Raja Kayu Tangi. Ia semula mangkubuminya Sultan Kuning, kemudian setelah mangkatnya Sultan Kuning, ia bertindak sebagai wali Putra Mahkota Pangeran Muhammad Aliuddin Aminullah gelar Ratu Anom yang belum dewasa. Tamjidullah I yang bergelar Sultan Sepuh ini berusaha Sultan Banjar tetap dipegang pada dinasti Garis keturunannya. Adiknya Pangeran sela gunung (Penembahan Hirang) dilantik sebagai Mangkubumi. [76] Tamjidullah I mangkat 1767 .
15 1759 - 1761 Sultan Muhammadillah / Muhammad Aliuddin Aminullah bin Sultan Il-Hamidullah/Sultan Kuning * Raja Kayu Tangi. Ia menggantikan mertuanya Sultan Sepuh / Tamjidullah I sebagai Sultan Banjar. Setelah itu mantan Sultan Sepuh tidak lagi Memakai gelar Sultan tetapi hanya sebagai Panembahan . Sebagai Mangkubumi adalah Pangeran Nata dengan gelar Ratu Dipati , putera Sultan Sepuh. Gelar yang lain: Aminullah Sultan Muhammadillah / Sultan / Muhammad Iya'uddin Aminullah / Muhammad Iya'uddin Amir ulatie ketika mangkat anak-anaknya masih belum dewasa, takhta Kerajaan kembali dibawah kekuasaan Tamjidillah I tetapi dijalankan oleh anaknya Pangeran Nata Dilaga sebagai wali Putra Mahkota.
16 1761 - 1801 Sunan Nata Alam bin Sultan Tamjidullah I * Raja Kayu Tangi. Tahun 1771 ia memindah ibukota ke Martapura yang dinamakan Bumi Selamat. Semula sebagai wali Putra Mahkota dengan gelar Panembahan Kaharuddin Halilullah . Pamannya yang bernama Pangeran Mas menjadi Mangkubumi dengan gelar Ratu Anom Kasuma Yuda (Mangkubumi Sultan Tahmidullah II ). Ratu Anom Kasuma Yuda kemudian wafat dan digantikan Ratu Anom Ismail atau Ratu Anom Mangkudilaga. [76] gelar yang lain: Sultan Tahmidullah II / Sunan Nata Alam (1772) / Pangeran Nata Dilaga / Pangeran Wira Nata / Pangeran Nata Negara / Akamuddin Saidullah ( 1762 ) / Amirul Mukminin Abdullah (1762) / Sunan Saidullah Sulaiman I (1787) / Panembahan Batu ( 1797 ) / Panembahan Anom. Mendapat Bantuan VOC untuk menangkap Pangeran Amir bin Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah yang menuntut takhta dengan Bantuan Arung Trawe / Petta Untuk Rawe pimpinan suku dikhaskan Bugis - Paser yang mengalami kegagalan, kemudian Pangeran Amir menjalin Perhubungan dengan suku dikhaskan Bakumpai dan akhirnya ditangkap Kompeni Belanda 14 Mei 1787 , kemudian diasingkan ke Srilangka . Sebagai Balas jasa kepada VOC maka Islam itu indah perjanjian 13 Ogos 1787 yang menyebabkan Kesultanan Banjar menjadi vazal VOC atau daerah protektorat, Sebaliknya pengangkatan Sultan Muda dan Mangkubumi harus dengan Perjanjian VOC. Sultan Tahmidullah II mempunyai saudara perempuan bernama Ratu Laiya yang menikah dengan Sultan Muhammad dari Sumbawa. [77]
17 1801 - 1825 Sultan Sulaiman al-Mutamidullah / Sultan Sulaiman Saidullah II bin Tahmidullah II * Ia Drs keraton di Karang Intan (bekas Kayu Tangi dahulu) Ia mendapat gelar Sultan Muda atau Pangeran Ratu Sultan Sulaiman Kehormat di Royal tahun 1767 ketika berusia 6 tahun. Dibantu oleh adiknya yaitu Pangeran Mangku Dilaga / Pangeran Ismail dengan gelar Ratu Anom Mangku Dilaga / Ratu Anom Ismail sebagai Mangkubumi (dihukum bunuh karena merencanakan Rampasan kuasa), dilanjutkan puteranya sendiri Pangeran Husin dengan gelar Pangeran Mangku Bumi Nata (adik Sultan Adam). [78] Sultan Sulaiman digantikan anaknya Sultan Adam. Keturunannya menjadi Sultan Banjar dan raja-raja Kusan , Batulicin dan Pulau Laut . Hindia Belanda jatuh ke tangan Inggeris, tetapi Inggeris melepaskan kekuasaannya di Banjarmasin. Kemudian Hindia Belanda datang kembali ke Banjarmasin untuk menegaskan kekuasaannya.
18 1825 - tahun 1857 Sultan Adam Al-Watsiq Billah bin Sultan Sulaiman al-Mutamidullah * Baginda mendapat gelar Sultan Muda Kehormat di Royal tahun 1782 . Pemerintahannya dibantu adiknya Pangeran Noh dengan gelar Ratoe Anom Mangkoeboemi Kentjana sebagai Mangkubumi yang dilantik Belanda pada 1842 [79] , dan Pangeran Abdur Rahman sebagai Sultan Muda. Masjid mangkatnya terjadi krisis suksesi dengan tiga kandidat penggantinya yaitu Pangeran Prabu Anom, Pangeran Tamjidullah II dan Pangeran Hidayatullah II, Belanda sebelumnya sudah mengangkat Tamjidullah II sebagai Sultan Muda Kehormat di Royal 8 Ogos 1852 juga merangkap jawatan Mangkubumi dan kemudian menetapkannya sebagai sultan Banjar, Sehari kemudian Tamjidullah II memeterai surat pengasingan kandidat sultan lainnya pamannya sendiri Pangeran Prabu Anom yang diasingkan ke Bandung pada 23 Februari 1858 . Tahun 1853 Sultan Adam sudah mengutus surat ke Batavia agar pengangkatan Tamjidullah II dibatalkan. Tahun 1855 Sultan Adam melantik puteranya Pangeran Prabu Anom sebagai Raja Muda . Sultan Adam sempat membuat surat wasiat yang menunjuk cucunya Hidayatullah II sebagai Sultan Banjar penggantinya, Inilah yang menjadi asas perlawanan segenap bangsawan terhadap Hindia Belanda [80]
19 Tahun 1857 - tahun 1859 Sultan Tamjidullah II bin al-Watsiq Billah Pangeran Ratu Sultan Muda Abdur Rahman bin Sultan Adam * Sejak 1851 ia dilantik Belanda sebagai Mangkubumi (sewaktu Sultan Muda Abdurrahaman masih Hidup) untuk menggantikan Ratoe Anom Mangkoeboemi Kentjana (adik Sultan Muda Abdurrahaman) yang meninggal Dunia, tidak hanya itu kemudian pada tahun 1852 ia dilantik Belanda menjadi Sultan Muda (merangkap Mangkubumi) menggantikan Ayahnya Pangeran Abdurrahman yang mangkat pada 5 Mac 1852, walaupun pelantikannya sebagai Sultan Muda ini tidak diluluskan kakeknya Sultan Adam. Pada 3 November 1857 Tamjidullah II diangkat Belanda menjadi Sultan Banjar, padahal ia anak selir meskipun ia sebagai anak tertua dan kemudian Belanda mengangkat Hidayatullah II sebagai Mangkubumi. Jalur suksesi menurut Tradisi Kesultanan Banjar, untuk promosi jawatan putera-putera dari Seorang Sultan yang bertahta, maka putera Permaisuri yang sulung dilantik sebagai Sultan Muda dan Seorang putera yang lainnya akan dilantik sebagai Mangkubumi (jawatan bergengsi kedua setelah Sultan). Pelantikan Tamjidullah II ini sengaja Islam itu indah nikki oleh Belanda. Tamjidullah II memiliki tanah lungguh di Kota Banjarmasin karena itu sebagian rakyat dan ulama Banjarmasin mendukungnya. Banjarmasin menurut Tradisi berada di bawah otoritas putera tertua Sultan. Pengangkatan Tamjidullah II ditentang segenap bangsawan karena menurut wasiat semestinya Hidayatullah II sebagai Sultan karena ia anak Permaisuri. Pada 25 Jun 1859 , Hindia Belanda memakzulkan Tamjidullah II sebagai Sultan Banjar kemudian mengirimnya ke Bogor . Sultan Seman, mertua Tamjidullah II ditangkap dan dihukum gantung dengan empat orang pengikutnya dengan tuduhan melakukan pemberontakan. Sebagai GANTIAN jawatan Sultan Banjar yang kosong, Belanda melantik Komisen Pemerintahan Kerajaan yang terdiri daripada atas Pangeran Surya Mataram dan Pangeran Muhammad Tambak anyar. Sementara Sultan Muda menghindari Penankapan Belanda melarikan diri ke pulau dan Sumatera.
20 Tahun 1859 - tahun 1862 Sultan Hidayatullah Halilillah bin Pangeran Ratu Sultan Muda Abdur Rahman bin Sultan Adam * Nama lahirnya adalah TIKI Andarun , kemudian sebagai Mangkubumi ia Memakai gelar Pangeran Hidayatullah. Ia Dikenali sebagai Sultan tanpa mahkota . Sesuai wasiat Sultan Adam ia sebagai Sultan Banjar penggantinya. Pada 9 Oktober 1856 ia dilantik Belanda sebagai Mangkubumi tetapi diajari diajari ia menjadi oposisi Tamjidullah II, Misalnya dengan mengangkat Kiai Adipati Anom Dinding Raja (Jalil) sebagai tandingan Adipati besekutuannya Lima Kiai Adipati Danu Raja yang berada di pihak Belanda / Sultan Tamjidullah II. Pangeran Hidayatullah II memiliki tanah lungguh meliputi Alai, Paramasan, Amandit, Karang Intan, Margasari dan BASUNG. Perjuangan Sultan Hidayatullah II dibantu oleh tangan kanannya Demang Lehman yang memegang pusaka Kerajaan Keris Singkir dan Taman Negara Bukit Tigapuluh Kalibelah. [81] Masjid berada di besekutuannya Lima pada bulan September 1859, ia dilantik di Amuntai oleh rakyat besekutuannya Lima sebagai Sultan Banjar, dan Pangeran Wira Kasuma sebagai Mangkubumi. Pelantikan ini untuk memenuhi angan-angan rakyat besekutuannya Lima walaupun bersifat marjinal karena pada dasarnya seluruh wilayah berada dalam kekuasaan Belanda. Penobatanya ini pada Umumnya diluluskan pula oleh rakyat yang berada di besekutuannya Lima maupun di luar besekutuannya Lima. Pada tarikh 11 Jun 1860 , Residen I.N. Nieuwen Huyzen mengumumkan Penghapusan Kesultanan Banjar yang digantikan Komisen Kerajaan dibawah Pangeran Suria Mataram (anak Sultan Adam) dan Pangeran Mohammad Tambak anyar (anak Ratoe Anom Mangkoeboemi Kentjana ). Sultan Hidayatullah II pada 2 Mac 1862 dibawa dari Martapura dan diasingkan ke SK
21 1862 Pangeran Antasari bin Pangeran Mashud bin Amir Sultan [82] bin Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah * Raja Bakumpai . Pada 14 Mac 1862 , yaitu setelah 11 hari Pangeran Hidayatullah II diasingkan ke SK, rakyat Tanah Dusun , Siang dan murung memproklamasikan pengangkatan Pangeran Antasari sebagai pimpinan Tertinggi dalam Kerajaan Banjar dengan gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin. Khalifah ini dibantu Tumenggung Surapati sebagai Panglima Perang. Pusat termanis di Menawing, pedalaman Sungai Barito , murung Raya , TO. Dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional , wafat 11 Oktober 1862 di kampung Sampirang , Bayan Begak , karena penyakit Cacar. Dimakamkan kembali 11 November 1958 di Makam Pangeran Antasari , Banjarmasin.
22 1862 - tahun 1905 Sultan Muhammad Seman bin Pangeran Antasari Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin * Raja Pagustian / Kastapura [83] . Sebagai kepala Pemerintahan Pagustian meneruskan termanis Ayahnya, Pangeran Antasari melawan kolonial Belanda dengan dibantu kakaknya Panembahan Muda / TIKI Muhammad Said sebagai Mangkubumi dan Panglima Batur sebagai Panglima bebek. Ia melantik menantunya Pangeran Perbatasari bin Panembahan Muhammad Said sebagai Sultan Muda . Pangeran Perbatasari tertangkap di daerah Epsom, Kutai Barat dan dibuang ke ke Kampung Jawa Cini . Sultan Muhammad Seman sempat menghantar Panglima Bukhari ke Kandangan untuk mengadakan perlawanan terhadap Belanda. Muhammad Seman Pengguguran pada 24 Januari 1905 ditembak Belanda yang mengakhiri Perang Banjar dan banyak para Pahlawan pejuang yang tertangkap, Pangeran Aminullah (menantu Pangeran Prabu Anom) dibuang ke ke Surabaya, Ratu Zaleha diasingkan ke Bogor, keturunan Tumenggung Surapati yang tertangkap diasingkan ke Bengkulu, dan sebagai penerus Sultan Muhammad Seman adalah TIKI Berakit. Negeri Banjar menjadi sepenuhnya di bawah Pemerintahan Residen Belanda dilanjutkan Gubernur Haga , Pimpinan Pemerintahan Awam , Pangeran Musa Ardi Kesuma (Ridzie Zaman Jepun), Pangeran Muhammad Noor (Gubernur Kalimantan I), sekarang menjadi Provinsi Kalimantan Selatan .
23 2010 Sultan Haji Khairul Saleh Al-Mu'tashim Billah bin TIKI Jumri bin TIKI Umar bin Pangeran Haji Abubakar bin Pangeran Singosari bin Sultan Sulaiman al-Mu'tamidullah * Sultan Haji Khairul Saleh Al-Mu'tashim Billah bin Pangeran Jumri bin TIKI Umar bin Pangeran Abubakar bin Pangeran Singasari bin Sultan Sulaiman. Setelah lama mengalami kevakuman, para zuriat Kesultanan Banjar bertekad "Maangkat Batang Tarandam" untuk menghidupkan kembali Kesultanan Banjar. Maka melalui musyawarah Tinggi Adat, para zuriat yang tergabung dalam Lembaga Adat dan Kekerabatan Kesultanan Banjar (LAKKB), pada 24 Juli 2010 rasmi menganugerahkan gelar Pangeran dan menobatkan TIKI Khairul Saleh (maju Kabupaten Banjar 2005-2015) sebagai Raja Muda Banjar dan Sesudah diangkat menjadi Sultan Banjar.

 Rujukan
  • Paul Michel Munoz, Kerajaan-Kerajaan Awal Kepulauan Indonesia dan Semenanjung Malaysia, Mitra Abadi, Mac 2009.
  • Hikayat Banjar
  • (Inggeris) Han Knapen, Hutan nasib baik:? sejarah alam sekitar Tenggara Borneo, 1600-1880, Jilid 189 dari Verhandelingen van het Koninklijk Hexagon voor Taal-, Land-en Volkenkunde, KITLV Press, 2001, ISBN 90-6718-158 -7 , 9789067181587

 Pautan luar

KESULTANAN SINTANG(1362-1960-KINI)






Masa Kerajaan Sintang Hindu

    Kerajaan ini diperkirakan awalnya terletak di Desa Tabelian Nanga Sepauk, berjarak sekitar 50 km dari Kota Sintang (saat ini). Bukti sejarah berdirinya kerajaan ini dapat ditelusuri melalui sejumlah benda peninggalan sejarah. Sebuah patung yang menyerupai Siwa ditemukan di Desa Temian Empakan, Kecamatan Sepauk. Patung ini mempunyai empat tangan yang terbuat dari perunggu. Di samping itu, juga ditemukan Batu Lingga dan Joni yang bergambar Mahadewa di Desa Tabelian Nanga Sepauk (masyarakat menyebutnya dengan nama lain, Batu Kalbut). Di desa yang sama, ditemukan batu yang menyerupai b*** (sensored) atau lembu, beberapa kapak batu, dan makam Aji Melayu.

    Aji Melayu diperkirakan merupakan nenek moyang raja-raja atau sultan-sultan di Kesultanan Sintang. Tidak ada banyak data yang mengungkap tentang asal-usul siapa sebenarnya Aji Melayu itu. Ada sumber yang menyebutkan bahwa ia merupakan penyebar agama Hindu dari Tanah Balang (Semenanjung Malaka) ke Sepauk. Awalnya, ia menetap di Kunjau, dan kemudian pindah ke Desa Tabelian Nanga Sepauk hingga akhir hayatnya. Ia menikah dengan Putung Kempat, dan dikaruniai seorang putri, Dayang Lengkong.

    Dayang Lengkong memiliki garis keturunan yang merupakan para pewaris tahta kekuasaan di Kerajaan Sintang Hindu berikutnya, yaitu:  Abang Panjang, Demong Karang, Demong Kara, Demong Minyak, Dayang Setari, Hasan, Demang Irawan (Jubair Irawan I) dan Dara Juanti.

    Pada abad ke-XIII, Demong Irawan (Jubair Irawan I) memindahkan pusat kerajaan ke Senentang, terletak di persimpangan Sungai Kapuas dan Muara Melawi. Nama Senentang ini lambat-laun lebih dikenal dengan sebutan Sintang. Sebenarnya, penggunaan nama Sintang (Senentang) mulai berlaku sejak zaman pemerintahan Demong Irawan. Pada masa ini, wilayah Kerajaan Sintang mencakup Sepauk dan Tempunak.

    Setelah Demong Irawan wafat, tahta kekuasaan dipegang oleh Dara Juanti. Dara Juanti menikah dengan Patih Legender  yang berasal dari kerajaan Majapahit. Pada masa pemerintahan Dara Juanti, Kerajaan Sintang pernah mengalami masa kemajuan dan kemakmuran. Setelah Dara Juanti mengundurkan diri kerajaan Sintang mengalami kemunduran,tidak terdengar lagi seolah-olah kerajaan Sintang sudah tidak ada lagi. Baru beratus-ratus tahun kemudian muncul Abang Samad sebagai raja dari keturunan Dara Juanti.

    Setelah Abang Samad, tampuk pimpinan Kesultanan Sintang dipegang secara berturut-turut oleh: Jubair Irawan II, Abang Suruh dan Abang Tembilang. Kemudian Abang Pencin yang bergelar Pangeran Agung. Abang Pencin merupakan penguasa terakhir di Kerajaan Sintang Hindu. Ia juga merupakan raja yang menganut Islam pertama kali di Sintang. Masa pemerintahan Abang Pencin dapat dikatakan sebagai babak baru masa Kesultanan Sintang Islam.

 Masa Kesultanan Sintang Islam

Masjid Jami Sultan Nata
      Setelah Abang Pencin meninggal, tahta kekuasaan di Kesultanan Sintang dipegang oleh putranya, Abang Tunggal dengan gelar Pangeran Tunggal. Sebelum meninggal, Pangeran Tunggal pernah berwasiat agar Abang Nata menggantikan dirinya. Abang Nata merupakan anak dari kakak perempuan Pangeran Tunggal, Nyai Cili, yang menikah dengan Mangku Negara Melik.

    Pangeran Tunggal sebenarnya memiliki dua orang putra, yaitu Pangeran Purba dan Abang Itut. Namun, Pangeran Purba telah menikah dengan putri dari Sultan Nanga Mengkiang dan kemudian menetap selamanya di sana. Sementara itu, Abang Nata masih berumur 10 tahun. Oleh karena kondisi semacam ini, Pangeran Tunggal melakukan sebuah cara, yaitu menunjuk dua orang menteri, Mangku Negara Melik dan Sina Pati Laket. Setelah dewasa, Abang Nata mulai memimpin Kesultanan Sintang. Ia bergelar Sultan Nata Muhammad Syamsuddin Sa‘adul Khairi Waddin. Ia merupakan pemimpin pertama di Sintang yang menggunakan gelar sultan.

    Pada masa pemerintahan Sultan Nata, banyak terjadi kemajuan di Kesultanan Sintang. Pada masa ini, mulai dibangun masjid pertama kali yang letaknya di ibu kota kesultanan, meski hanya dengan kapasitas 50 orang. Pada masa ini pula, wilayah kekuasaan Sintang meluas hingga ke daerah Ketungau Hilir dan Ketungau Hulu, hingga ke daerah perbatasan Serawak, Kalimantan Tengah, dan Melawi. Di samping mengalami kemajuan secara fisik, ada sejumlah keputusan penting terkait dengan Kesultanan Sintang yang ditetapkan dalam sebuah rapat, yaitu:

    1. Ditetapkannya Sintang sebagai Kesultanan Islam
    2. Pemimpin Kesultanan Sintang bergelar Sultan
    3. Disusunnya Undang-undang Kesultanan yang terdiri dari 32 pasal
    4. Didirikannya masjid sebagai tempat ibadah
    5. Dibangunnnya istana kesultanan

    Sultan Nata menikah dengan Putri Dayang Mas Kuma, putri dari Sultan Sanggau. Dari hasil pernikahan ini, Sultan Nata dikaruniai seorang putra, Adi Abdurrahman.


Istana Al Mukaramah Sintang
    Sultan Nata meninggal pada tahun 1150 H, dan dimakamkan di Kampung Sungai Durian Sintang. Putranya, Adi Abdurrahman kemudian menggantikannya dengan gelar Sultan Abdurrahman Muhammad Jalaluddin atau dengan sebutan lain, Sultan Pikai atau Sultan Aman,karena semasa beliau berkuasa rakyat aman sentosa tak pernah terjadi kekacauan.

    Sultan Abdurrahman menikah dengan Utin Purwa, putri Sultan Sanggau. Mereka dikaruniai dua orang anak, Raden Machmud dan Adi Abdurrosyid. Sultan Abdurrahman menikah lagi (tidak diketahui identitasnya), yang kemudian dikaruniai seorang putra bernama Abang Tole. Setelah Sultan Abdurrahman meninggal, tahta kekuasaan Sintang dipegang oleh putranya, Adi Abdurrosyid dengan gelar Sultan Abdurrosyid Muhammad Jamaluddin. Sementara itu, anaknya yang lain, Raden Machmud diangkat sebagai Mangkubumi.

    Pada masa Sultan Abdurrosyid, dibangun sebuah masjid baru yang menggantikan masjid lama. Ia tidak lama berkuasa karena jatuh sakit. Pada tahun 1210 H, ia meninggal, dan dimakamkan di Kampung Sungai Durian Sintang. Ia digantikan oleh putranya yang bernama Adi Noh dengan gelar Pangeran Ratu Adi noh Muhammad Qomaruddin. Pada masa pemerintahan Adi Noh, sejumlah rombongan asal Belanda datang pertama kali ke Sintang, tepatnya pada bulan Juli 1822 M, yang dipimpin oleh Mr. J.H. Tobias, seorang Komisaris dari Kust van Borneo.

    Pada bulan November tahun yang sama, Pangeran Ratu Adi Noh Muhammad Qomaruddin meninggal dunia karena sakit parah. Tahta kekuasaan kemudian dipegang oleh Gusti Muhammad Yasin dengan gelar Pangeran Adipati Muhammad Djamaluddin. Pada bulan ini, datang rombongan Belanda yang kedua, di bawah pimpinan Dj. van Dungen Gronovius dan Cf. Golman, dua pejabat tinggi, yang ditemani oleh Pangeran Bendahara Pontianak, Syarif Ahmad Alkadrie, sebagai juru bicara.

    Misi Belanda tersebut menghasilkan sebuah kesepakatan dan kerja sama dagang, yang tertuang dalam Voorlooping Contract (Kontrak Sementara). Kontrak ini ditandatangani pada tanggal 2 Desember 1822 M. setelah itu, muncul beberapa perjanjian lainnya (1823, 1832, 1847, 1855). Secara umum, perjanjian-perjanjian tersebut lebih banyak menguntungkan pihak Belanda untuk melakukan intervensi terhadap pemerintahan dalam negeri Kesultanan Sintang. Alhasil, intervensi tersebut berdampak negatif terhadap masa depan pemerintahan Kesultanan Sintang.

Gusti Ismail Kesuma Negara II
        Pada tahun 1855 M, Pangeran Adipati digantikan oleh putranya yang bernama Adi Abdurrasyid Kesuma Negara dengar gelar Panembahan Abdurrasyid Kesuma Negara I. Setelah Panembahan Abdurrasyid meninggal, tahta kekuasaan dipegang oleh Abang Ismail dengan gelar Panembahan Gusti Ismail Kesuma Negara II. Setelah Panembahan Ismail meninggal, tahta kekuasaan dipegang oleh anaknya, Gusti Abdul Majid dengan gelar Panembahan Gusti Abdul Majid Kesuma Negara III. Gusti Abdul Majid ditangkap dan dibuang ke Bogor oleh Belanda karena dituduh tidak mau membantu Belanda dalam menyerang pasukan Panggi.

Gusti Abdul Majid Kesuma Negara II
      Menghadapi kevakuman pejabat Sintang maka Pemerintah Belanda menunjuk Ade Muhammad Djoen putera Pangeran Temenggung Agama G.M Isya sebagai Wakil Panembahan. Sejak saat itu, sistem pemerintahan Kesultanan Sintang sepenuhnya berada di bawah kontrol kekuasaan kolonial Belanda.

Ade Muhammad Djoen
       Pada tahun 1934 Ade Muhammad Djoen meninggal dunia. Hasil musyawarah keluarga raja-raja Sintang dengan wakil pemerintah Belanda menetapkan putera Gusti Abdul Majid,Raden Abdulbachri Danu Perdana sebagai Panembahan Kerajaan Sintang. Pada masa beliau lah berhasil dibangun Masjid Jami Sultan Nata dan Istana al Mukaramah. Pada tahun 1944 Panembahan Sintang bersaudara dan para bangsawan terpelajar serta  tokoh-tokoh masyarakat ditangkap oleh Jepang dan dibawa ke pontianak. Selanjutnya dibunuh secara massal di Mandor.

Raden Abdulbachri Danu Perdana
     Kemudian pemerintah Jepang mengangkat Raden Muhammad Chalidi Tsafiudin. Karena pada waktu itu raja masih berusia 6 tahun,maka untuk memangku jabatan raja diangkatlah Raden Syamsuddin sebagai Panembahan Sintang. Namun pada tahun 1946 Raden Syamsuddin diberhentikan oleh pemerintah NICA (Belanda) dari jabatan Panembahan,karena terbukti terlibat dalam gerakan Merah Putih di Nanga Pinoh tanggal 15 November 1946 yang dinilai gerakan ini melawan pemerintah Belanda yang akan memerintah kembali di daerah Sintang. Sebagai penggantinya diangkatlah Ade Muhammad Djohan sebagai Ketua Majelis Kerajaan Sintang.

Raden Syamsuddin
       Kesultanan Sintang merupakan satu-satunya kesultanan di Kabupaten Sintang yang masih eksis hingga akhirnya “bubar” pada tanggal 1 April 1960 M. Sejak tahun 1966, Sintang merupakan Daerah Tingkat II (Kabupaten) di Provinsi Kalimantan Barat. Ibu kotanya adalah Sintang. Setelah Reformasi  Sri Sultan Kusuma Negara V bergelar Pengeran Ratu Sri Negara Raden Ichsani Perdana Tsafiudin,putra dari Panembahan  Raden Abdulbahri Danu Perdana dikukuhkan sebagai Sultan Kraton Al Mukaramah Sintang. 
Post title : KESULTANAN SINTANG
URL post : http://restorasiborneo.blogspot.com/2010/08/kesultanan-sintang.html

KESULTANAN KUBU(1772-1958)


Bendera Kesultanan Kubu
[possible Kubu flag]


1772                       Kesultanan Kubu ditubuhkan.

4 Jun 1823 - 1949         Dutch protectorate.


  pemerintah(gelaran Tuan)

1)1772 - 1795                Saiyid `Aydarus Al `Aydarus        (b. 17.. - d. 1795)
 
2)1795 -  7 Jun 1829         Saiyid Muhammad bin `Aydarus Al
                             `Aydarus                         (b. 17.. - d. 1829)

3) 7 Jun 1829 -  2 Feb 1841  Saiyid Abdul Rahman bin Muhammad
                             Al `Aydarus                      (d. 1841)

4) 2 Feb 1841 - 19 Sep 1864  Saiyid Ismail bin Abdul Rahman
                             Al `Aydarus                      (d. 1864)

5)19 Sep 1864 -  4 Nov 1900  Saiyid Hasan bin Abdul Rahman
                             Al `Aydarus                      (d. 1900)

6) 4 Nov 1900 - Apr 1911     Syarif Abbas Al `Aydarus           (b. 1853 - d. 19..)

7)26 Sep 1911 - 11 Apr 1921  Syarif Zainul Idris ibni al-Marhum
                             Syarif Ismail                    (b. 1851 - d. 19..)

8)16 Jun 1921 - 23 Nov 1943  Syarif Salih bin Syarif Idris
                             Al `Aydarus (regent to Sep 1921) (b. 1881 - d. 1944)
 
9)1943 - 1958                Syarif Hasan bin Zain
                             

Kerajaan Kubu adalah sebuah Kerajaan yang diperintah oleh Seorang  Yang Di Pertuan Besar yang pernah  Berdiri dalam wilayah yang sekarang terletak di wilayah Kabupaten Kubu Raya , Kalimantan Barat .

Sejarah

Sejarah Kerajaan Kubu memiliki kaitan yang Erat dengan Sejarah Kesultanan Pontianak. Sejarahnya berkait rapat berhutang budi kepada sekelompok kecil pedagang dan Saudagar Arab yang Singgah dari SANAA atas kemunculan serta tegaknya kedua Kerajaan tersebut pada awalnya. iaitu ketika 45 Pelayar Arab yang berasal dari daerah Hadramaut di Selatan Jazirah Arab, yang pada mulanya bertujuan untuk mencari keuntungan dengan berdagang di Lautan Timur-jauh (Asia) berlabuh di SANA. Leluhur dan Tuan Besar (Raja) Kerajaan Kubu pertama, iaiitu Syarif Idrus Al-Idrus , adalah menantu dari Tuan Besar (Panembahan) Mampawa (Mempawah). Ia Syarif Idrus juga merupakan ipar dari Sultan pertama Kesultanan Pontianak (Al-Qadri). Pada awalnya Beliau Syarif Idrus membina perkampungan di dekat muara Sungai Terentang, barat-daya berdekatan Kalimantan.
SEBAGAIMANA Keluarga sepupunya (Al-Qadri), Keluarga Syarif Idrus Al-Idrus (Idrusi) Tumbuh menjadi Keluarga yang kaya-raya melalui Perdagangan yang Maju. Mereka membina Perhubungan yang  baik dengan Kerajaan Inggeris Raya, pada masa Pemerintahan Gabernor Jeneral Sir Thomas Stamford Raffles (yang membina Singapura), Raffles ditugaskan di Hindia Belanda. Perhubungan ini berlanjutan hingga setelah kembalinya Belanda ke Indonesia (Hindia Belanda) dan dirintisnya adanya pembangunan pembukaan  Singapura.
Bagaimanapun juga, Perhubungan ini tidak disukai oleh Kerajaan Belanda, yang secara rasmi mereka mengendalikan Pulau Kalimantan berdasarkan kontrak perjanjian bangsa-bangsa yang ditetapkan pada tahun 1823. beberapa Keluarga Al-Idrus sempatkan juga mengalami perubahan Kesejahteraan Hidup menjadi sengsara pada masa itu. Mereka ada yang meninggalkan Kalimantan demi menjauhi Sikap Buruk Belanda di daerah Serawak, Mana yang waktu itu menjadi daerah wilayah Kerajaan Inggeris Raya, demi Harapan yang lebih baik akan Perkara ini dalam Perdagangan. Sedangkan Keluarga Al-Idrus yang memilih bertahan di Kubu, bagaimanapun juga, tak jua mendapatkan Kehidupan serta perlakuan yang lebih baik dari pemerintah Belanda.
Menurut Staatsblad van Nederlandisch indie tahun 1849, wilayah ini termasuk dalam Wester-afdeeling berdasarkan Bêsluit van den Menteri van Staat, Gouverneur oleh Ketua van Nederlandsch-Indie , pada 27 Ogos 1849, No 8 [2]
Pemerintah Belanda menurunkan Syarif Abbas Al-Idrus dari jawatan Tuan Besar Kerajaan Kubu atas sokongan sepupunya, Syarif Zainal Al-Idrus ketika terjadi perebutan jawatan Raja pada tahun 1911 . Justru ia akhirnya terbukti menemui kesulitan dalam Pemerintahan serta diturun-tahtakan dengan tanpa memiliki pewaris / GANTIAN yang jelas, lapan tahun kemudian. Tidak adanya Pewaris takhta, Baru ditetapkan dan disahkan setelah beberapa tahun kemudian. sehingga pegawai Kerajaan yang ada selama kurun waktu itu hanyalah  (pemerintah sementara).
Setelah beberapa lama, akhirnya Syarif Shalih, mendapatkan Kehormat agung dari  menjabat sebagai Raja, tetapi kemudian ditahan pada Kedatangan Tentera Jepun di Mandur, pada tahun 1943.
Dewan Kerajaan dan Keluarga Bangsawan tak semudah itu menyutujui Pergantian Kerajaan kepada Syarif Shalih. Hingga akhirnya Justru Jepun menempatkan putra bungsu Raja terdahulu iaitu Syarif Hasan, sebagai Pemimpin Dewan Kerajaan akan tetapi belum sempat terjadi kerana Jepun terlebih dulu kalh pada PD II dan meninggalkan Indonesia. Ia Justeru baru menerima pensijilan sebagai Pemimpin Kerajaan (Tuan Besar) Kubu pada tahun 1949, setelah Pemerintah Indonesia terbentuk. Kerajaan Kubu itu sendiri akhirnya berakhir dan menghilang ketika dihapus oleh Pemerintahan Republik Indonesia pada tahun 1958.

Sayyid Idrus bin Sayyid 'Abdu'l Rahman al-Idrus, Tuan Besar Kubu (1772 - 1795)

Sayyid Idrus bin Sayyid 'Abdu'l Rahman al-Idrus, Tuan Besar Kubu ( tahun 1772 - 1795 ) - (lahir di Dukhum Hadramaut Yaman , Nota Sejarah menyatakan Beliau pernah Singgah di Batavia Bersama Al-Habib Husain bin Abubakar al-Idrus - makamnya di Keramat Luaran Batang , Jakarta Utara ) - membina perkampungan Arab di pesisir Sungai Terentang, Mana yang menjadi pengasas dan pendiri Kerajaan Kubu pada tahun 1772 . Gelar Sayyid atau Habib atau Syarif yang disandang beliau menandakan bahwa beliau termasuk keturunan Nabi Muhammad SAW dari jalur Sayyid Al-Imam Husain ra.
Beliau Syarif Idrus menikahi putri HH Pangeran Ratu Kimas Hindi Sri Susuhanan Mahmud Badaruddin I Jayawikrama Candiwalang kalifat ul-Mukminin Sayyidul-Iman , Sultan Palembang , pada tahun 1747 . Syarif Idrus wafat pada tahun 1795 , penerus Beliau:
  1. Syarif Muhammad bin Syarif Idrus al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu - lihat bawah.
  2. Syarif Alawi bin Syarif Idrus al-Idrus, Tuan (Raja) Ambawang (Kerajaan kecil bahagian dari Kerajaan Kubu). Ia menjadikan mencoba Ambawang sebagai Kerajaan yang terpisah dari Kubu pada tahun 1800 akan tetapi tidak diijinkan oleh Pemerintah Belanda yang dideklarasikan pada tahun 1833 sebagai Kerajaan terpisah. Ia wafat di Ambawang.
  3. Syarif Abdurrahman bin Syarif Idrus (Raja / Tuan Besar I Kubu) Al-Idrus. Syarif Abdurrahman bin Syarif Idrus Al-Idrus ini menikahi Syarifah Aisyah Al-Qadri yang merupakan putri dari Sultan Syarif Abdurrahman bin Husein Al-Qadri (Sultan I Kesultanan Pontianak di Kalimantan Barat). Berputra Sultan Syarif Ali Al-Idrus yang hendak membina Kerajaan Sabamban di Angsana (sekarang masuk wilayah Keramat meludahnya, Kabupaten Tanahbumbu - Kalimantan Selatan - Indonesia). Pangeran Syarif Ali Alaydrus menjabat sebagai Raja Sabamban hingga akhir hayatnya. Jadi Keluarga Pangeran Syarif Ali mempertemukan dua jalur kebangsawanan Kalimantan,  dari jalur Kerajaan Kubu (Al-Idrus) dan Kesultanan Pontianak (Al-Qadri).
  4. Syarif Mustafa bin Syarif Idrus al-Idrus (Tuan Besar Kubu).
  5. Syarifa Muzayanah [Makam Menjina] binti Syarif Idrus al-Idrus (Tuan Besar Kubu). Lahir pada 1748 (putri dari Putri Kerajaaan Palembang).
  6. Syarif Muhammad ( 1795 - 1829 ) Ibni al-Sultan Syarif Idrus al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu.

Kerajaan Sabamban

Syarif Ali Al-Idrus, pendiri Kerajaan Sabamban yang merupakan Cucu dari Raja (Tuan Besar) Kubu-Syarif Idrus Al-Idrus ini, pada awalnya menetap di daerah Kubu-Kalimantan Barat (Bersama Keluarga bangsawan Kesultanan Kubu). Pada masa itu Beliau telah memiliki satu istri dan berputra dua orang yaitu: Syarif Abubakar Al-Idrus dan Syarif Hasan Al-Idrus. Karena ada suatu Konflik kekeluargaan, akhirnya Syarif Ali Al-Idrus memutuskan untuk hijrah / Pindah ke Kalimantan Selatan dengan meninggalkan istri dan kedua putranya yang masih tinggal di Kesultanan Kubu, melalui Sepanjang Sungai Barito hingga sampai di daerah Banjar.
Di daerah Banjar tersebut, beliau hendak membina Kerajaan Sabamban dan menjadi Raja yang Pertama, bergelar Pangeran Syarif Ali Al-Idrus. Pada saat beliau menjadi Raja Sabamban ini, Beliau menikah lagi dengan 3 (tiga) Wanita; Yang pertama dari Putri Sultan Adam dari Kesultanan Banjar di Kalimantan Selatan, yang kedua dari Bugis (Putri dari Sultan Bugis di Sulwesi Selatan), yang bagi ketiga dari Tulang ( Putri dari Sultan Bone di Sulawesi Selatan). Pada saat beliau telah menjabat sebagai Raja Sabamban Inilah, kedua putra beliau dari Istri Pertama di Kubu-Kalimantan Barat , Syarif Abubakar dan Syarif Hasan menyusul Beliau ke Angsana - Kerajaan Sabamban (Lansekap Sabamban), dan menetap Bersama Ayahandanya.
Dari bagi ketiga istri beliau di Banjar Kalimantan Selatan serta satu Istri beliau di Kubu-Kalimantan Barat tersebut, Pangeran Syarif Ali Alaydrus memiliki 12 (duabelas) putra. Putra-putra beliau : Dari Isteri Pertama (Kubu-Kalimantan Barat):
  1. Syarif Hasan bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus, putra beliau: Pangeran Syarif Qasim Al-Idrus, Raja II Sabamban menjabat sebagai Raja setelah sepeninggal datuknya ,Pangeran Syarif Ali bin Syarif Abdurrahman Al-Idrus, hingga akhirnya Kerajaan Sabamban ini hilang dari bumi Kalimantan Selatan .
  2. Syarif Abubakar bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus
Dari Isteri ke-dua, Putri Kesultanan Banjar , Isteri ke-tiga (Putri Sultan Bugis) dan Isteri ke-empat (Putri Sultan Bone), menurunkan putra-putra beliau:
  1. Syarif Musthafa bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus,
  2. Syarif Thaha bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus,
  3. Syarif Hamid bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus
  4. Syarif Ahmad bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus
  5. Syarif Muhammad bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus
  6. Syarif Umar bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus
  7. Syarif Thohir bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus
  8. Syarif Shalih bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus
  9. Syarif Ummaiyyah bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus dan
  10. Syarif Husein bin Sultan Syarif Ali Al-Idrus.
Setelah wafatnya Sultan Syarif Ali Al-Idrus, Jabatan Sultan tidak Disandang oleh putra-putra beliau, akan tetapi yang menjadi Sultan II Sabamban adalah Justeru Cucu beliau , Sultan Syarif Qasim Al-Idrus, putra dari Syarif Hasan (Syarif Hasan adalah putra Sultan Syarif Ali Al-Idrus dari Isteri Pertama / Kubu, waktu Syarif Ali masih menetap di Kubu-Kalimantan Barat).
Jadi Sepanjang sejarahnya, Kesultanan Sabamban ini hanya dijabat oleh dua Sultan saja,  pendirinya Sultan Syarif Ali Al-Idrus sebagai Sultan I dan Cucu beliau sebagai Sultan II Sabamban , Sultan Syarif Qasim Al-Idrus.
Sementara itu, setelah tidak adanya lagi Kesultanan Sabamban tersebut, anak-Cucu Keluarga bangsawan dari keturunan Sultan Syarif Ali Al-Idrus ini, menyebar ke seluruh wilayah Kalimantan Selatan pada Umumnya dan ada yang hijrah ke Malaysia, Filipina, tanah Jawa dan di Hemisfera lain Nusantara hingga saat ini.

 Syarif Muhammad (1795 - 1829)

Syarif Muhammad ( 1795 - 1829 ) Ibni al-Sultan Syarif Idrus al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu. Menggantikan Ayahandanya yang meninggal dunia pada 1795 . Menerima Perlindungan dari Belanda jam ia bersetuju kontrak perjanjian dengan Pemerintah Belanda (Hindia Belanda), 4 Jun 1823 . Ia meninggal pada 7 Jun 1829 , memiliki keturunan, tiga putra:
  1. Syarif 'Abdul Rahman bin Syarif Muhammad al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu
  2. Syarif Taha bin Syarif Muhammad al-Idrus, Kampung Sungai Pinang.
  3. Syarif Mubarak bin Syarif Muhammad al-Idrus. Menggantikan kakaknya sebagai Pemimpin di Kampung Sungai Pinang.

 Syarif 'Abdul Rahman (1829 - 1841)

Syarif 'Abdul Rahman ( 1829 - tahun 1841 ) Ibni al-Sultan Syarif Muhammad al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu. Menggantikan Ayahandanya yang meninggal pada 7 Jun 1829 . Menikahi Syarifa Idja. Ia meninggal pada 2 Februari 1841 , memiliki keturunan: [3]
  1. Syarif Ismail bin Syarif 'Abdu'l Rahman al-Idrus, Yang di-Pertuan Kubu - lihat bawah.
  2. Rahman Syarif Hasan bin Syarif 'Abdul al-Idrus, Yang di-Pertuan Kubu - lihat bawah.
  3. Syarif Kasim bin Syarif 'Abdu'l Rahman al-Idrus. menikahi putri dari Pangeran Syarif Hamid, Batavia. Ia memilki, Seorang putra:
    1. Syarif Ismail bin Syarif Kasim al-Idrus.
  4. Syarif Aqil bin Syarif 'Abdu'l Rahman al-Idrus. Menikahi Syarifa Jara. Ia memiliki keturunan:
    1. 'Abdul Rahman bin Syarif Syarif Akil al-Idrus. Menikahi Syarifa Piah Ibni al-Sultan Syarif Hasan 'Ali al-Idrus, putri kedua dari Syarif Hasan bin Syarif' Abdu'l Rahman al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu. Ia memiliki, dua anak.
      1. Syarif Hamid bin Syarif Akil al-Idrus. Menikahi Syarifa Kamala.
      2. Syarifa Saha binti Syarif Akil al-Idrus. Menikah dengan Syarif Umar Ibni al-Sultan Syarif Hasan 'Ali al-Idrus, Putra ke-empat Syarif Hasan bin Syarif' Abdu'l Rahman al-Idrus, Yang di-Pertuan Kubu. Ia memiliki dua anak - lihat bawah.
      3. Syarifa Bunta binti Syarif Akil al-Idrus.
  5. Syarifa Saida binti Syarif 'Abdu'l Rahman al-Idrus. Menikah dengan Syarif Muhammad Ba-Hasan, dan memiliki keturunan:
    1. Syarifa Saha binti Syarif Muhammad Ba-Hasan. Menikah dengan Syarif Umar Al-Qadri, Pontianak.
  6. Syarifa Nur binti Syarif 'Abdu'l Rahman al-Idrus. Menikah dengan Syarif Alawi, memiliki keturunan dua putra:
    1. Syarif 'Abdu'llah bin Syarif Alawi. Menikah dengan Syarifa Saliha, memiliki dua anak.
    2. 'Abdul Rahman bin Syarif Syarif Alawi.

 Syarif Ismail (1841 - 1864)

Syarif Ismail ( 1841 - tahun 1864 ) Ibni al-Sultan Syarif 'Abdul Rahman al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu. Menggantikan Ayahandanya yang meninggal pada 2 Februari 1841 , dilantik pada 28 Mei 1841 . Memiliki beberapa istri, termasuk (yang pertama) Tengku Embong binti al-Sultan Tengku Besar Anum (DSP), Putri bungsu dari HH Tengku Besar Anum Ibni al-Sultan Sultan 'Abdu'l Jalil Shah, Panembahan SUKADANA , dengan istri keduanya, Tengku Jeba binti Tengku Ja'afar, Putri tertua dari Tengku Ja'afar bin Tengku Musa, Tengku Panglima Besar Karimata . Syarif Ismail juga menikahi (yang kedua) Syarifa Zina.
Beliau meninggal 19 September 1864 , memiliki keturunan, 4 laki-laki dan 8 perempuan:
  1. Syarif 'Abdul Rahman Ibni al-Sultan Syarif Ismail ( Putra Mahkota ) menikahi Syarifa Amina. Ia hilang pada masa menuju ke Sarawak (diperkirakan meninggal Dunia), pada 1866.
  2. Syarif Muhammad Zainal Idrus Ibni al-Sultan Syarif Ismail, Tuan Kubu - lihat bawah.
  3. Syarif Said Ibni al-Sultan Syarif Ismail. Menikahi Syarifa Zina, dan memiliki dua anak.
  4. Syarif 'Ali Ibni al-Sultan Syarif Ismail. Menikahi Syarifa Marian.
Anak perempuan:
  1. Syarifa Nur binti al-Sultan Syarif Ismail. Dia meninggal sebelum tahun 1903.
  2. Syarifa Dara binti al-Sultan Syarif Ismail, menikah dengan sepupunya, Syarif 'Ali Ibni al-Sultan Syarif Hasan' Ali al-Idrus, Bungsu Syarif Hasan Putra Ibni al-Sultan 'Abdu'l Rahman Syarif al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu. Ia memilki, 3 anak - lihat bawah.
  3. Syarifa Fatima binti al-Sultan Syarif Ismail.
  4. Syarifa Amina binti al-Sultan Syarif Ismail.
  5. Syarifa Rola binti al-Sultan Syarif Ismail. menikah dengan Syarif Mahmud, dan memiliki 3 anak.
  6. Syarifa Zina binti al-Sultan Syarif Ismail. menikah dengan Syarif Mansur, dan memiliki 1 anak.
  7. Syarifa Talaha binti al-Sultan Syarif Ismail.
  8. Syarifa Mariam binti al-Sultan Syarif Ismail.

 Syarif Hasan (1864 - 1871)

Syarif Hasan ( tahun 1864 - 1871 ) Abdul Rahman Ibni al-Sultan Syarif 'al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu. Menggantikan Kakak tertuanya pada 19 September 1864 . dilantik pada 5 Mac 1866 . Rasmi memegang jawatan Tuan Kubu mulai 7 Julai 1871 . menikah dengan Syarifa Isa. Ia meninggal pada 4 November 1900 , memiliki 13 putra dan 6 putri
Putera:
  1. Syarif Muhammad Ibni al-Sultan Syarif Hasan 'Ali al-Idrus. Lahir sebelum tahun 1862.
  2. Syarif 'Ali Ibni al-Sultan Syarif Hasan' Ali al-Idrus. Lahir sebelum tahun 1862. Ia meninggal pada waktu muda.
  3. Syarif 'Abbas Ibni al-Sultan Syarif Hasan' Ali al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu - lihat bawah.
  4. Syarif 'Abdu'llah Ibni al-Sultan Syarif Hasan' Ali al-Idrus. Lahir pada tahun 1870. menikah dengan Syarifa Selina, dan memiliki lima anak.
  5. Syarif Yasin Ibni al-Sultan Syarif Hasan 'Ali al-Idrus. Lahir tahun 1872. menikah dengan Syarifa Muna, dan memiliki keturunan, 4 anak.
  6. Syarif 'Umar Ibni al-Sultan Syarif Hasan' Ali al-Idrus. menikah dengan Syarifa Saha binti Syarif Akil al-Idrus, putri tertua Syarif Akil bin Syarif 'Abdul Rahman al-Idrus. Ia memilki, dua anak.
  7. Syarif Kasim Ibni al-Sultan Syarif Hasan 'Ali al-Idrus. DH Kubu, MBR. Cncl itu. Regency (Anggota Majlis Rakyat Kabupaten / DPRD) 1.919-1.921. menikah dengan Syarifa Kamariah. Ia meninggal pada 16 Jun 1921.
  8. Syarif Taha Ibni al-Sultan Syarif Hasan 'Ali al-Idrus. menikah dengan Syarifa Darah, dan memiliki keturunan, 2 anak.
  9. Syarif Usman Ibni al-Sultan Syarif Hasan 'Ali al-Idrus. menikah dengan Syarifa 'Isa al-Idrus.
  10. Syarif Sajaf Ibni al-Sultan Syarif Hasan 'Ali al-Idrus.
  11. Syarif Husain Ibni al-Sultan Syarif Hasan 'Ali al-Idrus.
  12. Syarif 'Ali Ibni al-Sultan Syarif Hasan' Ali al-Idrus. menikah dengan sepupunya, Syarifa Dara, Putri kedua Syarif Ismail Ibni al-Sultan 'Abdu'l Rahman Syarif al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu.
  13. Syarif Zaman [Seman] Ibni al-Sultan Syarif Hasan 'Ali al-Idrus.
Puteri:
  1. Syarifa Shaikha binti al-Sultan Syarif Hasan 'Ali al-Idrus.
  2. Syarifa SIPA binti al-Sultan Syarif Hasan 'Ali al-Idrus. menikah dengan Syarif 'Abu Bakar, dan memiliki keturunan, 2 anak.
  3. Syarifa Piah binti al-Sultan Syarif Hasan 'Ali al-Idrus. menikah dengan Syarif 'Abdul Rahman bin Syarif Akil al-Idrus, Putra tertua Syarif Akil bin Syarif' Abdu'l Rahman al-Idrus. Ia memilki, dua anak - lihat atas.
  4. Syarifa Talaha binti al-Sultan Syarif Hasan 'Ali al-Idrus. menikah dengan Syarif Kechil, dan memiliki keturunan 2 anak.
  5. Syarifa Saida binti al-Sultan Syarif Hasan 'Ali al-Idrus. menikah dengan Syarif Muhammad, dan memiliki keturunan dua anak.
  6. Syarifah Mani binti al-Sultan Syarif Hasan 'Ali al-Idrus.
  7. Syarifa Kembong binti al-Sultan Syarif Hasan 'Ali al-Idrus.

 Syarif 'Abbas (1900 - 1911)

Syarif 'Abbas ( 1900 - 1911 ) Ibni al-Sultan Syarif Hasan 'Ali al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu. Lahir 1853 , Pendidikan Terperinci. Menggantikan Ayahandanya yang meninggal pada 4 November 1900 . Dilantik pada 6 Ogos 1901 . Diturunkan dari tahtanya pada April 1911 . memiliki beberapa isetri, termasuk Syarifa Kamariah. . Ia memiliki dua putra dan 10 putri
Putera-putera:
  1. Syarif 'Abdul Rahman Ibni al-Sultan Syarif' Abbas al-Idrus. Lahir 1903 . Ia meninggal pada usia muda ..
  2. Syarif Ahmad Ibni al-Sultan Syarif 'Abbas al-Idrus [Wan Sulung]. Ia terbunuh pada 1906 .
Puteri-puteri:
  1. Syarifa Inah binti al-Sultan Syarif 'Abbas al-Idrus.
  2. Syarifa Zubaida binti al-Sultan Syarif 'Abbas al-Idrus. menikah dengan Syarif Mahmud, dan memiliki keturunan tiga anak.
  3. Syarifa Kamala binti al-Sultan Syarif 'Abbas al-Idrus. menikah dengan Syarif Hamid, dan memiliki satu anak.
  4. Syarifa Buntat binti al-Sultan Syarif 'Abbas al-Idrus. menikah dengan Syarif Kasim, dan memiliki satu anak.
  5. Syarifa Isa binti al-Sultan Syarif 'Abbas al-Idrus.
  6. Syarifa Tura binti al-Sultan Syarif 'Abbas al-Idrus. menikah dengan Syarif Muhammad Zainal Idrus Ibni al-Sultan Syarif Ismail al-Idrus, Tuan Besar Kubu (Lahir pada 1851 ), kedua Syarif Ismail Putra Ibni al-Sultan Syarif 'Abdul Rahman al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu.
  7. Syarifa Nur binti al-Sultan Syarif 'Abbas al-Idrus. menikah dengan Syarif Muhammad [Mo] al-Idrus, dan memiliki satu anak.
  8. Syarifa Saliha binti al-Sultan Syarif 'Abbas al-Idrus. menikah dengan Syarif 'Umar al-Idrus.
  9. Syarifa Kuning binti al-Sultan Syarif 'Abbas al-Idrus.
  10. Syarifa Kebong binti al-Sultan Syarif 'Abbas al-Idrus.

 Syarif Muhammad Zainal Idrus (1911 - 1921)

Syarif Muhammad Zainal Idrus ( 1911 - tahun 1921 ) Ibni al-Sultan Syarif Ismail al-Idrus, Tuan Besar Kubu. Lahir tahun 1851 , Putra kedua Syarif Ismail Ibni al-Sultan 'Abdu'l Rahman Syarif al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu, Pendidikan Tinggi. Dipilih oleh Belanda untuk menggantikan sepupunya yang diturun-tahtakan sebelumnya pada 26 September 1911 . Dilantik pada 15 Januari 1912 . Menyerahkan menyerahkan sewewenang Kesultanan kepada Dewan Kabupaten pada 1919 . di-Turun-tahtakan tanpa adanya pilihan GANTIAN pada 11 April 1921 . Memiliki 3 isteri, termasuk Syarifah Tura binti al-Sultan Syarif 'Abbas al-Idrus, Putri ke-enam Syarif Abbas Ibni al-Sultan Syarif Hasan' Ali al-Idrus, Yang di-Pertuan Besar Kubu. Ia memiliki, 7 putra  :
  1. Syarif Mustafa Ibni al-Sultan Syarif Muhammad Zainal Idrus al-Idrus.
  2. Syarif Akil [Agel] Ibni al-Sultan Syarif Muhammad Zainal Idrus al-Idrus. Lahir 1877 , Pendidikan Terperinci. Menikah dengan putri Syarif Said al-Idrus pada 1900 . Ia memiliki 3 putra:
    1. Syarif 'Usman Ibni al-Sultan Syarif Akil al-Idrus.
    2. Syarif Tani Ibni al-Sultan Syarif Akil al-Idrus.
    3. Syarif Mohsen [Mukhsin] Ibni al-Sultan Syarif Akil al-Idrus.
  3. Syarif Ja'afar Ibni al-Sultan Syarif Muhammad Zainal Idrus al-Idrus.
  4. Syarif Husain Ibni al-Sultan Syarif Muhammad Zainal Idrus al-Idrus (putra dari istri pertama).
  5. Syarif Hasan Ibni Syarif al-Sultan Muhammad Zainal Idrus al-Idrus, Tuan Besar Kubu (putra dari istri kedua) - lihat bawah.
  6. Syarif 'Ibni Usman al-Sultan Syarif Muhammad Zainal Idrus al-Idrus (putra dari istri ke-tiga).
  7. Syarif Salim Ibni al-Sultan Syarif Muhammad Zainal Idrus al-Idrus.

Syarif Salih (1921 - 1943)

Syarif Salih ( 1921 - 1943 ) Ibni al-Sultan Idrus al-Idrus, Tuan Besar Kubu. Lahir 1881, Pendidikan khusus. Dipilih oleh Belanda , Bersama Dewan Kesultanan , Dikenali sebagai Kanan MBR. Cncl itu. Regent 1919 (Anggota Senior Dewan Rakyat Kabupaten). Menjadi Pembantu maju pada 16 Jun 1921 . Dikenali sebagai melakukan Sementara Kesultanan, pada September 1921 . Dilantik pada 7 Februari 1922 . Ditangkap oleh Jepun pada 23 November 1943 . Menerima: KNT. Order of Orange-Nassau (1940/08/17) gelar Ksatria-Bangsawan dari Kerajaan Belanda ( 17 Ogos 1940 ), dan Lesser Golden Star untuk Kesetiaan dan Merit (gelar pengabdian dan Perkhidmatan penterjemahan Luaran Biasa dari Kerajaan Belanda ). Ia dibunuh (dipancung) oleh Tentera Jepun di Mandur pada 28 Jun 1944 , memiliki dua putra:
  1. Syarif Yahya Ibni al-Sultan Syarif Salih al-Idrus. Ia memiliki putra:
    1. Syarif Syarif Hamid bin Yahya al-Idrus.
    2. 'Abdul Rahman bin Syarif Syarif Yahya al-Idrus.
  2. Syarif Syarif Husain bin Salih al-Idrus. Dikecualikan daripada penggantian kerana ketidakupayaan mental dan fizikal. Ia memiliki Seorang anak:
    1. Syarif Yusuf bin Syarif Husain al-Idrus. (Mbr. Cncl itu. Kabupaten (Anggota Senior Dewan Rakyat Kota) 1946 ).

 Syarif Hasan (1943 - 1958)

Syarif Hasan ( 1943 - 1958 ) Ibni Syarif al-Sultan Muhammad Zainal Idrus al-Idrus, Tuan Besar Kubu, Pendidikan: Pontianak NYA . Menjadi Ketua bestuur comite oleh Jepun pada tahun 1943 . Dilantik sebagai Pemimpin Dewan Rakyat Daerah (Cncl. Kabupaten / DPRD) pada 1946 . Baru terpilih sebagai ketua monarki pemerintahan sendiri (Pemimpin Kerajaaan-Kerajaan di Indonesia) pada 16 ogos 1949 . Diturunkan dari tahtanya jam Kesultanan Kubu dihapus oleh Pemerintah RI pada tahun 1958 .

 Nasab Bani Alawi al-Husaini

Bani Alawi ialah gelar Marga yang diberikan kepada mereka yang nasab-nya bersambung kepada Sayyid Alawi bin Ubaidullah (Abdullah) bin Ahmad bin Isa Al-Muhajir. Ahmad bin Isa Al-Muhajir telah meninggalkan Basrah di Iraq Bersama Keluarga dan pengikut-pengikutnya pada tahun 317H/929M untuk berhijrah ke Hadhramaut di Yaman Selatan. Cucu Ahmad bin Isa yang bernama Alawi, merupakan orang pertama yang Dilahirkan di Hadramaut. Oleh itu anak-Cucu Alawi digelar Bani Alawi, yang bermakna "Keturunan Alawi". Panggilan Bani Alawi atau Ba'Alawi juga ialah bertujuan memisahkan kumpulan KELUARGA ini daripada cabang-cabang Keluarga yang lain yang juga keturunan dari Nabi Muhammad SAW. Bani Alawi (Ba 'Alawi) juga dikenali dengan kata-nama Sayid (jamaknya: Sadah) atau Habib (jamaknya: Haba'ib) atau Syarif (jamaknya: Asyraf, khusus bagi bangsawan / ningrat-nya). Untuk kaum wanitanya Dikenali juga dengan sebutan Syarifah . Keluarga yang bermula di Hadhramaut di negara Yaman ini, telah berkembang dan menyebar, dan saat ini banyak di antara mereka yang menetap di segenap pelosok Dunia baik Arab, Indonesia, Asia Tenggara, India, Afrika dan lainnya.

Gelar dan Istilah

Putra Mahkota / Pangeran: Syarif (atau Sayyid) (nama peribadi) Ibni al-Sultan Syarif (atau Sayyid) (nama bapaknya) Al-Idrus (nama Marga / Keluarga), Tuan Besar Kubu (aslinya: Yang di-Pertuan Besar).
laki-laki Anggota Keluarga Kesultanan yang lain, keturunan pada Garis Bapak: Syarif (atau Sayyid) (nama peribadi) Ibni Syarif (atau Sayyid) (nama bapaknya) Al-Idrus (nama Marga / Keluarga).
Anggota Wanita Keluarga Kesultanan, keturunan pada Garis bapak: Syarifah (nama peribadi) binti Syarif (atau Sayyid) (nama bapaknya) Al-Idrus (nama Marga / Keluarga).

Aturan Suksesi (Pergantian)

Pemilihan Raja dijalankan oleh Dewan Kesultanan (Majlis Negeri) dan Anggota Senior dari Keluarga kebangsawanan yang menjabat Mufti / Qadhi (Ketetapan House).


 Sumber

  • Maktab Ad-Daimy, Badan pengumpulan nasab Bani Alawi - Al-Husaini, Rabithah Alawiyah Pusat, Jakarta-Indonesia, Attn: Habib Zainal Abidin Seggaf As-Seggaf (Ketua) dan Habib Abubakar Seggaf As-Seggaf (giat), Buku Data nasab Bani Alawi Al-Husaini, No 1, hlm. 149, (Jakarta: Maktab ad-Daimy), 1997
  • Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya dan Pasukan Penulis panitia Muktamar ke-10 Jam'iyah Ahli Al Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyah 1426H/2005 M - Pekalongan, Mengenal Thariqah - Tutorial Pemula Mengenal Jalan Menuju Allah; Bab Akhir , Sekilas Perihal Thariqah Alawiyah, (Jakarta: Fleet Sains), 2005
  • http://www.asyraaf.org (kajian Kitab Al-Mu'Jamul Lathif 140-141 halaman, tentang Qabilah Marga Al-Idrus)
  • Al-Habib Muhammad bin Abubakar Asy-Syalli Ba-'Alawy, As-Syaikh Abdullah Al-Akbar Al-Idrus dalam Al-Masyra' Ar-Rawiy fi Manaqib As-Sadah Al-Kiram Bani Alawiy, tt
  • Sayyid Ahmad bin Muhammad As-Syathiri, Sirah As-Salaf Min Bani 'Alawiy Al-Husainiyin, (Jeddah: dicetak oleh Alam Ma'rifah), 1405H/1984
  • Prof Dr Terusir, Soal Jawab Agama Islam, (Kuala Lumpur: Pustaka Melayu Baru), 1978.
  • Ronald Lewcock, Wadi Hadhramaut dan Kota Walled Shibam, UNESCO, 1986
  • Daniel van der Meulen dan H. Von Wissmann, Hadramaut Sebahagian Misteri Its Diumumkan
  • JPJ Barth, Overzicht der afdeeling Soekadana, van Verhandelingen het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en wetenschappen. Deel L, Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Albrecht & Co, Batavia, 1897.
  • JJK Enthoven, bijdragen tot de Geographie van Borneo Wester-afdeeling. EJ Brill, Leiden, 1903.
  • H. von Dewall, "Matan, Simpang, Soekadana, de Karimata-eilanden en Koeboe (Wester-afdeeling van Borneo)", Tijdschrisft voor Living Taal-, Land-en Volkenkunde, Deel XI, Vierde Divisi Deel II, Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Batavia, 1862.

 Nota kaki

Pautan luar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...